4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Incaran Miles*


__ADS_3


Bulan Mei.


Meskipun ancaman Miles membuat para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads waspada, bisnis yang sudah disusun oleh Kai dan Han tetap dilaksanakan, termasuk bisnis legal para anggota Dewan di seluruh dunia.


Para Black Armys Vesper tetap dikirim di tempat-tempat yang telah ditunjuk. Stok terakhir dari persenjataan Vesper disimpan dalam bunker khusus Kastil Borka Rusia.


Produksi senjata dan kegiatan ilegal lainnya tetap dikerjakan sesuai jadwal, termasuk Boleslav Industries yang semua produknya disimpan dalam bunker di Jumbo Island, Canada, untuk mengamankan serangan Miles.


Ternyata, prediksi Kai mengenai pergerakan Jonathan yang mencolok perhatian benar adanya. Miles dan orang-orangnya mengincar anak buah Jonathan yang diklaim sebagai miliknya.


"Bawa mereka semua padaku. The Circle adalah milikku, tahta yang selama ini dinikmati oleh saudara-saudaraku dan malah menyingkirkan keberadaanku," ucap Miles menggerutu seraya menyiapkan senapan laras panjang untuk aksi selanjutnya.


"Meski demikian, kita harus berterima kasih pada Vesper dan jajarannya, Miles. Dia menyingkirkan 8 Mens, membunuh Madam. Ia melenyapkan No Face untuk kita, meski beberapa dari pemimpin itu masih hidup, termasuk anak gadismu," sahut seorang pria berkumis seraya melihat satu set Rainbow Gas milik Vesper Industries dalam sebuah peti hitam besar yang dibuka lebar.


Miles diam saja tak mengomentari hal itu. Namun tiba-tiba, "Wow! Miles!" seru Den Bagus saat moncong senapan laras panjang menempel di pipi kanan pria Jawa tersebut.


"Hanya aku yang boleh menyentuh, Cassie. Ulangi," tegasnya menatap Den Bagus tajam.


Pria berambut hitam itu menelan ludah. Ia terlihat gugup dengan posisi berdiri tak berani menatap Miles yang berada di samping kirinya.


"Aku tak akan menyentuh Cassie."


Orang-orang yang berada di ruangan bernapas lega saat Miles menurunkan senjatanya. Miles menatap anak buahnya yang telah bersiap dengan persenjataan lengkap Vesper dan Boleslav Industries.


"Kita ambil kembali yang menjadi milik kita. Kawan-kawan kalian diperbudak Jonathan selama ini. Rebut dan bersihkan pikiran mereka yang telah terkontaminasi. Kerjakan!" seru Miles lantang.


"Hoi!" jawab sekumpulan pria mantan anggota Bala Kurawa Arjuna dan The Circle Jonathan.


Dini hari.


Ditengah keheningan malam, dua buah mobil SUV hitam melaju ke sebuah tempat di pinggir pantai. Terlihat banyak kapal merapat di sana.


"Umpan," ucap Miles memulai perintahnya saat mobil telah berhenti melaju.


Den Bagus meneropong dari balik jendela mobil untuk mengawasi pergerakan salah satu anak buah Miles.


Terlihat, seorang pria berpakaian hitam, membawa persenjataan lengkap di balik pakaian tempur, dan menggenggam senapan laras panjang di kedua tangannya.


Saat pria itu berjalan memasuki wilayah sasarannya, tiba-tiba ....


BRUK!


"Miles," panggil Den Bagus terkejut saat leher pria 'umpan' itu terkena panah bius dan melumpuhkannya.


"Seperti yang kuduga. Mereka memiliki sensor dan pemindai senjata. Sayangnya kita tak memiliki alat itu. Jadi, kita harus merebutnya," guman Miles.


Den Bagus menatap Miles saksama seperti penasaran dengan instruksi selanjutnya.


Tak lama, terlihat empat pria berlari mengendap mendatangi si pria umpan. Miles melihat pergerakan itu dari teropong yang diberikan oleh Den Bagus. Senyum iblis Miles terukir.


"Lakukan dengan rapi dan jangan berisik. Aku ingin tempat ini tetap utuh," titah Miles dari sambungan radio.


"Roger that."


Seketika, sekeliling wilayah itu dipenuhi oleh kepulan asap berwarna putih. Den Bagus segera mengaktifkan tablet yang terpasang di sandaran mobil di hadapannya.


"Oh! Apa ini?" tanya salah seorang anak buah Jonathan ketika memeriksa pria tak dikenal yang tergeletak di konblok.


Empat orang itu panik, saat mereka ikut terkena asap yang bergerak dengan cepat karena terbawa oleh angin.


Seketika, orang-orang Jonathan yang berusaha untuk kabur berdiri diam di tempatnya seperti orang linglung usai menghirup asap itu.


Miles mengamati pergerakan CD yang diterbangkan oleh salah satu anak buahnya untuk melihat sekitar wilayah yang berhasil disergap.


"Miles. Orang-orang Jonathan berhasil di lumpuhkan," ucap Den Bagus dari pantauan CD.

__ADS_1


"Jalankan," titah Miles.


Den Bagus segera menyuntikkan serum penawar dari gas halusinasi ke lengannya. Ia keluar dengan topeng untuk menutupi wajah misteriusnya.


Salah satu anak pak Sutejo tersebut menghilang dalam kepulan asap putih bersama anak buah Miles yang datang dari beberapa penjuru menuju ke lokasi penyergapan.


Miles melihat sekitar dari balik kaca mobil tempat ia duduk. Ayah dari Cassie tersebut melihat penunjuk waktu di jam tangannya lalu mendesah pelan.


"Sir, mobil pertama sudah bergerak membawa muatan," ucap sopir di mobil Miles.


Pria berambut pirang itu diam saja, tapi matanya terlihat fokus dengan pergerakan di layar tablet yang terpasang pada sandaran belakang dudukan bangku di depannya.


CEKLEK!


Miles menoleh ke arah pintu mobil yang dibuka.


"Sistem yang digunakan terkoneksi ke jaringan Vesper. Jika kita memutusnya untuk mengambil sensor itu, Vesper akan mengetahuinya. Ini berisiko," ucap Den Bagus berdiri di samping pintu terbuka.


"Putus saja. Biarkan jajaran Vesper tahu. Biarkan Jonathan keluar dari sarangnya. Aku yakin, Vesper tak akan melakukan apa pun. Kerjakan," jawabnya santai.


Den Bagus mengangguk. Ia menutup pintu dan berjalan menuju ke bangunan dari bisnis Jonathan seraya memberikan instruksi kepada anak buah Miles melalui radio.


"Sir. Semua mobil pengangkut sudah meninggalkan lokasi," ucap sopir melaporkan dari para sopir yang membawa anak buah Jonathan di mobil-mobil hitam lainnya.


Miles hanya mengangguk tak berucap apa pun. Cukup lama Den Bagus berada di dalam hingga 30 menit lamanya, tapi akhirnya pria itu muncul bersama dua anak buah Miles seraya menenteng koper hitam yang diyakini berisi alat seperti permintaan Miles.


Senyum ayah Cassie terlihat di sudut bibir. Lima koper berukuran sedang dimasukkan ke bagasi mobil.


Den Bagus segera duduk di samping Miles dan dua anak buah sisanya kembali ke mobil mereka.


BROOM!


Miles meninggalkan lokasi dari usaha legal Jonathan di Amerika. Pekerjaannya begitu mulus dan tak terdeteksi.


Namun, pemutusan jaringan diketahui oleh Eiji dari alarm peringatan di laptopnya.


"Kai! Kai! Apa kau sudah melihat dari GIGA?" tanya Eiji dari sambungan telpon karena Kai kini berada di Yunani untuk mengurusi para Black Armys yang nantinya akan menjalankan bisnis serta pos darurat di sana.


"Ya, aku mengerti. Kita sudah sepakat untuk tak menyentuh tempat itu agar Miles tak menemukan dan menyerangnya."


Dua pria itu lalu memutus panggilan. Kai menarik napas dalam dan kembali tersenyum saat pemilik tempat sebelumnya menyambut kedatangan mereka sebagai pemilik baru.


Di sisi lain, Afro dibuat kesal setengah mati karena isterinya menghilang tak diketahui keberadaannya. Namun, ia tak kehilangan akal.


Afro mendatangi kediaman Sudan di mana ia kini sudah tahu semuanya tentang pria itu setelah meminta informasi dari banyak pihak melalui jajaran Vesper.


"Benar-benar isteri tidak tahu diri. Masa iya, baru sebulan nikah mau dicerai," gerutunya, tapi didengar oleh Trio Bali dalam mobil.


"Sabar, Mas Afro. Pengantin baru memang seperti itu, banyak halang rintang dan bawaannya berantem terus. Makanya, Om Wayan cerai sama isteri," sahutnya santai, tapi membuat Afro dan dua anggota Trio Bali malah berkerut kening karena ucapan pria asal Bali itu bukan sebuah nasehat.


Saat empat orang itu hampir tiba di kediaman Sudan yang berada di Sudan, tiba-tiba saja Nyoman memekik.


"Itu Valentino Rossy, eh maksudnya ... si Valentina!" ucapnya seraya menunjuk ketika melihat seorang wanita cantik menaiki mobil mengenakan pakaian casual.


"Yakin? Kok beda sama yang difoto?" tanya Wayan curiga.


"Kalau orang cantik mau pake baju apa aja, Nyoman hafal. Ayo kejar cepet, tapi jaga jarak!" ucapnya semangat seraya menepuk paha Wayan yang menjadi sopir hari itu.


"Bosnya siapa? Kok berani-beraninya nyuruh Wayan loh," tegas pria itu masih tak menginjak pedal gas.


"Kejar, Om Wayan! Jangan sampai lolos!" seru Afro lantang yang ikut tak sabar.


"Siap, Bos!"


BROOM!


Mobil SUV hitam melaju dengan kecepatan sedang mengejar mobil yang ditumpangi oleh Valentina, pemimpin kelompok HURI.

__ADS_1


"Tandai, Om," pinta Afro yang sudah siap dengan tablet dalam genggaman.


Nyoman membuka sebuah koper hitam di bawah tempat duduknya yang berisi peralatan pelacak. Ia bersiap dengan sebuah senapan khusus untuk menandai mobil tersebut.


"Jangan sampai ketahuan. HURI itu cukup jeli," sahut Made yang duduk di sebelah Afro.


"Eh, gak usah, tuh mobilnya udah berhenti," ucap Wayan menunjuk.


Nyoman yang sudah siap menembak langsung berwajah malas. Made terkekeh karena mulut sahabatnya komat-kamit.


"Mas! Itu Dara!" seru Nyoman saat melihat Sandara berjalan bersama Jibran masuk ke mobil keluar dari sebuah Cafe.


Tanpa pikir panjang, Afro segera keluar dari mobil begitu saja dan mengejutkan Trio Bali.


"Dara! panggil Afro dengan teriakan lantang. Tentu saja, Sandara dan lainnya terkejut melihat kedatangan Afro dengan napas memburu.


Trio Bali panik dan segera bersiaga dengan pistol dalam genggaman. Namun, saat mereka akan keluar dari mobil, tiba-tiba saja ....


"Eh, itukan Toras. Kenapa dia kaya orang marah?" tanya Made heran karena wajah Toras begitu serius.


Pemimpin Red Ribbon tersebut melangkah dengan gusar ke arah Afro yang sedang berjalan dengan langkah cepat ke arah Sandara.


"Tor— waduh! Mas Afro!" teriak Nyoman saat melihat Afro dipukul hingga suami Sandara langsung terhuyung karena tak menyadari serangan tersebut.


Sandara terkejut, tapi ia ditarik paksa memasuki mobil oleh Jibran dan Valentina. Trio Bali segera keluar untuk menyelamatkan Afro yang kini jatuh terlentang di aspal dengan Toras memukulinya tanpa ampun.


"Toras!" panggil Sandara dari dalam mobil dengan mata melotot.


Seketika, Toras menghentikan aksinya dan berjalan menuju mobil tempat Sandara berada.


"Tangkap Toras!" perintah Made.


Dengan sigap, Trio Bali langsung menerkam Toras seperti tiga singa betina. Toras roboh dan memberontak, tapi ia kalah kekuatan karena tiga pria asal Bali tersebut dengan sigap meringkusnya.


"Tinggalkan dia. Cepat pergi!" perintah Jibran.


BROOM!!


"DARA!" teriak Afro lantang langsung bangkit dan berlari mengejar dengan hidung berdarah karena pukulan Toras.


Terlihat, wajah Sandara bersedih saat ia menoleh ke belakang dan melihat suaminya masih berusaha untuknya. Afro terus berlari dan berteriak memanggil namanya.


Namun, saat di persimpangan jalan, tiba-tiba saja, BRAKKK!!


"AFRO!" teriak Made ketika melihat sebuah mobil menghantam tubuh Afro kuat dari samping hingga pemuda itu terpental jauh dan jatuh bergulung-gulung keluar dari jalanan aspal.


Toras yang sudah dibius, tergeletak tak sadarkan di atas aspal dalam posisi tengkurap. Trio Bali berlari kencang menghampiri Afro yang sosoknya hilang karena terlempar ke tempat mobil-mobil di parkir.


Sandara yang melihat suaminya terluka berusaha untuk turun, tapi ditahan oleh orang-orang di dalam mobil.


Namun, mata Sandara melebar ketika melihat seorang pria yang menabrak Afro, mengenakan topeng yang ia kenal. Topeng buatan Yudhi.


Jibran dan Valentina yang melihat pergerakan mata Sandara ikut menoleh ke kaca belakng mobil. Kening mereka berkerut saat pria itu mengikuti mobil mereka dan terlihat jelas seringainya.


"Itu mobil Jonathan!" teriak Sandara lantang ketika melihat sebuah peluncur misil muncul dari bagian atas mobil yang dikendarai pria bertopeng terarah ke mobilnya.


Benar saja, SWOSH!!


"Jump!" teriak Valentina lantang karena misil itu membidik mobil mereka. Seketika, BLUARR!!


***


Maaf ya lele banyak off up untuk bulan ini karena quality time with family selama di Jogja. Sengaja prioritasin buat ortu karena gak mau kaya anak2 mbak Vesper😆


Jadi, harap maklum aja, ni lele juga sempetin buat ngetik di jadwal yang parah padetnya. Ditunggu tips koinnya biar lele semangat gitu. Tengkiyuw❤️


__ADS_1


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


__ADS_2