
Eko mendatangi Yudhi yang berada di ruang kerja usai mengantar para anggota pasukan baru yang diberi nama 'Mirror' seperti julukan Sandara dahulu.
"Yud," panggil Eko saat memasuki ruangan dengan tablet dalam genggaman.
"Ya, Om," jawabnya ramah dengan sebuah pulpen dan kertas di mejanya.
"Apa sih yang kamu rencanain? Jangan neko-neko loh. Jangan bikin Ahmed bangkit dari kubur," tanyanya berkesan menasehati. Yudhi tersenyum tipis.
"Gak, Om. Yudhi berkeinginan untuk memiliki kelompok mafia layaknya para saudara-saudari Dara. Terakhir Yudhi ketemu Dara, dia kesakitan, idupnya menderita. Yudhi pengen Dara gak idup susah lagi. Jujur, Yudhi punya keinginan buat nikahin Dara suatu saat nanti."
Eko langsung mematung dengan mata berkedip berulang kali. Tiba-tiba, ia memekik.
"He?! Waduh, kamu saingan sama Afro dong. Terang-terangan banget ngakuinnya. Ini kamu ngomong gini lagi waras kan ya?" tanya Eko dengan sigap memegangi dahi Yudhi karena khawatir jika pemuda itu mengalami konslet di otaknya.
Yudhi diam saja memasang wajah datar dan membiarkan Eko bereksplorasi dengan dirinya.
"Om Eko bantuin Yudhi buat bebasin tanah Black Stone yang disegel sama pemerintah dong. Kita harus ambil tanah itu kembali. Yudhi udah siapin dramanya. Semua berkas legal ada di tangan kita, jangan takut," pinta Yudhi seraya menyodorkan kertas dari hasil skema pemikirannya. Eko membaca tulisan itu dengan cermat lalu menatap Yudhi tajam.
"Oke. Kali ini, Eko setuju. Kita kemon," jawabnya mantap dan Yudhi berterima kasih.
Tiga hari kemudian. Yudhi dan Eko pergi ke General Directorate of Land Registry (Direktorat Jenderal Pendaftaran Tanah) di Turki.
Eko terpaksa menyamar dan mengaku sebagai Ayah dari Yudhi. Mereka bergaya layaknya warga setempat dengan dialeg Arab. Keduanya mengaku sebagai kerabat dari Ahmed.
Surat jual-beli, saksi mata, bahkan surat kematian Ahmed telah mereka siapkan menghadapi bagian administrasi untuk pengecekan.
Ternyata, karena tanah tersebut dianggap oleh Pemerintah sebagai sarang teroriss, lahan tersebut tak bisa diserahkan. Tentu saja, hal ini membuat Yudhi dan Eko kesal. Mereka ngotot dengan dalih tak peduli Ahmed teroriis atau bukan, tapi mereka sudah membelinya.
Akhirnya, setelah melalui jalur hukum yang cukup rumit hingga seminggu menjelang akhir tahun, pemerintah setempat mengizinkan, tapi dengan catatan, tempat itu dalam pengawasan militer, dan harus dipergunakan untuk kemaslahatan manusia. Kembali, Yudhi dan Eko dibuat pusing memikirkan drama selanjutnya.
"Sabar ... sabar ... orang sabar banyak anak," ucap Eko mengelus dada dengan wajah sebal.
"Kemaslahatan manusia? Apaan, Om? Duh, kepala Yudhi mampet," tanyanya pusing memijat kepalanya. Eko menggeleng dengan mata terpejam.
Dewi yang duduk ditemani Jubaedah ikut pusing karena harus ikut memikirkan ide agar tanah tersebut bisa digunakan.
Diam-diam, Yudhi mengirimkan pesan kepada Sandara untuk meminta pendapatnya saat ia pamit ke kamar mandi. Beruntung, Sandara dengan cepat membalas.
"Katakan saja kau ingin membangun panti asuhan. Kau harus membuat Pemerintah percaya dengan niat baikmu dan menjamin jika yang kaulakukan anti-teroriis. Kita akan pekerjakan anak-anak terlantar itu untuk membuat kostum. Gaji mereka senilai uang saku, kita akan berhemat banyak. Untuk pekerjaan ilegalnya, serahkan pada tim Mirror," jawab Sandara menjelaskan dari pesan elektronik.
"Kamu tau, Dara? Gak salah Yudhi milih kamu buat jadi calon pendamping suatu saat nanti. Oke, akan kulakukan. Ada lagi yang bisa kukerjakan untuk memperkuat tim kita?" tanya Yudhi dengan senyum terkembang saat mengetik di keyboard ponselnya.
"Bisakah kau minta kepada kak Nathan 50 anak buahnya? Katakan, sebagai barter damai karena telah mencelakaimu, dan memihak No Face, bukan Sandara," sambungnya.
Yudhi diam sejenak terlihat memikirkan permintaan Sandara, tapi pada akhirnya ia menjawab 'Oke'.
Yudhi segera keluar dari kamar mandi dan telah menghapus pesan chat tersebut. Bahkan, nama Sandara ia palsukan menjadi Mr. Kobayashi, seakan relasinya itu berasal dari Jepang.
Yudhi kembali ke ruangan tempat Eko dan Dewi masih menunggu seraya menikmati rebusan kacang edamame. Yudhi kembali duduk lalu mengutarakan pemikirannya.
"Woh! Kamu mau beramal dengan bikin panti asuhan?" tanya Eko melotot.
"Biar pemerintah gak curiga. Lagian, mereka bakal tertolong dengan adanya panti asuhan kita nantinya. Mereka aja yang gak tau kalau anak-anak itu kita manfaatkan. Mungkin berkesan memberikan keterampilan dan uang, tapi sebenarnya, mereka bekerja untuk kita. Oke 'kan?" jawabnya sumringah.
__ADS_1
Eko dan Dewi saling berpandangan. Dua orang dewasa itu akhirnya mengangguk setuju. Yudhi terlihat lega karena mereka mendapatkan solusi. Benar saja, usulan dari Sandara membuahkan hasil.
Sebuah panti asuhan akan di bangun di reruntuhan Black Stone, di mana bangunan peninggalan tersebut akan berubah seutuhnya.
Tentu saja, para yatim piatu yang tinggal adalah kelima puluh anggota tim Mirror. Data mereka telah dipalsukan, drama telah dijalankan, dan petugas dari pemerintah yang melakukan peninjauan pun dibuat percaya.
"Oke. Semua pengajuan dan berkas kalian telah kami setujui. Pembangunan gedung dalam pengawasan ketat. Semoga, niat baik kalian diberkahi Allah, amien," ucap seorang wanita dari Dinas Pertanahan menggunakan bahasa Arab.
"Amien," jawab Eko beserta seluruh keluarganya bersikap sok alim.
Nantinya, bangunan itu akan muat untuk 100 anak yatim piatu. Lima puluh telah didaftarkan. Tinggal mencari 50 sisanya.
Para remaja itu kini menetap di kediaman Ahmed untuk sementara waktu sampai gedung tersebut berdiri.
Pembangunan direncanakan selesai dalam 3 bulan ke depan dengan bantuan Doug sebagai arsitek dan para pekerja dari kuli setempat.
Eko dan Yudhi tak mau melibatkan para Black Armys karena khawatir malah menimbulkan kecurigaan dari militer Turkey.
Vesper yang mendapat laporan tersebut tersenyum lebar dan mendoakan agar rencana mereka sukses.
CEKLEK!
"Kau mencariku, Sayang?" tanya Kai seraya membuka pintu ruang kerja sang isteri.
Vesper dengan cepat menutup ponselnya dan tersenyum lebar. Kai mendekat dengan senyum tipis terpancar di wajahnya.
"Selamat ulang tahun, Sayang," ucap Vesper sembari memeluk leher sang suami.
"Kau ingin hadiah apa dariku? Aku tak tahu harus memberikanmu apa lagi. Kau sudah memiliki semuanya," tanya Vesper terlihat pusing masih merangkul leher suaminya.
Kai tersenyum lebar. "Kau," jawabnya singkat. Vesper meringis.
"Tapi ... besok jatahnya kak Han," jawabnya kikuk. Kai langsung memasang wajah masam. Vesper terlihat bingung dalam bersikap.
"Ini ulang tahunku. Aku tak mau tahu," jawabnya ketus.
Vesper menggaruk dahinya dengan ujung telunjuk seraya menghembuskan nafas pelan. Sang isteri meminta waktu sebentar untuk menghubungi Han, dan benar saja, pria itu tak mau mengalah.
"Tidak bisa! Kau bahkan sudah berlayar bersamanya lebih dari satu minggu. Ini jatahku. Aku tak peduli dia sedang ulang tahun atau sakit. Cepat kemari! Jika tidak, kau akan kuseret dan kuikat di rumahku!" bentaknya sampai Vesper menjauhkan ponsel dari telinganya.
Kai memasang wajah masam. Kali ini, sang Ratu dibuat pusing tujuh keliling saat pembagian jatah tak berjalan mulus.
"Oke," jawab Vesper menutup panggilan telepon dengan hembusan nafas panjang. "Maaf, Kai sayang. Kita akan bertemu lagi satu minggu kemudian," ucap Vesper seraya mendekat.
"Sungguh? Kau akan melewatkan ulang tahunku? Ini hanya terjadi satu tahun sekali," tanyanya serius terkesan marah.
Vesper menarik nafas dalam. "Kita ... sudah memiliki perjanjian, Kai sayang. Aku sungguh minta maaf," jawab Vesper sedih.
Kai menatap Vesper dalam lalu berpaling begitu saja pergi meninggalkannya. Sang Ratu tertunduk diam terlihat sedih. Namun, kesepakatan harus tetap dipatuhi apapun konsekuensinya.
Vesper berkemas dan siap untuk terbang hari itu meninggalkan Mansion Ramos, Rusia, menuju ke Amerika.
Bahkan, saat Vesper akan pergi, Kai tak mengantarkannya. Vesper terlihat sedih dan murung selama perjalanan.
__ADS_1
Para Black Armys yang mengantar majikan mereka memilih diam tak berani bertanya karena wajah Vesper yang sendu.
Setibanya di Bandara, Vesper segera duduk di kursinya. Tak lama, pesawat lepas landas meninggalkan Rusia.
Vesper yang lelah dan harus segera menyuntikkan serum agar racun di tubuhnya tak menyebar, beranjak dari dudukkan menuju ke kamar.
CEKLEK!
"Oh!" kejut wanita cantik tersebut saat mendapati Kai merebahkan diri di ranjang dengan memangku sebuah buku.
"Lama sekali. Apa yang kaulakukan?" tanya Kai cemberut.
Vesper tersenyum dengan wajah tertunduk. Ia lalu menutup pintu dan mendekati suami termudanya.
"Aku hanya ingin memastikan kau tiba di Amerika dengan selamat, Sayang," ucapnya seraya menyingkirkan rambut panjang sang isteri yang menutupi wajah cantiknya meski telah berumur 50 tahun lebih.
"Terima kasih, Kai. Sekali lagi, selamat ulang tahun," ucapnya dengan senyuman dan memberikan bingkisan kecil berupa ciuman penuh kasih di bibir suami termuda. Tentu saja, Kai menyambutnya dengan cinta yang sama.
Di sisi lain. Arjuna dan Tessa juga terlihat makin harmonis dari hari ke hari. Tessa sangat mampu membuat Arjuna selalu lengket dengannya.
Selama di rumah, Tessa tak memakai make up seperti permintaan sang suami. Ia juga memakai pakaian seksi agar Arjuna tak berpaling darinya. Hal ini, membuat Arjuna dengan mudah menerkam Tessa karena wanita cantik itu tak memakai pakaian da*am.
Arjuna juga sering meminta sang isteri untuk memasak. Hal ini membuat orang-orang yang hidup di sekitar mereka ikut bahagia karena tak lagi terlihat sikap ketus Arjuna pada mantan pemimpin No Face tersebut.
"Aku ingin sekali melihat kembang api, Arjuna," pinta Tessa saat keduanya menikmati libur tahun baru tanpa pekerjaan yang menghantui karena semua telah diselesaikan sesuai jadwal.
"Aku rasa bisa. Tapi, tetap hindari kerumuman. Entah kenapa, belum ditemukannya Miles dan para pria narkotika itu, membuatku sedikit cemas untuk menampakkan diri di hadapan publik," jawabnya seraya memeluk tubuh sang isteri yang duduk di pangkuannya dan memunggunginya.
"Melihat dari kejauhan saja juga tak apa. Aku masih mencoba mengingat, di mana markas yang belum disentuh oleh kalian, tapi seingatku ... sudah semuanya. Bahkan, rumah anak-anak pak Sutejo juga telah dijaga ketat oleh pasukan Bala Kurawa. Mungkinkah ... mereka memiliki hunian baru? Dengan membeli rumah dari seseorang tanpa mengubah nama kepemilikan agar tak diketahui?" tanya Tessa seraya menyenderkan punggungnya di dada bidang sang suami.
"Hem, bisa jadi. Namun, akan sangat sulit jika mencarinya satu persatu. Banyak rumah yang dijual. Jika GIGA menyusup ke data pemerintah dengan pencarian skala besar, pasti akan ketahuan. Itu akan sangat berbahaya," jawab Arjuna seraya meletakkan dagunya di pundak kiri sang isteri dengan tatapan kosong.
"Lalu? Membiarkan mereka lolos? Jujur, Juna. Miles itu berbahaya. Aku melihat ada hal aneh dalam dirinya, meski ia terlihat menurut. Ia ... seperti memiliki dendam kepada para Mens, terutama Darwin. Ia menjadi pengurus utama dalam jual beli aset, pengelolaan perusahaan, dan strategi perang. Ia hampir terlibat dalam semua hal. Hingga ia tiba-tiba dinyatakan tewas oleh Venelope kala itu saat penyerangan yang dilakukan oleh 13 Demon Heads dan berhasil melenyapkan para Mens," jawab Tessa menjelaskan seraya memiringkan kepalanya.
Pandangan Arjuna seperti kosong, tapi ia mengangguk.
"Hah, biarlah itu jadi urusan mama dan jajarannya. Kenapa ... kita tak membuat adonan lagi? Belum ada tanda-tanda 'kan?" tanya Arjuna balas menoleh dan menatap isterinya dengan wajah penuh maksud.
Tessa terkekeh, dan lama-kelamaan menjerit saat tangan kanan Arjuna menyelinap di antara paha mulus itu dan malah menggerakkan jemarinya.
Tessa terperangkap karena tangan kiri Arjuna ikut menahannya bagaikan seat belt di antara buah dadanya.
"Juna! Juna, ah," erangnya yang dilanjutkan dengan rintihan saat wanita cantik itu merasakan sensasi lain ketika jemari Arjuna mulai menjelajah dan membuatnya menggeliat seraya menggoyangkan pinggul.
"Oke. Mari berpesta," bisik Arjuna saat jari tangan kanannya merasakan celah kenikmatan sang isteri mulai basah karena aksi nakalnya.
Tessa hanya bisa pasrah saat Arjuna kembali menggempurnya hingga menjelang malam pergantian tahun.
***
sisanya ... imajinasiin sendiri aja ya. kwkwkw😆 uhuy tengkiyuw tipsnya😘 lele padamu❤️panjang nih epsnya~
__ADS_1