
Minggu kedua bulan Juni.
Siapa sangka, tebakan Jonathan benar adanya. Napas Lysa memburu saat ia membaca sebuah surat yang ditujukan padanya. Wanita cantik itu yakin jika kiriman tersebut berasal dari Miles.
"Terima kasih atas dikembalikannya The Eyes padaku. Aku akan menggunakan mereka dengan baik. MF."
"Argh!" erang Lysa kesal seraya melempar kertas tersebut yang telah menjadi gumpalan dan mengenai dinding.
The Eyes yang menjaga kediaman Darwin Flame di Perancis diambil oleh Miles. Tanpa adanya para Pion, hidup Lysa semakin berantakan.
Lysa juga sering uring-uringan bahkan ia seperti lupa jika memiliki dua orang anak di mana mereka kini telah aman bersama Vesper serta mafia lainnya di Lugu Lake.
Sayang, Lysa tak mengetahui tempat dan kabar tersebut karena keluar dari jajaran. Selain itu, keberadaan para Pion tak diketahui.
Para pria tangguh tersebut menghilang begitu saja. Namun, siapa sangka, para Pion malah menemui dua saudari Vesper yang berada di Yogyakarta. Mereka menjelaskan masalah yang sedang dihadapi oleh Lysa.
"Kita gak bisa diem aja. Ayo ke Jerman," pinta Tika dan diangguki Shinta.
Hari itu juga, dua saudari Vesper dari Indonesia terbang ke Jerman. Mereka dilindungi oleh para Pion. Namun, para lelaki itu hanya mengantarkan sampai bandara saja.
"Kalian mau ke mana setelah ini? Kenapa gak ikut sama mbak Liana aja? Eh, maksudnya ... Vesper," tanya Shinta saat akan berpisah dengan para Pion.
"Kami ingin menata hidup terlebih dahulu. Kami ingin melihat situasi. Jika keadaan semakin memburuk, mungkin kami akan membantu, tapi kami tak menjanjikan hal itu. Miles pasti mengincar kami, dan jika hal itu terjadi, keadaan akan semakin gawat apabila dia mencuci otak kami," jawab Pion Darwin yang membuat wajah dua kakak beradik itu pucat seketika.
Para Pion pamit dan kembali terbang menuju ke suatu tempat yang tak diketahui oleh siapa pun. Sedang dua bibi Lysa, datang berkunjung ke apartemen Marlena.
The Eyes yang menjaga tempat itu tak mengenali sosok Tika dan Shinta. Orang-orang itu melarang untuk menemui bos besar mereka.
Tentu saja, Shinta dan Tika kesal bukan main. Beruntung, mereka memiliki banyak foto di ponsel dan mampu membuktikan jika Lysa adalah keluarga mereka.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
"Maaf. Kami tak tahu jika nona Lysa memiliki keluarga lain. Seingat kami, hanya Vesper dan tiga saudara serta saudarinya keluarga nona Lysa," ucap salah satu anggota The Eyes yang menjaga di lobi apartemen.
"Oke. Dimaafkan. Antarkan kami," pinta Shinta masih bermuka masam karena hampir diusir.
TING!
Pintu lift terbuka, tapi dua tante dari Lysa tersebut tak mendapati keponakan mereka menyambut di lobi.
Shinta dan Tika memberanikan diri masuk ke dalam rumah yang tampak berantakan, sepi dan gelap.
"Oh! Suara apa itu?" tanya Tika takut langsung memegang lengan kakaknya.
"Entah. Lysa mungkin, ayo," jawab Shinta ikut tegang karena mendengar suara orang berguman.
Dua wanita itu mengintip ke sebuah kamar. Seketika, mata mereka melebar. Lysa seperti orang tak waras. Ia menggambar di dinding dengan lipstiknya.
Shinta membuka pintu semakin lebar karena kamar itu tak diterangi lampu. Tirai jendela juga ditutup dan ruangan terasa pengap.
"Lysa?"
DUK!
"Agh!" rintih Tika karena dahinya terkena lemparan lipstik yang digunakan Lysa untuk menggambar.
Shinta dengan sigap masuk ke kamar setelah melihat wajah Lysa meski dalam cahaya remang. Shinta menyalakan lampu dan seketika, kamar itu menjadi terang benderang.
Lysa langsung menutup matanya karena silau cahaya. Shinta dengan cekatan membuka semua tirai jendela hingga penampakan kota Cologne terlihat jelas di siang hari itu.
"Kamu ngapain? Malah kaya orang stres gini? Itu siapa yang kamu gambar di dinding? Tobias?" tanya Shinta bernada kesal seraya menatap keponakannya tajam.
Tiba-tiba, Lysa menangis. Tika dan Shinta kebingungan, tapi setidaknya Lysa tahu jika ada orang lain di rumahnya. Dua wanita cantik asal Indonesia itu menghampiri Lysa dan memeluknya bersamaan.
"Kamu kenapa, Nduk? Pulang aja yuk sama Tante ke Indonesia. Di sini kamu sendirian. Kalau di Jogja 'kan ada yang rawat. Yuk," ajak Tika iba karena Lysa terlihat kurus dan tak terawat.
Lysa mengangguk dengan tangis terisak. Shinta dan Tika terlihat senang. Segera, Tika memesan tiket pesawat karena mereka akan terbang dengan pesawat komersil.
__ADS_1
Tika juga dengan sigap turun ke lantai dasar untuk menemui The Eyes yang menjaga tempat itu. Para pria muda itu mengangguk paham. Mereka juga baru tahu jika bos mereka mengalami depresi.
Shinta membantu mengemasi barang Lysa saat wanita cantik itu membersihkan dirinya di kamar mandi karena ia sampai melupakan mandi.
Tika pergi ke perusahaan Lysa dan menyerahkan kepengurusan sementara waktu kepada Dewan Direksi.
Beruntung, orang-orang Marlena bisa memahaminya dan menyanggupi hal tersebut. Tika sangat berterima kasih.
Dua hari setelahnya, Lysa meninggalkan apartemen Marlena di Jerman dan ikut pulang ke Indonesia bersama dua tantenya.
Satria selaku ayah dari wanita cantik itu terkejut, saat diberi kabar oleh Tika tentang kondisi mental anaknya.
Satria terlihat sedih dan cemas mengingat dua cucunya kini tak diketahui keberadaannya karena tak ikut bersama ibu mereka. Namun, Satria yakin jika Kai mengamankan dua anak malang itu.
"Ya Allah, Lysa. Kamu kenapa, Nak?" tanya Satria langsung memeluk anak perempuannya yang terlihat seperti orang sakit karena wajahnya pucat tak berseri, kurus dan tak terawat.
Lysa tak menjawab. Tika dan Shinta hanya menatap Satria dalam diam. Ayah dari wanita cantik itu mengajak Lysa masuk ke dalam rumahnya.
Lysa tampak murung saat ia diajak mengobrol, seperti tak memiliki semangat hidup. Bahkan, saat ia diajak sholat berjamaah, Lysa seperti enggan melakukannya dan mengatakan ingin sholat sendiri.
Hari-hari Lysa selama di Yogyakarta tak menunjukkan dampak pemulihan mentalnya. Ia sering mengurung diri. Hanya keluar saat diminta untuk sarapan, makan siang, dan makan malam bersama.
Bahkan, saat Satria mengundang kawan-kawan semasa sekolahnya dulu, Lysa enggan menemui mereka dengan alasan tidak enak badan.
Tentu saja hal ini membuat keluarganya di Yogyakarta cemas. Shinta mencoba menghubungi Vesper, tapi nomornya tak tersambung. Shinta tak hilang akal dan mencoba untuk menghubungi lainnya.
Hingga akhirnya, Javier datang ke Indonesia karena hanya pria itu yang bisa dihubungi dan menjawab panggilan.
Minggu ketiga bulan Juni.
TOK! TOK! TOK!
Lama Lysa membuka pintu, tapi pada akhirnya, papan persegi panjang dengan cet warna putih tersebut dibuka. Seketika, mata Lysa melebar saat melihat Javier datang bersama bayi Fara.
"Oh!" pekik Lysa langsung memeluk anak perempuannya dengan mata berkaca.
"Salam, Lysa," sapa Javier karena ia merasa diabaikan.
Lysa melihat Javier dan memeluknya. Javier terkejut, tapi ia balas memeluk. Sedikit rasa bahagia muncul di hatinya karena merasa sikap Lysa mulai melunak padanya.
"Kalian lapar? Ingin makan bersama?" tanya Lysa tiba-tiba.
Javier mengangguk. Namun, pria itu merasa aneh saat Lysa menggandeng Fara dan dirinya bersamaan ketika menuruni tangga. Lysa memperlakukan Javier seperti anak kecil.
Lysa mempersilakan dua tamunya untuk duduk di kursi dengan Tika, Satria, Raden, dan Shinta berkumpul di sana.
"Ayo makan yang banyak. Tante masak enak nih," ucap Tika seraya membuka semua penutup makanan di meja makan.
"Ah aku ingat. Fara suka pisang 'kan. Kamu makan buah dulu ya, Sayang," ucap Lysa seraya memberikan sebuah pisang pada anak gadisnya.
Fara menerimanya dan terlihat senang ketika mengupas buah berkulit kuning sambil bernyanyi. Semua orang terlihat bahagia melihat aksi Fara yang menggemaskan.
"Ah, Mimi tahu. D suka daging 'kan? Ini namanya rendang. Kamu cobain dulu aja," ucap Lysa seraya mengambil sepotong daging ke piring Javier.
Seketika, wajah semua orang serius. Mereka melirik Lysa yang tersenyum senang saat mengambilkan beberapa makanan ke piring Javier.
"Makan yang banyak, D. Mimi tak menyangka jika kausudah sebesar ini," ucap Lysa yang membuat mata Javier terbelalak lebar.
"Kau mengira aku King D? Aku Javier," ucap Javier menatap Lysa lekat.
KLANG!
Semua orang terkejut saat melihat Lysa tiba-tiba mematung dan menjatuhkan sendoknya usai mendengar ucapan Javier.
"AAA! Lysa! Apa yang kaulakukan?!" pekik Shinta panik saat tiba-tiba saja, Lysa mengarahkan ujung pisau ke wajah Javier.
Sedang Javier, tetap duduk di kursinya. Ia menatap Lysa terlihat tenang.
__ADS_1
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Lysa melolot.
"Kau kenapa menjadi seperti ini?" balas Javier dengan kedua tangan melipat di atas meja.
"Kenapa? Itu karena kau yang membunuh Tobias! Kau membunuh orang yang kucintai!" teriak Lysa lantang penuh amarah.
"Ya ampun!" pekik Tika langsung memeluk suaminya saat melihat Javier dengan sigap menangkap tangan Lysa yang memegang pisau.
Lysa terkejut karena tak menyadari hal tersebut. Raden dengan cekatan mengamankan Fara dan membawanya pergi dari ruang makan bersama Satria.
"Agh! Lepaskan aku!" teriak Lysa saat Javier kini mendekap tubuhnya dari belakang dan berusaha melepaskan pisau itu.
Namun, tenaga Lysa sungguh kuat hari itu. Ia malah mengarahkan ujung pisau ke samping lehernya seperti ingin menusuk wajah Javier. Namun, Javier melihat kesempatan.
SRETT!
"Agh!"
"AAAA! Lysa!" teriak Shinta histeris karena melihat leher keponakannya sengaja digores oleh Javier menggunakan pisau tersebut.
Javier menggunakan tangan Lysa untuk menyayat kulit lehernya hingga ibu dari Fara dan King D tersebut memejamkan mata.
KLANG!
Dengan sigap, Shinta mengambil pisau yang jatuh di lantai dan menyembunyikannya. Tika terlihat ketakutan hingga tubuhnya gemetaran saat melihat darah segar menetes dari balik luka sayatan itu.
Lysa terus meraung mencoba melepaskan diri dari dekapan kuat Javier, tapi sang Sultan juga enggan membebaskan buruannya.
BRUKK!!
Shinta dan Tika terperanjat saat Javier menjatuhkan Lysa ke lantai. Tubuh wanita cantik itu sengaja ditengkurapkan oleh sang Sultan.
Javier menaikinya dan memegangi kuat kedua tangan Lysa dengan menempelkannya ke lantai yang dingin. Javier menahan kepala belakang Lysa dengan menekannya menggunakan dahi.
Tiba-tiba saja, Javier seperti orang bersenandung. Lysa yang memberontak perlahan mulai tenang setelah mendengar lelaki itu ternyata membacakan ayat suci Al-Qur'an, tapi seperti dinyanyikan dengan merdu.
Tika dan Shinta terharu menyaksikan hal itu di mana Javier begitu sabar dengan sikap Lysa yang sedang mengalami gangguan mental.
Entah apa yang terjadi, Lysa yang memiringkan wajahnya itu mulai memejamkan mata. Napasnya mulai tenang dan tubuhnya melemah.
Dinginnya lantai dan darah yang terus mengalir di balik luka lehernya, meredam amarah Lysa dan membuat wanita malang itu menjadi tenang meski terlihat seperti orang pingsan.
Perlahan, Javier mengangkat kepalanya dengan terus bersenandung. Ia melirik dan mendapati Lysa seperti orang tertidur. Ia lalu melepaskan genggamannya di kedua tangan ibu dari anak lelakinya perlahan.
"Pindahin aja, Mas Sultan," pinta Tika, tapi Javier menggeleng.
"Minta obat saja untuk luka di lehernya. Maaf, saya terpaksa melakukannya," jawab Javier duduk di sebelah Lysa dan membiarkan wanita cantik itu telengkup di lantai.
Tika segera mengambilkan kotak obat. Javier dengan hati-hati mengobati luka yang tak begitu dalam di leher Lysa karena perbuatannya.
"Aku akan menemaninya, tapi maaf. Boleh aku makan di sini? Jujur, aku lapar," ucapnya terlihat sungkan, tapi diangguki dengan senyuman oleh Tika.
Isteri dari Satria tersebut memberikan piring yang sudah berisi banyak makanan dari pilihan Lysa. Javier makan di lantai menemani Lysa yang kini tertidur pulas setelah didoakan oleh Javier.
Tak lama, Satria kembali bersama Fara dan Raden. Tentu saja, dua orang itu terkejut melihat kejadian aneh di hadapan mereka, tapi Tika mengatakan jika Lysa baik-baik saja.
Shinta malah menggelar karpet permadani sebagai alas duduk karena mereka kini makan di lantai mengikuti cara Javier.
Ternyata, Habib dan Sauqi ikut mengantar bersama pasukan Jihad pilihan sang Sultan. Shinta mempersilakan dua orang kepercayaan Sultan untuk ikut makan bersama.
Sedang pasukan Jihad berjumlah empat orang, tetap berada di luar rumah untuk menjaga kediaman Satria karena Sultan mereka sedang berkunjung di sana.
Empat pria Arab itu menikmati makan siang yang dihidangkan oleh pelayan kediaman Satria dan terlihat menyukai masakan buatan Tika. Terlihat, suasana kekeluargaan terasa di sana meski tanpa Lysa ikut bergabung.
***
sayang gak ada tips gak bisa pamer. lele pamer ini aja😆 tapi sedih kurang 1 gak jdi dapet hadiah bonus dr MT😩 jumlah subs karya lele gak memenuhi standar
__ADS_1