
Jordan mengajak Naomi makan siang berdua di luar kantor tanpa pengawalan.
Wajah mereka masih dinyatakan aman dari penelusuran GIGA meskipun Jordan pernah teridentifikasi oleh sistem pendataan mafia muda dalam jajaran 13 Demon Heads oleh satelit militer Rusia dan Amerika.
Namun, bantuan masih diberikan oleh Jack, Ara dan Catherine yang diam-diam memihak para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads meski hanya menerima perintah langsung dari Amanda serta Vesper.
Data Jordan dan beberapa mafia muda dihapus dari sistem database CIA meski Rusia masih memilikinya. Namun, sudah hampir setahun, keberadaan mereka tak menjadi incaran pihak militer.
Siang itu, Naomi terlihat tak berselera menikmati makan siangnya. Padahal Jordan cukup yakin jika menu yang ia pesan adalah kesukaan Naomi, kekasihnya.
"Apa yang mengganggumu?" tanya Jordan serius dan mengejutkan Naomi, di mana sedari tadi ia masih mengaduk-aduk cream sup brokoli di mangkuknya.
"Mm ...."
"Sandara mengatakan jika dia, Tessa dan Arjuna menemukan keberadaan Afro di Perancis."
"Oh! Benarkah? Lalu?" sahut Naomi langsung semangat.
Jordan tetap tenang dalam bersikap sembari mengiris daging steak-nya dengan potongan rapi. "Sandara ceroboh. Aku bisa melihat tipuan dari informasi yang diberikannya. Ada yang janggal dan aku harus menyelidikinya."
Naomi diam sejenak menatap kekasihnya yang terlihat tenang saat memasukkan potongan daging berwarna cokelat kemerahan itu ke mulutnya.
"Janggal tentang apa?" tanya Naomi masih tak puas dengan penuturan Jordan.
"Sandara mencintai Afro. Itu sudah sangat jelas dan hal tersebut yang membuatku menyerah untuk mendapatkan cintanya."
Naomi mulai paham. Perasaan kecewa kembali menyelimuti hatinya saat mendengar kejujuran Jordan. Naomi tertunduk.
"Tiba-tiba, dia mengatakan jika Afro ingin membunuh mereka. Sangat tak masuk akal."
"He?" sahut Naomi lagi yang merasa perasaannya ditarik ulur oleh sang kekasih.
"Sandara mengajakku bergabung untuk memburu Afro. Dalam hal ini, aku melihat ada sandiwara yang sedang Sandara mainkan. Sikapnya juga berubah meski aku tak tahu apa yang merubahnya, tapi aku sangat yakin jika itu ada hubungannya dengan Afro," sambung Jordan yang masih memasang wajah datar sembari menikmati makan siangnya.
Mata Naomi melebar. Ia terlihat begitu antusias mendengar penuturan sang kekasih.
"Sudah. Aku hanya ingin mengatakan hal itu saja. Selesaikan makan siangmu. Ingat, rapat dengan Manager," tegas Jordan melirik sang kekasih yang masih memandanginya lekat.
"Hanya begitu saja? Tak ada hal lain yang ingin kau sampaikan? Misalnya ... lalu keputusanmu, apakah kau mau bergabung dengan Sandara atau tidak memburu Afro, belum kau jawab," sahut Naomi semangat.
Jordan menghentikan kegiatannya mengiris daging dan kini menatap wajah kekasihnya dengan pandangan sendu. Naomi mendadak gugup.
"Jika aku bersedia bergabung, kau pasti akan cemburu karena aku akan mengabiskan waktu yang cukup lama bersama Sandara untuk penyelidikan. Kau ingin hal itu terjadi? Kau ingin aku meninggalkanmu dan pergi bersamanya?"
Naomi mematung seketika. Ia merasa canggung karena diberikan pertanyaan yang sebenarnya ia cukup yakin jika Jordan tahu jawabannya.
"Kau 'kan sudah berjanji akan mengajakku melihat kembang api," jawab Naomi tertunduk dan berucap lirih.
__ADS_1
Jordan diam menatap Naomi yang menyembunyikan wajah dari pandangannya. "Oleh karena itu, jangan menanyakan pertanyaan yang kau sendiri sudah tahu jawabannya."
Naomi cemberut. Ia merasa diintimidasi oleh kekasihnya padahal umur mereka terpaut cukup jauh. Naomi merasa seperti anak kecil di hadapan Jordan.
"Empat puluh lima menit lagi. Butuh waktu 15 menit untuk tiba di kantor. Cepat habiskan, kita harus segera kembali ke kantor. Jangan terlambat," tegas Jordan.
Namun, nafsu makan Naomi seakan lenyap seketika. Ia hanya memakan sup brokoli dan tak memesan makanan lain. Naomi diam selama perjalanan kembali ke kantor.
Namun, ia terlihat fokus saat meeting di lakukan dengan para Manager meski setelahnya ia kembali lesu.
Pukul 18.00 waktu setempat.
"Badanmu panas. Sebaiknya kita pulang. Pekerjaan ini masih bisa dikerjakan di rumah. Hanya mengkoreksi dan meninjau ulang dari laporan," ucap Jordan memegang dahi Naomi lalu merapikan semua berkas di mejanya.
Naomi menurut. Ia pamit ke kamar mandi dan Jordan mengangguk pelan meski ia merasa aneh karena ruang kerja Direktur memiliki kamar mandi dalam, sedang Naomi malah pergi keluar.
"Bayu," panggil Naomi dan Manager Operasional di Perusahaan itupun mendatanginya dengan sungkan.
"Ya, Mbak. Kenapa?"
"Tolong ubah name board-ku menjadi "Vice President Director", pintanya tersenyum meski lesu.
"Panjang amat. Udah bagus itu "President". Singkat, padat, jelas dan--"
"Menimbulkan kesalahpahaman. Tolong ya. Awal tahun nanti saat kantor kembali buka, aku ingin papan itu tertempel di dinding samping pintu ruang kerja dan name plate di atas mejaku. Thanks, Bayu," ucap Naomi menegaskan sembari menutup pintu ruang kerja Manager-nya.
Bayu menggaruk kepala. Ia pun segera melaksanakan perintah bos besarnya di Perusahaan itu.
Naomi tetap memberikan senyum manis pada semua karyawannya di sepanjang koridor sampai ke lobi tempat mobil Jordan di parkir.
Kediaman Amanda, Napoli, Italia.
Naomi segera berbaring di kasur setelah ia membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan piyama tidur.
"Aku ambilkan makan malam. Kita makan di kamar saja," ucap Jordan pelan dan Naomi mengangguk sembari menutup tubuhnya dengan selimut.
Namun, saat Jordan berjalan di koridor, ia terkejut melihat Sandara berpenampilan lain seperti wanita dewasa dengan gaun merah menyala, heels dan make up.
Sandara berjalan melenggang ke arahnya dan Jordan berdiri diam menunggu kedatangannya.
"Kita belum selesai membicarakan rencana tentang pencarian Afro, Jordan. Ini harus segera diputuskan," tegas Sandara dan Jordan masih memasang wajah datar.
"Kita kubu yang bertentangan, Dara. Kau sepertinya lupa akan hal itu. Jika kau bermaksud untuk membuat Afro tewas di tanganku, tak usah melakukan apa-apa. Tak perlu mencari bukti untuk pembelaannya. Aku sudah punya cukup bukti kuat yang akan menentukan nasibnya di Pengadilan," jawab Jordan tegas.
"Oh ya? Mau berbagi denganku?" tanya Sandara melangkah mendekat hingga Jordan bisa mencium parfum di tubuh gadis Asia di depannya yang memakai pakaian sedikit terbuka di bagian atas, model sabrina.
"Berbagi? Sepertinya kau butuh liburan, Sandara. Sebaiknya kau temui papamu, dia berulang tahun tepat saat pergantian tahun. Keluarga yang terpenting, jangan lupakan itu. Maaf, aku masih ada urusan, kekasihku menunggu. Permisi," ucapnya sopan sembari melangkah pergi.
__ADS_1
Sandara memejamkan mata terlihat menahan amarah. Namun, wajahnya berubah tenang kembali setelah ia membuka mata.
Sandara menoleh sekilas dan melihat Jordan sudah tak tertangkap dalam pengawasannya lagi. Sandara melangkah dengan suara ketukan khas sepasang heels memasuki kamar Naomi.
"Jor ... eh, Dara? Kau 'kah itu?" tanya Naomi terkejut dan Sandara diam tak menjawab.
Naomi terlihat gugup dan duduk perlahan menyenderkan punggung ke sandaran kasur. Sandara berdiri di samping ranjang Naomi. Naomi diam menatap Sandara lekat.
"Jadi, papa Kai dan mamaku menunjukmu sebagai Direktur Perusahaan?" tanya Sandara pelan dan Naomi mengangguk. "Lalu ... bagaimana dengan jabatanku?"
"Kau tetap Presiden Direkturnya, Dara, kau pemiliknya. Sesuai dengan surat kuasa yang dituliskan oleh Afro. Aku sudah mengganti nama pada jabatanku, "Vice President Director" agar posisiku lebih jelas di Perusahaan," jawabnya sopan.
"Baguslah."
"Dewan Komisaris mencakup ibumu, ayahmu, nyonya Manda, tuan Han, Jeremy dan Tobias."
"Tobias?!" pekik Sandara sampai matanya melotot. Naomi mengangguk.
"Ada apa?" sahut Jordan seraya melangkah masuk ke dalam kamar Naomi sembari membawa nampan berisi makan malam.
Sandara gugup seketika, tapi tetap berusaha menunjukkan senyumnya di hadapan Jordan.
"Aku hanya menanyakan struktur organisasi. Namun sepertinya, kak Naomi sedikit lelah. Aku bisa menanyakannya lain kali. Aku pamit untuk menemui papaku merayakan ulang tahunnya. Selamat malam dan selamat istirahat," pamit Sandara sopan dan bergegas pergi.
Naomi diam dan memalingkan pandangan. Jordan meletakkan makan malam di atas meja dekat ranjang dan menutup pintu.
"Sandara tiba-tiba tertarik untuk mengurus perusahaan? Apa dia sudah mempelajarinya?" tanya Jordan berkesan menyindir meski memasang wajah datar.
Naomi hanya tersenyum tak menjawab. Jordan memangku sepiring nasi goreng buatan Bayu The Kamvret. Naomi terlihat berselera saat Jordan menyuapinya dengan telaten.
"Jordan. Aku masih penasaran dengan anak perusahaan Elios Grup. Menurut dokumen ada 5. Hanya saja, semenjak Elios meninggal dan perusahaan di jalankan oleh Venelope, nama Direktur yang mengelola adalah orang-orang dari 8 Mens. Namun, orang-orang itu sudah meninggal. Lalu ... siapa yang mengurusnya selama ini sedang profit terus masuk ke Induk Perusahaan. Apa kau tak merasa ini aneh?" tanya Naomi setelah menelan makanannya.
"Hem. Aku sudah meminta tim Silhouette mengurusnya. Mereka sedang mendatangi anak perusahaan itu yang tersebar di beberapa negara. Kita tunggu saja," jawabnya masih memasang wajah datar.
Naomi tersenyum. Ia merasa terbantu dengan hadirnya Jordan di sisinya. Usai makan malam, Jordan bahkan menemani Naomi tidur di sisinya meski perempuan cantik itu berusaha menolak, tapi Jordan bersikukuh dengan keinginannya.
"Selama Sandara berada di rumah ini, aku akan tidur di sini. Kau harus selalu di sampingku. Jangan pergi sendiri tanpa pengawasanku. Kau mengerti?" tegas Jordan yang memaksa Naomi tidur di lengannya sebagai alas bantal.
Naomi mengangguk. Entah kenapa perintah dari Jordan serasa mutlak untuknya. Tak bisa dibantah, tapi perasaan hangat menyelimuti hatinya.
Naomi akhirnya tertidur pulas setelah Jordan mengelus kepalanya lembut. Namun, remaja tampan itu masih terjaga. Ia terlihat memikirkan suatu hal dengan serius.
"Kau sedang memainkan sebuah permainan, Sandara. Pergerakkan Red Ribbon-mu terlihat olehku. Kau memihak Arjuna dan Tessa. Lalu Tessa, dia berkomplot dengan Venelope, Mr. White dan Smiley. Aku tahu, ke mana tujuan dari rencanamu. Hem, mungkin aku harus berbalik arah. Tak ada salahnya memihak musuh lama yang mungkin akan menjadi teman," batinya berbicara seraya mengecup kepala Naomi lembut yang terdengar dengkuran lirih dari mulutnya.
Jordan tersenyum tipis. Ia terus memandangi wajah ayu Naomi yang perlahan, membuat matanya terpejam dan tak lama, ikut tertidur.
***
__ADS_1
tengkiyuw tipsnya💋💋💋 oia Casanova udah bisa baca di aplikasi GN ya meski jadwal update msh belum tentu krn lele msh fokus dg deadline di real life dulu. cemangat semua😘