
Di sisi lain, Rumah Sakit tempat Han, Tora dan One dirawat. Di kamar Han kelas VVIP. Italia.
"Ini ... sungguh mengerikan, Lily," ucap Han saat ia akhirnya sadar dan mendapati setengah tubuhnya terbakar karena insiden di Mansion Venelope, Italia.
"Tak seburuk yang terjadi padaku dan James, Kak Han," jawab Vesper dengan senyum manis, duduk di samping suaminya yang sedang terpuruk.
"Aku seperti monster," ucapnya sedih.
"Dan aku dulu dijuluki Frankenstein. Tak ada yang mengatakan kau seperti monster, Kak Han. Kau yang menyebut dirimu sendiri seperti itu," sahut Vesper seraya mengelus lengan Han lembut yang tak terbungkus kain itu.
Han memejamkan matanya erat. Ia terlihat begitu terpukul akan keadaannya sekarang. Vesper bisa mengerti jika mental Han sedang jatuh karena luka fisiknya cukup mengerikan, tapi Vesper berdalih jika itu bukan hal besar.
"Kau akan baik-baik saja. Aku sudah mengkonsultasikan hal ini pada Albino dan Atit. Hanya saja ...."
Han langsung melirik isterinya yang menundukkan pandangan. "Hanya apa?"
"Jika kau operasi plastik, kau akan berubah. Seperti aku dan James. Jujur, Kak Han. Aku tak mau hal itu terjadi padamu. Selama ini, aku selalu merindukan diriku yang berwajah Asia. Aku seperti roh yang memasuki tubuh wanita cantik berparas Eropa. Aku bisa menerimamu dengan kondisimu yang sekarang, Kak Han. Aku tak masalah jika kulitmu rusak. Aku lebih suka melihat fisikmu yang sekarang meski sudah tak sempurna seperti dulu lagi, tapi kau adalah Kak Han-ku. Aku tak ingin melupakan wajah ini," ucap Vesper sedih berlinang air mata.
Han memegang wajah Vesper yang pada akhirnya, air mata kesedihan itu menetes di pipinya.
"Aku akan menakuti orang, Lily," ucap Han lirih.
"Kau seorang mafia, wajar jika kau menakuti semua orang."
Han tersenyum tipis. Ia tak menyangka jika isterinya masih bisa mengajaknya bercanda saat kondisinya sedang terpuruk.
"Bagaimana jika mereka tak mengenaliku?"
"Jika fisikmu berubah, tentu saja mereka tak mengenalimu. Aku tak mau melihat kau seperti orang lain, Kak Han. Tolonglah, tak perlu lakukan operasi plastik. Aku berjanji sampai mati akan selalu setia di sisimu. Jika ada seseorang yang menghinamu, biarkan aku menjadi tukang jagalmu. Akan kurobek mulut mereka. Tak boleh ada yang menghina suamiku," ucap Vesper mantab dan Han hanya tersenyum.
"Entahlah, Lily," jawabnya lesu.
"Please, Kak Han. Jangan berubah. Aku mencintaimu bukan karena fisikmu yang sempurna, tapi karena wajah lamamu yang meninggalkan milyaran kenangan termasuk sikapmu yang menjengkelkan."
Han tersenyum lebar dan akhirnya mengangguk. Vesper terlihat begitu senang dan air mata harunya menetes.
Vesper merebahkan kepalanya di pundak Han yang tak sakit. Han mengelus punggung isterinya lembut meski tangannya masih tertancap selang infus.
"Ini akan sangat sulit bagiku, Lily, saat aku bertemu orang-orang dan pandangan ngeri itu akan kulihat sampai akhir hidupku," ucap Han dengan pandangan kosong.
"Aku tahu. Aku pernah melihat dan merasakannya saat menjadi Frankenstein. Sangat menyakitkan, tapi ... percayalah, wajah baru tak memberikan kebahagiaan, Kak Han. Militer tetap mengenaliku, petaka tetap datang padaku. Wajah ini hanyalah pemanis agar mata orang-orang itu nyaman ketika melihatnya," jawab Vesper lirih.
"Berjanjilah untuk selalu di sampingku, Lily. Dan hanya kematian, yang bisa memisahkan kita."
"I promise."
Di kamar tempat Tora dirawat.
Mereka bicara dalam bahasa Jepang.
__ADS_1
Salah satu isteri Tora ikut datang dan terlihat sedih. Tora terluka cukup parah karena melindungi Han dengan punggungnya.
"Hiks, Sayang. Setelah kau sembuh nanti, kita pulang ke Kastil Hashirama saja ya. Kau tak perlu menjalankan misi lagi. Saudari Liana sudah mengizinkan. Tetaplah bersama kami," pinta Mei sedih.
"Aku belum membalaskan dendam Mitsuki dan Tokio," jawab Tora memiringkan tubuh, menatap wajah isterinya tajam dengan perban membungkus seluruh tubuhnya.
"Lupakan dendam itu. Kudengar, Tobias dan anak buahnya diserang kawanan serigala dari Venelope. Dia sudah mendapatkan ganjarannya, Sayang," jawab Mei memohon.
"Apakah Tobias mati?" Mei menggeleng. "Jika Tobias belum mati, dendam itu masih ada, Mei. Jangan menghalangiku. Hidupku tak akan tenang jika tak melihat Tobias mati. Aku menghormati Vesper-sama. Aku tak akan membunuh Lysa, tapi sebagai gantinya, Tobias harus mati," ucapnya tajam dengan mata terbelalak lebar.
Mei membungkam mulutnya. Permintaannya tak dikabulkan oleh sang suami. Mei hanya bisa menangis dan diam, tak lagi memohon.
Di kamar tempat One dirawat.
Mereka bicara dalam bahasa Mandarin.
"Kenapa kau bermuka masam seperti itu? Kau tak kasihan melihat kondisiku? Kau sungguh kejam, Verda," tanya One menatap isterinya yang tak menjawab sembari mengupas apel dengan kasar. "Kau marah padaku? Apalagi salahku?"
Verda langsung melirik suaminya tajam. One tersentak. Seakan mata sang isteri berubah seperti pisau tajam yang menusuk bola matanya.
"Ini, ini, ini!" jawabnya menunjuk kaki dan tangan kiri One yang di gips karena patah. One menghela nafas pelan. "Beruntung kau masih hidup! Tak usah cari Arjuna lagi! Aku tak peduli anak itu mati atau menjadi bangkai. Jika kau sayang padaku dan keluarga kita, tetaplah di Grey House. Jangan ikut misi lagi!" jawabnya marah, tapi berlinang air mata.
One tersenyum. "Aku mengerti, aku minta maaf. Setelah aku sembuh, kita pulang," jawab One mencoba meraih lutut Verda, tapi tak sampai karena pergelangan tangan kanannya retak.
"Menyebalkan."
CUP!
One segera mengunyah dan menelan potongan apel di mulutnya. "Aku sangat mencintaimu, Verda. Maaf, sudah membuatmu khawatir," jawab One dan Verda mengangguk seraya menghapus air mata yang menetes di pipinya.
Kediaman Darwin, Melun, Perancis.
Tobias tak bisa menolak permintaan sang isteri saat ia dipaksa pulang dan tak boleh menjalankan misi.
Operasi Balas Dendam diambil alih oleh Bojan, Ivan, Martin, Sun dan para Pion setelah mendapatkan persetujuan dari Vesper.
Jonathan dan Sierra ikut membahas misi tersebut di Pusat Kendali basement. Sedang di kamar Lysa, puteri pertama Vesper dengan penuh perhatian mengoleskan salep di punggung Tobias agar cepat kering.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Kau kenapa?" tanya Lysa saat Tobias menundukkan wajah terlihat serius mengamati sesuatu.
Lysa yang penasaran ikut melongok dari samping kepala Tobias dan ia terkejut seketika.
"Aku cukup yakin jika pe*isku berkurang 5 cm. Si botak keparat kurang ajar itu pasti sengaja membuat pendek keperkasaanku karena tak mau kalah saing," ucapnya geram mempelototi kejantanannya dengan handuk terbuka.
Lysa terkekeh meski tawanya tak terdengar.
"Benarkah? Coba kulihat," sahutnya sembari meraba daging panjang Tobias dengan lembut. Tobias diam melihat tangan sang isteri mengelus kejantanannya. "Ah tidak. Malah menurutku ini semakin besar dan padat."
__ADS_1
"Sungguh? Padahal tak ada luka, tapi aku masih merasakan ngilu. Lihat! Ujung pe*isku jadi memiliki bibir kecil. Bentuknya jadi tumpul. Jelek sekali. Mana enak kalau begini," gerutunya masih menyalahkan Eko karena merasa dibodohi.
Lysa menjatuhkan dahinya di pundak sang suami karena geli dengan pemikiran lugunya. Lysa akhirnya tertawa terbahak, tak bisa menahan ucapan konyol suaminya, tapi Tobias malah meliriknya tajam.
"Tak ada yang lucu. Kau tak merasakan penderitaanku," ucap Tobias memasang wajah garang.
"Begitukah? Mm, kenapa tak dites saja? Aku siap kapanpun kau mau mencobanya," jawab Lysa seraya melepaskan pengaman di segitiga bermudanya dan meletakkan kain berbentuk segitiga itu di samping bantal.
Kening Tobias berkerut saat Lysa malah menelanjangi dirinya dan membiarkan tubuhnya dengan perut yang mulai buncit terlihat.
Lysa duduk dengan pose menggoda sembari menggerakkan telunjuk kanannya, meminta agar Tobias datang padanya, tapi Tobias malah memalingkan wajah.
"Tidak mau! Pasti sakit," tolaknya kembali menggerutu.
Lysa menghela nafas panjang. Ia merangkak mendekati suaminya dan memegangi kedua lengannya lembut. Tobias diam saja saat sang isteri memutar tubuhnya hingga mereka saling berhadapan.
"Jangan! Nanti sa ... ah."
Kening Tobias berkerut saat Lysa memasukkan tongkat empuk itu ke mulutnya dan perlahan melumurinya dengan ludah di dalam sana. Tobias diam melihat wajah Lysa yang seperti menikmati aksinya itu.
"Sakit?" tanya Lysa dengan wajah memerah terlihat bergairah. Tobias menggeleng. Lysa tersenyum dan kembali meneruskan aksinya.
Namun tiba-tiba, Tobias melepaskan jilatan lidah nakal Lysa dan merebahkan tubuhnya. Lysa bingung saat Tobias memposisikan dirinya dengan gagah.
Tobias melebarkan kedua kaki Lysa hingga wanita cantik itu terkejut saat kejantanan Tobias langsung mendobrak kuat hingga tubuh Lysa sampai terangkat karena reflek.
"Toby! Hati-hati! Aku sedang hamil!" pekik Lysa melotot dan Tobias diam sejenak.
"Oke," jawabnya datar. Lysa kembali merebahkan dirinya mencari posisi nyaman untuk memulai aksi panasnya setelah 2 bulan ia berpuasa.
Namun, ekspresi Tobias malah membuat Lysa bingung. Pria bertato itu seperti memikirkan sesuatu saat mendorong miliknya di dalam sana. Gairah Lysa hilang seketika.
"Kau kenapa?" tanya Lysa heran.
"Rasanya lain. Sebentar," jawabnya lugu. Tobias bertolak pinggang sembari memaju-mundurkan pinggulnya dengan bibir mengerucut. "Coba dari belakang."
Lysa menghela nafas. Ia tak tahu apa yang dipikirkan suaminya. Lysa memposisikan dirinya merangkak dan Tobias kembali memasukkan miliknya dari belakang dengan kedua tangan di depan dada.
"Bagaimana?" tanya Lysa sudah kehilangan gairah bercinta.
"Ya. Ini beda. Rasanya geli. Aku mau kencing dulu," jawabnya seraya melepaskan kejantanannya dan berjalan santai menuju kamar mandi.
Lysa kembali merebahkan tubuhnya dan menyelimuti diri. Cukup lama Tobias di kamar mandi-entah apa yang ia lakukan-tapi hal itu malah membuat Lysa tertidur lelap.
Saat Tobias kembali, "Wah. Padahal pemanasan saja belum, dia sudah KO. Kalau begitu, aku akan minta sunat lagi," ucap Tobias mantap menatap wajah isterinya seperti orang kelelahan setelah bercinta beronde-ronde.
***
uhuy makasih tipsnya. brankas kosong ya. besok satu atau dua eps? kwkwkw #makin nglunjak😆
__ADS_1