
Swiss. Kediaman Nandra dan Ryan.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku dalam bahasa Indonesia campuran.
"Tak ada pergerakan dari Ungu di Perusahaan Adipura di Swiss. Meski demikian, aku khawatir jika tiba-tiba perusahaan diambil alih," ucap Kai terlihat serius setelah menerima panggilan telepon dari Satria.
"Om Satria udah laporin hal ini ke pihak kepolisian dan hukum yang bersangkutan 'kan, Papa Kai? Seharusnya, perusahaan baik-baik saja," sahut Jonathan menimpali.
"Ya, untung saja Pakde Satria segera memprosesnya. Banyak rekanan bisnis yang membantunya baik di Indonesia ataupun di Swiss. Begitu pihak berwajib mengetahui pelaku dari kejahatan ini adalah asisten Adipura, kepolisian di Indonesia memburu mereka di seluruh negeri. Bima dan anak buah Adipura kini masuk dalam daftar tersangka atas kasus pencurian berkas perusahaan di dua negara tersebut. Notaris dan pejabat perusahaan kini dalam pengawasan Red Ribbon yang Papa tugaskan demi keselamatan mereka. Setidaknya, masalah ini sudah terkendali 50% sampai mereka tertangkap," jawab Kai serius dengan ponsel masih dalam genggaman.
"Jadi ... kita bisa dateng ke acara nikahan kak Zaid dan Yena 'kan? Jujur, Papa Kai. Nathan gak enak kalo gak dateng," ucapnya cemberut. Kai tersenyum dan mengangguk. Senyum Jonathan merekah seketika.
Tak lama, Nandra muncul mendatangi para tamu yang menginap di kediamannya sudah 3 hari.
"Aku minta maaf jika tak bisa hadir ke acara pernikahan mereka. Aku masih belum siap jika bertemu dengan keluarga Khrisna. Aku sudah menghubungi Yena dan mengatakan padanya, jika mereka ingin berbulan madu ke Swiss, aku akan membiayai semua akomodasi selama di sini. Dan katanya, Swiss masuk dalam salah satu daftar honeymoon mereka," jawabnya dengan senyum merekah.
Jonathan, Kai, dan Torin menjawab dengan senyuman.
"Lalu setelah ini, apa yang akan kalian lakukan?" tanya Torin terlihat penasaran.
"Kami akan ke Lebanon. Mau ikut?" jawab Kai menawarkan dan Torin mengangguk pelan.
Tiga hari sebelum pesta pernikahan Yena dan Zaid diselenggarakan, para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads datang ke Lebanon.
Black Armys dan The Circle milik Jonathan di tempatkan untuk melindungi para mafia dari segala bentuk penyerangan.
Zaid yang memiliki aset berupa sebuah gedung apartemen mewah di sana, dipergunakan sebagai salah satu fasilitas untuk menginapkan para tamu undangan khusus yang akan menghadiri pernikahannya.
Pernikahan Zaid dan Yena dilangsungkan selama tiga hari. Hari pertama khusus untuk kerabat muslim bisnis legal yang berdomisili di Lebanon.
Hari kedua, untuk para rekanan bisnis legal yang datang dari berbagai negara. Hari ketiga, khusus para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads.
Tiga golongan tamu yang sudah dibagi sesuai kelasnya, dipersilakan untuk menikmati jamuan di Restoran peninggalan keluarga Dania yang berada di kaki bukit.
Banyak diantara mereka yang membahas bisnis sebagai aji mumpung untuk melebarkan kekuasaan dan memperkuat jaringan.
Pesta pernikahan Zaid dan Yena dengan tamu undangan para mafia, dilakukan pada sore hari di kediaman Dania.
Para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads ikut berbahagia atas penyatuan dua keluarga besar tersebut.
Di malam para mafia berkumpul, Jonathan terlihat begitu mesra dengan Sierra saat menikmati makan malam berdua di area khusus dengan Click and Clack melindungi keduanya.
"Lihatlah, kita yang menikah, tapi seakan Jonathan dan Sierra yang menikmati malam ini. Sebaiknya mereka segera dinikahkan. Aku melihat Jonathan sangat agresif," bisik Yena. Zaid sampai tersedak ketika meneguk air kelapa kesukaannya.
__ADS_1
"Wah, kau ini. Coba kau bicara langsung pada nyonya Vesper. Berani tidak?" tantang Zaid dan Yena langsung memonyongkan bibir.
Suasana begitu meriah di kediaman mendiang Dania. Sayangnya, orang-orang yang terlibat misi tak bisa hadir, dan mereka hanya bisa mengirimkan ucapan selamat serta titipan kado untuk mempelai. Zaid dan Yena paham kondisi tersebut, dan mereka memakluminya.
Di perairan dangkal kepulauan Karibia. Yacht Andreas sedang mempersiapkan keberangkatan setelah Biawak Hijau dan timnya merapat.
"Afro lama sekali. Mana nih kiriman fotonya?" gerutu Arjuna yang mondar-mandir di yacht saat kapal tersebut akan melanjutkan perjalanan menuju ke titik selanjutnya yang disinyalir, Ungu genit berada.
TRING!!
Arjuna dengan sigap membuka layar ponselnya. Pria Asia itu berdiri mematung saat melihat foto cantik Naomi yang seakan tersenyum padanya.
Senyum tipis terbit di paras Arjuna yang tampan. Arjuna membuka pesan elektronik yang Afro tujukan padanya.
"Aku tunggu hasil kerjamu untuk menemukan Sandara! Aku hampir kepergok Jordan, kau tahu?! Aku seperti penguntit! Menyebalkan! Jangan memintaku melakukan hal bodoh lagi," gerutu Afro dengan emot setan di belakang tulisannya. Arjuna terkekeh.
"Terima kasih, Sobat. Aku berhutang banyak padamu," balas Arjuna.
Arjuna duduk di sofa di bagian belakang kapal sembari memandangi foto ayu Naomi yang berhasil Afro dapatkan. Arjuna menghembuskan nafas panjang dan senyumnya tak luntur sedikitpun.
"Kenapa senyummu begitu manis, Naomi? Rambutmu sudah panjang. Kau terlihat seperti wanita dewasa sekarang," guman Arjuna dengan wajah merona.
Pesan balasan dari Afro melenyapkan rona kebahagiaan di wajah pemuda tampan itu. Arjuna kembali membuka pesan masuknya.
"Asal kau tahu, di sebelah Naomi itu aku! Aku malu setengah mati saat meminta Torin memotret kami berdua dengan ponselku siang tadi. Aku memotong gambarku hanya demi mendapatkan foto gadis pujaanmu itu. Cepat pulang, atau aku tak bertanggungjawab jika Jordan akan menikahi bidadarimu. Aku tak menerima rengekanmu nanti."
"What?!" pekik Arjuna kaget sampai matanya melotot.
Ia merasa, ucapan Biawak Hijau saat itu yang mengatakan jika Jordan akan menikahi Naomi benar adanya. Arjuna panik dan tergesa untuk kembali masuk ke dalam kapal.
Namun tiba-tiba, DUK!! BYUR!
"TIDAKKKK!" teriaknya lantang saat ponselnya tak sengaja terlempar dan malah tercebur ke dalam lautan.
Arjuna yang tergesa, ujung kakinya tak sengaja terkantuk keranjang berisi handuk dan membuatnya hampir jatuh tersungkur. Hanya saja, korban kecerobohannya kali ini adalah si ponsel yang malang.
Sun yang sedang melangkah dengan ponsel dalam genggaman terkejut, saat Tuan Mudanya tiba-tiba melepaskan pakaiannya dan hanya menyisakan boxer-nya saja.
BYURR!!
"TUAN MUDA!" teriak Sun panik. Ia tak tahu apa yang terjadi hingga Arjuna nekat melompat ke lautan di hari yang sudah gelap.
__ADS_1
"Ada apa, Sun?" tanya Biawak Putih mendekat dengan tergesa.
"Tuan Muda masuk ke air. Lampu!" jawabnya yang disertai permintaan untuk penerangan di bawah air.
Dengan sigap, Samuel menceburkan sebuah lampu penerangan yang terhubung dengan kabel ke dalam lautan. Tiba-tiba, Arjuna kembali muncul dan semua orang terkejut.
"Sun! Telepon nomorku, cepat!" pekiknya lantang.
"He?"
"Telepon nomorku! Di bawah sangat gelap, aku tak bisa lihat!" teriaknya lagi dan Sun akhirnya mengerti jika Tuan Mudanya sedang mengambil ponselnya kembali.
Sun menghubungi ponsel Arjuna. Pemuda tampan itu kembali menyelam dengan menarik lampu penerang untuk membantunya menerangi dasar.
Cukup lama Arjuna di dalam sana dan belum muncul ke permukaan. Sun tetap melakukan panggilan, hingga akhirnya, suara dering ponsel terdengar jelas.
"Hah! Hahahahaha! Ketemu! Yeah! Ponselku selamat!" teriaknya gembira sembari menciumi ponselnya yang sudah basah.
"Junet lebay. Lagian cuma hape doang sampai nyemplung ke laut segala. Untung kita di perairan dangkal. Coba dalem, sekalian jadi ubur-ubur kamu. Udah cepetan sini naik, kapal udah mau jalan," ucap Biawak Putih memberikan tangannya.
Arjuna memberikan ponselnya dan pria berambut gondrong itu segera meraihnya. Namun tiba-tiba, TET! TET! TET!
Mata Arjuna dan lainnya melebar. Arjuna yang sedang menaiki tangga, dengan basah kuyup kembali mengambil ponselnya dengan tergesa. Jempolnya dengan cepat masuk ke aplikasi khusus.
"TERMINATOR!" pekik Biawak Hijau melotot.
Arjuna mengangguk cepat. Jarinya dengan sigap masuk ke chat dan video live penyerangan yang terjadi di beberapa tempat, tapi Terminator tak dikirimkan dari markas Vesper yang berada di beberapa negara.
"Siapa yang diserang?" tanya Tulio-mantan anak buah Dominic-terkejut.
"Semua markas milik anggota Dewan 13 Demon Heads, kecuali orang-orang dalam jajaran Vesper," jawab Arjuna dengan mata terbelalak.
Terlihat, tangannya yang memegang ponsel bergetar saat menonton tayangan penyerangan yang dilakukan oleh beberapa binatang, dan diduga dalam pengaruh serum monster. Semua orang di dalam kapal tegang seketika.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
uhuy, tengkiyuw tipsnya😍 numpang tips buat beli kuota 😆 aduh kalo ada typo maklum aja. nyeri mens tak tertahankan gaes. huhu😩
__ADS_1