4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Andreas Balconi*


__ADS_3

Satu jam menjelang matahari terbit. Di yacht, kapal milik Andreas yang diakuisisi oleh Arjuna.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Sea! Bagaimana dengan mayat-mayat ini?" tanya Greco saat ia kembali ke kapal nelayan setelah menikmati pesta dari stok makanan dan minuman milik Andreas.


"Agh, shit! Aku lupa. Lempar saja ke laut," jawab Arjuna seraya beranjak dari sofa dan berjalan mendekat ke buritan sembari membawa botol Vodka.


"Ha? Bagaimana jika mayat mereka ditemukan?" tanya Greco panik.


"Biarkan saja. Biarkan mereka waspada dan tahu, jika ada seseorang yang lebih kuat dari Andreas," jawab Arjuna lalu meneguk Vodka dari botol dalam genggaman. "Oh, tunggu! Jika kau menyukai pakaian mereka, ambil saja. Maaf, bukan menghina. Namun, pakaian kalian lusuh."


"Ah, kau benar juga. Jujur, aku suka jam tangan pria ini," sahut Greco dan Arjuna memberikan jempolnya dengan senyuman.


"Eh, kenapa aku jadi ikut-ikutan paman BinBin? Mengkoleksi barang dari mayat," celetuk Arjuna teringat sosok pria tua tersebut. Arjuna tersenyum melihat Jose, Samuel dan Miguel tertidur usai mabuk berat. "Greco!"


"Yes, Sea!" jawab Greco sembari memakai jam tangan baru dan sepatu fantovel sitaannya.


"Bisa kau bawa kapal Samuel kembali ke Honduras? Aku ada urusan dengan anak buah Andreas. Aku ingin mengajak mereka ke sana. Sebaiknya, kau jangan bocorkan hal ini kepada siapapun sampai kami kembali. Bagaimana?"


"Ya, ya, aku bisa. Hati-hati. Aku akan menunggu kalian di tempat 'Dagang'. Mereka tahu itu di mana. Jaga dirimu dan kawan-kawanku ya," jawab Greco gugup dan Arjuna tersenyum seraya melambaikan tangan.


Arjuna mendekati nahkoda kapal yang disekap olehnya di balik dudukkan kemudi. Terlihat, pria malang itu ketakutan saat Arjuna berjongkok di depannya seraya menempelkan moncong pistol hingga dahinya mundur ke belakang.


"Hei. Bawa kami ke kediaman Andreas," pinta Arjuna di hadapan pria yang sudah babak belur karena dihajar olehnya.


Pria itu mengangguk cepat dengan wajah pucat. Arjuna melepaskan ikatan di tangan dan kedua kakinya.


Mulut pria itu tetap dibungkam dan dijaga oleh Arjuna dengan pistol ia arahkan ke belakang kepalanya dari dudukkan dekat pintu.


Yacht Andreas melaju meninggalkan kapal nelayan yang di nahkodai oleh Greco sendirian.


Arjuna curiga dengan gerak-gerik nahkoda kapal saat ia mengemudi dengan satu tangan dan tangan lainnya seperti menekan tombol di depannya yang ditutupi tubuhnya.


Arjuna beranjak dan berjalan mengendap di belakang pria itu dengan langkah kaki hampir tak terdengar.


"Wah, mengirim pesan ya? Kau pikir ... aku takut? Silakan lanjutkan, tapi sebagai gantinya, tubuhmu akan menjadi perisaiku. Kau akan merasakan tajamnya peluru ketika menembus kulitmu. Hehehe," kekeh Arjuna berbisik di telinga nahkoda tersebut dan moncong pistol menempel di salah satu lubang telinganya.


Tangan pria itu gemetaran. Arjuna memegangi punggung tangan nahkoda itu dan meletakkan kembali ke kemudi. Wajah pria itu pucat, sedang Arjuna terlihat santai berdiri di depannya.


"Ceritakan padaku tentang Andreas. Jika ada satu hal darinya yang kau tutupi, aku tak segan menghadiahkan satu peluru di tubuhmu. Bagaimana? Aku baik hati bukan? Aku tak langsung membunuhmu. Aku akan membuatmu merasakan, menahan sakit sampai kau kehabisan darah dan pada akhirnya memohon untuk dibunuh," bisik Arjuna menatapnya keji.


Pria itu terlihat begitu ketakutan. Wajahnya tak bisa menutupi rasa cemas di hatinya. Senyum Arjuna makin lebar melihat lawannya tak berdaya.


Arjuna melepaskan lakban di mulutnya. Nahkoda itu akhirnya menceritakan tentang Andreas, tapi hanya sepengetahuannya. Arjuna diam mendengarkan bahkan tak berkomentar.


Hingga akhirnya, setelah hampir dua jam berlayar, mereka tiba di sebuah pulau. Matahari sudah bersinar terang dan udara hangat menerpa tubuh putera Han yang berdiri dekat jendela kapal yang terbuka. Mata Arjuna menyipit saat ia melihat tablet samping nahkoda mendekati titik akhir.

__ADS_1



Coxen Hole, sebuah Pulau dalam wilayah Honduras.



Kapal mendekati sebuah dermaga kecil dan terlihat rumah mewah di atas bukit. Arjuna segera membangunkan Samuel serta lainnya karena mereka hampir berlabuh.


"Kalian ingat dengan rencana kita?" tanya Arjuna dan tiga pria itu mengangguk meski masih terlihat mengantuk.


Arjuna segera menyiapkan diri. Nahkoda itu terlihat gugup dan melirik Arjuna berulang kali yang sudah berpenampilan lain, terlihat begitu tangguh seperti siap bertempur.


"Kau tak akan menang, Anak muda. Jumlah mereka sangat banyak," ucap Nahkoda itu memperingatkan.


"Semakin banyak semakin menarik. Aku suka tantangan. Anggap saja ini salah satu tes yang harus aku selesaikan," jawab Arjuna mantab.


Semua pria yang berada di kapal menatap Arjuna seksama dalam diam.


"Oh iya. Jika aku berhasil, kau akan menjadi nahkoda kapal pribadiku. Bagaimana?" tawar Arjuna ke pria yang mengemudikan yacht untuknya.


"Tentu saja. Aku bekerja kepada siapapun asalkan dia seorang penguasa. Keahlianku bukan untuk melayani sembarang orang," jawabnya mulai terlihat tenang.


Arjuna tersenyum. Saat kapal sudah merapat, Jose mengikat tangan dan melakban mulut nahkoda itu.


"Kalian ingat menggunakan alat yang kuberikan?" tanya Arjuna menekan earphone di salah satu telinga dan tiga pria di depannya mengangguk paham. "Ingat, tunggu instruksi dariku. Ini berbahaya. Jika salah perhitungan dan bergerak sembarangan, kalian bisa tewas. Mengerti?"


Arjuna dan Ringgo menuruni kapal. Mereka berjalan dengan tenang menuju kediaman Andreas penuh kewaspadaan. Moncong pistol Arjuna tempelkan di punggung pria malang itu.


"Miguel, status," panggil Arjuna berbisik.


"Di luar sangat terik, tapi teropongmu sungguh hebat. Aku yakin ini buatan khusus," jawab Miguel kagum.


"Miguel, fokus," tegas Arjuna.


"Ah, maaf. Sensor deteksi panas tubuh manusia ada di beberapa tempat, Sea. Kau dikepung. Sekarang bagaimana?" jawab Miguel yang berujung panik.


"Berapa jumlah mereka? 50?" tanya Arjuna menebak.


"Sebentar ... ah, tidak. Hanya 15 orang saja. Namun, di dalam ada beberapa. Mereka banyak sekali, Sea!" pekik Miguel panik.


"Hem, kita lihat saja. Tetaplah mengintai. Jangan informasikan apapun padaku jika itu bukan hal gawat."


"O-oke."


Langkah Arjuna dan Ringgo terhenti saat muncul dua pria di depan mereka dari balik semak, mengarahkan senapan laras panjang.


Mereka berbicara bahasa Spanyol.

__ADS_1


"Di mana tuan Andreas?" tanya seorang pria berkulit cokelat membidiknya.


"Tewas. Ia meledak di laut setelah aku memasukkan granat ke mulutnya," jawab Arjuna jujur.


Kening dua pria itu langsung berkerut. Ringgo mengangguk membenarkan. Terlihat, nahkoda itu sungguh ketakutan. Arjuna bisa merasakan tubuhnya yang gemetaran.


"Kau yang membunuhnya?" tanya pria berkulit cokelat lainnya. Arjuna mengangguk.


Namun, siapa sangka, dua orang itu malah menurunkan senjata. Pria bersenjata yang memakai topi memanggil kawan-kawannya dari panggilan radio.


Muncullah beberapa orang yang bersembunyi di sekitar kediaman Andreas. Arjuna terlihat serius seketika.


"Lepaskan, Ringgo. Jadi, namamu Sea?" tanya seorang pria dengan rambut cepak. Arjuna mengangguk.


"Kami berterima kasih padamu, Anak muda. Kami akhirnya bebas. Andreas sungguh bersikap semena-mena pada kami selama ini. Dengan tewasnya baj*ngan itu, kami akhirnya bisa pulang," ucap pria bertopi.


Arjuna diam sejenak saat banyak pria muncul di depannya dengan senyuman meski bersenjata.


"Ingin pulang ya? Boleh saja. Jika nanti rumah tak menyambut kalian lagi, kembalilah kemari," jawab Arjuna santai sembari melepaskan ikatan dan lakban di mulut nahkoda kapal.


Ringgo terkejut karena ia dilepaskan. Kini, kumpulan pria berkulit cokelat itu menatap Arjuna tajam yang terlihat santai dalam bersikap meski sebuah pistol dalam genggamannya.


"Apa keluarga kalian tahu, jika kalian bekerja pada seorang penjahat? Apakah kalian bisa terlepas dari kebiasaan yang menjadikan kalian seorang penjahat? Jika tidak, sebaiknya tetap di sini dan bekerjalah padaku. Aku pastikan, kehidupan kalian 1000 kali lebih baik saat menjadi pengikutku," ucap Arjuna seraya berjalan menerobos kumpulan orang-orang itu dengan langkah pelan.


"Kau? Apa kau bermaksud menggantikan posisi Andreas?" tanya Ringgo nahkoda kapal.


Arjuna menghentikan langkah. Ia mendongak dan menatap mentari yang menyilaukan di pulau tersebut.


"Ya. Aku ingin membuktikan pada ibuku jika aku sangat layak menggantikan posisinya kelak. Langkah awalku adalah ... menjadi Andreas," jawabnya seraya membalik tubuhnya.


"Andreas?" tanya pria bertopi terlihat bingung.


"Hem. Mulai saat ini, namaku Andreas Balconi. Tak ada nama Kim Jun Sea. Aku akan menguasai Coxen Hole dan Honduras, menggantikan senior-ku, Dominic Kenner."


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


Baiklah karena gak ada vote masuk besok 1 eps aja kecuali tiba2 lele disogok😆



Oia yg kmrin tanya soal kaos. ini ada 2 jenis yang udh jadi ya, Blue and White😍 Sekarang udah bisa custom. Mau warna apa aja boleh dan design kaos cover novel yg mana bisa dipilih. Harganya 85k per kaos belom termasuk ongkir ya. Yang minat bisa DM Instagram Lele biar kita seragaman dan kompakan gitu😘 Abaikan foto ganjen lele karena jadi model dadakan. Kwkwkw. Ini aja infonya dan jangan lupa vote poin vocer koinya ya💋💋💋


__ADS_1


__ADS_2