4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Mulai Bertingkah*


__ADS_3

ILUSTRASI


SOURCE : PINTEREST



---------- back to Story :


Hari itu, Sandara Liu melacak keberadaan Jonathan meski Vesper sudah memberikan petunjuk di mana kediaman Sierra Flame.


Namun, entah apa yang dipikirkan oleh gadis cantik itu, ia tetap menggunakan GIGA untuk memastikan keberadaan saudara lelakinya.


"Ya benar. Sinyal kak Nathan masih ada di sana, Papa," ucap Dara saat ia dan timnya siap mendatangi Jonathan dan Sierra di Colmar.


Kai mengangguk dan segera mempersiapkan keberangkatan. Mereka sengaja tak menghubungi Jonathan karena khawatir jika anak Erik tersebut berburuk sangka atas maksud kedatangan mereka.


Sandara terlihat gugup selama perjalanan menuju ke kediaman Sierra. Kai yang duduk di samping anak gadisnya menatapnya lekat.


"Apa yang kau pikirkan, Sayang?" tanya Kai lembut sembari mengelus kepala belakang anaknya dengan James duduk di samping sopir.


"Aku ... merasa bersalah pada Sierra, Papa. Baru kali ini analisisku salah. Apakah itu berarti ... aku bukan gadis jenius lagi, seperti yang dikatakan orang-orang?"


Kai terkejut begitupula semua orang yang ikut dalam mobil. Kai menatap wajah anak perempuannya lekat sembari memberikan pengertian.


"Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Papa lihat, Sierra bisa menyikapinya dengan baik. Dia dewasa bahkan bisa berbaur dengan kita seperti bukan musuh, padahal selama ini, kita bertikai," jawab Kai tenang.


Sandara hanya diam tertunduk.


"Dara, ada yang mengganjal hati dan pikiran Papa selama ini. Jujur padaku," ucap Kai tiba-tiba. Sandara menoleh ke arah Ayahnya dan memandanginya lekat.


"Apa itu?"


"Saat Afro membawamu, kau di bawa kemana? Kau pergi cukup lama dan membuat semua orang mencemaskanmu," tanya Kai serius. Sandara menelan ludah lalu memalingkan wajah.


"Jangan menghindariku. Jangan berbohong," tegas Kai.


Sandara menarik nafas dalam dan kembali menatap wajah Ayahnya lekat.


"Kak Afro membawaku ke sebuah tempat, tapi ... aku tak tahu di mana. Selama penerbangan, ia memintaku untuk percaya padanya. Aku dibius dan saat bangun, aku berada di sebuah tempat dengan pemandangan laut yang indah serta sebuah mansion megah," jawabnya kembali tertunduk menatap ujung sepatunya yang memiliki kerlip merah muda.


"Kau tak tahu berada di mana?" tanya Kai masih menatap wajah anaknya tajam. Sandara menggeleng.


"Lalu, apa yang kau lakukan selama bersama Afro di sana?"


Sandara terlihat gugup. James dan semua orang yang ikut mendengar ikut menyimak pembicaraan Ayah-anak itu dengan serius.


"Aku sudah mengatakan hal ini pada mama dan lainnya, termasuk kau. Kenapa Papa tak percaya padaku?" tanya Sandara sedih menatap wajah Ayahnya dengan mata berlinang.


"Kau hanya mengatakan, jika Afro menyerahkan aset peninggalan Elios padamu, sebagai hutang budi karena telah dikelola oleh jajaran Vesper selama ini. Kau juga menyertakan bukti surat kuasa berikut catatan permintaan maaf Afro karena sudah membuat keributan dalam jajaran kita dan pergi serta tergabung dalam kelompok The Circle," ucap Kai menegaskan.


"Memang seperti itulah kejadiannya. Tak ada yang kututupi," jawabnya seperti akan menangis.


"Dara, ibumu mengajariku untuk melihat kebohongan dari lawan bicara dan aku tahu, ada hal yang kau sembunyikan. Jika kau sungguh menganggap aku sebagai Papamu, katakan dengan jujur. Di mana Afro sekarang?"


Sandara terlihat panik dan tertekan. Ia langsung memalingkan wajah tak berani melihat mata Ayahnya yang menatapnya tajam. Kai makin tegas dalam bersikap.


"Dara? Dara!"


Sandara memejamkan mata seketika. Ia terkejut karena Kai berteriak padanya.


Tiba-tiba, Sandara keluar begitu saja dari mobil saat kendaraan berhenti di sebuah traffic light menuju kediaman Sierra.

__ADS_1


Kai dan semua orang panik melihat aksi nekat Sandara. James segera keluar di susul oleh Kai berikut beberapa orang yang melihat Sandara berlari begitu saja masuk ke gang-gang perumahan di pinggir jalan raya itu.


"DARA!" teriak Kai lantang memanggil anak gadisnya yang mulai tak terlihat sosoknya.


"Kai, tenanglah. Kau sebaiknya kembali ke mobil. Kau tak boleh terlibat pertempuran lagi, ingat janjimu pada Nona Lily," tegas James memegang tangan Kai erat yang terlihat mencemaskan keadaan mental anak gadisnya.


"Argh, menyebalkan. Aku jadi seperti orang lemah. Baiklah, James. Aku serahkan padamu. Tolong bawa Sandara kembali padaku. Aku menunggu di rumah Sierra," jawab Kai kesal.


"Kau bisa mengandalkanku, Sobat," jawab James yang segera berlari mengejar bersama Red Ribbon.


Kai melanjutkan perjalanan bersama dengan Zaid, Yena, Lucy dan Yohanes menuju kediaman Sierra di Colmar yang masih membutuhkan waktu 2 jam untuk tiba di kota tersebut.


James bersama tim yang lain berpencar. Mereka menghubungi pusat kendali untuk melacak keberadaan Sandara Liu yang kini sosoknya tidak terlihat.


"Di mana dia? Bahaya! Perancis bukan wilayah kekuasaan kita!" pekik James cemas.


"James, aku mendapatkannya. Sandara berada di pinggir sungai. Cepatlah ke sana!" ucap Eiji menginformasikan.


James segera berlari dengan tergesa diikuti oleh pasukan lain menuju ke tempat yang Eiji maksud.


Namun, setibanya di sana, James bingung karena tak menemukan sosok Sandara.


"Di mana dia?" tanya James melihat sekeliling.


"Harusnya dia ada di depanmu, James. Titiknya aktif dan berkedip. Kau yakin tak melihatnya?" tanya Eiji heran.


"Mas James!" teriak Ucup Red Ribbon saat mendapati jam tangan pelacak yang tergeletak di pinggir sungai.


"Shit! Dara!" teriak James lantang karena anak terakhir Vesper nekat melepaskan alat pelacaknya.


Semua orang dibuat panik akan aksi nekat anak dari Kai tersebut.


"Eiji, lacak dari pantauan GIGA!" teriak James yang kembali membagi anggota timnya untuk mencari keberadaan Sandara Liu.


"Cepatlah, Eiji," pinta James dengan nafas tersengal karena terus berlari sembari melakukan komunikasi.


"James, bahaya! Pantauan terakhir dari GIGA melihat jika Sandara menaiki sebuah perahu menyusuri sungai. Hanya saja, ada jembatan setelahnya. Aku menduga, Sandara turun dari perahu tepat ketika melintas di bawah jembatan itu. Sebaiknya, kalian segera ke dermaga akhir perahu-perahu itu merapat," ucap Eiji menginformasikan.


"Oke!" jawab James cepat.


James segera menghubungi semua orang dalam timnya untuk kembali berkumpul.


Mereka membagi tim lagi untuk menyusuri seberang sungai di mana ada sebuah jembatan yang diduga Sandara turun dari perahu entah kemana tujuannya.


James dan tim sisanya berlari menuju ke dermaga tempat berlabuhnya semua perahu yang pergi menyusuri sungai.


Hampir satu jam lamanya pencarian, sosok Sandara benar-benar raib bak ditelan bumi. James frustasi karena Sandara menghilang begitu saja.


"Kenapa dia nekat padahal Kai hanya menanyakan hal sepele padanya tentang ... Afro? Jangan-jangan, Sandara pergi bersama Afro?" ucap James tiba-tiba serius seketika.


"Maksudnya, Afro bawa lari Sandara lagi kah, Kakak? Dia ada di sini?" tanya Rustam Red Ribbon dari Makasar.


"Bisa jadi," jawab James sembari melihat sekitar.


"Oke, aku paham, James. Akan kucoba mencari sosok Afro di sekitar sungai. Semoga dugaanmu benar," sahut Eiji yang ikut mendengar pembicaraan James bersama timnya.


Tak lama, para anggota tim yang berada di seberang menghubungi James dan mengatakan hasil pencarian Sandara negatif. Kini, James hanya bisa mengandalkan pencarian Eiji dengan bantuan GIGA.


"Hemf, maaf, James. Hasilnya sama, nihil. Aku akan menginformasikan hal ini kepada Nona Lily. Semoga dia tak mengamuk," sahut Eiji yang membuat semua orang pusing tujuh keliling mendengarnya.


"Baiklah. Aku akan menghentikan pencarian dan menyusul Kai ke Colmar. Semoga Kai tak pingsan mendengar anaknya hilang lagi. Thanks, Eiji," jawab James sembari memutus sambungan komunikasinya.

__ADS_1


James dan tim akhirnya kembali ke mobil untuk menyusul Kai ke kediaman Sierra, Colmar, Perancis.


Di sisi lain, seperti yang ditakutkan oleh Eiji dan James, Vesper terlihat marah dalam video call.


"Sandara. Kenapa semakin bertambahnya umur, dia semakin keras kepala? Dia sudah bukan seperti gadis kecilku yang dulu. Dia harus diberi ketegasan," ucap Vesper berwajah dingin dengan sumpit dalam genggaman.


Han yang duduk di samping isterinya bersama Sakura dan Alex saling melirik karena video call dilakukan ketika mereka sedang menikmati makan malam.


"Lalu sekarang bagaimana, Nona Lily?" tanya Eiji gugup.


"Akan kublokir Sandara Liu dari second user GIGA DARA."


Sontak, semua orang terkejut.


"Sayang, sepertinya itu berlebihan," sahut Han cepat.


KLAK!


"Oh!" pekik orang-orang terkejut saat Vesper mematahkan sumpit dalam genggamannya dan melirik Han tajam.


"Akan kubelikan sumpit baru yang terbuat dari batu. Berhentilah merusakkan barang-barang, Sayang," ucap Han mengalihkan pembicaraan.


Semua orang masih tegang dan memilih diam. Vesper meletakkan sumpit kayunya perlahan di samping mangkok nasi sembari menarik nafas dalam mencoba untuk kembali tenang.


Vesper memanggil pelayan untuk mengambilkan ponsel miliknya yang lain ke hadapannya. Segera, pelayan itu melaksanakan perintah Nyonya Besarnya.


Orang-orang dibuat penasaran dengan yang Vesper lakukan, hingga mereka terkejut karena Vesper sungguh memblokir nama Sandara Liu dari second user GIGA DARA.


"Blokir user Sandara Liu dari segala jenis pengoperasian GIGA DARA. Second user kualihkan kepada Kai Adipura," ucap Vesper tegas.


"GIGA mengkonfirmasi ...."


PIP!


Kai yang baru saja tiba di halaman mansion Sierra terkejut, ketika mendapati pesan dari GIGA jika Vesper mengalihkan second user padanya.


Kai terlihat gugup. Ia ragu untuk menekan tombol "ACCEPT" di layar ponselnya. Saat ia sedang berpikir, "Papa Kai!"


KLIK!


"Eh?" celetuk Kai saat ia tak sengaja menekan tombol "ACCEPT" karena terkejut akan panggilan Jonathan yang mendekati mobilnya.


Kai mendesah terlihat kecewa pada dirinya sendiri yang ceroboh. Namun, Kai tak bisa membatalkannya.


Ia memasukkan ponselnya dan kini keluar dari mobil, menyambut Jonathan dengan senyum merekah.


"Hai, Nathan. Oh. Kakimu sudah sembuh? Bagaimana? Kau senang tinggal di sini?" tanya Kai ramah merangkul lengan anak tirinya.


"Yep. Mm, Dara mana?" tanya Jonathan melongok di dalam mobil mencari sosok saudarinya.


"Dia menyusul dengan James dan lainnya. Hem, jadi ... ini rumah Sierra? Indah sekali, seperti Kastil di negeri dongeng," ucap Kai dengan wajah berbinar.


"Ehem, rumahnya cantik kaya yang punya. Hehe," sahut Jonathan terkekeh.


Kai dan lainnya yang mendengar ucapan Jonathan hanya bisa tertawa. Jonathan mempersilakan para tamunya masuk ke kediaman kekasihnya seakan rumah itu miliknya.


Kai dan lainnya mengikuti Jonathan di belakang sembari mengagumi kediaman Sierra.


***


alhamdulilah lele mendarat di depok dg selamat. trims tips koinnya😍 tau aja lele lagi pegel dan butuh recehan booster, kwkwk😆

__ADS_1


lele padamu💋💋💋



__ADS_2