
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
-------- back to Story :
Jordan berjalan di depan memimpin anggota timnya. Ia menyalakan laser Silent Red saat menaiki tangga dengan hati-hati.
Semua Pion terlihat waspada dan mengarahkan moncong senjata ke segala sisi dari dinding sembari menaiki tangga.
Hingga akhirnya, Jordan merasakan hembusan udara di depannya dengan cahaya lebih terang di ujung tangga.
Jordan menghentikan langkah dan meletakkan telunjuk di depan bibir, meminta semua orang tetap diam dan tak melakukan pergerakan yang mengejutkan.
Jordan melangkah perlahan hingga ia berada di ujung tangga yang tak memiliki pintu. Ia mengintip di balik dinding, tapi keningnya berkerut seketika.
Ia mematikan pedang lasernya dan menginjak lantai di atas tangga dengan hati-hati. Para Pion langsung bersiaga.
"Jordan? Bagaimana?" tanya Pion Dexter gugup.
"Naiklah. Aku rasa, tempat ini aman," jawab Jordan dan semua orang segera menaiki tangga itu.
Namun, semua orang yang berhasil naik ke atas, terlihat lesu seketika.
"Are you kidding me?" ucap Pion Darion setelah melihat sebuah ruangan yang terbengkalai cukup luas.
Semua orang terlihat tetap waspada dan melihat sekeliling dari tempat mereka berdiri. Kapsul Amanda digeletakkan di atas lantai oleh Mix and Match yang terlihat letih sembari mengusap wajah mereka.
"Tempat apa ini?" tanya Pion Darwin terlihat bingung sampai kepalanya mendongak ke atas di mana lampu masih menyala di dalam ruangan.
"Ini mirip dengan ... ingat? Aula seperti mini stadion yang digunakan saat kita melakukan tarung tinju. Bahkan ada Vesper dan Manda di sana. Ada banyak pintu, hanya saja tak ada kursi bertingkat dan ring di sini," jawab Pion Damian bertolak pinggang.
"Ya, kau benar. Kita sebenarnya berada di mana?" tanya Pion Dexter menggaruk kepalanya terlihat frustasi.
"Berapa sisa Galundeng yang kita miliki?" tanya Jordan masih terlihat fokus dalam misinya.
"Hempf, hanya 3," desah Pion Dexter saat membuka tas ranselnya dengan lesu.
__ADS_1
"Jordan, sebaiknya, kita beristirahat dulu di sini. Jujur, aku lelah. Mungkin kita bisa mendapatkan sinyal keluar," ucap Pion Darion dengan nafas tersengal.
"Benar kata Darion. Aku juga harus mengecek keadaan Nyonya Manda. Aku ingin memastikan Ibumu baik-baik saja," sahut Mix dan pada akhirnya, Jordan mengangguk.
Semua orang mulai meletakkan tas ransel mereka. Jordan meminta semua orang mengumpulkan sisa amunisi dan segala jenis perlengkapan yang masih dimiliki oleh anggota timnya.
Kapsul penyelamat mulai dibuka. Mix and Match melakukan pengecekan denyut dengan cara manual. Jordan sesekali melirik ke arah Ibunya yang masih terpasang tabung oksigen portabel di mulut serta hidungnya.
"Bagaimana?" tanya Jordan terlihat cemas.
"Entahlah, tapi kami merasa jika Nyonya Manda baik-baik saja. Namun, pakaiannya basah. Kita harus menggantinya," jawab Match dan Jordan mengangguk paham.
"Sisiri tempat ini dan tetap waspada," perintah Jordan dan para Pion segera berdiri.
Jordan mengumpulkan dan mengecek seluruh perlengkapan dari tas-tas para Pion serta milik Mix. Dua algojo Amanda juga terlihat sigap dengan pistol dalam genggaman menyisir sekitar aula tersebut.
"Jordan!" panggil Pion Damian dari sebuah pintu.
Jordan segera mendekati Damian yang mengarahkan moncong senapan laras panjang ke ruangan yang berhasil ia buka. Mata Jordan melebar, wajahnya tegang seketika.
"Sepertinya, tempat ini dulunya digunakan untuk ruang operasi atau semacamnya. Apakah ... tempat ini bekas Rumah Sakit? Bagaimana penelusuran pion lainnya?" tanya Jordan melirik Damian.
.
"Ya, sepertinya kau benar, Jordan. Ini ... bekas rumah sakit. Apakah ada rumah sakit dekat Perusahaan Elios?" tanya Darwin menoleh ke arah Jordan yang kembali melihat sebuah ruangan seperti bekas operasi.
"Entahlah. Aku belum menyusuri kawasan ini. Persiapanku kurang sempurna. Aku gagal," ucapnya terlihat kecewa pada dirinya sendiri.
"Bukan salahmu. Kita tak pernah tahu jika akan serumit ini. Untuk anak seumuranmu, kau cukup tangguh," puji Darwin, tapi Jordan diam saja. Darwin menghela nafas.
Tak lama, terdengar suara langkah dari para Pion yang mendatangi Jordan di ruangan tesebut.
"Buntu. Tak ada jendela atau pintu mengarah ke tempat lain," ucap Pion Darion menginformasikan.
__ADS_1
"Masih ada. Kau lihat pintu terbuka itu? Gunakan Galundeng. Aku tak mau ada korban tewas lagi dalam misi kali ini. Cukup Darius saja," tegas Jordan dengan wajah dingin dan para Pion mengangguk.
Pion Darion berlari kembali ke tempat Mix and Match berada untuk mengambil Galundeng dan tablet pengendali.
Jordan dan para Pion sisanya, tak menemukan benda apapun yang bisa memberikan petunjuk bahkan pakaian untuk mengganti baju Amanda yang basah.
"Aku rasa, tempat ini tak terbengkalai sepenuhnya. Lihat, lampu masih menyala dan jika kran air juga mengalir, tempat ini masih dipergunakan. Hanya saja, aku tak melihat jejak kaki di tempat ini selain alas sepatu kita," tegas Jordan menganalisis dan para Pion mengangguk setuju.
"Hei, Jordan! Ibumu sudah sadar. Kau sebaiknya ke sana. Serahkan penelusuran Galundeng pada kami," ucap Darion dengan membawa tas ransel berisi perlengkapan mata-matanya.
Jordan mengangguk dan segera mendatangi Ibunya yang duduk dengan Mix and Match di sampingnya. Amanda terlihat lesu dan pucat.
"Mom!" panggil Jordan dan senyum Amanda merekah seketika.
"Oh, Sayang. Syukurlah kau baik-baik saja. Mommy sangat cemas," ucapnya memeluk anaknya erat dan kini memandangi wajahnya seksama.
"Kau yang terluka dan tak sadarkan diri kenapa mencemaskanku? Kau Ibu yang aneh," jawabnya heran dan Amanda hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
"Kita ... ada di mana?" tanya Amanda bingung melihat sekitar.
"Entahlah, Mom. Kita berhasil selamat dari lorong penuh jebakan itu dan kita tiba di tempat ini. Hanya saja, kita terjebak. Kami tak menemukan jalan ataupun jendela untuk melihat di mana kita berada," jawab Jordan ikut melihat sekitar dari tempatnya berjongkok.
"Tempat ini seram," ucap Amanda terlihat takut.
"Hem. Mungkin berhantu," sahut Jordan dan wajah Amanda pucat seketika.
PLAK!
Jordan terkejut karena Ibunya memukul lengannya kuat dengan mata melotot. Mix and Match ikut kaget.
"Lebih baik aku bertemu musuh manusia bersenjata ketimbang hantu. Jangan bicara sembarangan. Nanti hantunya keluar sungguhan karena kau panggil," jawab Amanda bergidik ngeri.
Jordan tersenyum tanpa ia sadari. Ia tak tahu jika Ibunya takut pada hantu. Mix and Match saling melirik saat melihat Jordan menunjukkan senyumannya, sayang Amanda tak memperhatikannya.
***
Oia yang udah pada baca Casanova. Itu kalian bisa komen di tiap paragraf dalam naskah ya. Jadi gak harus komen secara keseluruhan dalam 1 eps.
Caranya, tekan yang lama pada bagian paragraf tersebut. Nah, tar keluar kolom komen. Tulis deh komenmu di sana. Bisa dicoba ya dan subscribe, terus download aplikasinya. Nah, kalian bisa baca kalo udah subscribe lewat app. Semangat!!
__ADS_1
Tengkiyuw tipsnya❤️ tapi karena cuma 1 jadi jumlah katanya menyesuaikan ya. Dr kmrin lele udah kasih bonus panjang2 per eps. Skg jumlah tips menyesuaikan jumlah kata per epsnya. Lele jadi matre demi kelangsungan hidup di Mangatoon dg sistem yg makin bikin sembelit. Kwkw lele padamu💋💋💋