4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Modus


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Di Lebanon, usai penyerangan yang berbuah kemenangan, para anggota Dewan pamit pulang karena harus membereskan kekacauan yang terjadi di markas mereka masing-masing.


Pasukan The Eyes milik Tobias yang sudah diberikan pada Lysa menuai pujian. Bahkan, mereka mulai meminta agar pasukan yang beranggotakan para remaja itu untuk menjaga markas-markas mereka, mengingat banyak penjaga yang tewas karena insiden penyerangan Venelope.


"Aku harus berunding dengan Tobias untuk hal ini. Karena jujur, mereka bisa melawan karena Tobias yang memberikan perintah. Jika serangan terjadi lagi, para remaja itu hanya bisa melakukan strategi rahasia itu dari pemimpin terdahulunya. Aku belum memiliki wewenang itu," jawab Lysa kepada para Dewan yang mengajak penawaran dengannya.


"Kalau begitu, pelajarilah. Minta Tobias untuk mengajarimu. Kau 'kan isterinya," sahut Rohan, dan Lysa hanya tersenyum menanggapi jawaban itu.


"Dan pastikan, harganya tak semahal Black Armys Vesper. Ibumu itu sungguh serakah," timpal Bojan berbisik. Lysa hanya meringis dan mengangguk pelan.


Ternyata, hal itu di dengar oleh Jonathan yang sedang menunggu laporan dari para anak buah The Circle-nya usai penyerangan.


Jonathan berpaling dan kembali ke kamar, di mana Sierra sedang berias. Karena setelah ini, giliran mereka yang akan melangsungkan pernikahan.


"Kamu kenapa?" tanya Sierra yang mulai bisa berbicara bahasa Indonesia meski dengan pengucapan formal.


"Yang. The Eyes mulai diincer sama anggota Dewan buat jadi pasukan tambahan mereka. Padahal 'kan, The Circle punya Nathan juga ngebantu mempertahankan Markas. Para anak-anak itu gak bisa kerja kalau bukan karena perintah darimu dan bang dad," jawabnya terlihat kesal dengan bertolak pinggang.


Sierra meletakkan saput blush on di meja rias dengan anggun. Ia lalu duduk dengan manis memandangi calon suaminya yang sedang menggerutu.


"Kenapa? Kau iri?" tanya Sierra yang mengejutkan anak Erik itu. Jonathan mengangguk jujur. Sierra tersenyum tipis. "Lalu, kamu ingin melakukan apa?" tanya Sierra yang kini memandangi kekasihnya lekat.


"Nathan mau tarik semua The Circle Nathan di rumah para Dewan dan juga di Pos Darurat. Selama ini, Nathan kasih mereka gratis. Mereka cuma gaji mereka selama ditempatkan di sana, tapi Nathan gak dapet apa-apa cuma ucapan terima kasih doang. Hari gini terima kasih gak bikin kaya!" sahutnya sewot. Sierra mengedipkan mata.


"Kau ... ingin menjadikan The Circle-mu sebagai tentara bayaran? Seperti Black Armys?" Jonathan mengangguk mantab. Sierra terdiam seperti memikirkan keputusan dari lelaki di hadapannya itu.


"Nathan akan omongin ini sama paman BinBin aja. Papa Kai dan ayah Han pasti memihak mama Lily. Nathan juga kayaknya harus ngomong sama kak Juna. Pasukan Bala Kurawa dia 'kan masih ditahan sama mama di Camp Militer. Orang-orang itu aset besar dan bisa dijual," sahutnya mantab.


"Dijual? Perdagangan manusia itu ilegal, Sayang," tegas Sierra mengingatkan.


"Kita 'kan mafia. Ilegal itu hukumnya halal bagi kita. Udah, Nathan mau telepon paman BinBin dulu," jawabnya langsung pergi meninggalkan kamar. Sierra menghela nafas pelan terlihat cemas akan sesuatu.


"Kenapa perasaanku tidak enak akan hal ini ya?" ucapnya seraya memegangi dadanya yang mendadak terasa sesak.


Di tempat BinBin berada. Markas Jeju, Korea Selatan.


"He? Jual pasukan?" pekiknya sembari menutup salah satu telinganya karena orang-orang di belakangnya sibuk memutilasi mayat untuk diumpankan ke ikan piranha.


"Iya, Paman BinBin! Aduh, brisik banget! Itu suara apa sih?" jawab Jonathan berteriak.


BinBin menoleh dan melihat para Black Armys Vesper sedang menggunakan gergaji pemotong daging dan tulang.


BinBin lalu pergi menjauh dan memilih berada di kandang burung peliharaannya yang sebesar sebuah kamar.

__ADS_1


"Sudah gak berisik 'kan?" tanyanya seraya duduk menyender pada sebuah kursi dan membiarkan ponselnya tergeletak di atas meja. BinBin menggunakan earphone untuk berkomunikasi.


"Ya gitu, Paman. The Eyes punya kak Lysa mulai diminati. Nathan pengen jual The Circle. Tapi, mereka hanya pasukan biasa. Kaya Black Armys level S mama. Biar mereka bisa level A gimana ya?" tanya Jonathan mengutarakan pemikiran.


BinBin diam sejenak. Ia terlihat memikirkan ucapan Jonathan yang baginya mengejutkan. Tak biasanya, Jonathan tertarik untuk berbisnis.


"The Circle-mu itu sudah sangat tepat, Nathan. Mereka bertugas di pos darurat. Kau tak keluar biaya karena mereka digaji oleh para anggota Dewan untuk menjaga tempat kamuflase yang kau buat itu. Kau juga mendapatkan keuntungan dari usaha-usaha kecil itu," ucap BinBin memberikan pendapatnya.


"Iya, itu benar, Paman. Tapi, Nathan pengen mereka itu jadi pasukan khusus yang bisa bertempur kaya para agent Colombia," sahutnya cepat. BinBin menggaruk kepala karena ikut tertekan akan hal ini.


"Lalu apa yang kau mau dariku? Aku bisa mencium kata-kata 'minta tolong' dari pembicaraan ini?" tanya BinBin frontal.


"Iya, tolong, Paman. Buat mereka seperti dirimu. Pintar, tampan, kuat, garang, dan jago dalam segala hal. Seperti pasukan khusus. Dan nantinya, akan Nathan beri nama, Pasukan Pria Tampan," jawabnya sudah membayangkan. BinBin menepuk jidat dengan mata terpejam.


"Itu sulit dan tak mudah," jawabnya tegas.


"Nathan tau, makanya minta tolong. Bantuin dong, Paman gitu. Gak temen nih," rengeknya mengancam.


BinBin gemas bukan main sampai burung-burung yang sedang asyik menikmati biji-bijian di sekitar kakinya terbang menjauh, karena pria tua itu menendangi mereka.


"Oke! Bayaranku mahal! Satu kelompok hanya berisi 10 orang saja. Kau menghancurkan masa pensiunku!" geram BinBin.


"Siap, Paman! Akan Nathan kirim 10 orang pilihan ke Jeju. Bye, Paman! Selamat menikmati masa pensiunmu," ucapnya gembira lalu menutup telepon.


BinBin mengedipkan mata, saat mendapati dua wanita cantik sedang berdiri di hadapannya dengan senyum manja.


"Kalian cari siapa?" tanya BinBin dengan bahasa Indonesia.


"Om dulu suaminya kak Bunga 'kan?" tanya seorang gadis berwajah khas Indonesia. BinBin terkejut dan mengangguk. "Aku Adiknya kak Bunga. Panggil aja Dinda," jawabnya genit. Mata BinBin terbelalak.


"Kalau aku Cinta. Aku temennya Dinda. Aku junior-nya kak Bunga saat di Bali dulu. Salam kenal, Om," sahutnya sambil bergoyang-goyang terlihat malu.


BinBin terlihat shock. Dua wanita cantik itu terlihat bingung karena BinBin seperti terkena serangan jantung.


"Om, gak papa, Om? Kenapa? Apa yang sakit?" tanya Dinda memegangi lengan BinBin karena pria tua itu terhuyung seperti akan jatuh ke belakang.


"Ke-kenapa kalian bisa kemari?" tanya BinBin sampai tergagap.


"Oh. Kami dihubungi oleh Jonathan, anak nyonya Vesper. Dulu, kak Bunga pernah bilang. Jika suatu saat nyonya Vesper butuh bantuan, kita harus mau nolong. Meski yang telepon kita bukan nyonya Vesper, tapi 'kan anaknya juga darah dagingnya. Selain itu, kita ini pesanan khusus," jawab Dinda centil.


"Pe-pesanan khusus?" tanya BinBin mengulang. Dua wanita cantik itu mengangguk dengan senyum terkembang.


"Kita akan temenin Om selama tugas dari tuan Jonathan selesai. Katanya, Om repot. Apalagi Om sekarang sendirian, pasti kesepian karena gak ada kak Bunga buat temenin Om BinBin lagi. Dinda juga sedih karena kehilangan kakak kesayangan Dinda," jawabnya lesu.


BinBin mengangguk sembari memandangi wajah ayu Dinda yang dilihat sedikit mirip dengan Bunga, meski Bunga baginya 1000 kali lebih cantik ketimbang adiknya.

__ADS_1


"Jadi, boleh 'kan kalo kita jadi asisten Om BinBin? Kita belum pernah ke Jeju sebelumnya. Kita dari kecil selalu di Bali, 'kan bosen, Om," sahut Cinta kembali menggoyangkan tubuhnya dengan cemberut.


BinBin tersenyum menyeringai dengan anggukan. Dua wanita itu terlihat senang. Mereka memeluk BinBin bersamaan. BinBin ikut gembira dan balas memeluk keduanya dengan senyum terkembang.


Para Black Armys penjaga menelan ludah. Terlihat jelas rasa iri di mata mereka yang masih membujang.


BinBin mengajak dua asistennya masuk ke dalam markas untuk memamerkan fasilitas yang ada di tempat itu, berikut kamar mereka yang ternyata, satu kamar dengan BinBin.


"Hehe. Paman BinBin gak mungkin bisa nolak lagi. Nathan tau banget apa yang dibutuhin sama paman. Semoga, paman gak encok. Hehehe," kekehnya dengan senyum licik.


"Lalu, setelah kesepuluh orang itu menjadi seperti yang kau mau, akan kau apakan mereka, Sayang?" tanya Sierra menatap wajah kekasihnya lekat.


"Yang jelas, mereka bakal jadi pasukan khusus Nathan untuk jaga Sierra," jawabnya sembari meletakkan ponsel usai mendapat kabar dari Cinta, wanita kirimannya.


"Menjagaku?"


"Hem. Ancaman Venelope bikin Nathan kepikiran, Yang. Nathan sekarang mulai sibuk. Makin banyak permintaan mobil modifikasi dari para mafia di bawah jajaran anggota Dewan. Nathan gak bisa ngawasin Sierra terus-terusan. Tapi, kalau Sierra dijaga sama orang-orang hebat, setidaknya, Nathan bisa tenang," sahutnya serius.


Senyum Sierra terkembang. Ia awalnya khawatir akan ide dari calon suaminya itu. Namun ternyata, dugaannya salah.


"Sayang, mumpung kamu belum sibuk, bagaimana kalau kita menyiapkan rencana pernikahan? Aku ingin menikah di Paris," pintanya dengan senyum menawan.


"Oke. Sierra mau pernikahan kaya apa? Nathan ikut aja. Pokoknya, Sierra bakal jadi orang paling cantik saat pernikahan itu berlangsung," jawabnya dengan wajah berbinar. Sierra tersipu malu.


Jonathan mendekatinya dan duduk di samping sang kekasih yang menyiapkan tablet dalam pangkuannya.


Sierra melihat beberapa design gaun cantik yang nantinya akan dibuatkan oleh Beny, tapi dengan sebuah modifikasi.


Seharian, sepasang kekasih itu terlihat betah berada di kamar untuk menyiapkan pesta pernikahan.


Pandangan Jonathan tak bisa lepas dari wajah Sierra yang terlihat seperti tak memiliki sisi jelek meski ia sedang marah, tidur, bahkan tersedak.


"Yang," panggilnya menatap Sierra lekat.


"Hem?" jawab Sierra seraya menoleh.


"Khilaf yuk. Perasaan Nathan udah gak jelas banget nih," ucapnya yang spontan, membuat Sierra mengedipkan mata berulang kali.


"Khilaf? Maksudnya? Khilaf itu apa?" tanyanya lugu.


"Ayo, kita bikin anak. Nathan pengen jadi Papa muda," jawabnya berbisik. Seketika, mata Sierra terbelalak lebar.


***


hari ini kayaknya satu eps aja. gak ada tips masuk😩 baiklah, kalau begitu, lele up novel lain aja. happy weekend. lele padamuā¤ļø

__ADS_1


__ADS_2