
Tak terasa, satu minggu telah terlewati dan musim telah memasuki dingin. Keempat anak Vesper terlihat sibuk dengan rencana mereka termasuk Jonathan yang akhirnya sadar setelah mendapatkan perawatan intensif dari Yu Jie.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia.
"Hei, hei. Aku tetap mencintaimu apa adanya, Nathan. Itu hanya bekas luka. Yang terpenting adalah kau sembuh dan bisa beraktivitas seperti sedia kala," ucap Sierra duduk di samping ranjang calon suaminya yang terlihat frustasi setelah mengetahui kulitnya rusak karena luka bakar yang cukup besar.
"Kau ingin menutupinya dengan tato sepertiku? Akan kutemani membuatnya," tanya Tobias berdiri di samping ranjang dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana kain.
"Daddy!" sahut Sierra terlihat kesal.
Tobias berpaling dan memilih pergi dari ruangan. Jonathan terlihat begitu terpuruk dan selalu mengurung diri di ruang perawatan bahkan, ia tak mau menemui siapapun.
"Nathan," panggil Sierra sedih karena kekasihnya terlihat murung.
Di sisi lain. Anak buah Jonathan yang terbagi menjadi lima tim dan dibantu oleh Silhouette Amanda, berhasil meyakinkan kepolisian Italia jika ledakan dan kebakaran yang terjadi karena konsleting di dalam gedung.
Meski demikian, pegawai diliburkan meski dalam pengawasan ketat The Circle Jonathan yang kembali di datangkan untuk memastikan jika para pegawai itu tak membocorkan kejadian sebenarnya ke publik.
Amanda terlihat serius di ruang kendali kediamannya saat Naomi dan Jordan sedang berusaha untuk menutup kebocoran di atap terowongan yang membanjiri ruang bawah tanah.
"Kami sudah menemukannya dan masih dalam proses menutup kebocoran dari dinding luar tebing. Seharusnya, air laut sudah tak masuk lagi," ucap Number Two melaporkan dari tim Baracuda yang dikirimkan Vesper setelah mendapatkan informasi dari Naomi.
"Good. Naomi dan Jordan masih memetakan lokasi bersama para Pion Tobias. Mereka juga sedang dalam proses melakukan penyedotan untuk mengeringkan terowongan," jawab Amanda dari sambungan video call para tim di lapangan.
Tiba-tiba, Tobias masuk dengan wajah dingin dan kedua tangan disembunyikan dalam celana kain. Amanda terlihat tegang seketika.
"Aku akan buat perhitungan pada Venelope dan Mr. White. Hem, saat pesta pernikahanku nanti, aku yakin, jika orang-orang Venelope akan fokus di kediaman Darwin. Kalian bisa memanfaatkan hal itu untuk menyusup ke kediamannya. Kali ini, aku ikut serta. Mereka membunuh Darius dan mencelakai calon suami anakku. Tak ada pengampunan bagi pendosa," ucap Tobias dan Amanda masih mematung tak berkomentar.
Tobias pergi begitu saja setelah menyampaikan hal tersebut. Amanda melirik ke arah Mix and Match yang ikut mengawasi di ruang kendali.
"Entah kenapa, aku tetap iba pada Lysa karena menikahi pria seperti Tobias. Semoga nasib Jordan dan Jason tak seperti anak-anak Vesper," ucap Amanda terlihat pusing membayangkan masa depan dua anaknya.
__ADS_1
Mix and Match hanya tersenyum dan kembali fokus pada pantauan kamera yang menyorot seluruh kegiatan tim di lapangan.
Di Filipina, Laboratorium Jeremy.
Temuan mengejutkan kembali ia dapatkan setelah meneliti obat-obatan yang diproduksi oleh perusahaan farmasi Elios, tapi dari sisi ilegal.
"Bagaimana, Jeremy?" tanya Kai yang diamanatkan Vesper untuk menyelidiki tentang obat-obatan Venelope.
"Semuanya adalah obat pembunuh yang secara perlahan merusak organ dan fungsi tubuh peminumnya. Reaksinya memang tak langsung. Namun, perlahan menggerogoti dan pada akhirnya menewaskan," jawab Jeremy terlihat serius sembari menatap botol berisi pil-pil tersebut.
"Dan mengejutkannya, aku menemukan sebuah obat yang memiliki kandungan seperti zat di kaki dan otak Sierra. Pelemah syaraf. Namun yang ini, telah diperkuat. Kau ingat? Saat daya ingat Sierra kembali?" Kai mengangguk pelan. "Nah, serumku bisa menghancurkan senyawa itu secara bertahap, tapi untuk obat Venelope, tidak mempan sama sekali," sambung Jeremy menegaskan.
Kai terlihat serius saat melihat botol obat dengan kapsul berwarna merah.
"Lalu ... bagaimana dengan Click and Clack? Apakah mereka sudah pulih?" tanya Kai kembali menatap Jeremy seksama.
"Ya. Aku juga menemukan zat dalam otak mereka di salah satu obat buatan Venelope. Pil putih ini, memiliki kandungan seperti gas halusinasi. Aku yakin, tim farmasi Venelope menduplikat cara kerja gasku dan mereka membuatnya dalam bentuk pil," jawab Jeremy menunjukkan botol berisi banyak pil di dalamnya.
"Oke, aku paham kondisinya. Aku akan meminta kepada Silhouette Amanda untuk mengumpulkan tim farmasi Elios yang membuat obat-obatan berbahaya ini. Terima kasih, Jeremy," ucap Kai menepuk pundak Profesor tersebut dan pergi meninggalkan ruangan.
Lucy merangkum seluruh laporan selama di Laboratorium Jeremy dan menginformasikannya kepada Vesper.
Grey House, China.
Lysa berdiri berhadapan dengan Arjuna, di mana sang Adik menggandeng tangan Tessa yang berdiri di sebelahnya terlihat gugup.
"Hem. Kenapa aku tak terkejut? Jadi, kau sudah melengkapi kuota ya? Sepertinya kita akan tetap duduk di kursi dewan, Brother," ucap Lysa penuh penekanan di mana matanya masih terfokus pada genggaman tangan dua sejoli di hadapannya.
"Ya. Hem, kulihat ... pasukanmu di bawah umur, Kak Lysa. Untung tak ada persyaratan khusus yang menuliskan "anggota tidak boleh di bawah 20 tahun". Kau beruntung," sahut Arjuna berkesan meledek.
Lysa menajamkan mata begitupula Arjuna. Suasana tegang begitu terasa antara dua anak Vesper yang kini saling memandang. Tessa terlihat gugup.
__ADS_1
Orang-orang yang berkumpul di Grey House karena ingin mengetahui hasil dari persyaratan pengumpulan pasukan bagi para anggota dewan baru, terdiam, melihat dua saudara itu seperti berselisih.
"Well, intinya kita semua duduk dalam kursi anggota dewan. Semua persyaratan terpenuhi dan ayo makan siang," ajak Rohan meski terlihat canggung dalam bersikap.
Lysa tersenyum dan mengangguk ke arah Rohan. Saat Lysa membalik tubuhnya dan berjalan di samping Rohan, Arjuna kembali bicara.
"Oia, soal pesta pernikahanmu di mansion Darwin, Melun, Prancis. Kenapa Tobias memaksa semua orang yang diundangnya untuk membawakan hadiah? Apa dia jatuh miskin dan kehilangan asetnya hingga meminta kado? Oh, kehidupanmu bersama Tobias sungguh miris, Kak Lysa. Jika aku jadi kau, aku tetap memilih Sultan. Ah, i see. Kau terpaksa menikahinya karena kau hamil anaknya sekaligus balas dendam pada Javier. Kau picik juga," kekehnya.
Lysa langsung membalik tubuh dan mengarahkan pistol ke wajah Arjuna. Semua orang terkejut dan langsung bersiaga.
"Bicaramu, sudah melebihi batas, Kim Arjuna. Kau semakin berlagak. Kita lihat saja, sejauh mana kesombongan akan membawamu dalam jajaran 13 Demon Heads. Seorang pria yang hanya memikirkan kekuasaan dan harga dirinya sendiri tanpa merasakan kepedihan orang lain, membuatku penasaran melihat kejatuhanmu, Kim Arjuna. Semoga Tessa ada di sana untuk melihatnya. Beruntung, Naomi pergi darimu dan aku yakin, keputusannya meninggalkanmu karena keegoisanmu," sindir Lysa yang kembali menyarungkan pistol di balik pinggang dan berjalan meninggalkan aula.
Nafas Arjuna menderu. Semua orang terlihat tegang dan saling melirik dalam diam. Tessa melihat tangan Arjuna yang menggenggam tangannya kuat seperti melampiaskan amarah.
"Sayang. Bagaimana jika kita makan di luar saja? Atau ... kita datangi ayahmu di Camp Militer?" tanya Tessa menatap Arjuna dengan senyuman.
Arjuna mengangguk dan meminta pada One untuk disiapkan keberangkatan menuju ke Camp Militer saat itu juga.
Verda dan One mendampingi Arjuna serta Tessa meninggalkan Grey House sore itu. Lysa tersenyum licik saat Arjuna memilih pergi ketimbang berselisih dengannya.
"Pengecut," ucap Lysa mengejek dan Yuki yang duduk di depannya hanya bisa diam tak berkomentar.
***
uhuy! wah masih tercium aroma daging sapi dan kambing nih๐ oia yg udh update noveltoon kini ada fitur baru loh terutama buat author. jadi ... bagi kalian yg komennya sangat mengesankan bagi lele, bisa masuk beranda populer. jadi kuy segera buat komentar ajaib biar komenmu bisa nongkrong di sana.
cemangat dan makasih ya tipsnya๐๐๐
__ADS_1