
Eko terlihat tak sabaran menunggu Beny kembali dari kamar mandi. Sedang para mafia lainnya, sibuk berdiskusi entah apa yang mereka bicarakan.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
CEKLEK!
"Nah!" seru Eko yang membuat suasana sedikit riuh itu mulai tenang ketika Beny memasuki ruangan dengan jalan melenggang layaknya supermodel wanita. "Kuy kuy, Ben! Ndang cep! Ndang cep!" pinta Eko dengan wajah berbinar.
Beny melirik Eko sadis, tapi pria gundul itu seolah tak peduli. Semua orang kembali serius karena mereka juga penasaran dengan yang Vesper berikan untuk mantan orang kepercayaan pak Sutejo dan berakhir untuk mengabdi pada sang Ratu seperti janji Eko pada almarhum pak Sutejo ketika penyerangan di markas Wonosari.
"Vesper menuliskan surat. Namun, akan kuminta pada Sandara untuk membacakannya. Ia menuliskan dalam sandi yang katanya, hanya kalian bertiga yang mengerti," ucap Beny seraya memberikan sebuah amplop kepada Sandara.
Eko mengangguk cepat terlihat tegang saat Sandara menerima amplop itu dan membuka lipatan kertas sejumlah satu lembar. Sandara seperti membaca terlebih dahulu lalu melirik Eko dalam diam.
"Kan, kan, yang begini nih yang bikin Eko makin gak sabar. Dibacakan dong, Dik Dara unyu. Bukan main lirik-lirikan. Om Eko gak ngerti," ucap Eko berusaha sabar.
Semua orang kembali menahan senyum karena kesabaran Eko sudah berada di ubun-ubun. Entah kenapa, Sandara ikut tersenyum tipis dan hal itu cukup mengejutkan orang-orang karena sedari tadi gadis itu memasang wajah datar.
"Halo, Eko. Kulihat, kau selalu bahagia dan sehat. Meskipun kau sakit, tapi kau tak menunjukkan kelemahan sebagai seorang pria. Canda tawamu membuat orang-orang di sekitar turut gembira. Aku sangat beruntung memiliki bodyguard sekaligus asisten seperti dirimu. Aku sangat menyayangimu," ucap Sandara yang cukup mengejutkan semua orang.
"I lop yu tu, Mbak Vesper," jawab Eko dengan wajah siap untuk menggelontorkan air mata.
"Ehem!" dehem Kai dan Han dengan sangat kencang sehingga mengejutkan semua orang, tapi membuat Jonathan tertawa terbahak.
"Opo sih? Sirik aja. Fakta itu! Mbak Vesper sayang sama Eko. Gak usah ngiri," sahut Eko menatap dua suami Vesper sebal. Mafia lainnya menahan senyum.
"Pemilihan aset untukmu adalah hal tersulit ketimbang yang lainnya. Banyak hal yang kupertimbangkan selama kuterbaring sakit. Mungkin karena itu, kau sering kutugaskan ke lapangan karena wajahmu membuat tekanan tersendiri untukku. Terlebih, sikap dan cara bicaramu. Hanya kau satu-satunya orang yang tak takut padaku. Aku cukup kagum," imbuh Sandara yang membuat Eko malah mengedipkan mata.
"Itu barusan tergolong pujian apa hinaan ya? Beda tipis soalnya," tanya Eko bingung.
"Hinaan," sahut Han dan Kai serempak.
"Orang jeles pasti jawabnya gitu. Terserah, Eko anggap pujian. Terusin, Dar!" ucap Eko kembali sebal. Sandara tersenyum tipis.
"Mengingat jasamu pada almarhum pak Sutejo, Ahmed, dan keluarganya dulu, akhirnya kumampu membuat sebuah keputusan. Kuharap teman-temanmu bisa memaklumi hal ini," ucap Sandara dan semua orang tampak serius mendengarkan.
"Rumah Ahmed yang berada di Turki berikut Black Stone dan tanah tempat gua Lucifer Flame, akan menjadi milikmu. Tolong jaga tiga tempat itu sebagai kenangan dan bukti sejarah atas terbentuknya 13 Demon Heads dan The Circle," ucap Sandara.
"Siap, Mbak Vesper! Eko akan menjaga dengan sepenuh jiwa raga hati sampai mati," jawabnya mantap.
"Lalu. Pabrik Garmen yang berada di Pemalang. Kupercayakan padamu, tapi ingat ini. Semua Black Armys yang masih bernaung dalam jajaranku akan menjadi tanggungjawabmu. Tak perlu melakukan perekrutan lagi. Sudahi saja dengan sisa yang ada. Mereka adalah para pejuang yang setia. Mereka sebagai bukti hasil kerja keras didikanmu, Jenderal Tio, Buffalo dan Drake. Oleh karenanya, hasil dari penjualan barang produksi pabrik, akan dibagi rata untuk para karyawan pabrik, Black Armys pekerja, Buffalo dan Drake. Kau tak perlu mengirimkan uang itu lagi padaku. Gunakan untuk melanjutkan hidup kalian. Harapan terbesarku, keluarlah dari dunia mafia dan jadilah warga sipil. Aku tak ingin kalian hidup sengsara dan terus diburu militer jika terus berada dalam dunia hitam ini. Mungkin akan terasa sulit, tapi aku percaya jika kalian bisa. Berusahalah. Itu saja dariku dan kau tetap kuberikan uang sebanyak 4 miliar sesuai dengan jumlah anggota keluargamu. Terima kasih atas kesetiaanmu, Eko. Sayangnya, aku tak mencintaimu. Vesper."
"He?" celetuk Eko saat kalimat terakhir dibacakan.
__ADS_1
"Hahaha! Sayang dan cinta beda, Om!" seru Jonathan dari tempatnya duduk.
"Ya ya, Om Eko paham. Kalau mbak Vesper cinta sama Eko bisa gaswat nanti urusan sama dek Dewi," jawab Eko yang membuat para mafia kembali tersenyum. "Siap, Mbak Vesper! Eko akan lanjutkan perjuanganmu meski harus out dari dunia mafia!" seru Eko.
Drake dan Buffalo mengangguk setuju. Mereka yang sudah berkeluarga dan memiliki anak, turut merasa khawatir jika buah hati mereka diserang dan terluka karena masa lalu.
"Bagaimana? Puas?" tanya Beny melotot.
"Aku padamu, Bentol. Muach!" jawab Eko seraya memberikan ciuman jarak jauh.
Mata Beny melebar seperti shock. Ia meminta kepada asistennya untuk menyerahkan map tersebut kepada Eko karena enggan memberikannya sendiri. Eko menciumi map itu dan memeluk seperti kekasihnya.
"Baiklah. Selanjutnya, Yuki," ucap Beny yang membuat adik dari Eiji terkejut.
"Yes?" jawab Yuki tampak gugup.
"Vesper memberikanmu uang senilai 1 miliar rupiah. Selain itu, dia memberikan aset yang dulunya milik pak Sutejo yakni tanah di White Sea, Rusia. Mungkin kalian tak ingat, tapi tempat itu wajib kita kenang karena Kang Dae Gi dan Tatsuya Tendo tewas di sana. Tak perlu menyalahkan para Biawak untuk tragedi masa lalu. Semua orang pasti mati. Namun, dengan cara seperti apa, hanya Tuhan yang tahu. Kita sebagai manusia tak bisa menghakimi," tegas Beny seraya membacakan catatan kecil dari Vesper dalam map.
Para Biawak tertunduk terlihat merasa bersalah. One menatap empat lelaki itu tajam karena perbuatan mereka juga membuat para mafia lainnya hampir tewas terbunuh.
"Kami ... minta maaf. Sungguh, kami sangat menyesal," ucap Biawak Kuning terlihat gugup saat dirinya sadar ditatap tajam oleh para mafia.
One mengembuskan napas panjang seraya memalingkan wajah. Ia tahu jika percuma saja menuntut balas karena hal itu tak akan membuat pamannya kembali lagi.
"Bagiku ... itu sudah lebih dari cukup, Nyonya Vesper. Kau menganggapku sebagai anak, menyekolahkanku, memberikanku pekerjaan usai lulus, bahkan menikahkanku. Untukku ... mimpi itu seperti nyata. Terima kasih," ucap Yuki penuh haru dan semua orang tersenyum mendengarnya.
Eiji tampak bangga pada adiknya karena tetap bersikap sederhana. Torin mencium pipi isterinya lembut dan hal itu membuat Lysa kembali merasa bersalah karena sikap buruknya ketika Yuki serta Torin datang untuk menyadarkannya.
"Selanjutnya, Torin," ucap Beny usai memberikan map warna hitam kepada Yuki. Torin mengangguk pelan dari tempatnya duduk. "Semua aset yang dulu dimiliki oleh ayahmu, telah berhasil diamankan oleh Vesper. Kau juga diberikan tanggungjawab untuk mengelola usaha milik Adrian Axton Giamoco yang berada di Amerika. Nandra sudah memutuskan untuk menetap di Swiss bersama Ryan. Kediaman Giamoco silakan kautempati sampai waktunya tiba, di mana hunian itu akan jatuh pada keturunannya. Oleh karena itu, Amanda akan menyerahkannya secara keseluruhan padamu karena ia sudah tak bisa lagi menyimpan asetmu," ucap Beny yang membuat Torin terkejut termasuk para mafia lainnya.
Amanda menundukkan wajah dengan senyuman.
"Akhirnya ... aku harus mengatakan ini. Aku harap, kalian semua bisa mengerti," ucap Amanda yang membuat kening semua orang berkerut. "Kuputuskan untuk tak lagi menjabat sebagai Ketua Dewan Sekretariat 13 Demon Heads. Aku juga tak meminta kepada siapapun untuk meneruskan kepemimpinanku. Selain itu, aku dan para anggota dewan sepakat jika ... 13 Demon Heads dibubarkan."
"What?!" pekik para mafia langsung melotot lebar.
Han ikut dibidik dan ia tampak tegang dalam bersikap.
"Itu benar. Kami sudah sepakat. Kami akan mengindahkan ucapan Vesper dengan menjadi warga sipil. Berbisnis legal dan ... tak dapat dipungkiri jika harus tetap terlibat dalam dunia hitam. Namun, kami para anggota dewan sudah lelah. Kami tak ingin menjabat lagi. Mungkin lebih tepatnya ... nama 13 Demon Heads tetap ada, tapi sudah tak ada penguasa lagi di dalamnya, termasuk pemimpin yang akan menaungi seluruh para mafia. Kami merasa ... ini sudah cukup," imbuh Han yang membuat para mafia dalam jajaran tercengang.
Saat suasana tegang terasa mencekam karena penuturan Amanda dan Han, pintu ruang rapat dibuka.
Mata semua orang dalam ruangan kini tertuju pada para anggota dewan yang memasuki ruang rapat.
__ADS_1
"Yang dikatakan Kim Han Bong benar. Dulu, kami memang sangat bangga dan berambisi untuk bisa masuk dalam jajaran 13 Demon Heads. Bahkan, kami bersaing sengit untuk duduk sebagai pemimpin. Sayangnya, usai mengalami banyak pukulan berat yang menewaskan banyak pihak terutama keluarga bahkan adikku Rahul serta ayahku Raja Khrisna, kurasa ... sudah saatnya kita akhiri semua," ucap Jamal dan diangguki para anggota dewan yang berdiri di kanan kirinya.
"Maaf. Bukannya kami cuci tangan atau tak mau lagi terlibat dengan militer atau mafia lainnya. Namun, siapa yang sanggup menggantikan kekuasaan dan cara kepemimpinan Vesper? Boleslav dan Han saja mengakui jika selama mereka memerintah, 13 Demon Heads mengalami penurunan drastis. Jika mereka berdua saja tak mampu, apalagi kami? Jujur, kami tak memiliki kapasitas sebesar Vesper dan mereka berdua. Kami sadar diri," sahut Rohan mengakui ketidakmampuannya.
"Bahkan kau, Papi Ivan?" tanya Jonathan menatap ayah baptisnya lekat.
Ivan mengangguk pelan dengan senyum tipis. Jonathan menatap para mafia yang ikut dalam jajaran 13 Demon Heads saksama.
"Lalu ... kita akan berpisah gitu?" tanya Jonathan sedih.
"Sepertinya tidak," sahut Beny.
Empat anak Vesper terlihat serius saat Buffalo membuka sebuah surat yang diberikan Beny padanya. Para mafia terlihat penasaran dengan isi surat yang wanita tangguh itu bacakan.
"Tiap lima tahun sekali diadakan pertemuan para mantan mafia dalam jajaran 13 Demon Heads untuk mengenang Vesper dan pendahulunya? Begitu?" tanya Arjuna memastikan.
"Ya. Meskipun kita tak lagi menjadi mafia, tapi kita tetap keluarga," jawab Buffalo.
"Ini rekaman terakhir Vesper yang dikirimkan padaku sebelum ia sakit parah dan harus pindah dari satu tempat ke tempat lain demi menghindari serangan Miles ke anak-anak," ucap Beny yang mengejutkan semua orang.
Praktis, suasana hening seketika saat Beny memutar alat perekam yang ia letakkan di atas meja.
"Halo semuanya. Semoga kalian tak bosan dengan surat dan ucapan terakhirku ini. Jujur, aku sangat sedih harus berpisah dengan kalian. Namun, ini kehendak Tuhan. Aku tak memiliki kuasa untuk menghentikannya," ucap Vesper yang membuat wajah semua orang kembali berduka.
"Alasan kenapa kuberikan aset dengan lokasi hunian yang berbeda-beda dan berada di beberapa negara, itu karena aku ingin saat kalian berkunjung ke negara tersebut, entah urusan bisnis atau sekedar liburan, datangilah teman-teman yang tergabung dalam jajaran 13 Demon Heads dan The Circle. Kita sekarang sudah menjadi satu. Jangan jadikan dendam di masa lalu sebagai jurang pemisah antar kelompok. Semua orang yang bersalah pasti akan dihukum dan kita semua sudah merasakannya. Sudah cukup pertikaian yang terjadi dan tiba saatnya menciptakan harmonisasi. Oleh karena itu, kubuat acara tanpa aku ikut serta di dalamnya agar kalian tetap saling terhubung dengan pertemuan keluarga besar. Kusarankan, tempat itu berpindah-pindah agar anak cucu kita saling mengenal dengan ingatan baru mereka. Aku sangat menyayangkan karena calon penerus kita harus kehilangan sebagian ingatan mereka, tapi itu adalah kenangan kelam yang memang sudah sepantasnya dikubur."
Orang-orang menundukkan wajah terlihat sedih atas keputusan mereka yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.
"Terakhir. Kuucapkan selamat menempuh hidup baru sebagai warga sipil. Meski tak bisa dipungkiri jika kita adalah mafia untuk selamanya. Salam keabadian dunia hitam. Vesper."
Dengan sendirinya, para mafia memberikan tanda kelompok masing-masing. Seperti para pion dengan membentuk segitiga dengan arti "Home" dari The Circle.
Para mafia dalam jajaran Vesper membentuk huruf V dengan jari telunjuk dan tengah yang diangkat tinggi ke atas, tapi di belakang pinggul mereka juga membentuk huruf yang sama sebagai bentuk menyembunyikan jati diri yang sesungguhnya, seorang mafia.
Sedang para anggota dewan, mengepalkan dua tangan dengan bentuk menyilang seperti tanda X di depan dada.
Orang-orang terlihat serius dan setuju untuk membubarkan dua kelompok tersebut, 13 Demon Heads dan The Circle untuk selamanya.
***
entah kenapa lele ikut sedih harus bubar tapi ya begitulah. sejak awal mmg sudah disusun alur ceritanya dan gak bisa diubah. kudu legowo meski lele sdri eman. semua harus direlakan. smg LAP juga demikian😩
__ADS_1
kwkwkw masih ada lanjutan bagi warisan dan smg besok terakhir. akan lele padetin biar gak kepanjangan. misal nanti ada boncap paling abis lebaran ya. terima kasih tipsnya💋 lele padamu❤️