4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Dibalas Dengan Kelicikan*


__ADS_3

Perasaan aku gak info kalo udah up kenapa kalian bisa nemu aja ya tu novel? Kwkw salut buat kalian, aku aja gak tau kalo udah lolos review loh. Hahahaha😆


Tengkiyuw yg udah jejak komen di sana dan sub. Mau info aja, itu novel buat ikut lomba jadi nanti epsnya dikit buat memenuhi syarat lomba. Kalo menang ya alhamdulilah, kalo gak ya tar lele tetep up cuma sehari satu eps aja. Novel King D akan release setelah 4YMS2 tamat ya dan itupun genrenya sudah fantasi kaya 13 Demon Kids ini.



----- back to Story :


Minggu kedua bulan Januari, menjelang magrib.


Yudhi telah kembali ke Turkey kediaman Ahmed. Eko menyambutnya dengan wajah serius dan kedua tangan melipat di depan dada seperti siap menginterogasinya.


"Apa sih, Om?" tanya Yudhi saat ia keluar dari mobil sedan yang dikendarainya.


"Kamu dari mana? Kenapa gak pakai pesawat? Itu mobil siapa? Jangan bilang kamu nyolong," tanyanya dengan mata menyipit penuh selidik. Yudhi tersenyum.


"Mobil Perusahaan Farmasi Elios di Italia. Jordan kasih pinjem ke Yudhi. Kenapa?" tanya Yudhi seraya merapatkan jaketnya di tengah udara dingin bersalju.


"Apa kamu nglewatin Kroasia dan Serbia?"


Yudhi diam sejenak. "Nglewatin lah, 'kan tolnya lewat sana. Kenapa, Om?" tanya Yudhi heran.


"Gak papa. Baguslah kalo kamu gak tau," jawab Eko seraya berpaling.


"Eh, Om, ada apa? Kasih tau Yudhi dong. Ogah ah main rahasia-rahasiaan," rengeknya mengejar pria gundul itu.


Eko menghentikan langkah dan kini menatap Yudhi lekat. "Jonathan nyatain perang ke para anggota Dewan yang ngusir anak buahnya dari Pos Darurat di seluruh dunia."


"Ha? Kenapa gitu?"


"Biasa, selisih pendapat, beda pemikiran, jadinya begitu. Pusing Eko. Kamu jangan ikut-ikutan. Kita ini cuma kumpulan upil diantara tumpukan taii," jawabnya dengan sebuah istilah unik. Yudhi mengangguk.


Yudhi kembali ke mobilnya dan menenteng beberapa tas ke dalam rumah. Eko melirik barang-barang bawaan Yudhi yang tergolong banyak.


"Nanti oleh-olehnya, dingin ini, Yudhi masuk dulu," ucap Yudhi saat menyadari jika Eko memperhatikannya sedari tadi penuh curiga. Eko mengangguk dan membiarkan pemuda itu naik ke lantai dua masuk ke kamarnya.


"Eko yakin seyaqin-yaqinnya kalo Yudhi patut dicurigai, tapi apa alesannya, Eko gak bisa putusin. Namun, Eko bakal awasin kamu kaya CCTV, Yud," ucap Eko mantap dari tempatnya berdiri di bawah tangga saat sosok pemuda berkulit sawo matang itu tak terlihat.


Hari berikutnya. Dini hari di depan toko Penyedia Perlengkapan Haji, Tunisia.


Anak buah Jonathan berdiri tegap dengan sorot mata tajam menatap para pasukan Jihad yang menghadang langkah mereka.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"Jonathan!" seru seorang pria gundul keluar dari dalam toko didampingi Sauqi yang berjalan di sampingnya.


Mata Jonathan menyipit. Pemuda itu menunggu di mobil dan mengawasi dari kamera pengintai yang terpasang di seragam anak buahnya.


"Sultan ingin bertemu denganmu," pinta Habib, tapi Jonathan terlihat malas dari balik jendela. "Ingat, Jonathan. Kau berada di tanah Sultan. Meski kau lolos dari sini, belum tentu kau bisa selamat sampai ke Bandara," tegas Habib mengancam.


Jonathan terlihat kesal. Pemuda itu akhirnya keluar dari mobil dengan langkah gusar. Click and Clack berjalan melindungi Bosnya di kanan kirinya.

__ADS_1


Tim Bunga Jonathan tetap berada di luar salah satu usaha milik Javier yang memiliki pos darurat di Tunisia.


Jonathan melangkah dengan wajah dingin seperti udara di musim itu ketika memasuki toko tersebut. Ia diminta naik ke lantai dua. Tempat itu sepi karena matahari masih menyembunyikan sinarnya.


CEKLEK!


Sauqi membuka sebuah pintu dan Habib mempersilakan tamunya masuk. Terlihat, Javier duduk di sana dengan jubah kebesarannya ala Timur Tengah. Jonathan melangkah perlahan dan terlihat waspada dengan sekitar.


"Tak akan terjadi hal buruk di sini asal kau tak membuat gara-gara," tegas Javier santai seraya meletakkan biji kurma ke piring kecil di hadapannya.


"Nathan gak bakal bikin gara-gara kalau bukan kalian yang mulai duluan," jawabnya ketus.


Javier tersenyum. "Aku harus mengikuti suara terbanyak untuk meyakinkan para anggota Dewan, Jonathan," jawab Javier mempersilakan tamunya duduk lesehan dengan karpet permadani terbentang luas di hadapannya.


Jonathan menatap Javier tajam dari tempatnya berdiri, tapi pada akhirnya ia bersedia duduk meski Click and Clack tetap berdiri terlihat waspada.


"Kau merekrut The Eyes paling banyak diantara anggota dewan yang lain, Sultan," tegas Jonathan, dan Javier mengangguk membenarkan seraya menuang arak ke sebuah gelas keramik untuk pemuda di depannya.


"Ya, itu benar. Semua aku tempatkan di seluruh pos darurat milikku."


PRANG!!


GRAB!!


"Ugh!" erang Jonathan saat ia melemparkan gelas keramik ke samping dan mengenai dinding hingga pecah.


Namun dengan cepat, Javier menangkap lehernya dan mencekiknya. Jonathan terlihat kesulitan bernafas saat Javier mendekatkan tubuhnya dan menatap Jonathan tajam.


BRUK!


"Uhuk! Uhuk!"


Cengkeraman di leher Jonathan dilepaskan oleh Sultan dengan mendorong tubuhnya kuat. Pemuda itu batuk-batuk seraya memegangi lehernya yang sakit karena cekikan kuat Javier yang tak disangkanya.


"Kau sepertiku dulu, Jonathan. Mudah sekali terpancing dan emosi. Dengarkan penjelasanku baru bertindak. Paham?" ucap Javier pelan menunjuk pemuda tampan di hadapannya. Jonathan tak punya pilihan lain, ia mengangguk pelan dengan tangan masih memegangi lehernya yang sakit. "Aku sengaja merekrut The Eyes untuk kubunuh."


Praktis, mata Jonathan melebar seketika.


"Kau harusnya paham. Aku tak pernah menyukai Tobias. Dia merebut Lysa dariku. Beruntung, King D sekarang ada dalam genggamanku. Aku tak sudi anakku menjadi baji*ngan sepertinya," tegas Javier dan semua orang mendengarkan dengan saksama.


"Kenapa kau membunuh mereka? Kalaupun mereka tewas, hal itu tak akan membuat kak Lysa kembali padamu. Yang ada, dia malah membencimu," tegasnya.


"Oh benarkah?" tanya Javier dengan satu alis terangkat.


Jonathan berkerut kening. Pemuda itu diam menyipitkan mata terlihat bingung. Tak lama, ponsel Javier berdering. Sang Sultan tersenyum dan meminta Jonathan untuk diam tak bicara. Pemuda itu pun menurutinya.


"Yes, Lysa?" jawabnya dengan panggilan di perdengarkan.


"Javier? Apa yang terjadi? Bagaimana bisa semua anak buahku tewas? Apakah Jonathan pelakunya?" tanya Lysa langsung menuduh.


Mata Jonathan melebar. Javier tetap memintanya diam dengan telunjuk di depan bibir. Javier menarik nafas dalam.

__ADS_1


"Hah, hah, Lysa! Miles! Dia datang! Dia membantai seluruh anak buahmu. Dia mengatakan ... dia ... dia bilang ...," jawabnya tergagap seperti orang panik.


"Dia kenapa? Bicara yang jelas!" desak Lysa.


"Dia menyatakan perang dengan Tobias! Dia menggunakan King D untuk mengancamku. Beruntung, King D berhasil kuselamatkan sebelum lelaki keji itu melukainya. Oh, Lysa, katakan pada suamimu itu agar menyelesaikan dendamnya pada Miles!" jawab Javier terdengar seperti orang ketakutan, padahal kenyataannya tidak. Sultan, sangat jago sekali dalam berakting.


"What? Miles?"


"Ya. Mereka mengatakan akan mendatangimu untuk melenyapkan semua anggota The Eyes. Dia menginginkan Tobias, Lysa. Berikan saja dia agar anak kita selamat," desak Javier seraya menyomot kurma di piring di hadapannya, tapi suaranya terdengar panik.


"Kau gila?! Tidak bisa!"


"Jadi ... kau lebih memilih Tobias, ketimbang King D anak kita? Sungguh Lysa, aku kecewa padamu. Anak kita terlibat dalam hal yang tak ada sangkut-pautnya dengan konflik antara Miles dan Toby. King D menjadi korban dan kau merelakan kematiannya? Semoga, Allah mengampunimu."


"Javier, tu—"


KLEK! TUT ... TUT ... TUT ....


PLOK! PLOK! PLOK!


Javier tersenyum saat Jonathan bertepuk tangan untuknya.


"Tak kusangka kau sangat hebat dalam bermain drama, Sultan," puji Jonathan tersenyum miring.


"Aku belajar dari Tobias," jawabnya santai seraya menuang arak kembali ke gelas keramik untuk tamunya.


"Tobias?"


"Hem. Dia sangat licik. Memperdayaku hingga aku melakukan kesalahan fatal dan membuat Lysa serta seluruh orang membenciku. Pernah dengar ungkapan, 'Apapun akan dilakukan oleh seorang suami agar isteri dan anaknya hidup bahagia'?" Jonathan menggeleng. "Aku melakukan kesalahan, karena aku tak mau Lysa dan King D menderita lagi. Aku terpaksa melakukannya. Kau pikir, aku mencintai kelima wanita itu? Tidak. Aku menggunakan rahim mereka sebagai titipan untuk memenuhi permintaan Tobias. Sayangnya, aku gagal. Namun, dari kegagalan dan kesabaranku, kini aku tahu bagaimana caranya menjatuhkan pria keji itu," ucapnya dengan sorot mata tajam tertunduk entah apa yang dilihat oleh sang Sultan.


"Apa itu?" tanya Jonathan penasaran.


"Kelicikan, dibalas dengan kelicikan."


Jonathan tersenyum dengan anggukan.


"Namun, aku masih belum yakin padamu, Jonathan. Sierra, anak dari Tobias. Pasti dia akan mendukung ayahnya," lirik Javier ke pemuda keturunan Arab tersebut.


"Kata siapa? Sierra aja nekat mau bunuh diri dari pada ngakuin Tobias papanya," jawab Jonathan seraya meraih cangkir berisi arak itu lalu meneguknya.


"Jadi ... kau memihakku? Tobias parasit di hidup kita, Jonathan. Dia mengacaukan sistem dengan pemikirannya. Kita harus menyingkirkannya."


Jonathan tak menjawab dan hanya tersenyum seraya mengangkat gelas mengajak Sultan bersulang. Javier menyambut ajakan itu dan balas tersenyum.


"Dia sekutu kita. Berikan salam hormat untuk Tuan Jonathan Benedict!" seru Javier dan semua anak buahnya menarik pedang dari sarungnya terhunus ke atas.


"Panjang umur Jonathan Benedict!" seru pasukan Jihad lantang. Jonathan tersenyum lebar.


***


tengkiyuw tipsnya 😍 tapi masih 1 eps ya krn brankas kosong dan jangan lupa boom like audio booknya ya💋

__ADS_1



__ADS_2