
Kai dan Eiji terus memantau pergerakan dari sinyal. Mereka mengawasi seluruh gerak-gerik di beberapa Bandara yang disinyalir sosok itu akan terbang meninggalkan Angola.
Namun, sampai seluruh penerbangan di Bandar Udara Quatro de Fevereiro, Luanda, Angola habis, sosok itu tak tertangkap kamera pengawas yang berhasil diretas oleh GIGA DARA ketika Eiji mendapati jika sinyal tersebut masuk ke Bandar Udara tersebut.
Akhirnya, Kai memutuskan untuk menempatkan sosok putih tak dikenal itu dalam daftar buronan kelas S jajaran 13 Demon Heads.
"Dia sungguh cerdik. Dia sepertinya tahu jika kita mengawasinya. Aku cukup yakin jika dia menerapkan cara layaknya Tobias dan Afro dengan bergaya lain untuk mengelabuhi kamera," guman Kai dari bangku tempat ia mengawasi pergerakan sinyal GPS di layar laptop.
"Pasti dia menyalakan pemancar fatamorgana portabel untuk menutupi sinyal. Dia sepertinya tahu cara menggunakan alat-alat kita, Kai. Apakah ... dia pengkhianat?" tanya Eiji dari sambungan telepon.
"Entahlah. Aku belum memiliki petunjuk. Semoga saja bukan, jika ya, Nona Lily pasti akan sangat marah," ucapnya diakhiri hembusan nafas panjang setelah mendapati sinyal GPS di peralatannya hilang ketika mobil yang dikendarai perempuan tersebut memasuki Bandara.
Sedang di sisi lain. Kai segera memerintahkan Eko untuk melakukan misi penyelamatan kepada tim Jonathan.
Eko mengajak kawan-kawannya untuk menjemput Jonathan. Kai terpaksa di tinggal di Pondok sendirian seraya menunggu kedatangan Black Armys kiriman Ikhsan.
"Eh, perahunya masih ada. Berarti mereka masih ada di gubuk itu. Ayo cepet!" ucap Bayu menunjuk kapal yang ditinggal untuk transportasi tim Jonathan. "Bambang, kamu jagain perahu ya. Inget, pastiin komunikasi kita gak terputus."
"Siap, Yu!" jawab Bambang dengan hormat.
Eko, Bayu, dan Iwan berlari menyusuri pinggir sungai menuju ke pemukiman yang dibuat mirip seperti hunian penghuni setempat.
Eko melihat banyak bangkai babii hutan di sepanjang pinggiran sungai dengan peluru melubangi tubuh mereka.
"Kalian diserang babii?" tanya Eko sambil berlari.
"Ho'oh. Babiinya gak waras. Kita yakin jika mereka dikasih serum monster sama si Lope-lope. Edan emang itu cewek. Jadi penasaran sama wujudnya doi," jawab Bayu mantap seraya melompati aliran sungai menuju ke seberang.
"Wehhh ... ada peliharaannya pakde Ketut!" pekik Eko saat mendapati dua buaya sedang berjemur di pinggiran sungai, meski berada di kejauhan.
"Kalau yang itu, Iwan yakin kalau buayanya waras, tapi si Jojo nyaris jadi lalapan mereka. Wah, panjang kalau diceritain. Ayo cepet, perasaan Iwan gak enak," ucapnya seraya melompati bebatuan untuk masuk ke dalam hutan.
Wajah Eko tegang seketika. Ia membayangkan betapa seramnya pertarungan mereka melawan para babii dan buaya. Eko merasa beruntung karena tidak terlibat, dan pingsan di Pondok.
Setibanya di lokasi. Mulut Eko menganga ketika mendapati pemukiman yang terlihat gersang tak seperti rindangnya hijau pepohonan yang ia lewati tadi.
"Welah. Ini kok ditumpuk-tumpuk sama benda-benda berat? Jangan-jangan kerjaan si putih tadi? Sengaja mau ngurung Jojo sama lainnya!" pekik Bayu ketika mendapati banyak benda menutup palka besi.
"Singkirin cepet! Wah tu cewek bener-bener harus ditangkep. Licin dan licik kaya ikan lele," sahut Eko yang kini sibuk menyingkirkan sebuah almari yang dijatuhkan untuk menahan palka.
GREEKKK!!
__ADS_1
NGEKK!!
"Waaa! Om Bayu datang!" teriak Jonathan riang.
"Jo! Kamu gak papa?!" tanya Bayu yang wajahnya terlihat dari lubang palka menuju ruang bawah tanah.
"Ya, Om!" jawab Jonathan riang dan segera keluar dengan menaiki tangga.
Semua orang di dalam terowongan berhasil naik ke atas. Eko dan lainnya terlihat lega, tapi mereka heran saat Jonathan muncul sembari memakai pakaian aneh dan malah memasang topeng gagak.
"Weh, kamu nemu di mana?" tanya Iwan menunjuk remaja di depannya.
"Ada banyak di bawah. Sekitar 150 kostum. Nathan penasaran kaya apa rasanya. Tadi kita lakuin eksperimen sembari nunggu bantuan datang," jawabnya dengan suara lain seperti bukan dirinya.
"Suaramu aneh, Jo. Kaya bapak-bapak," sahut Bayu mengedipkan mata.
"Iya. Kayaknya di paruh gagak ini ada semacam filter. Tadi, Om Hadi coba lemparin gas halusinasi, dan ternyata Nathan gak terkena dampak. Kita sampai coba semua gas, yang masih mempan itu gas gatal. Karena gas itu 'kan nyerang kulit. Kalau pakai pakaian gak rapat, tetep bisa kena dampaknya," ucapnya menjelaskan, meski terlihat aneh bagi orang-orang karena sosoknya jadi terlihat lain.
"Wah, gaswat kalo gitu. Rainbow gas kita gak mempan dong? Makin susah ngalahin musuh," ucap Eko mengerutkan wajah.
"Nah, makanya. Nathan mau bawa semua kostum ini. Bajunya ini masih kalah sama setelan Black Armys kita. Masih bolong kalau kena hujan peluru, cuma dia tahan air. Kalau bisa kita kombinasiin, jadi keren banget. Pakaiannya pakai punya kita, tapi kepalanya pakai gagak. Jadinya ... Black Armys Gagak! Hahahaha!" ucapnya riang dengan bertolak pinggang.
"Hem, Nathan udah pikirin hal itu. Nanti akan Nathan cet warna silver. Kemarin, Nathan juga pesen banyak belati jenis kaya Silent Blue dan Gold sama paman BinBin. Nantinya warna sinarnya putih, buat pasukan khusus Nathan."
"Pasukan khusus?" tanya Click melirik Bos-nya.
Jonathan mengangguk. "Nathan pengen punya pasukan khusus yang tujuannya lindungin Sierra dari orang-orang yang berusaha jahatin dia. Paman BinBin lagi latih 10 orang pilihan Nathan buat jadi jagoan kaya para agent Colombia. Nantinya, mereka akan Nathan kasih kostum ini, lengkap dengan persenjataan Silent White. Dan mereka adalah ...," ucapnya membusungkan dada terlihat bangga. Semua orang diam menyimak dengan serius. "Pasukan Pria Tampan!"
Serempak, orang-orang itu langsung berpaling. Mereka berkumpul seperti melakukan diskusi dan mengabaikan Jonathan.
"Hei! Serius ini!" teriaknya kesal.
"Iya, Pak Jojo. He'em paham kita. Dah, kamu sekarang pulang ke Pondok. Biar kita jaga di sini sampai Black Armys datang buat angkut dan menyelidiki markas ini," sahut Bayu, dan Jonathan mengangguk.
Eko, Jonathan, Hadi, Bejo, Click and Clack kembali ke perahu. Bayu dan Iwan menunggu di terowongan. Bambang tetap menunggu perahu karena ia satu tim dengan kawan The Kamvret-nya.
Akhirnya, malam itu, para Black Armys yang sudah tiba, segera diantar oleh Eko, Hadi, dan Bejo ke tempat anggota The Kamvet lainnya menunggu.
Black Armys yang sudah siap dengan perlengkapan mereka, diminta untuk mengamankan lokasi serta melakukan pengangkutan kostum gagak yang telah dikemas oleh Bayu dan Iwan karena bosan menunggu ke perahu motor.
Dua perahu motor digunakan untuk melakukan pengangkutan kostum gagak. Pakaian-pakaian itu akan dibawa ke Kastil Borka di Rusia untuk dimodifikasi oleh Jonathan.
__ADS_1
Di terowongan bawah tanah, mayat dari makhluk tak dikenal itu diteliti oleh empat orang Black Armys medis yang berada di sana. Nantinya, hasil dari otopsi akan dikirim kepada Jeremy untuk ditindak lanjuti.
Di laboratorium Jeremy, Filipina.
Video call terhubung dengan Eko. Lelaki gundul itu berjongkok di samping empat Black Armys medis tersebut.
"Kukunya ini dicet pakai tinta emas. Namun, kukunya ini beneran panjang dan tajem," jelasnya seraya menunjuk benda yang ia maksud. "Terus, Eko yakin jika mereka ini sebenernya jenis manusia albino. Kulitnya ini asli, termasuk rambut panjangnya, cuma ... kulitnya keriput kaya nenek-nenek. Keriputnya ini yang gak lazim, Jer. Selain itu, darah mereka mirip kaya mbak Vesper," ucap Eko menerangkan dan terlihat serius.
"Seperti Vesper? Kau yakin?" tanya Jeremy sampai keningnya berkerut.
"Hem. Eko yakin. Tim medis udah ngecek sampai tiga kali. Ada darah mbak Vesper di tubuh dua makhluk ini. Apa bisa jadi, mereka sengaja disuntikkan darah mbak Vesper, terus ditambahin apa gitu hingga mereka jadi beringas kaya gini? Serem banget loh wujudnya, Jer. Tuh liat. Eko aja gak tau ini cewek apa cowok," ucapnya bergidik ngeri. Jeremy mengangguk pelan. "Nih, Eko raba ya, nunuknya gak nongol, kempes ini," ucapnya seraya menekan bagian kejantanan itu. Jeremy meringis. "Tuh, buah dadanya juga gak ada. Rata!" ucapnya seraya meraba bagian sensitif itu.
Kening Jeremy berkerut. "Bawa dua makhluk itu padaku. Aku ingin menelitinya," pintanya tegas.
"Siap!" jawab Eko mantap.
Eko meminta kepada empat Black Armys medis untuk kembali ke Pondok seraya membawa dua mayat makhluk tersebut.
Enam Black Armys yang pergi mengantarkan kostum gagak sudah kembali dan mereka diminta untuk memasang beberapa kamera pengawas di sekitar lokasi baik di luar, maupun di dalam terowongan agar bisa di pantau dari pusat.
"Mulai hari ini, kalian berenam akan bertugas mengamankan tempat ini. Lalu, susuri seluruh kawasan. Temukan apapun yang mencurigakan. Selalu berikan laporan ke Pusat ya. Paham?" tegas Eko dan enam pria tersebut mengangguk siap.
Eko meninggalkan enam orang tersebut untuk berjaga sampai masa tugas mereka berakhir. Semua tim yang ditunjuk oleh Kai berkumpul di Pondok.
"Sebagian dari kalian akan kembali bersamaku ke Rusia, dan sisanya langsung ke Filipina untuk membawa temuan makhluk ini untuk diteliti lebih lanjut oleh Jeremy. Berhati-hatilah, dan sampai jumpa. Kita akan meninggalkan Angola esok pagi," tegas Kai dan semua orang mengangguk mantap.
Di sisi lain. Tim dari Rohan dan ketujuh para Pion D yang ditugaskan untuk mencari keberadaan Ahmed serta Yudhi di Turki, tak membuahkan hasil.
"Apa kalian sudah menyisir seluruh tempat? Ada jalan lain menuju ke gua tempat ditemukannya peninggalan Lucifer kala itu yang juga menembus ke Black Stone," ucap Lysa menjabarkan.
"Sudah. Kami telah menyusuri tiga tempat itu. Kami hanya menemukan bangkai ikan lele raksasa di kolam. Sepertinya, semenjak insiden kala itu, tak ada lagi yang memberi makan ikan lele tersebut," jawab Rohan melaporkan.
Lysa menghembuskan nafas panjang. Ia berharap menemukan hasil dari pencarian tim yang masuk dalam kelompoknya. Lysa meminta waktu sebentar untuk mengkonsultasikan hal ini pada Tobias.
Rohan dan para Pion bersedia menunggu. Orang-orang itu terpisah di tiga lokasi dan saling terhubung menggunakan video teleconference.
***
Tengkiyuw tipsnya😍 Gak bosen-bosennya bilang, jangan lupa boom like audio book lele ya. Intip juga SIMULATION. Lele padamu😘
__ADS_1