
Sedang di kediaman Bojan, Serbia.
Putera dari M tampak gugup saat ia dilayani bak tuan muda di kediaman mantan anggota dewan 13 Demon Heads tersebut.
Sisca yang selalu manja padanya, membuat Sun sedikit gugup ketika bertemu para Black Armys yang dulunya ia anggap selevel dengannya.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
"Hah, benar-benar merepotkan," seru Bojan kesal saat pemancar fatamorgana di salah satu menara rumahnya mengalami kerusakan, sedang bagian teknisi sedang ditugaskan di luar kota untuk mengurusi bisnis ilegalnya.
"Anda baik-baik saja, Tuan Bojan?" tanya Sun seraya mendekat usai melakukan latihan pagi dengan para Black Armys rekrutan baru.
Putera dari M tersebut diminta oleh Bojan untuk mendidik mereka agar menjadi pasukan tangguh sepertinya.
"Ah, kebetulan. Sun, bisakah kau telepon siapa saja dari bagian teknisi Vesper untuk membetulkan pemancar fatamorgana? Tak satu pun dari Black Armys-ku mampu melakukannya. Hal ini bisa menimbulkan petaka karena gudang senjata berada di sisi Selatan bangunan. Aku khawatir jika satelit militer membidik wilayah itu," jawab Bojan bertolak pinggang.
"Bisa saya melihatnya? Saya memang tak ahli, tapi mungkin bisa memperbaikinya," jawab Sun yang membuat Bojan tersenyum lebar.
"Tentu saja. Ayo, ayo, kuantarkan," sahut Bojan dengan semangat membawa Sun ke bagian Selatan dari seluruh wilayah kediamannya.
Sun melewati terowongan rahasia bawah tanah tak melalui permukaan. Sun yang baru pertama kali berkunjung ke rumah Bojan tampak kagum karena ia merasa rumah itu memiliki banyak jalan rahasia dan wilayah yang luas.
"Selamat siang, Tuan Bojan," sapa salah satu Black Armys penjaga di pusat kendali ruangan tersebut.
"Tunjukkan pada Sun letak pemancar fatamorgana yang menurutmu patah itu," titah Bojan.
"Tentu saja. Mari, Tuan Sun," ajak Black Armys tersebut, tapi malah membuat Sun canggung.
"Panggil Sun saja."
"Tidak bisa. Mulai sekarang, kau adalah tuan muda. Aku tak memiliki anak lelaki sebelumnya. Jangan membantah," tegas Bojan yang membuat Sun langsung terdiam, tapi mengangguk paham.
Para Black Armys yang bertugas tersenyum karena Sun seperti tak berkutik untuk menentang. Sun diajak ke permukaan untuk melihat rumah itu dari depan.
"Oh! Rumah ini indah. Kuno, tapi sangat berkharisma," puji Sun.
"Terima kasih atas penilaianmu, Sun. Rumah itu peninggalan dari ibuku," sahut Bojan dari sambungan komunikasi.
Sun mengangguk dan segera memasuki rumah yang tampak sepi dari luar seperti ditinggalkan. Black Armys tersebut mengatakan jika ia harus memanjat sampai ke atap menara teratas untuk mengganti pemancar tersebut.
Sun mengangguk paham, dan membawa beberapa perlengkapan di punggung layaknya seorang teknisi.
Bojan dibuat kagum ketika CamGun yang mengamankan wilayah itu menyorot pergerakan Sun ketika mulai beraksi.
"Wah! Cepat sekali seperti monyet!" ucapnya terkesima.
__ADS_1
"Sepertinya ide Anda untuk mengetes Sun tepat, Tuan Bojan," ucap asisten kepercayaan mantan anggota dewan tersebut yang ikut berdiri menyaksikan.
"Ya, begitulah. Aku memang percaya dengan kemampuannya, tapi aku ingin melihatnya langsung. Hem, M mendidik anaknya dengan sangat baik. Aku sangat beruntung bisa mendapatkan puteranya," jawab Bojan mantap.
"Hanya saja. Mental Sun sebagai pesuruh memang harus diperbaiki, Tuan. Dia selama ini berada dalam level tersebut. Jika Anda ingin Sun menjadi penerus Anda, banyak hal yang harus dipelajari untuk menjadi seorang pemimpin," tegas asisten Bojan.
"Hem, kau benar. Aku bahkan tak menyangka bisa mempercayakan kekuasaanku pada orang lain, Goran," jawab Bojan menatap Sun lekat dari pantauan kamera CamGun.
"Sun adalah lelaki yang tepat ketimbang Jonathan, Tuan. Putera ketiga Vesper memang kaya dan berkuasa, tapi tak memiliki kemampuan sebagai seorang pemimpin. Sun, seribu kali lebih baik darinya. Perbedaannya, Sun terlahir dari latar belakang seorang pesuruh, pejuang, dan pekerja serta tak memiliki kekuasaan. Namun, dengan bekal yang sudah diberikan Vesper sebelumnya, ditambah campur tangan kita, dia bisa menjadi seorang penguasa seperti Anda," tegas Goran yakin.
Bojan menampakkan seringainya. Ia mengangguk setuju. Goran dengan sigap menuliskan serentetan jadwal yang super padat untuk Sun selama berada di dalam naungannya sampai menjelang pesta pernikahan Naomi-Arjuna di bulan Juni.
"Tuan! Pemancar fatamorgana sudah kembali aktif," seru petugas bagian komunikasi menginformasikan.
Bojan mengangguk dengan senyuman. Ia terlihat kagum dan bangga dengan kemampuan pemuda asal Jepang itu. Sun segera turun dan diminta untuk bertemu dengan ayah Sisca lagi.
Kediaman Bojan sisi Utara bangunan.
"Kenapa kau kini melibatkan Sun, Ayah?! Bukankah Sun seharusnya mendampingiku ke mana pun?" pekik Sisca protes karena ayahnya akan membawa Sun pergi ke pertemuan para Kolektor di Bulgaria.
Sun terlihat bingung karena diperebutkan. Ia memilih diam dan menyimak.
"Sun harus tahu pekerjaan Ayah, Sisca. Selain itu, kau juga sibuk untuk mengembangkan bisnis legal fashion-mu bersama Sierra. Katamu, kau ingin ke Perancis menemuinya untuk menghidupkan kembali butik dan salon milik Sandara dulu," ucap Bojan terlihat bersabar dengan sikap manja puteri tunggalnya.
Sisca terlihat kesal dan tak bicara lagi. Ia lalu pergi begitu saja meninggalkan sekumpulan orang-orang itu dengan langkah gusar. Sun terlihat tak enak hati dengan kekasih barunya.
"Maaf, Tuan Bojan. Bisakah kita tunda kepergian sampai besok? Mungkin, saya harus menemani Sisca sehari sebelum kita terbang. Atau, saya bisa menyusul esok hari," ucap Sun sopan menyarankan.
"Terima kasih, Tuan Bojan," ucap Sun sungkan seraya membungkuk sedikit.
"Biasakanlah memanggilku, Ayah. Ya, aku memang tak setangguh M, tapi ... kau 'kan calon menantuku, jadi ... panggil aku Ayah mulai sekarang. Baiklah, aku pergi dulu. Tolong temani Sisca ya," pinta Bojan yang membuat Sun tertegun dan hanya mengangguk pelan.
"Dia sungguh lugu, Tuan," bisik Goran dan Bojan mengangguk dengan kekehan kecil saat meninggalkan pemuda bermata sipit itu.
Sun bergegas mencari keberadaan kekasihnya, tapi tak ditemukan. Ia menanyakan ke semua penjaga dan tak ada yang melihat puteri Bojan tersebut.
Hingga Sun mendapati jejak sepatu di halaman belakang yang berakhir dengan menemukan sepatu warna merah muda di teras bangunan tempat ia memasang pemancar fatamorgana.
Sun melangkah masuk dengan gugup karena rumah itu kosong. Namun, ia mendengar suara sayup dari dalam rumah di sebuah kamar.
"Sisca?" panggil Sun saat mendapati kekasihnya menangis di atas sebuah ranjang seperti kamar.
Sisca langsung bangun dan mengulurkan tangan seperti minta dipeluk. Sun berjalan mendekat dengan senyum tipis menuruti permintaan sang kekasih.
"Ada apa? Kenapa kau sendirian di sini? Kau tak takut?" tanya Sun seraya memeluk kekasihnya di tepi kasur.
"Ayah selalu seperti itu. Ia dekat denganku hanya saat butuh. Setelahnya, aku dilupakan dan dipikir, aku akan senang dengan uang-uang pemberiannya," jawab Sisca berkeluh kesah.
Sun seperti memahami perasaan kekasihnya. "Kau kesepian," ucap Sun lirih dan Sisca mengangguk pelan.
__ADS_1
"Aku sangat senang saat ayah memintamu untuk menjadi calon suamiku. Kupikir, dengan adanya kau nanti, aku tak kesepian lagi, tapi ternyata sama saja," ucap Sisca sedih lalu melepaskan pelukan.
Sun terlihat bingung dalam bersikap saat Sisca berpaling darinya dan memunggungi. Sisca kembali merebahkan tubuhnya dan menutupi sosok cantiknya dengan rambut pirang panjang tergerai.
"Kau pasti datang untuk berpamitan. Pergilah, dan hati-hati saat pulang nanti. Aku akan menunggu di sini," ucapnya terdengar sedih.
Sun mengembuskan napas panjang. Ia memberanikan diri naik ke atas ranjang dan duduk di samping kekasihnya yang sedang bersedih hati.
Sun menyisir rambut panjang Sisca dengan jemarinya dan mengepangnya. Sisca bingung dan langsung membalik tubuhnya.
"Aku sudah meminta kepada tuan Bojan untuk menemanimu sehari sebelum esok kupergi. Jadi, kau ingin kutemani berjalan-jalan? Atau ... kau ingin melakukan sesuatu? Aku bisa menemanimu sampai fajar nanti," tanya Sun yang membuat senyum Sisca terkembang.
Gadis cantik itu tampak begitu gembira dan langsung memeluk Sun erat hingga pemuda itu malah jatuh menimpa tubuh kekasihnya.
Sun mematung saat ia merasakan debaran aneh di hatinya. Terlebih, tubuh Sisca begitu wangi dengan aroma parfum yang lembut.
Sun juga bisa merasakan kulit halus Sisca di mana ia tak pernah bersentuhan begitu lama dengan seorang perempuan.
"Aku hanya ingin memelukmu sampai esok pagi," pinta Sisca yang membuat Sun tersenyum tipis dan mengiyakan permintaan aneh itu.
Sampai sore menjelang, Sun bermalas-malasan dengan Sisca di sisinya. Mereka asyik mengobrol dan bercerita tentang pengalaman masing-masing selama terjun dalam dunia mafia.
Keduanya berbaring di atas kasur terlihat nyaman dengan aktivitas sederhana, tapi membuatnya keduanya semakin dekat untuk saling mengenal.
"Tuan?" panggil Goran saat mereka siap untuk lepas landas.
"Hah. Sun ini benar-benar lugu. Sebenarnya aku tak suka mengintip begini. Namun, aku juga ingin segera memiliki cucu. Jadi ... lakukan, tapi jangan sampai ketahuan jika ini ulahku," pinta Bojan terlihat gugup.
Goran mengangguk pelan. Ia lalu menelepon salah satu anak buah Bojan yang memantau rumah tersebut seperti menugaskan sesuatu.
Tiba-tiba saja, Sun merasa jika udara yang ia hirup sedikit berbeda. Ia merasakan gelanyar aneh dalam dirinya, begitupula Sisca. Keduanya salah tingkah dan seperti tak nyaman dengan posisi mereka.
"Sudah, Tuan," ucap Goran dengan senyum tipis.
Bojan lalu menutup layar laptop dengan senyum lebar. Pesawat yang membawa Bojan, Goran dan anak buah kepercayaanya terbang meninggalkan Serbia menuju ke Bulgaria.
"Emph, Sun," keluh Sisca dengan gelagat aneh.
Gadis cantik itu mendatangi kekasihnya dengan tatapan menggoda. Sun dengan sigap menyambut pelukan gadis berambut pirang itu hingga keduanya jatuh dalam romansa.
Seperti sudah saling menginginkan, keduanya dengan cepat terbuai dan berciuman mesra.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
kwkwkw makasih tipsnya😍 dobel eps gak nih hari ini? ditunggu kucuran koinnya🤭 kayaknya akhir minggu ini novel 4YM tamat. semangat!!