4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Serba-serbi Bukan Serabi


__ADS_3

Keesokan harinya, Vesper dan rombongan pamit meninggalkan kediaman Elios. Afro menemani Kai sampai ke bandara bersama para Red Ribbon.


Sedang Sandara, berada di rumah bersama Doug. Vesper tak ingin berdebat apalagi merengek agar si anak mau mengantarkannya.


"Tolong jaga Sandara dengan baik, Son. Hanya kau satu-satunya yang kini kupercaya untuk mengawasinya," ucap Kai penuh harap.


Afro menjabat tangan Kai dengan mantap dan mengangguk menyanggupi.


"Afro, jangan lupa. Tetap berikan informasi padaku untuk tiap aktifitas yang mencurigakan," tegas Vesper berbisik saat berjabat tangan dengannya.


"Sure, Mom," jawabnya lalu memeluk Vesper erat terlihat seperti enggan berpisah dengan mertuanya yang telah berjasa besar dalam hidupnya.


Vesper menjabat tangan seluruh anggota Red Ribbon.


"Percayakan Sandara dan Afro pada kami, Nyonya," ucap Toras selaku pemimpin kelompok.


"Terima kasih. Semoga, nasib baik selalu berpihak pada kita semua. Sampai jumpa," ucap Vesper dengan senyuman ke semua anak buahnya.


Orang-orang itu melambaikan tangan ketika Vesper dan orang-orangnya terbang menggunakan pesawat pribadi.


Vesper meninggalkan Italia menuju ke China sebagai tujuan akhir, tapi mereka akan singgah ke Turki untuk mengambil semua barang milik Eko di mana pria itu akhirnya tahu jika telah diusir secara halus oleh Sandara.


Sayangnya, gadis cantik itu melewatkan hal penting dari aset-aset milik Yudhi dan ia belum menyadarinya.


Vesper dan Kai yang menceritakan tentang ambisi serta perubahan diri Sandara terlihat geram termasuk James.


"Boleh aku mengatakan beberapa hal yang mungkin menyinggungmu, Nona Lily?" tanya James yang duduk di kursi lain.


"Ya, silakan, James," jawab Vesper santai.


"Kukira, kau sudah menjadi wanita paling buruk di dunia, Nona Lily. Baik dari perbuatan atau ucapan. Namun, itu dulu, dulu sebelum akhirnya kau berubah menjadi wanita yang bijak. Seperti ... campuran antara tuan Charles, Rose Marlena, dan Komandan Zeno. Namun sungguh, aku tak menyangka jika ada orang lain yang lebih buruk darimu dan dia adalah darah dagingmu sendiri, Sandara Liu," ucap James terlihat berhati-hati dalam berucap takut menyinggung.


Semua orang dalam pesawat terdiam.


"Hem. Kita tak pernah tahu takdir membawa kita ke mana, James. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha untuk mengubah nasib. Bahkan, aku yang mulai menua masih terus berusaha agar kehidupan kita lebih baik. Sayangnya, apa yang kusampaikan, apa yang kulakukan, tak bisa diterima oleh semua orang. Aku tak mau memaksa lagi seperti dulu, aku memilih untuk membiarkan mereka berpikir dari dampak yang dilakukan oleh ambisi. Kalian sudah melihatku, dan mengetahui akibat dari perbuatanku dulu. Sudah cukup bagiku melakukan kekonyolan di masa muda. Jadi ... jika keempat anakku bersikap menjengkelkan, bercerminlah dari diriku yang dulu, dan berharaplah, saat mereka menyadarinya suatu saat nanti, mereka menjadi pribadi yang lebih bijaksana dalam bersikap," jawab Vesper yang membuat semua orang terdiam.


Tiba-tiba, Kai beranjak dari kursinya dan memeluk Vesper dari samping erat hingga matanya terpejam.


Buffalo ikut terharu karena tak menyangka, jika wanita yang berjasa pada hidupnya bisa memaafkan sikap buruk anak-anaknya dan tak menaruh dendam.


"Apa yang dikatakan Liu tentangmu benar, Nona Lily. Kau baik hati, bisa memahami orang lain, mengakui kesalahan, dan mau memaafkan. Bagaimana bisa wanita sepertimu hidup dalam dunia hitam yang penuh penderitaan ini? Aku minta maaf, jika tak bisa menjadi suami dan pelindungmu seperti yang kauharapkan," ucap Kai sendu.


"Kau sudah melakukan lebih dari cukup Kai," jawab Vesper seraya meraih wajah suami termudanya dan mencium bibirnya lembut.

__ADS_1


"Ehem!"


Semua orang terkekeh karena Han bermuka masam. Kai malah mengoloknya dengan menciumi wajah isterinya rakus. Han kesal, tapi tak bisa membalas karena Fara tertidur pulas dalam dekapannya.


"Mas Han mau ngomong apa? Jangan kalah sama Nak Kai dong," sindir Eko.


"Intinya sama," jawabnya ketus.


Semua orang kembali tertawa. Kai merasa kali ini dirinya menang karena membuat Han tak berdaya.


Han terlihat kesal dan memilih untuk tidur dengan Fara selama penerbangan. Matanya enggan melihat hal-hal yang membuat hatinya cemburu.


Tak lama, ponsel Kai berdering. Sebuah pesan elektronik masuk. Kai segera menyiarkan kabar gembira itu.


Vesper dan kelompoknya mendapat kabar dari dua Biawak yang ditugaskan Kai untuk menjaga Cassie jika gadis tersebut telah melahirkan lebih cepat 2 minggu dari perkiraan.


"Syukuran, Mbak Vesper. Aqiqahan. Potong embek. Udah lama buanget Eko gak makan gule kambing. Enak ini," ucapnya sudah berandai-andai.


"Tapi ... Cassie bukan orang Islam. Memang boleh?" tanya Vesper menatap bodyguard-nya lekat. Eko mengedipkan mata.


"Pak ustad Seif, boleh gak aqiqahan?" tanya Eko yang tak bisa menjawab. Namun, Seif malah meringis seperti tidak tahu akan hal itu dengan gelengan kepala.


"Jika hanya ingin makan daging domba, tak perlu melakukan aqiqah. Anggap saja seperti melakukan pesta atas lahirnya bayi itu disertai ucapan selamat," sahut Tora memberikan saran.


"Tapi kali ini, operasi misi kita mulai dilangsungkan. Tak boleh ada yang tahu keberadaan Cassie dan bayinya. Aku tak mengenal Miles dan cara kerjanya. Aku tak mau ceroboh dan berdampak buruk bagi jajaran. Kalian mengerti?"


Vesper terkekeh karena dua suaminya seperti ia komandoi. Han ternyata pura-pura tidur padahal ia menyimak saat memejamkan mata.


"Jadi, hanya kita saja yang akan merayakan kelahiran bayi mungil itu. Oh, cucuku," ucap Vesper dengan senyum terkembang saat melihat foto cucunya yang dikirim ke ponsel Kai.


Akhirnya, rombongan itu tiba ke Turki setelah menempuh penerbangan kurang lebih 3 jam dari Italia. Namun kali ini, Eko dan James saja yang pergi menuju ke kediaman Ahmed.


Vesper dan lainnya mengawasi di sebuah penginapan di mana mereka akan kembali terbang esok hari karena banyaknya berkas serta pekerjaan yang harus diselesaikan Eko dalam waktu yang sempit itu.


Di tempat Arjuna berada. Kantor Kim Han Bong, Hong Kong.


"Bos. Yakin itu kediaman Peru dan Panama dibiarin aja?" tanya Biawak Putih sekembalinya dari acara pernikahan Sandara.


"Hem," jawab Arjuna santai sembari menandatangani dokumen yang ditunggui oleh Tessa sedang berdiri di sebelahnya.


Biawak Putih dan Hijau saling melirik seperti memikirkan sesuatu.


"Bala Kurawa yang jaga dua tempat itu ilang loh gak berbekas, meski rumahnya aman dan gak ada benda yang diambil. Peledak juga gak ditemuin di tiap sudut rumah," sahut Hijau.

__ADS_1


"Baguslah," jawabnya masih tak melihat dua orang suruhannya itu.


Tessa menatap dua BIAWAK saksama seperti kesal karena diabaikan. Dua orang itu pamit keluar tak bicara lagi.


"Cek lagi," pinta Arjuna seraya memberikan map hitam kepada isterinya.


Tessa mengangguk pelan dan kembali ke meja, tapi setelah itu ia keluar dari ruangan. Arjuna melirik isterinya sekilas, lalu kembali memeriksa dokumen lain di mana banyak orang mengantri di luar ruangannya untuk memberikan laporan hasil kerja.


"Hei," panggil Tessa mengejar dua BIAWAK yang berjalan dengan gusar di koridor usai meninggalkan ruang kerja bosnya.


Dua pria itu pun menghentikan langkah dan membalik badan. Tessa menghampiri keduanya seperti ingin menyampaikan sesuatu.


"Suamimu kalau udah gak niat buat ngurus beginian, bilang dong, Tess. Lagaknya aja diawal bilang mau ngusut semua, terus sekarang mlempem. Kalau emang mau jadi warga sipil, orang kantoran, kasih tau kita berdua," ucap Biawak Hijau mengutarakan pemikiannya.


Tessa tertunduk terlihat bingung dalam menjawab.


"Maaf, Tess, tapi kerjaan di kantor itu gak cocok sama kita. Kita ini petarung, orang lapangan. Kalau si bos udah gak ada urusan lagi untuk ngusut Miles dan cecenguknya, ya udah. Kita mau balik sama nyonya Vesper aja. Dia lagi butuh orang buat ngurus usaha ilegalnya yang lebih menantang. Kita lebih demen urusan sama polisi kucing-kucingan ketimbang leha-leha ngurus berkas yang gak jelas kapan kelarnya," sahut Putih.


"Ya sudah, pergilah. Karena Bala Kurawaku kini akan kupekerjakan untuk mengurus usaha legalku yang akan kukembangkan di beberapa wilayah. Tak ada yang memaksa kalian," sahut Arjuna tiba-tiba muncul dan ternyata mendengar semua pembicaraan itu.


Dua BIAWAK saling melirik dan langsung membalik tubuh meninggalkan bosnya. Tessa terkejut akan keputusan dari kedua belah pihak.


Tessa mengikuti dua pria petarung itu dengan tergesa, sedang Arjuna berbalik menuju ke ruangannya terlihat tak mempermasalahkan hal tersebut.


"Hei, tunggu!" panggil Tessa saat mereka bertiga akhirnya masuk ke lift bersamaan.


Tessa memunggungi pintu lift menatap dua BIAWAK yang menunjukkan wajah tak ramah. Tessa mengeluarkan sebuah memo kecil berwarna putih dari saku celana kain dan menuliskan sesuatu di atasnya.


Ia merobek lembar pertama itu dan diberikan kepada Biawak Putih. Pria berambut gondrong tersebut menerima dan membaca tulisan itu saksama.


"Aku minta maaf jika Arjuna tak seperti yang kalian harapkan. Namun, ia tak ingin lagi terlibat dalam dunia mafia. Ia menganggap ancaman sebenarnya bukan dari Miles, tapi dari Vesper yang ingin melenyapkanku. Jadi ... mungkin sebentar lagi Arjuna akan keluar dari anggota Dewan," ucapnya terlihat gugup.


Dua BIAWAK seolah tak peduli dan tetap diam memalingkan wajah.


TING!


"Makasih pesangonnya. Semoga kalian berdua bahagia," ucap Biawak Hijau saat pintu lift terbuka.


Dua BIAWAK keluar dari sisi kanan dan kiri Tessa, melewatinya begitu saja. Tessa membalik badan dan terlihat sendu karena dua orang itu tak lagi menjaga suaminya.


Ada perasaan cemas menyelimuti hati wanita itu, tapi ia sudah tahu konsekuensinya. Tessa menutup pintu lift dan kembali ke atas di ruang kerjanya.


***

__ADS_1



uhuy tengkiyuw tipsnya. lele padamu❤️


__ADS_2