
Afro yang ikut mendapatkan kabar terlihat shock usai mendapatkan rekaman asli dari drone. Video yang dikirimkan oleh Miles sengaja dipotong.
Bagian Sandara menyebut nama Afro, dan Jordan memanggil nama Naomi tak disertakan. Namun, usai Afro melihat video tanpa edit itu, pria tersebut merenung.
"Dia masih mencintaimu, Afro," ucap Venelope lirih, tapi Afro diam saja.
"Aku dan Sandara adalah masa lalu. Dia membenciku, begitupula aku," jawabnya dengan wajah tertunduk.
"Semua karena kelompokku. The Circle yang membuat hubungan kalian hancur, begitupula yang terjadi pada Jonathan, Lysa, Arjuna dan kini Sandara. Kuakui, kami dulu memang sangat membenci kalian, ingin memusnahkan dan menjadi satu-satunya kelompok mafia di dunia. Namun, usai banyak kejadian, aku yang selama ini dibutakan oleh doktrin dari Madam dan para Mens akhirnya sadar. Masih belum terlambat, Afro. Hanya kau yang bisa menyelamatkan Sandara," ucap Venelope terlihat sedih menatap putera Elios lekat.
"Bagaimana denganmu?" tanya Afro balas memandangi Venelope.
Wanita cantik itu tersenyum tipis. "Jangan khawatirkan aku. Khawatirkan masa depanmu dan Sandara. Percayakan perusahaanmu padaku dan Doug. Kami akan mengurusnya," jawab Venelope seraya menatap Doug saksama.
"Hem. Kali ini aku setuju dengannya. Pergilah. Sebelum semuanya semakin tak terkendali," jawab Doug menatap Afro lekat.
Pria itu mengangguk lalu beranjak dari dudukkan. Ia melihat kakinya yang kini menggunakan sepatu robot buatan Kai.
Afro berjalan keluar dari ruang kerja menuju ke kamar lalu mengambil sebuah ponsel yang ia simpan dalam laci. Afro menghubungi seseorang dan wajahnya serius seketika.
"Waktu yang tepat kau meneleponku, Afro. Apa ... kita sepemikiran kali ini?" tanya seorang pria di seberang.
"Hem. Sepertinya demikian. Kau pasti tak tahu apa yang harus dilakukan mengingat agent M pasti memakimu dan kini membawa Sun pergi. Apa tebakanku benar?"
"Ya, begitulah. Aku cukup terkejut dengan kabar barusan atas ulah Miles," jawab Arjuna terdengar malas.
"Aku bisa cari tahu di mana keberadaan Miles. Ada tim yang mengejarnya. Bersiaplah. Kita bertemu di lokasi. Akan kuhubungi kausegera."
"Oke."
Afro menutup panggilan dan kini menelepon seseorang. Ia menggembungkan pipi seperti kodok dan terlihat gugup kali ini, tak serius seperti tadi. Sesekali ia berjinjit seperti grogi.
"Halo, Om. Maaf, aku tahu kausibuk. Hanya saja aku—"
"Telpon di saat gak tepat! Om lagi sibuk slametin Cassie!" jawab Eko terdengar panik.
Praktis, mata Afro melebar. "Berikan aku lokasinya! Aku segera ke sana!"
"Gak perlu! Sebaiknya kamu selametin Biawak Ijo dan bininya Salma. Banu nyulik mereka dan dua orang itu sekarang ada di Guatemala! Tanya Dara atau Jordan! Mereka tahu lokasinya!" jawab Eko dengan suara gaduh di sekitarnya seperti sedang berperang.
Afro tampak bingung dalam menjawab, terlebih Eko langsung mematikan sambungan telepon. Afro bergegas menghubungi Arjuna kembali.
"Juna! Kita harus ke Guatemala! Bertemu di rumah Tessa, Belize!" tanya Afro panik.
"Aku mengerti. Sampai bertemu di sana!" jawab Arjuna lantang lalu mematikan sambungan telepon.
Afro menghubungi orang lain lagi dan kali ini terlihat cemas.
"Kak Afro?"
"Nathan! Temui aku di Belize kediaman Tessa sekarang! Kutunggu selama 2 hari jika tak muncul, kau akan kehilangan Cassie selamanya!"
"Kautahu di mana Cassie?" tanyanya terdengar kaget.
"Belize! Pergi sekarang!" jawabnya sampai berteriak lalu mematikan sambungan telepon.
Afro menghubungi seseorang lagi yang kini wajahnya tegang. Lama panggilan itu tak dijawab walaupun tersambung. Hingga akhirnya ia mengirimkan pesan.
"Temui aku di Belize kediaman Tessa jika kauingin semua petaka ini berakhir. Dalam dua hari kau tak muncul, kupastikan kau akan kehilangan kesempatan hidup tenang selamanya. Afro."
__ADS_1
Pria itu terlihat pusing dan tertekan. Ia merebahkan tubuhnya dengan ponsel masih dalam genggaman dan mata terpejam.
TRING!
Afro terkejut dan melihat ponselnya lagi. Seketika, senyumnya merekah.
"Oke," jawab Lysa singkat.
Afro kembali duduk dan kini menarik napas dalam untuk panggilan terakhir. Sayangnya, nomor itu tak tersambung. Ia yakin jika Sandara memblokirnya.
Afro menggunakan ponsel lain untuk menghubungi nomor mantan isterinya dan tersambung, tapi tak diangkat.
Afro memberanikan diri mengirimkan pesan. Lama pria itu memandangi layar ponsel menunggu jawaban. Hingga akhirnya, Sandara membalasnya.
"Untuk yang terakhir dan ucapan selamat tinggal. Sampai bertemu di Belize."
Ingin rasanya Afro membalas pesan itu lagi, tapi ia tak ingin Sandara tertekan. Ia tahu jika gadis itu sedang terpuruk dan mengalami guncangan hebat dalam dirinya.
Sedikit rasa bersalah menghampiri hati pemuda itu. Teringat kembali kenangannya bersama Sandara saat gadis itu berusaha untuk menolongnya dari pengadilan 13 Demon Heads agar tak dijatuhi hukuman mati oleh Jordan.
Sandara juga menyembunyikan keberadaannya dari para mafia yang memburunya, bahkan masih mencintainya meski drama pernikahan palsu dengan Sierra harus membuat gadis itu nyaris mati tenggelam di lautan.
"Sandara," ucap Afro lirih menutup wajahnya dengan kedua tangan terlihat begitu tertekan.
Di tempat Jonathan berada.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
Jonathan berhasil mendapatkan ponselnya kembali setelah berhasil meyakinkan pihak kepolisian.
Afro yang menghubunginya perihal pertemuan di Belize, dimanfaatkan oleh Jonathan untuk mengajak para polisi Amsterdam ikut terlibat.
"Sudah kukatakan, kita akan menemukan Vesper. Akan ada pertemuan besar di Belize. Jadi, segera ke sana," ucap Jonathan seraya memberikan ponselnya lagi kepada salah seorang petugas.
"Ya sudah kalau begitu. Vesper itu licik. Dia memiliki banyak anak buah dan markas. Ia berpindah-pindah agar sulit ditangkap. Jika niatan kalian terlalu kecil untuk menangkapnya, sebaiknya lupakan," tegas Jonathan saat ia kini dijadikan salah satu tahanan dari pihak kepolisian Amsterdam.
Para pria itu saling berpandangan. Jonathan dibiarkan tetap berada di ruang tahanan khusus dengan status penjahat dalam pengawasan.
Tingkat penjagaan dengan keamanan tinggi karena diduga salah terorris yang tergabung dalam kelompok mafia 13 Demon Heads diberlakukan.
Cukup lama Jonathan menunggu hingga tertidur di ranjang sel tahanannya. Pemimpin tim tersebut datang kembali dan masuk ke ruang tahanan membangunkan pemuda itu.
"Hah?! Hem?" tanya Jonathan kaget dengan mata merah karena menahan kantuk.
Jonathan dengan sigap bangun dan duduk di tepi ranjang menatap pria itu dengan wajah sayu.
"Kepala polisi telah setuju. Hanya saja, ini misi rahasia. Tak banyak yang akan dilibatkan dan hanya dilakukan oleh tim khusus dari kami. Kau, ditunjuk sebagai orang yang akan membawa kami kepada Vesper. Kaupaham, Jonathan?" tanya pria itu.
"Oh, kalian melakukan tindakan ilegal terselubung dalam lingkup kalian sendiri ya? Bagaimana jika Menteri tahu, atau buruknya, Raja tahu," tegasnya menyindir.
BUAKK!
"Ugh! Uhuk!" rintih Jonathan saat wajahnya dipukul hingga pemuda itu kembali terlentang seraya memegangi luka di pipinya.
"Jika bukan karena kau dan Vesper, ini tak terjadi. Sebaiknya, tutup mulutmu dan segera pergi. Kita berangkat malam ini ke Belize," ucap pria itu menatap Jonathan dengan wajah dingin lalu meninggalkannya lagi di sel sendirian.
Jonathan kesal karena wajah tampannya menjadi babak belur. "Awas saja. Kalian bakal jadi mayat saat di Belize. Heh," kekehnya seraya menahan sakit.
Malam itu, tim Jonathan pergi meninggalkan Amsterdam untuk melakukan pertemuan di Belize.
Jonathan dipindahkan secara rahasia, dan keberadaannya digantikan oleh penjahat lain yang sudah diancam serta diberikan pengurangan masa hukuman demi mensukseskan misi menangkap Vesper.
__ADS_1
Sayangnya, tindakan yang bisa disebut secara personal oleh orang dalam di pihak kepolisian itu, membuat para petinggi negara tak mengetahui hal tersebut.
Walikota Amsterdam menutupi hal tersebut dan berharap jika misi berhasil, citranya akan terangkat dan bisa naik jabatan ke jenjang pemerintahan yang lebih tinggi.
Tim khusus yang beranggotakan 10 orang dengan Jonathan sebagai pemandu mereka, membawa orang-orang itu ke Belize, tempat tinggal mendiang isteri Arjuna—Tessa.
Orang-orang itu terbang menggunakan pesawat khusus milik salah satu pejabat yang ikut terlibat karena ingin mencari keuntungan dari misi penangkapan Vesper.
Mereka tergiur saat Jonathan dengan fasih bercerita jika usaha legal dan ilegal yang dimiliki oleh Vesper sangat banyak dan bernilai jutaan dollar per asetnya.
Jonathan dijaga ketat oleh para pria yang diyakini adalah tentara bayaran mengingat perilaku mereka tak seperti polisi atau militer sebelumnya.
Jonathan tak ingin mempersulit diri dan mengikuti semua perintah mereka seperti kerbau yang ditusuk hidungnya.
Hingga akhirnya, penerbangan panjang dan melelahkan hampir 20 jam karena harus singgah di Atlanta untuk pengisian bahan bakar dan pengecekan mesin, mereka tiba di hari berikutnya saat malam di Philip S.W. Goldson International Airport, Belize.
"Sekarang ke mana?" tanya pria itu saat timnya menyewa sebuah mobil sebagai transportasi selama bertugas di sana.
"Jika kalian muncul tiba-tiba, alarm peringatan akan muncul. Rumah di Belize memiliki sistem pengenal akan tiap tamu yang datang. Dalam hal ini, hanya aku yang teridentifikasi," ucap Jonathan saat mereka semua sudah duduk dalam mobil dan terhubung dalam sambungan radio berfrekuensi khusus.
"Kau membodohi kami, Nak?" tanya pemimpin tim menatap Jonathan tajam.
"Tak ada gunanya. Aku hanya bisa membawa satu atau dua dari kalian agar tak dicurigai. Itu pun aku terpaksa berbohong dengan mengatakan kau adalah bodyguard-ku yang baru, mengingat dua orangku kabur dan tak diketahui keberadaan mereka sekarang. Haruskah kuingatkan, itu salah siapa?" tanya Jonathan menyindir.
BUAKKK!!
Lagi, wajah pemuda itu menjadi sasaran. Luka lebamnya bertambah, tapi Jonathan masih terlihat sabar menghadapi penganiayaan terhadap dirinya.
"Hati-hati dengan sikapmu. Orang-orang yang akan kaulihat nanti, berjuta-juta kali lebih kejam dari tindakan yang kaulakukan," tegas Jonathan menunjuk.
Napas pria itu menderu, tapi akhirnya bisa meredam emosinya. Jonathan menarik tisu yang disediakan dalam mobil untuk mengelap bibirnya yang berdarah karena terus-terusan kena hajar.
Jonathan memberitahukan alamat rumah Tessa di Belize. Dua buah mobil SUV melaju kencang membelah aspal dalam kegelapan malam agar misi segera dituntaskan.
Mobil Jonathan sebagai pemandu jalan berhenti ketika pemuda itu mengepalkan kedua tangannya ke atas sebagai tanda agar mereka berhenti.
"Rumah itu ada di depan. Kita tak bisa datang ke sana dalam keadaan beramai-ramai seperti ini. Harusnya kalian paham dengan yang kukatakan," ucap Jonathan seraya menguap berulang kali karena menahan kantuk yang teramat sangat akibat penerbangan yang panjang.
Pemimpin tim lalu meminta tiga orangnya keluar dan bergabung dengan mobil tim kedua. Pemimpin tim akan menjadi bodyguard Jonathan, dan satu anggota lainnya menjadi sopir serta penghubung untuk tim lainnya saat akan melakukan penyergapan.
Jonathan sengaja mendandani dua orang itu agar tak terlihat garang. Kening pemimpin tim berkerut, ia merasa dipermainkan. Tangan Jonathan ditampik.
"Hei! Aku hanya ingin agar kalian tak mencolok. Kami para mafia tak bertampang garang sepertimu. Hanya beberapa orang saja yang demikian. Aku beri tahu satu rahasia. Alasan polisi sulit menangkap kami karena, kami bergaya layaknya warga sipil atau pebisnis. Bukan seperti preman dan semacamnya," tegas Jonathan.
"Jika ya, kenapa tubuhmu dipenuhi tato?" tanya pemimpin tim curiga.
Jonathan mengembuskan napas kesal. "Ini ulah dari kelompok mafia saingan 13 Demon Heads yang begitu mengidolakanku. Namanya, Smiley. Sayangnya, ia telah tewas. Jika bisa, kuhapus semua tato ini. Kaupikir aku suka, ha?" tanya Jonathan menunjukkan kekesalan.
Pria itu diam saja dan akhirnya mengikuti perintah Jonathan agar tak menggunakan atribut layaknya pasukan khusus.
Mereka melepaskan rompi anti peluru. Hanya membawa pistol dan amunisi cadangan serta radio saja.
"Ingat kata-kataku. Mereka ini mafia professional. Bisa melihat kebohongan dan tak segan membunuh dengan sangat keji. Jangan melakukan tindakan bodoh, atau kalian semua mati dan aku tak bisa membantu," tegasnya yang duduk di bangku tengah bersama pemimpin tim.
"Kami mengerti," jawab dua orang itu serempak.
Jonathan menahan senyum dan mengembuskan napas panjang seraya menoleh ke jendela samping memandangi kegelapan malam.
***
__ADS_1
uhuy ngabisin tips lagi😍 makasih ya berkah syelalu😘