4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Kebebasan Dalam Tekanan*


__ADS_3

ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


------ back to Story :


Mr. White mengajak Sandara masuk ke salah satu bangunan yang nantinya akan ia tempati. Sandara terlihat kagum akan tempat yang terbuat dari kayu tersebut.


Mirip dengan rumah pondok di Camp Militer, hanya saja tempat ia berdiri sekarang lebih bagus dengan fasilitas lebih lengkap.



Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Kau ingin kebebasan? Hem, di sini kau bebas melakukan apapun. Namun, tak sepenuhnya bebas. Semua gerak-gerikmu dipantau oleh CCTV tersembunyi. Jangan buang waktumu untuk mencarinya. Lebih baik kau lakukan hal berguna lainnya untuk meningkatkan kemampuanmu," ucap Mr. White mengajak Sandara melangkah lebih dalam ke rumah barunya tersebut.


"Meningkatkan kemampuan?" tanya Sandara bingung menatap wajah Mr. White yang terlihat begitu berseri seperti peri.


"Kau terlalu lama dimanjakan dalam dunia entertainment, Sandara. Kau kehilangan kemampuan analisismu. Selama kau di sini bersamaku, aku akan melatihmu. Jangan tanya apa yang akan kulakukan karena kau pasti tak akan suka. Jadi, buatlah dirimu nyaman selama di rumah ini," ucap Mr. White melepaskan rangkulannya dan kini mengajak Sandara menaiki tangga dengan ia berjalan lebih dahulu.


Sandara hanya bisa menurut dan diam. Namun, ia penasaran dengan ucapan Mr. White tentang rencananya untuk menjadikannya sesuatu yang lain. Jantung Sandara berdebar dan mulai takut.


"Tempat tidur, dapur, kamar mandi, ruang kerja, ruang makan dan ruang tamu. Semua ada di rumah ini. Semua persediaanmu akan diantar satu minggu sekali setiap hari Jumat pukul 12 siang. Pastikan kau ada di depan pintu untuk menerima persediaan itu. Jika sampai kau tak menerimanya, kau harus berpuasa dan menunggu di minggu berikutnya. Kau mengerti?" tegas Mr. White yang kini berdiri di depan puteri terkecil Vesper dengan sorot mata tajam.


"Em, aku mengerti," jawabnya seraya mengangguk.


"Hari ini kau kubebaskan untuk beradaptasi dengan rumah barumu ini. Kau lihat jam weker di atas meja samping ranjangmu itu?" tanya Mr. White menunjuk sebuah jam klasik di ruang tidur Sandara. Gadis Asia itu mengangguk pelan. "Tiap alarm berbunyi, itu adalah tanda kau harus melaksanakan jadwal yang telah ada."


"Jadwal?" tanya Sandara sembari menatap jam weker dengan angka romawi yang baginya unik.



"Hem. Jam itu dilengkapi dengan alarm suara. Kuberikan suara Afro karena aku tahu kau kini membencinya. Suara Afro akan membantumu membangkitkan motivasi. Alarm itu akan berbunyi 30 menit sebelum jadwalmu dilakukan. Kau kuberikan toleransi untuk bersiap di 30 menit berikutnya. Apakah saranku cukup jelas?" tanya Mr. White berdiri tegak di hadapan gadis cantik itu. Sandara mengangguk dan matanya masih tertuju pada jam weker di samping tempat tidurnya.


"Baiklah itu saja. Aku akan kembali besok," ucap Mr. White mengecup kening Sandara dan pergi meninggalkannya di lantai dua, berdiri diam dengan tatapan kosong.

__ADS_1


"Ini bukan kebebasan. Ini lebih buruk dari kehidupanku sebagai artis," ucapnya sedih meski air matanya tak menetes.


Sandara berjalan mendekati kasur barunya dan duduk di pinggir ranjang. Ia mengambil jam weker itu dan menatapnya dengan wajah sendu.


"Kak Afro ...," ucapnya sedih dan memeluk jam itu erat dengan mata terpejam seperti begitu merindukannya.


Keesokan harinya.


TRINGGG!!


Mata Sandara langsung terbuka begitu mendengar suara nyaring alarm di samping telinganya. Ia langsung duduk dan melihat jam weker tersebut menunjukkan pukul 6.30 pagi.


Jantung Sandara berdebar, ia sangat menantikan suara Afro yang dikatakan menjadi pengingat jadwalnya hari itu.


"Hai, Dara. Good morning. Jadwalmu hari ini adalah olah raga sampai pukul 11 siang. Siapkan dirimu, jangan lupa sarapan dan yang terpenting adalah, aku ingin mengatakan ...." Jantung Sandara berdebar kencang menunggu kalimat selanjutnya. "I hate you and I really want to kill you. Hehehe."


Sandara membungkam mulutnya. Air matanya menetes begitu saja. Suara Afro terdengar begitu meyakinkan seperti ia sungguh membencinya. Sandara menghapus air matanya dan terlihat begitu sedih.


Tanpa Sandara sadari, ia terlarut dan lupa akan alarm peringatan itu jika ia hanya mempunyai waktu 30 menit untuk bersiap.


Sandara terperanjat. Ia melongok ke bawah dan mendapati seorang pria bertubuh besar, berkulit cokelat dengan rambut hitam memasuki rumahnya.


"Bangun, pemalas!" ucapnya dengan bahasa Spanyol.


Sandara tersentak. Ia melihat jam weker dan tanpa ia sadari waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi.


Sandara segera mendekati lemari pakaian dan mengambil baju dengan seragam khusus yang sudah ia lihat semalam.


Namun, baru Sandara melepaskan pakaian itu dari hanger, pria itu sudah menaiki tangga dan mendekatinya dengan wajah garang.


Sandara ketakutan saat tangannya dicengkeram dan ditarik paksa menuruni tangga. Sandara memberontak, tapi tenaganya sama sekali tak memberikan dampak sakit pada pria itu.


"Agh! Aku belum ganti baju! Aku juga belum sarapan!" teriaknya memelas mencoba melepaskan cengkraman dari pria tak dikenalnya tersebut.


BRUKK!!

__ADS_1


"Aw," rintihnya saat tubuhnya di dorong paksa hingga ia jatuh tersungkur di halaman rumahnya dengan banyak pria berwajah seram menatapnya.


"Hem. Kau terlena dengan imajinasimu, Sandara. Fokusmu lemah. Sepertinya ... akan butuh waktu lama untuk menjadikanmu seperti yang kuinginkan," ucap Mr. White santai yang duduk di teras samping rumah Sandara, menikmati secangkir kopi dengan kue brownies di pangkuan.


Nafas Sandara tersengal. Ia berusaha bangun sembari menahan sakit di lututnya yang lecet karena jatuh menumpu di atas tanah.


"Kau akan membawa persediaan ini ke rumah pondok yang berada 3 km dari tempat ini. Kau akan pergi bersama Golden Retriever. Namanya Afro," ucap pria berkulit hitam itu tersenyum licik.



Sandara memejamkan mata. Ia terlihat semakin tertekan, tapi hanya bisa diam. Ia melihat wajah orang-orang yang menghinanya dengan senyum licik.


Sandara dipakaikan sebuah jam tangan model "Band" di pergelangan tangan kirinya. Sandara diam melihat jam tangan yang terbuat dari karet sebagai gelangnya.


"Cepat pergi. Jangan berpikir bisa kabur. Kami mengawasimu, Sandara, meski jam tangan itu lepas darimu. Jam itu, hanya sebagai penunjuk waktu," ucap pria besar itu dengan senyum licik.


Sandara mendorong sebuah gerobak dengan satu roda di bagian depan yang biasa digunakan oleh para tukang untuk membawa bahan bangunan seperti pasir.


Namun, orang-orang itu mengisinya dengan berbagai macam sayuran, roti, buah, beberapa makanan kaleng dan makanan kemasan.


Sandara terlihat begitu kerepotan karena jalan tanah yang harus ia lalui tidak rata dan membuat bahan makanan dalam isi gerobak itu hampir tumpah.


"Jika sampai jatuh, bahan makanan itu akan ditukar dengan milikmu. Kau akan makan dengan tanah dan segala jenis kotoran yang menempel di sana. Kau mengerti, Lemah?!" teriak pria berkulit hitam di kejauhan dan Sandara hanya bisa menahan air matanya dalam tekanan.


Sandara mengikuti hewan berbulu di depannya yang berjalan dengan santai sembari menjulurkan lidah.


Sandara terlihat begitu kualahan menahan beban dari gerobak itu di mana tenaganya tak sepadan dengan bawaannya.


"Hiks, mama ... papa ...," tangis Sandara seraya terus melangkah dengan mendorong gerobak tersebut menyusuri jalan tanah menuju ke tempat yang diarahkan oleh anj*ng pelacak di depannya.


***


makasih ya tipsnya. uhuy, lele padamu😍


__ADS_1


__ADS_2