
Mata Yudhi melotot lebar saat melihat kekasih hatinya malah menampakkan diri, meski seluruh anak buah Den Bagus telah berhasil dilumpuhkan oleh pasukan berkerudung itu.
Yudhi mematikan mesin mobil dan membiarkan Dakota tetap pingsan di tempat duduknya. Pemuda itu memindahkan kaki Dakota yang membuat kakinya kesemutan karena injakannya.
"Apa yang kaulakukan di sini, Dara? Bagaimana dengan operasimu?" tanya Yudhi langsung membuka pintu mobilnya dan keluar, meski pincang. Ia berdiri menatap gadis di depannya lekat.
"Thailand tak aman. Pasukan Pria Tampan mengabarkan jika aku harus segera pergi dari tempat itu. Mereka melihat pergerakan dari beberapa kelompok tak dikenal yang mencari Atid dan Albino. Oleh karena itu, aku menghubungi pasukan berkerudungmu untuk menjemput kami. Ternyata, kau memiliki misi di sini, jadi ... aku ingin memastikan saja jika kau aman, Sayang," jawab Sandara lugu, tapi membuat Yudhi tetap terkejut.
Seorang wanita berkerudung hitam mendekat ke arah Yudhi.
Mereka bicara dalam bahasa Arab. Terjemahan.
"Yudhi. Kita harus segera pergi dari sini. Ceko tak aman. Sandara harus tetap disembunyikan. Kita bisa pergi ke Austria, ke markas salah satu anggota Kolektor," ucap wanita berwajah Arab itu tegas.
"Oke. Ayo," jawab Yudhi dengan anggukan dan meminta Sandara masuk ke dalam mobil. Gadis yang mengenakan seragam layaknya pasukan berkerudung itu duduk di bangku tengah seorang diri.
Yudhi meminta bangkai motor yang tersangkut di roda belakang mobilnya di singkirkan. Para wanita berkerudung dengan sigap melakukannya.
Yudhi menyempatkan untuk melucuti beberapa persenjataan dan dompet dari para anak buah Den Bagus yang telah tewas di beberapa sudut jalan lalu membawanya.
Tak lama, Yudhi kembali dan melihat Sandara telah merubah penampilannya, meski masih menutupi wajahnya dengan masker dan juga kacamata hitam.
"Istirahatlah, Sayang. Perjalanan kita cukup jauh," ucap Yudhi seraya menyentuh punggung tangan Sandara yang dilapis sarung tangan tebal. Sandara mengangguk dan memposisikan tubuh layaknya orang berbaring.
Yudhi memasukkan barang-barang rampasan itu ke sebuah tas yang ia letakkan di karpet dudukan tengah. Yudhi lalu kembali ke bangku kemudi.
Beberapa mobil berwarna putih layaknya salju, keluar dari balik hutan yang terkamuflase dengan baik. Tiga buah mobil melaju berurutan melintasi jalanan aspal menuju ke Austria.
Tak lama, Den Bagus dan anak buahnya yang melintasi jalanan tempat peperangan terjadi berdecak kesal.
Anak buahnya tewas mengenaskan bersimbah darah. Ia meminta kepada anak buahnya di mobil untuk mengamankan data diri para korban itu. Namun ....
"Bos! Semua dompet mereka lenyap. Pasti Yudhi mengambilnya!" ucap salah satu bodyguard dari tempat ia berjongkok di samping mayat.
"Benar, Bos. Senjata mereka juga hilang!" sahut bodyguard lain yang ikut menyisir lokasi.
"Agh! Yudhi keparatt! Lihat saja jika sampai tertangkap! Akan kurobek wajahnya. Tinggalkan mereka dan cepat pergi dari sini sebelum polisi datang!" perintah Den Bagus dari dalam mobil terlihat gusar.
Dua pria itu kembali masuk ke dalam mobil mengapit Bos mereka di dudukkan tengah. Mobil yang ditumpangi oleh Den Bagus melaju meninggalkan lokasi pembantaian itu dengan tergesa karena khawatir jika bertemu polisi.
Tak lama, setelah kepergian rombongan Yudhi dan Den Bagus, tiga buah mobil SUV hitam muncul dan melewati lokasi kejadian.
"STOP! STOP!" pekik Pion Diego saat melihat banyak orang bergelimpangan berikut kendaraan mereka berserakan di jalanan.
Mobil-mobil itu berhenti. Dua pria berpakaian hitam bersenjata pistol keluar. Diego dan Darwin segera mendatangi para pria itu untuk mencari tahu identitasnya.
"Bagaimana?" tanya Tobias membuka jendela samping dudukan belakang di mobil kedua.
"Tak ada jejak. Aku juga tak mengenali satu pun dari mereka. Mungkin, orang-orang ini anak buah dari Den Bagus. Sepertinya, Dakota berhasil melumpuhkan mereka," jawab Pion Darwin seraya mendekat.
"Cepat masuk. Kita datangi rumah anak manja itu," perintah Tobias dengan kening berkerut dan dua Pion segera masuk ke mobil.
Mobil melaju kencang hingga akhirnya mereka tiba di kediaman Jonathan. Namun, mata mereka melebar saat melihat ada beberapa orang juga tergeletak di sana dan ada satu yang hangus terbakar.
"Periksa mereka semua, dan susuri bangunan!" perintah Tobias lantang dari tempatnya duduk ke semua sambungan radio ke para Pion dan anak buah The Eyes yang ia bawa.
"Yes, Sir!"
Orang-orang berseragam hitam itu segera keluar melaksanakan perintah Tobias. Mereka membagi menjadi dua tim. Tim A menyusuri bangunan dan Tim B mengidentifikasi mayat.
__ADS_1
"DAIDO!" teriak Pion Damian lantang saat ia berjongkok di samping seorang mayat yang telah hangus terbakar.
Mata semua orang terbelalak. Orang-orang itu mendekati Damian termasuk Tobias ke mayat yang disinyalir adalah salah satu Pion andalannya dalam dunia medis—Daido.
Ternyata, hasil dugaan Damian benar. Wajah mereka tegang seketika saat berdiri mengitari mayat Daido yang tewas mengenaskan dengan luka bakar di sekujur tubuh.
"HARRGHHHH! DEN BAGUS!" teriak Tobias lantang dengan kepala mendongak ke atas meluapkan amarahnya.
Saat orang-orang itu dilanda kebencian dan dendam mendalam, tiba-tiba terdengar suara sirine mobil polisi mendekat. Tobias dan anak buahnya langsung menoleh.
"Kita harus segera pergi dari sini, Toby!" teriak Pion Dexter lantang.
"Argh! Tidak! Kita bunuh mereka dan ambil posisi para polisi itu untuk menyelesaikan ini. Jangan kabur. Cepat bersiap!" perintah Tobias dengan penuh amarah.
Para anak buah pria bertato itu mengangguk pelan dan segera bersembunyi untuk mencari posisi menyergap. Benar saja, beberapa mobil polisi datang ke lokasi.
Para Pion, lima anggota The Eyes dan Tobias, bersembunyi di beberapa tempat mengawasi gerak-gerik para polisi sipil yang datang ke lokasi itu.
"Bunuh para polisi sok hebat itu. Langsung kepala. Sisakan si gendut yang terlihat takut di belakang itu. Cepat!" perintah Tobias keji yang mengintai dari tempat persembunyiannya.
"Yes, Boss."
Para polisi itu mengarahkan pistol ke sekitar untuk mengamankan lokasi karena temuan mayat di beberapa tempat. Tiba-tiba saja, DOR! DOR! DOR!
Para aparat negara itu langsung tewas di tempat saat peluru-peluru tajam itu tepat mengenai wajah dan kepala mereka.
Para anggota The Eyes berpura-pura mati dengan posisi tengkurap dan terlentang di beberapa tempat. Para mafia itu menembak mati para polisi tak bersalah saat mereka mendekat untuk memeriksa.
Tobias keluar dari mobil dengan pistol dalam genggaman. Langkahnya mantap bahkan tak segan menginjak tubuh para polisi yang tewas dan dirasa menghalangi jalannya.
DOR! DOR! PRANGG!
DOR! BRUK!
Tobias melepaskan beberapa tembakan dan berhasil menjatuhkan satu orang polisi dengan melubangi jendela depan sebelum menghubungi pusat melalui panggilan radio di mobilnya.
Pria bertato itu masuk ke sebuah mobil polisi dan menarik mayat polisi lalu membuangnya ke tanah. Tobias duduk dan menjawab panggilan radio dengan tenang.
"Status, over."
"Ya. Ternyata ada pekerjaan renovasi di rumah yang kami datangi untuk diselidiki. Mereka menggunakan alat berat dan berisik sehingga suaranya seperti sebuah tembakan atau ledakan, tapi keadaan terkendali. Kami akan mengawasi selama beberapa saat sembari menunggu penanggung jawab konstruksi ini," jawab Tobias seraya menggaruk pelipisnya dengan moncong pistol.
"Dimengerti. Kami tunggu laporan selanjutnya," ucap petugas polisi dari sambungan radio.
"Copy that."
"Toby!" panggil Darion lantang saat pekerjaan mereka telah selesai.
Kini, moncong pistol itu terarah ke tubuh polisi gendut yang mengangkat kedua tangannya dengan ketakutan.
Darion mengambil dompet di saku polisi tersebut lalu memotret identitasnya berikut sosoknya. Polisi itu menerima dompetnya kembali dengan gemetaran.
BROOM!
"Hei, gendut!" panggil Toby dari jendela samping kemudi yang terbuka seraya menghentikan laju mobil polisi yang berhasil dirampasnya.
Pria gemuk itu memutar tubuhnya dengan gemetaran dan melihat Tobias dengan seksama.
"Bagaimana?" tanya Tobias menatap Darion tajam.
__ADS_1
"Dia lengkap." Tobias tersenyum lebar.
"Ikuti instruksiku dengan baik. Melawan, kau mati. Kau bicara jujur ke pusat, kau mati. Kau kabur, kau mati. Berani membohongi kami, kau mati. Namun, kami tak akan membiarkan kau mati sendirian. Aku akan membunuh seluruh anggota keluargamu sebelum aku membunuhmu. Paham?" tegas Tobias meski menyampaikannya dengan santai di balik jendela yang terbuka.
Polisi bertubuh gemuk itu mengangguk dengan wajah pucat pasi.
"Mudah. Kau akan kami jadikan pahlawan seperti layaknya tugas seorang polisi. Katakan ke pusat, kediaman Jonathan Benedict aman. Tak ditemukan hal mencurigakan apapun, oke?" Polisi gemuk itu mengangguk. "Selanjutnya, kau mengatakan, saat perjalanan pulang, kau menemukan beberapa orang tergeletak di jalanan. Kau memeriksanya, ternyata mereka pura-pura mati dan kalian di serang. Kawan-kawanmu tewas, tapi kau berhasil membunuh para penyerang itu. Paham?"
"Para penyerang?" tanya Polisi gemuk itu bingung.
"Dexter. Bawa dia ke lokasi tadi. Biarkan para polisi itu sibuk di tempat pembantaian."
"Oke!" jawab Pion tersebut mantap.
Saat polisi gemuk akan itu dimasukkan ke mobil polisi, Tobias menahannya.
"Wait, wait. Agh, terlalu klasik. Sebentar, ada yang kurang," ucap Tobias seraya keluar dari mobil.
"Apa, Toby?" tanya Damian heran.
DOR!
"ARRGHHH!! AHHHH!" rintih polisi gemuk itu saat kaki kirinya di tembak oleh Tobias dan langsung roboh di tanah. Pria bertato itu malah terkekeh melihat korbannya menderita.
"Mana mungkin terjadi penyerangan, tapi kau tak mengalami luka sedikitpun. Bagaimana? Kurang? Ingin kutambah lagi? Bagaimana jika di perut? Agar bulatan besar seperti orang hamil itu mengempis?" tanya Tobias seraya menutup salah satu matanya membidik perut buncit polisi malang itu.
"No, Sir, No ... please ...," pintanya menangis.
"Haha! Kau sungguh menggemaskan. Baiklah, aku berbaik hati. Kerjakan dengan benar, jika tidak, keluargamu mati tepat di depan matamu. Ingat?" Polisi gemuk itu mengangguk seraya memegangi kakinya yang tertembak. "Bawa dia pergi sebelum aku menembak perut lucunya itu," perintah Tobias dengan kekehan.
Pion Dexter dan Damian mengangkat Polisi itu lalu memasukkan ke mobil polisi yang dikendarai Tobias. Mobil itu pergi lebih dahulu ke lokasi kejadian, tempat ditemukannya mayat-mayat anak buah dari Den Bagus.
Tobias lalu meminta mayat lainnya di sekitar kediaman Jonathan untuk dimasukkan dalam mobil polisi, kecuali mayat Daido. Anak buah Tobias pun melakukannya dengan cepat.
"Toby, kau mau apa?" tanya Pion Darwin saat melihat Tobias menenteng sebuah sekop.
"Bawa mayat-mayat itu ke lokasi kejadian. Buat seperti polisi melawan penjahat, sedramatis mungkin," pinta Tobias memunggungi anak buahnya.
"Baik. Kami akan segera kembali," jawab Darwin dan diangguki oleh Tobias.
Mobil-mobil itu pergi meninggalkan kediaman Jonathan. Tobias menggali sebuah lubang untuk memakamkan salah satu Pion andalannya yang tewas dengan mengenaskan. Wajah Tobias datar, tak ada ekspresi di sana.
Ia menggali di dekat sebuah pohon rindang di pekarangan rumah Jonathan. Tobias menarik mayat Daido yang sudah menghitam dengan luka bakar di sekujur tubuhnya lalu melemparkannya ke lubang.
BRUK!!
"Selamat tinggal, Daido. Kau adalah perawat terbaik yang kukenal sejauh ini. Melebihi semua dokter dan profesor di seluruh dunia. Semoga, kau ... menemukan jati dirimu di alam sana. Sampai jumpa," ucap Tobias berdiri di pinggir lubang saat mayat Daido sudah bersemayam di dasar.
Tobias menutup lubang itu dengan tanah menggunakan sekop. Ia juga menaburi gundukan itu dengan batu kerikil yang ada di sekitar kediaman Jonathan, lalu menyiramnya dengan cairan semen.
Tobias membuat tulisan besar di atas cetakan semen itu dengan nama Daido.
"Kau mendapatkan tempat yang indah, Daido. Setidaknya di bawah sana kau tak sendirian. Akan ada banyak cacing dan serangga menjijikkan yang akan menemanimu. Aku menyayangimu," ucap Tobias lalu pergi dengan meninggalkan ujung sekopnya tertancap di ujung gundukan seperti nisan.
***
wah makasih tipsnya~ lele padamu💋 jangan lupa vote vocernya sebelum angus😘 ini sudah hari senin dan bantu ramaikan Monster Hunter ya❤️
__ADS_1