4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Trauma Sierra


__ADS_3

Praktis, ajakan Jonathan membuat mata Sierra terbelalak lebar. Ia terlihat gugup dan langsung berdiri seperti menghindar. Jonathan bingung.


"Kenapa? Nathan janji akan bertanggungjawab. Nathan udah siap jadi suami dan ayah untuk keluarga kita nantinya," ucapnya mantap menatap Sierra lekat yang memunggunginya.


Sierra terlihat gugup. Ia memainkan jemarinya seperti saling beradu. Kening Jonathan berkerut karena Sierra seperti menolak ajakannya.


"Apa yang Sierra sembunyiin?"


Sierra tersentak. Gadis cantik itu terlihat pucat dan tak berani membalas tatapan sang kekasih. Jonathan berdiri dan mendatanginya. Namun, Sierra malah menghindar seperti takut dengannya.


"Eh, kamu kenapa sih, Yang?" tanya Jonathan saat ia memegang tangan calon isterinya. Sierra langsung menundukkan wajah dengan mata terpejam. "Kamu takut sama Nathan? Kenapa? Belom ngapa-ngapain," tanyanya terlihat bingung.


"Mm, aku ... aku akan jujur satu hal padamu. Namun, kau berjanji 'kan, akan tetap mencintaiku? Meskipun, masa laluku buruk," tanyanya terlihat sedih.


Wajah Jonathan berubah serius. Pemuda tampan itu mengangguk berjanji. Ia mengajak Sierra kembali duduk di samping ranjang dan tak melepaskan cengkeraman di lengannya. Sierra terlihat gelisah.


"Nathan-nya diliatin, jangan dicuekin. Haruskah Nathan terlentang di lantai biar Sierra bisa liat Nathan? Dari tadi lantai mulu yang diperhatiin. Lantainya lebih ganteng dari Nathan kah?"


Sierra tersenyum tipis. Ucapan Jonathan sangat tak masuk akal, tapi membuat rasa cemas di hatinya sedikit terkikis.


"Mr. White. Dia ... pernah mencoba memperkosaku saat seumuran Dara."


Sontak, mata Jonathan melebar seketika. "What?!"


Sierra menarik nafas dalam dengan pandangan tertunduk. "Beruntung, saat itu kakek Darwin memergoki perbuatan cabulnya. Aku berhasil di selamatkan. Namun, karena kejadian itu, aku trauma."


Mata Jonathan membulat penuh, ia semakin menatap Sierra tajam.


"Jujur, sebenarnya ... aku khawatir dengan keadaan Sandara. Mr. White memiliki kelainan dengan kejiwaannya. Ia menyukai gadis belia. Aku takut Sandara akan bernasib sama sepertiku," ucapnya yang praktis, membuat Jonathan tersentak.


"Mr. White ... pedofil?" Sierra mengangguk.


"Mr. White dianggap aib oleh para tetua The Circle. Oleh karena itu, sosoknya disembunyikan. Dulu dia salah satu calon pion, tapi ... ditolak oleh kakekku. Miles mengurung Mr. White di ...."


"Di mana?" tanya Jonathan karena Sierra tiba-tiba saja menghentikan ucapannya.


"Oh! Tempat itu! Kenapa aku tak terpikirkan? Bisa jadi, Venelope dan lainnya berada di sana!" pekik Sierra yang mengejutkan Jonathan.


"Di mana, Yang? Di mana?" tanya Jonathan dengan mata membulat penuh.


TOK! TOK! TOK!


"Mama! Mama!" teriak Jonathan dari luar kamar Vesper dengan Sierra berada di sampingnya terlihat cemas, tapi pintu kamar itu tak dibuka.


"Hus! Berisik! Ono opo?" sahut Eko mendatangi Jonathan yang terlihat panik.

__ADS_1


"Om, Om! Sierra bilang, dia tahu persembunyian Mr. White. Kita harus ke sana buat menyelidikinya!"


"Ciyus? Di mana? Kasih tau Om Eko aja. Jangan ganggu simbokmu. Dia lagi melakukan ritual khusus dengan papa Kai. Ayo, minggir! Ntar kalian denger suara uh ah uh ah malah pengen, gaswat!" sahutnya sembari menggandeng tangan Sierra dan Jonathan erat.


"Yang bener? Ngintip yuk!"


"Woo, bocah gemblung! Tar matamu bintitan! Gak boleh! Kamu masih piyik. Nikah juga belom udah mau minta tutorial. Kaya gitu gak usah diintip tar juga bisa sendiri," sahut Eko menarik kerah baju di tengkuk Jonathan karena pemuda itu berhasil lepas dari cengkeramannya.


Sierra meringis mendengar ucapan menggelikan dua pria di hadapannya. Jonathan diseret paksa oleh Eko meninggalkan tempat.


Pria gundul itu mengajak mereka berkumpul di ruang meeting bersama beberapa orang yang masih berada di kediaman Dania, Lebanon.


"Afrika? Kau yakin? Jauh sekali," sahut Bambang The Kamvret terkejut.


"Ya, di Angola lebih tepatnya. Ada sebuah lahan milik Miles yang ia bangun rumah tradisional seperti bangunan suku setempat. Maaf, aku baru mengingat tempat itu karena aku berusaha melupakannya. Sayangnya, aku tak pernah berkunjung, hanya pernah melihat dari sebuah foto," jawab Sierra terlihat gugup.


"Bisa kau berikan spesifikasi detailnya? Aku akan bantu mencari dari tampilan GIGA," pinta Eiji, dan Sierra mengangguk memberikan arahan sesuai ingatannya. Semua orang melihat ke sebuah layar 40 inch yang berada di ruang meeting dengan serius. "Wah, sungai Cuanza cukup panjang, Sierra. Namun, kita bisa menyisir kawasan tersebut secara langsung. Kau masih menyimpan foto rumah itu?" tanya Eiji. Sayangnya, gadis cantik itu menggeleng.


"Berikan saja ciri-ciri bangunannya. Misal, berapa lantai, warna cet, bentuk bangunan, dekat dengan jalanan atau memiliki tanda khusus. Yah, semacam itu," sahut Yono memberikan masukan.


Sierra terlihat berpikir dengan mata terpejam. "Ya, aku ingat!" jawabnya mantab.


Usai memberikan informasi penting kepada tim dari Eko, pria gundul itu segera menyiapkan keberangkatan ke Angola, Afrika, untuk memburu Mr. White dan kelompoknya.


"Aku akan ikut memantau dari GIGA IGOR. Hati-hati dan kembalilah dengan selamat," pinta Sierra yang terlihat enggan meninggalkan calon suaminya.


"Persiapan pernikahan, Nathan serahin ke Sierra ya. Ajak mama aja buat tuker ide. Mama suka pesta," sahutnya dengan senyum terkembang. Sierra mengangguk paham.


Jonathan memberikan pipi kiri dan kanannya untuk dikecup. Bahkan, pemuda itu membawa gaun tanpa lengan setinggi lutut milik Sierra ke dalam tas ranselnya.


Di dalam mobil.


"Jonathan mulai gak waras. Itu ngapain baju Sierra ikut dibawa segala?" tanya Bejo berbisik kepada Iwan yang duduk di sebelahnya.


"Nathan denger, gak usah bisik-bisik," ucapnya sewot yang duduk di depan bersama Eko. Bejo meringis karena kepergok. "Ini sengaja Nathan bawa. Jadi, kalau lagi kangen sama Sierra, bisa Nathan peluk. Sengaja Nathan minta gak dicuci biar baunya Sierra nempel," sahutnya sembari mengeluarkan pakaian itu dan mencium aromanya dalam genggaman tangan.


"Hih! Ni bocah kasmarannya kebangetan. Masa begitu? Dah, buruan nikah sono. Om Iwan malah iba sama kamu, Le," sahutnya miris.


"Kebelet kawin~ Kebelet kawin~ Kebelet kawin, Mama!" ucap Eko bernyanyi dan malah disambut oleh Iwan dan Bejo dengan tepuk tangan meriah.


Jonathan tertawa terbahak tak tersinggung. Suasana di mobil tersebut sungguh meriah mengalahkan nyanyian dari pemutar musik di mobil.


Kai dan tim yang berada di mobil lain dengan sambungan komunikasi terhubung, hanya bisa geleng-geleng kepala karena pemuda tampan itu terlihat seperti tak sabar untuk segera menikah saat musim panas nanti.


Kediaman Venelope.

__ADS_1


Wanita berambut pirang itu marah besar setelah usahanya gagal menjatuhkan Markas para anggota Dewan.


Mr. White, Smiley, Tessa, dan lainnya, sampai kebingungan untuk meredakan amarahnya.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Venelope—"


"DIAM!" potongnya lantang dengan mata melotot, menunjuk sekumpulan orang yang berdiri di sekitarnya. "Kalian menjanjikanku kemenangan. Mana buktinya? Kekalahan telak! Sierra dan Tobias membantu mereka! Markas mereka bahkan tak hancur dan aset tak bisa kita curi!" teriaknya lantang.


Semua orang menghela nafas pelan.


"Lalu, kau punya rencana cadangan? Semua begundal di dunia, sudah direkrut oleh 13 Demon Heads. Tak ada penjahat yang tersisa, kecuali, kau ingin membebaskan para tahanan di penjara," tanya Smiley dengan wajah datar.


Namun sepertinya, ide Smiley diterima oleh Venelope. Senyum wanita itu merekah. Venelope yang hanya menutup sebagian wajahnya dengan topeng, tak bisa menutupi ekspresi keji dari bibirnya.


"Ya, bebaskan mereka," jawabnya tersenyum miring.


"What? Kau gila! Bagaimana cara mengendalikan mereka semua? Mereka itu kumpulan psikopat!" pekik Tessa terlihat tidak setuju.


"Cuci otak," jawab Ungu, pemimpin The Mask, Mr. White, dan Smiley bersamaan seraya menatap Tessa tajam.


Wanita cantik itu mendengus keras. Ia mengangguk pelan, meski terlihat seperti tak sependapat dengan keputusan orang-orang tersebut.


"Aku sudah memikirkan ide bagaimana membebaskan mereka. Anggap saja, ini asuransi karena gagal pada perencanaanku sebelumnya. Namun yang kedua, seharusnya berhasil," sahut Smiley dengan senyum tipis.


"Hem. Kami sudah melihat gaya bertempur pasukan Tobias yang kini dinamai The Eyes dari kamera pengintai di topeng gagak. Meskipun pada akhirnya, kamera itu ketahuan oleh anak buah anggota Dewan, tapi setidaknya, kita sudah melihat strategi mereka. Kita akan cari celah untuk menghancurkan orang-orang sombong itu," sahut Mr. White dengan kaki menyilang terlihat anggun.


"Kali ini, jangan buat kesalahan. Aku ingin mereka musnah. Orang-orang itu tak bisa dimaafkan. Aku ingin semuanya habis hingga Vesper saja yang tersisa. Dan saat itulah, aku akan datang untuk mencabut nyawanya," ucapnya bengis.


Orang-orang itu mengangguk paham. Smiley mohon pamit bersama semua orang. Tessa mengikuti di belakang.


Namun, saat ia berjalan melewati Venelope, wanita bertopeng itu memegangi tangannya erat. Langkah Tessa terhenti seketika.


"Aku bisa melihat bibit pemberontakan dan pengkhianatan di matamu, Tessa. Jika aku melihatnya lagi saat kita bertemu, aku tak segan mencuci otakmu. Kau paham?" tegas Venelope seraya melirik Tessa dengan cengkeraman kuat di lengannya.


Tessa tak menjawab dan hanya mengangguk. Venelope melepaskan cengkeramannya, dan membiarkan semua orang pergi dari ruangannya.


"Aku gagal, Mama. Namun, aku janjikan kemenangan untuk serangan berikutnya. Doakan aku agar berhasil kali ini," ucap Venelope, seraya mencium foto pada sebuah bingkai yang berada di atas meja kerja dengan mata terpejam.


***


uhuy tengkiyuw tipsnya. lele padamu. satu atau 2 eps nih?


__ADS_1


__ADS_2