4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Menunggu Jemputan


__ADS_3

Para Black Armys yang datang usai mendengar jika M tewas tak ingin membuang waktu. Mereka segera menyusul untuk menghadang anak-anak Vesper melewati jalan lain.


Orang-orang yang menaruh balas budi dan jasa pada sang Ratu, berusaha keras tak ingin dikalahkan.


Lian, Rui dan Mei yang menyaksikan dari balik pepohonan tak sanggup melihat orang-orang didikan suami mereka—Tora—tewas karena ulah anak-anak Vesper.


"Hentikan!" teriak Lian lantang seraya berlari kencang menuju ke tempat pertempuran.


Lysa yang melihat kedatangan tiga isteri Tora terkejut. Sekilas, ia teringat akan ucapan Tora sebelum kematian diberikan olehnya tentang berjanji untuk mengayomi tiga isteri dan tujuh anaknya setelah ia tiada.


"Hentikan!" teriak Lysa saat Sandara membidik Rui yang siap menyabetkan pedang ke arah Arjuna.


DOR!


"Agh!"


BRUKK!


Praktis, mata Sandara melotot saat Lysa mengorbankan dirinya sebagai tameng agar Rui tak tertembak. Arjuna dan Jonathan langsung menghentikan serangan, termasuk para Black Armys.


Namun, "Tangkap mereka!" seru pemimpin pasukan hitam itu.


"Aggg!" erang Jonathan dan Arjuna saat mereka tertindih orang-orang itu agar tak kabur.


Tubuh mereka tergencet di atas tanah. Sandara segera ditangkap dan dipegangi kuat hingga gadis cantik tersebut tak berkutik.


Mei mendatangi Lysa yang mengerang kesakitan karena peluru bidikan Sandara mengenai telapak tangan kirinya.


"Ergg ... agh!" rintih Lysa yang tangannya berdarah hebat.


Lian dengan segera mengeluarkan sebuah tabung yang ia simpan dalam saku di balik pinggang seperti sebuah tas.


Mata Lysa melebar saat ujung dari tabung itu diarahkan ke lukanya dan terdengar bunyi nyaring.


BIBIBIBI! KLIK! KLANG!


"Agh!" rintihnya terkejut saat ia merasa peluru yang tersangkut di dagingnya tersedot dalam tabung itu berikut darahnya.


Rui dengan sigap membalut tangan Lysa yang terluka lalu menyuntikkan serum pereda nyeri.


"Kau menepati janjimu pada Tora, Lysa. Kami tak menyangka," ucap Mei yang membuat Lysa hanya bisa diam terlihat sungkan.


Lian, Mei dan Rui saling berpandangan lalu mengangguk bersamaan.


"Ayo. Namun, tinggalkan semua senjata kalian. Kami izinkan bertemu Vesper," ucap Rui yang mengejutkan Lysa beserta tiga anak Vesper lainnya yang sudah diikat dan dipaksa berlutut.


"Nona Rui," panggil salah satu Black Armys tak sependapat, tapi isteri Tora tersebut menggeleng.


"Lepaskan mereka. Kalian tahu, Vesper tak memiliki banyak waktu lagi. Dia sudah menunggu anak-anaknya. Dia merindukan mereka. Itulah yang membuatnya bertahan sampai hari ini," sahut Lian yang membuat empat anak Vesper terkejut.

__ADS_1


"Ma-mama nunggu kita? Mama kangen?" tanya Jonathan gugup.


"Aku seorang Ibu, sama sepertinya. Kau juga seharusnya bisa merasakan hal itu, Lysa. Sama seperti ketika kau bertemu D dan Fara. Bagaimana rasanya ketika dua anakmu muncul, tapi mengatakan hal menyakitkan padamu? Pada ibunya sendiri? Semoga kalian tak melakukan hal itu pada ibu kalian," tegas Mei yang membuat pandangan Lysa tak menentu.


"Anak-anak ini sudah tidak waras. Mereka membunuh kawan sendiri. Tega melukai orang-orang yang mendidik dan menyayangi mereka. Jangan terlalu banyak berharap, Nyonya Mei, Lian dan Rui. M saja dibunuhnya, apalagi Vesper-sama," tegas seorang Black Armys saat melepaskan ikatan di tangan Arjuna lalu mendorongnya.


Arjuna, Sandara dan Jonathan diam usai mereka dihujat oleh para tentara rekrutan Eko dan mendiang Jenderal Tio.


Lian mengantarkan empat anak Vesper masuk ke sebuah rumah kayu yang tampak sederhana. Tiga wanita cantik itu melepaskan alas kaki dan masuk ke rumah berlantai kayu dengan santun.


Keempat anak Vesper mengikuti ketiganya. Para Black Armys yang masih bertahan berjaga di luar rumah tersebut dengan persenjataan yang mereka sita dari keempat anak-anak Vesper.


DOK! DOK! DOK!


"Tuan Han, Tuan Kai. Mereka sudah di sini," ucap Lian sopan.


Terlihat jelas wajah tegang dari keempat anak Vesper. Mereka berdiri di sebuah ruangan dengan lantai kayu dan pandangan terfokus pada sebuah pintu yang masih ditutup rapat.


GREKKK!!


"AAAAA!" teriak anak-anak yang ternyata berkumpul di dalam ruangan mengelilingi seseorang yang tampak pucat meski sosoknya tak terlihat jelas.


Lysa dan lainnya terkejut karena anak-anak itu malah menangis. Buffalo, Seif, James dan Drake muncul dengan wajah garang di kanan kiri pintu.


"Jangan bunuh Oma! Jangan!" teriak Azumi menangis, begitupula semua anak di sana.


"Kami tak bermaksud membunuh Oma. Itu tidak benar," ucap Lysa menjelaskan.


"Bohong! Otong tahu semua!" seru Obama Otong muncul bersama King D dan Fara.


"Oma!" tangis Fara begitu saja dan dibarengi anak-anak yang lain.


Ternyata, hal itu membuat para bayi yang berada dalam box terbangun. Arjuna dan Jonathan terkejut saat mengetahui ada bayi di sana. Keduanya mendekat meski dihalangi oleh Otong.


"Oh! Sig? Loria?" panggil Arjuna dengan mata melotot saat melihat dua bayi itu ikut menangis.


"Kenapa ... dia ... seperti mirip denganku?" tanya Jonathan yang melihat bayi laki-laki pada box kayu ikut menangis dan terlihat lebih besar dari Loria dan Sig.


"Dia puteramu dari Cassie. Maaf, namanya sulit. Aku tak ingat. Jadi kami memanggilnya Benedict," jawab Mei.


Jonathan terkejut dan langsung melangkah mundur seperti kaget. Ia tak menyangka jika ucapan Cassie kala itu benar jika ia memiliki putera.


Mata Sandara bergerak saat melihat sosok yang terbaring di ranjang seperti mencoba menenangkan anak-anak itu.


"Hei, hei, ada apa?" tanya Vesper yang terbangun karena tangis anak-anak.


"Mereka datang untuk bunuh Oma," jawab Kenta dengan air mata bercucuran.


"Siapa?" tanya Vesper lemah lalu menoleh perlahan.

__ADS_1


Sandara berdiri mematung saat ia baru menyadari jika wanita yang tergeletak dengan banyak alat medis di tubuhnya dan berkepala gundul itu adalah sang ibu.


"Dara? Kaukah itu?" tanya Vesper lirih mencoba untuk bangun.


"Nyonya Vesper!" pekik Buffalo yang langsung sigap mendatangi Vesper dan merebahkannya lagi.


Lian, Rui dan Mei mencoba membawa anak-anak itu pergi agar Vesper bisa bicara dengan keempat anaknya, tapi mereka menolak.


"Itu tidak benar. Kalian bermainlah di luar. Tak ada yang akan membunuh Oma di sini. Apakah kalian sudah mandi? Pergilah mandi lalu makan bersama. Oke?" ucap Vesper lirih dan pada akhirnya anak-anak itu menurut.


Mereka mencium pipi Vesper satu per satu. Vesper mengembangkan senyuman kepada anak-anak itu. Tiga isteri Tora menggiring mereka ke kolam buatan untuk mandi bersama.


Akhirnya, ruangan di kamar tersebut sepi hanya ada Vesper, Buffalo, Drake, James, Arjuna, Sandara, Lysa, Jonathan serta tiga bayi mungil yang akhirnya tak menangis lagi usai Lysa memberikan dot di samping mereka.


"Juna? Kaukah itu? Apa kau terluka?" tanya Vesper saat mendapati anak lelakinya terbalut perban dan ada noda darah di sana.


Arjuna diam saja tertunduk di depan box bayi puterinya.


"Jonathan? Kaukah itu? Kemarilah, Mama ingin melihatmu," pintanya dengan senyuman, tapi Jonathan malah menangis dan memalingkan wajah. Ia menyenderkan tubuhnya di dinding kayu seperti enggan bertemu dengan sang ibu.


Lysa berjalan perlahan mendekati Vesper. Drake, James dan Seif tampak waspada. Mereka khawatir jika hal ini digunakan oleh anak-anak durhaka itu untuk membunuh sang Ratu.


"Kausudah besar," ucap Vesper saat Lysa berdiri di samping ranjang dan Vesper meraih tangannya dengan gemetaran. "Kenapa tanganmu? Apa kau terluka? Apa sudah diobati?" tanya Vesper cemas usai mendapati perban di tangan anak pertamanya.


Lysa diam saja memalingkan wajah dengan mata berlinang.


"Aku tahu tujuan kedatangan kalian. Yang diucapkan oleh Obama Otong adalah benar, tapi tak mungkin kukatakan hal keji itu pada anak-anak. Mereka datang meminta perlindunganku dan kuberikan. Aku tak ingin dendam ini berlanjut. Jadi ... jangan lakukan di sini. Aku sudah siap dijemput," ucap Vesper seraya mengulurkan kedua tangannya yang tertancap selang infus.


Lysa terkejut dan langsung mundur dengan cepat. Ia berdiri di samping Sandara terlihat gugup.


"Aku tahu jika Jonathan mendapatkan tekanan dari Miles. Dia menginginkanku untuk ditukar dengan Cassie. Namun, kau tak perlu cemas. Cassie berhasil diselamatkan oleh Eko dan pasukan Pria Tampan milikmu, termasuk Click and Clack. Sayangnya, dua pria itu tak lagi di Kastil Borka karena mereka bekerjasama dengan Eko, para Biawak, para Mens, Pasukan Pria Tampan, Afro dan Cassie untuk memburu Miles. Kini, keberadaan Miles sudah diketahui," ucap Vesper yang membuat semua orang terkejut.


"Dari mana Anda tahu, Nyonya Vesper?" tanya Seif heran.


"Minta Q melacak ponselku. Sudah berapa lama Souta pergi?" jawab Vesper tenang.


"Souta? Oh, aku baru sadar dia tak ada. Jangan-jangan ... Anda memberikan misi padanya tanpa sepengetahuan kami?" tanya James menduga, dan Vesper menjawabnya dengan senyuman.


"Fal, tolong siapkan semua. Kita akhiri segera. Waktuku tak lama lagi. Yang Miles inginkan adalah aku. Jika anak-anakku tak sanggup membunuhku, biar Miles saja yang lakukan. Aku rela," pintanya seraya mengulurkan tangannya yang keriput.


James, Drake, Seif dan Buffalo berlinang air mata. Mereka tak menyangka jika Vesper bersedia mati agar petaka yang menimpa jajarannya berakhir.


Lysa, Jonathan dan Arjuna membisu hingga tiba-tiba, Sandara melangkah mendekat menatap sang ibu tajam.


***


masih eps bonus. satu eps lagi up nanti siang jam2 dari tips koin. ditunggu sedekah koin lainnya. lele padamu❤️


btw giveaway LIH jadi bingung bikinnya krn ternyata gak semua punya IG. Lele gak mungkin pasang iklannya disini karena pasti gak lolos sama MT. jadi, join di GC 1, 2, dan 3 aja ya. Atau join di WA grup mafia family. Tinggalin nomor telepon di kolom komentar nanti diinvite sama mimin. Tengkiyuw 💋

__ADS_1


__ADS_2