
Maap telat up. Gini nih kalo sekolah by zooming yg rempong mamanya. Mana bahasa pengantarnya english lagi jdi bocahnya kudu didampingi tapi brasa eke yg sekolah😆
Jangan lupa like audio book yg direkam oleh lele ya (cek akun lelevil lelesan) utk dpt bonus eps sekalian naikin rank fans kamu. Lalu siap2 intip novel Simulation karena akan ada Gift Away juga di sana. Semangat!!
------ back to Story :
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
Arjuna dan lainnya berlari kencang dengan senjata dalam genggaman. Mereka mendatangi arah jatuhnya helikopter.
Saat mereka sudah hampir tiba, terlihat sebuah helikopter melayang meninggalkan kawasan. Langkah Arjuna dan lainnya terhenti sejenak.
"Cepat! Cepat!" seru Biawak Putih mengabaikan helikopter yang diyakini milik musuh.
Mereka tak membawa senjata dengan tingkat ledakan tinggi untuk melumpuhkan benda terbang tersebut. Orang-orang itu kembali berlari untuk melihat keadaan Ivan dan lainnya.
"Di sana!" teriak Sun lantang menunjuk sebuah bangkai helikopter yang perlahan tenggelam di air.
Mata semua orang melebar. Mereka berlari semakin kencang menuju ke titik jatuh helikopter.
"Martin! Itu Martin!" teriak Pion Dakota menunjuk kawan karib mendiang Erik Benedict sedang merangkak di atas atap helikopter yang sudah hampir tenggelam seluruhnya.
Terlihat, darah mengucur di kepalanya seperti terkena benturan hebat.
"Om! Om!" panggil Arjuna lantang yang kini sudah berada di pinggir sungai dekat sebuah jembatan.
"Bojan and Ivan! They are trapped inside!" teriak Martin lantang dan tiba-tiba, ia merosot lalu tercebur ke dalam air.
"Om!"
BYURR!!
Arjuna langsung melompat ke dalam air. Ia berenang ke dalam aliran sungai mendekati bangkai helikopter. Max dan Tulio ikut menceburkan diri untuk menolong tiga anggota Dewan yang terjebak di dalam helikopter.
Arjuna menyelam dan melihat Ivan tak sadarkan diri. Pria itu masih duduk di bangku kemudi dengan beberapa luka lecet di wajahnya.
Arjuna menyelinap dari depan kaca helikopter yang pecah. Sayangnya, Ivan terjepit oleh tuas kemudi dan seat belt masih terpasang.
SRING!!
Sinar laser belati Silent Blue menyala terang dari dalam air dan terlihat di permukaan. Biawak Putih meminta kepada para pengemudi mobil untuk segera ke lokasi kejadian.
Samuel dan lainnya segera melaju kencang menuju ke jembatan Puente De Pescadito, Veracruz, Mexico.
Arjuna memotong seat belt helikopter untuk membebaskan tubuh Ivan.
BYURR!!
Pion Darwin dan Diego ikut membantu proses evakuasi karena Max serta Tulio terlihat susah payah menyelamatkan Martin yang ikut tak sadarkan diri dengan darah terus mengucur di kepala.
Kaki Bojan tersangkut oleh bangku dari helikopter. Dua Pion segera menyingkirkan benda-benda yang menghimpitnya dengan tergesa. Terlihat, Bojan mulai kehabisan nafas hingga keningnya berkerut.
"Ohok!" Bojan mulai batuk dan nafasnya tercekik.
Saat ia hampir tak sadarkan diri, Pion Diego dengan cepat menarik tangannya dan membawanya berenang keluar dari helikopter setelah berhasil dibebaskan.
Pion Darwin membantunya dengan memegangi pergelangan kaki Bojan dan mendorongnya ke permukaan.
"Tuan Bojan!" teriak Carloz saat melihat Bojan sudah tak berdaya dengan pandangan sayu.
Orang-orang yang berada di pinggir sungai segera menarik Martin dan Bojan ke daratan. Simon dan Greco menaikkan Martin ke mobil bersama Max serta Tulio mendampingi mereka.
Mobil pertama meninggalkan lokasi menuju ke dermaga yacht, di mana Ringgo telah menunggu dengan cemas.
Bojan masih sadar meski ia terlihat kelelahan dengan pakaian sudah robek-robek bekas terbakar. Pria itu hanya bisa terlentang di dudukan mobil dengan pandangan tak menentu seakan mau pingsan.
Jose mengemudikan mobil dan siap membawa orang-orang itu pergi. Pion Darwin dan Diego ikut dalam mobil tersebut, menyusul mobil pertama.
Sun melihat Arjuna belum juga muncul ke permukaan. Putera dari Agent M ikut menceburkan diri untuk membantu Tuan Mudanya.
__ADS_1
Arjuna terlihat kesulitan saat menarik tubuh Ivan yang terjepit. Hingga ia melihat kedatangan Sun. Pemuda itu membantu dengan menarik tubuh Ivan dari samping dengan sekuat tenaga, tapi tetap tidak bisa.
Arjuna berinisiatif untuk memotong sedikit demi sedikit benda yang menahan kaki anggota Dewan tersebut karena ia susah di tarik.
Hingga akhirnya, usaha mereka berhasil. Arjuna mulai kehabisan nafas karena harus menyingkirkan banyak benda untuk membebaskan Ivan.
Tubuh Ivan didorong ke permukaan oleh dua pemuda itu. Biawak Putih yang melihat sosok Ivan segera memanggil orang-orang yang masih bersiaga di pinggir sungai untuk menariknya.
CPR dilakukan sebagai pertolongan pertama. Nafas Arjuna dan Sun terengah karena khawatir jika Ivan tak selamat karena ia sudah tak sadarkan diri sejak ditemukan.
"Lanjutkan selama perjalanan. Kita pergi dari sini!" perintah Arjuna dan semua orang mengangguk setuju.
Arjuna ikut satu mobil dengan Ivan, Sun, Biawak Putih, Daido dan Samuel yang mengemudikan. Kursi tengah dan belakang dilipat agar Ivan bisa dibaringkan serta mendapatkan pertolongan.
Daido yang bertugas sebagai tenaga medis, kembali melakukan CPR dan pertolongan lainnya untuk menyadarkan Ivan. Arjuna terlihat panik karena Ivan tak menunjukkan tanda jika ia akan selamat dari tragedi ini.
Semua mobil meninggalkan lokasi kejadian. Hanya saja, untuk menuju ke dermaga memakan waktu hingga 3 jam lebih. Arjuna khawatir jika Ivan dan lainnya tak bisa bertahan selama itu.
"Kita ke Rumah Sakit terlebih dahulu untuk memastikan Ivan dan lainnya baik-baik saja," pinta Arjuna.
Biawak Putih segera menghubungi tim yang lain dan mereka sepakat untuk membawa orang-orang yang terluka ke rumah sakit.
Pion Dexter segera menyiapkan indentitas palsu untuk orang-orangnya yang akan masuk ke rumah sakit.
Biawak Putih meneruskan rencana Dexter ke para Pion D dan para pengemudi melalui sambungan radio. Mereka pun siap untuk bersandiwara.
Arjuna dan lainnya melanjutkan perjalanan ke dermaga karena identitas yang disediakan oleh Pion Dexter hanya untuk para Pion saja.
Carloz akan bertanggung jawab sebagai penyampai informasi kepada Arjuna dan lainnya karena ia akan ikut menemani.
"Oke, kita berpisah di sini. Segera tinggalkan Meksiko dan pergilah ke Cuba, kediaman Tobias. Kalian akan aman sementara waktu di sana. The Eyes akan melakukan penjemputan dan mengamankan kalian sampai informasi selanjutnya," tegas Pion Damian.
Arjuna dan timnya mengangguk paham. Biawak Hijau terpaksa ikut ke rumah sakit karena peluru masih bersarang di pantatnya.
Ringgo yang mendapatkan informasi jika mereka diminta untuk berlayar ke Cuba segera menge-print perizinan ilegal yang dikirimkan oleh Monica. Ringgo begitu takjub dengan kinerja cepat dari anak buah Vesper dalam koordinasi misi.
Fajar menyingsing dan silau dari matahari meredupkan pandangan orang-orang yang berada di dalam mobil.
Akhirnya, pagi itu, Arjuna dan tim tiba di dermaga. Mereka segera naik ke kapal.
Dua yacht meninggalkan Veracruz, Mexico menuju ke Cuba setelah dokumen palsu yang dibuat mirip dengan asli tersebut berhasil mengelabui petugas dermaga.
Arjuna dan anak buahnya yang selamat dengan luka tak begitu parah, terlihat masih letih karena aksi mereka tersebut.
Biawak Putih yang mulai menua, tetap terlihat prima dan meminta semua orang untuk berpakaian sipil karena khawatir akan bertemu polisi air yang akan melakukan pemeriksaan.
"Masukkan semua senjata ke dalam koper anti air itu, cepat!" tegas Biawak Putih menunjuk tas ransel berisi persenjataan selama menjalankan misi untuk disimpan dalam koper khusus termasuk pakaian tempur.
Orang-orang itu segera melaksanakan perintahnya. Samuel menyiapkan sebuah jaring besar yang nantinya diisi koper-koper senjata.
Jaring akan ditenggelamkan seperti menangkap ikan dan ditarik oleh kapal sampai menuju ke titik aman untuk dinaikkan kembali.
Dan benar saja, saat mereka mulai mendekati perairan Cuba, polisi air sedang berpatroli dan meminta agar dua yacht yang berlayar berurutan menghentikan laju kapal.
Wajah para penumpang kapal tegang seketika termasuk nahkoda kapal.
"Ingat, sandiwara kita. Tenang, tak ada senjata ataupun narkoba di dalam sini," ucap Biawak Putih kepada semua anggota tim dari sambungan radio.
"Copy that," jawab semua orang serempak.
Earphone dilepaskan dan disimpan dalam saku celana. Arjuna menarik nafas dalam dan terlihat tegang saat para polisi dan seekor anj*ng naik ke kapal.
Mereka bicara bahasa Spanyol.
"Selamat sore. Ada yang bisa kami bantu, Pak Polisi?" tanya Ringgo dengan senyum terkembang keluar dari ruang kemudi.
"Berikan surat perizinanmu dan apa yang kalian lakukan di perairan ini? Ke mana tujuan kalian?" tanya seorang Polisi sembari menerima lembar dokumen dari Samuel.
"Padahal di dokumen sudah dijelaskan semua, tapi masih bertanya. Malas membaca," sindir Arjuna sembari melipat kedua tangan di depan dada menyindir para polisi di geladak kapal dengan bahasa Indonesia.
__ADS_1
"GUK! GUK!"
Arjuna terkejut saat anj*ng pelacak menggonggong kencang dan mengendus lantai kapal. Arjuna melirik Biawak Putih dalam diam.
Petugas yang memegang tali pada anj*ng ikut curiga. Ia meminta kepada semua orang untuk menyingkir. Arjuna dan lainnya melangkah mundur saat hewan berkaki empat tersebut melongok ke permukaan air.
"GUK! GUK!"
"Haish, ketauan. Dah, Jun, bereskan. Gak usah pake lama," bisik Biawak Putih dan Arjuna mengangguk.
Arjuna memberi kode pada Ringgo dengan menunjuk ujung hidungnya dan Ringgo mengangguk paham.
Ringgo memberikan kode ke yacht lainnya dengan gaya seperti orang bangun tidur dan menguap. Hector melihat tanda itu dan mengangguk paham dari tempatnya berdiri di buritan kapal.
"Pak," panggil Sun dengan senyum manisnya dan semua Polisi di atas kapal itu menoleh ke arahnya.
KLONTANG ...
Mata para Polisi terbelalak dan hewan yang memiliki indera penciuman tajam itu menggonggong kencang.
BUZZZ!!
Kepulan asap putih menyeruak dari Rainbow Gas tanpa peledak yang sengaja mereka persiapkan sebagai senjata yang minim kerusakan.
Para Polisi itu langsung menutup hidung mereka dan mengeluarkan pistol.
Sun terkejut. Dengan sigap, ia mengeluarkan sebuah benda yang ia sembunyikan di dalam keranjang tumpukan handuk. Arjuna terkejut saat Sun mengarahkan sebuah sebuah tembakan setrum ke arah para Polisi tersebut.
CRETTT!!
"Arghh!"
BRUK! BRUK!
Arjuna terkejut. Para polisi itu kejang di lantai. Hewan berbulu itu mulai terkena dampak. Ia diam saja di lantai kapal dan tak menggonggong lagi.
"Singkirkan mereka," perintah Arjuna masih berdiri tegap dengan kedua tangan di depan dada.
Sun dan para penumpang kapal membangunkan para polisi yang terkapar di lantai kapal.
Para polisi itu masih mengalami efek dari setrum hingga tubuh mereka bergetar seperti menggigil kedinginan. Samuel dan lainnya menggiring para polisi dan hewan pelacak mereka kembali ke kapal patroli.
"Bye," sapa Arjuna sembari melambaikan tangan kepada para polisi yang duduk terbengong, menyender di pinggiran kapal dengan pandangan kosong saat dua yacht yang mereka datangi meninggalkan perairan.
Orang-orang dari kubu Arjuna melakukan hal yang sama. Mereka tak menyangka jika akan semudah ini melumpuhkan polisi tanpa harus terjadi baku tembak.
"Ah, nyantai dulu. Aduh, pegel," ucap Arjuna sembari merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang berada di buritan kapal.
Biawak Putih dan Sun malah ikut duduk santai sembari menaikkan kedua kaki di atas meja.
Ringgo dan lainnya hanya bisa tersenyum dan membiarkan orang-orang yang sibuk bertempur semalaman untuk beristirahat menikmati indahnya sore hari di lautan.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
(Sichterman Yachts, New York Magazine, Heal the Bay)
Tengkiyuw tipsnya😍 Panjang nih epsnya biar puassss. Lele padamu💋💋💋
__ADS_1