4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Friend or Foe*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Mata Sierra melebar saat melihat Jonathan bersusah payah melompati puing-puing yang menghalangi jalannya.


BRUKK!!


"Arghhh!"


"Nathan!" teriak Sierra panik saat melihat Jonathan jatuh tersandung dan ia mulai terperosok ke dalam lubang dari tanah yang ambles.


Kedua tangan Jonathan mencakar-cakar permukaan tanah yang tertutupi salju sebagai pegangannya agar tak jatuh ke dalam lubang.


Setengah badannya mulai meluncur ke dalam bersama puing dan salju yang longsor. Akhirnya, Jonathan berhasil menggapai sebuah ranting tanaman dan memeganginya erat.


"HELP!" teriaknya panik melongok ke bawah dan melihat banyak benda-benda tajam siap menusuknya jika ia sampai terjatuh.


Click and Clack, Biawak Cokelat dan Kuning panik karena lokasi mereka berada jauh dari Jonathan.


Para pria dewasa itu kebingungan untuk menyelamatkan Jonathan karena tanah di sekitar mereka masih bergerak dan terus ambles.


"Ya Tuhan ... Nathan," ucap Sierra gemetaran.


Lysa duduk di sampingnya, memegangi kedua pundak calon adik iparnya yang terlihat begitu ketakutan dan mulai meneteskan air mata.


Tiba-tiba, JLEB!


Mata Jonathan melebar saat melihat sebuah ujung tombak menancap di atas tanah, tepat di depan tangannya dengan tali menjuntai ke sebuah pohon besar berada di atas bukit.


Tanpa pikir panjang. Jonathan meraih tombak itu dan memeganginya erat.


BLUSHHH!!


"AAAAA!" teriak Jonathan panik karena tubuhnya langsung jatuh ke dalam lubang dan membuatnya seperti terlempar.


Jonathan memejamkan matanya rapat. Namun, ia mulai menyadari jika tubuhnya seperti terayun.


Jonathan mulai membuka mata perlahan dan mengintip. Ia melihat tombak yang ia pegangi erat membuatnya berayun seperti bandulan.

__ADS_1


Jonathan melihat ke bawah dan melihat tanah yang dipijaknya telah ambles berikut semua puing, serigala yang telah tewas dan salju.


Jonathan mendongakkan kepala dan mendapati sosok yang dikejarnya tadi berjongkok di batang pohon tempat tali dari tombaknya mengait.


Sosok yang menutupi seluruh tubuhnya dengan kain putih menghilang setelah sebuah helikopter terbang melayang ke arahnya.


"Nathan!" teriak Biawak Kuning dan


lainnya dari pintu helikopter sembari menurunkan tangga tali ke arahnya.


Fokus Jonathan teralih karena kedatangan tim. "Yeahhh! Kita berhasil, Om!" teriaknya lantang.


Click and Clack serta semua orang tersenyum. Biawak Cokelat memberikan jempolnya dan Jonathan terlihat begitu gembira.


Jonathan menaiki tangga tali itu seraya menoleh ke arah pohon di mana sosok yang menolongnya telah raib.


"Dia itu ... kawan atau lawan? Dia menembaki orang-orang Nathan, tapi nolong Nathan secara gak langsung. Jangan kira bisa kabur. Nathan uber kamu," gumannya lirih, tapi di dengar oleh Sierra dan Kai saat semua orang saling bertepuk tangan memberikan pujian.


Jonathan dan timnya memastikan kembali tempat itu setelah tanah longsor dan gempa reda.


Jonathan menerbangkan drone untuk melihat dari atas langit karena ia masih penasaran akan sosok orang berjubah putih yang belum diketahui kubu mana ia memihak.


"Oke! Kita pergi dari sini. Hasil pencarian Nathan juga nihil. Pasti dia udah kabur saat longsor terjadi. Oke, kali ini Nathan lolosin," jawabnya sembari mendaratkan drone ke hadapannya setelah 15 menit mengintai dan tak mendapatkan hasil.


"Nathan, semua anak buahmu yang disebar dan dipimpin oleh The Kamvret sudah tiba di tiap markas milik The Circle. Menurut laporan dari Kai, semua sudah kosong. Beberapa bangunan yang diperkirakan masih bisa digunakan diledakkan oleh mereka agar tak bisa dioperasikan lagi," ucap Clack melaporkan.


"Good. Jadi ... udah nih? Gini aja? Abis?" tanya Jonathan memastikan dan Click and Clack mengangguk. "Oke, kita pulang!" ucapnya riang.


Semua orang yang mendengar hanya terkekeh. Helikopter terbang meninggalkan markas The Circle di Greenland.


Jonathan masih melihat ke bagian bawah helikopter dengan teropong suhu, tapi hasilnya negatif. Jonathan berdecak dan terlihat malas karena buruan barunya lepas.


Eiji menandai lokasi dari markas The Circle yang telah dipastikan tak bisa dihuni lagi dengan titik hitam. Semua orang dari jajaran 13 Demon Heads tersenyum lebar.


"Wait ... di mana Arjuna?" tanya Kai saat matanya kembali ke layar dan tak menemukan sosok Arjuna dari kuncian GIGA SIA.


"Oh shit!" pekik Amanda karena merasa kecolongan. Semua orang kembali tegang.

__ADS_1


Di sisi lain. Tessa yang berhasil lolos dari amukan Arjuna terlihat berantakan saat berjalan dengan tergesa menyusuri lorong dengan anak buah yang membawanya kabur.


"Mr. White!" teriaknya lantang saat mendorong sebuah pintu ruangan.


"Sttt ... apa tanganmu sudah tak berfungsi untuk mengetuk? Keluar dan lakukan dengan benar," ucapnya menatap Tessa tajam dari tempatnya duduk.


Tessa mendesah malas. Ia melangkah mundur sembari menutup pintu dari luar. Ia mengetuk pintu dan Mr. White mempersilakannya masuk.


"Sebaiknya kau punya tujuan ke mana kita akan pergi, Mr. White," ucap Tessa terlihat kesal.


"Tentu saja. Kau sebaiknya istirahat dan tunggu saja perintah dariku. Jangan mengangguku. Kau tak lihat, aku sedang membuat maha karya?" tanya Mr. White tak menengok Tessa sedikitpun dan tetap sibuk merias seorang gadis yang duduk di depannya dengan kedua tangan dan kaki terikat.


Mata Tessa menyipit. Ia berjalan perlahan mendekati gadis berambut cokelat terang dan highlight pirang yang duduk memunggunginya.


Mr. White terlihat begitu serius dan fokus dengan yang ia lakukan hingga terpancar senyum di wajahnya saat tangannya ia rentangkan.


Tubuh Tessa mematung seketika saat melihat perubahan dari wajah Sandara yang terlihat cantik dengan make-up dan membuatnya terlihat seperti gadis remaja berpenampilan dewasa.


"Hem, sambut Nona Presedir kita, Tessa. Dia yang akan memberikan kita rumah baru. Benar 'kan, Dara sayang?" tanya Mr. White sembari memijat kepala Sandara dengan kedua tangan yang ia selipkan di atas telinga hingga membuat rambut gadis cantik itu sedikit mengembang dengan model keriting.


"Kita lihat saja. Aku penasaran, seberapa hebat kemampuanku dalam mengendalikan kekuasaan," jawabnya dengan wajah datar.


"Cantik sekali. Kau gadis tercantik yang pernah kutemui, Sandara. Begitu polos, ambisius dan cerdas. Bahkan harus kuakui, sepertinya Sierra tak sehebat dirimu," ucap Mr. White memegang dagu anak gadis Kai sembari menggigit bibir bawahnya terlihat gemas.


Sandara memonyongkan bibirnya bertingkah manja. Mr. White tersenyum lebar melihat gayanya.


Tessa diam mematung dengan mata terbelalak saat melihat dua orang di hadapannya seperti memiliki hubungan. Tessa menelan ludah.



***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


Tengkiyuw tipsnya. Lele padamu. Jangan lupa like semua eps di audio book lele ya biar bulan depan dapat bonus eps lagi😍

__ADS_1



__ADS_2