4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Janji Tobias


__ADS_3

Vesper membiarkan Lysa menyelesaikan masalah rumah tangganya bersama Tobias.


Vesper memberikan kode dengan anggukan kepala kepada Seif dan Drake. Dua bodyguard bertubuh besar itu mengangguk paham.


"Situasi aman dikendalikan. Tetap waspada," ucap Seif sembari membetulkan kerah jaket kulitnya yang telah dipasangi alat penyadap dan pelacak pada jam tangan mewah warna emas di pergelangan tangan kiri.


"Dimengerti," jawab petugas yang ternyata sudah mengepung kediaman Tobias tanpa sepengetahuan penghuni mansion.


Tobias dipapah oleh Lysa dan Daido kembali ke kamar. Vesper kembali duduk bersama Kai dan juga dua bodyguard-nya di sofa.


Pion Dakota terlihat gugup saat Vesper menyilangkan kaki sembari membelai lembut rambut belakang suami termudanya. Kai ikut menatap Dakota tajam.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Aku tak akan berhenti bertanya sampai kau memohon padaku untuk bungkam, Dakota. Katakan padaku, apa rencana Tobias," tanya Vesper menatapnya tanpa berkedip.


Dakota menarik nafas dalam dan menghembuskan nafasnya panjang. Ia mengusap mulutnya terlihat tertekan akan hal ini.


"Baiklah. Aku rasa tak ada gunanya juga menyembunyikan hal ini padamu. Banyak. Ada banyak," jawabnya serius dari tempatnya berdiri.


"Katakan," tegas Vesper.


Dakota menceritakan semua rencana Tobias kepada empat orang dalam jajaran 13 Demon Heads yang duduk di sofa ruang tamu meski sudah tak ada meja di sana.


Terlihat, Drake memegang sebuah tablet yang ia arahkan pada lelaki berambut semi tersebut seperti memindainya. Kening Dakota berkerut, ia mencurigai benda tersebut.


"Alat apa itu?" tanya Dakota heran.


"Hanya detektor untuk memastikan ucapanmu benar. Dan sejauh ini, frekuensi dari gelombang suara yang kau keluarkan, menyatakan jika informasi yang kau berikan tepat, Dakota. Mimik dari wajahmu juga tak menunjukkan kebohongan atau tipuan," jawab Drake santai.


Dakota diam terlihat memikirkan ucapan dari Drake barusan.


"Hem, begitu ya? Baiklah. Aku ingin menemui Tobias dan Lysa sebelum kembali ke Rusia," ucap Vesper beranjak dari dudukkan bersama dengan Kai dan disusul oleh dua bodyguard-nya.


"Ka-kalian mau apa? Jangan katakan pada Toby jika aku mengatakan semua ini. Ia akan membunuhku," tanya Dakota terlihat panik, menghalangi jalan empat orang yang sudah berdiri di hadapannya.


"Kau bisa pegang janji kami, Dakota. Tobias tak akan mencelakaimu. Jika ya, aku tak masalah jika kau mau bergabung dengan kelompokku," jawab Vesper santai, tapi malah membuat Dakota gugup.


"Aku lebih baik mati daripada mengkhianati Tobias. Seburuk-buruknya Tobias, dia telah menjadi pelindung dan penyelamatku selama ini. Jika dia tak ada, aku mungkin sudah seperti mesin pembunuh yang tak memiliki perasaan. Dia yang mengembalikan jiwaku dan membuatku seperti manusia," jawabnya dengan pandangan tak menentu.


Kening semua orang berkerut.


"Kau tahu, Dakota. Kehidupan para Pion 8 Mens, sangat membuatku penasaran. Aku ingin mendengar cerita tentang kalian lain waktu. Hanya saja, waktu kita tak banyak. Bulan depan sudah memasuki musim dingin dan persiapan harus segera dilakukan. Minggirlah, jangan lukai dirimu sendiri karena menghalangi jalanku," tegas Vesper.


Dakota akhirnya menyingkir. Vesper dan lainnya berjalan mendatangi kamar yang ditempati oleh Lysa selama di mansion tersebut.


Terlihat, Lysa dengan penuh perhatian membantu mencabuti pecahan kaca di tubuh suaminya. Mata Tobias hanya tertuju pada Lysa seorang.


Pria bertato itu mencengkeram kuat baju bagian bawah sang isteri seperti tak ingin kekasih hatinya pergi meninggalkannya.


"Lysa," panggil Vesper.


Lysa menoleh dan terlihat gugup saat ia tak bisa berdiri karena bajunya dipegangi Tobias erat. Vesper tersenyum.


Drake berjalan mendekati Lysa dan memberikan sebuah ponsel padanya. Lysa menerima ponsel itu dengan ragu dan memandanginya seksama.


"Ingat. Kau adalah pemilik LH Solutions. Bagaimanapun, kau tetap harus mengurus perusahaanmu itu. Selama kau pergi, Yuki kerepotan. Anak buahku tak bisa mengurus pekerjaan sebanyak itu, Lysa. Kulihat Tobias memiliki banyak anak buah. Jika kau percaya pada mereka, aku tak masalah kalau kau melibatkan para pion D untuk mengurus perusahaanmu, termasuk Tobias," ucap Vesper dari tempatnya berdiri.


Mata Lysa terbelalak begitupula Tobias dan dua Pion.

__ADS_1


"Kau ingin aku apa?" tanya Tobias terlihat kaget.


"Tak perlu muncul di depan publik. Kau bantu Lysa di lapangan saja. Atau, kau bantu Lysa mengurus usaha ilegalnya. Selain itu, kau masih kurang orang untuk merekrut pasukan, Lysa. Apa kau ingin merelakan kursi dewanmu?" tanya Vesper lagi mengingatkan.


Lysa terlihat bingung. Kening Tobias berkerut.


"Berapa lagi kekuranganmu?" tanya Tobias menatap Lysa yang menundukkan wajah.


"Seratus lima belas," jawabnya sedih.


Tobias mengangguk terlihat serius.


"Dakota. Kumpulkan semua. Minta mereka datang kemari awal Desember nanti. Aku tak ingin kursi isteriku diambil oleh mafia lain," perintahnya tegas dan Dakota mengangguk paham.


Pion itu langsung pergi meninggalkan ruangan. Lysa terlihat bingung dan menatap Tobias seksama.


"Kau ... membantuku menghimpun pasukan?" tanya Lysa menatap Tobias seksama.


"Apapun untuk isteriku meskipun aku harus merelakan anak buahku," jawabnya dengan wajah datar.


Lysa tersenyum lebar. Ia memeluk Tobias yang duduk menyender pada sandaran kasurnya. Tobias balas memeluk Lysa dan mencium keningnya lembut. Lysa terlihat begitu terharu akan bantuan yang Tobias berikan.


"Kami akan kembali ke Rusia. Namun, aku tetap harus tahu kondisi dan keadaan anakku, Toby. Berani kau menyembunyikan Lysa dariku, aku tak segan membawa Lysa pergi darimu meski kau suaminya dan kalian saling mencintai," tegas Vesper.


Tobias dan Lysa diam saja tak menjawab.


"Lalu bagaimana dengan King D?" tanya Lysa terlihat sedih.


"King D tetap bersamaku. Kulihat, kalian masih ada urusan yang harus diselesaikan. Aku tak mau cucuku terluka karena misi kalian yang bisa membahayakan nyawanya. Aku akan mengantarkan King D pada kalian saat keadaan sudah membaik. Selain itu, kau harus ingat, Toby. Siapa Lysa sebenarnya dan darimana dia berasal," ucap Vesper sembari mendatangi anak perempuannya dan kini berdiri di sampingnya.


"Tak bisakah kau tinggal untuk sementara waktu, Mah? Aku masih merindukan dan membutuhkanmu di sini," tanya Lysa terlihat sedih.


Tobias memalingkan wajah terlihat kesal di mana Pion Daido telah selesai mengobati luka di tubuhnya.


Vesper meminta Daido untuk memberikannya kamar termasuk dua bodyguard-nya. Vesper dan lainnya meninggalkan Lysa bersama suami psikopatnya.


Sepeninggalan Vesper.


"Bagaimana jika kuusir ibumu dari rumahku, Lysa? Dia sungguh membuatku tak nyaman," ucap Tobias yang menyenderkan punggung di sandaran spring bed.


"Bukankah ibuku juga ibumu, Toby? Meskipun mama memang terkadang suka berlebihan dalam bersikap, tapi kau tahu 'kan, jika dia hanya ingin memberikan yang terbaik bagi kita. Ia merestui hubungan kita. Aku rasa, ini pertanda baik," jawab Lysa sembari menyingkirkan poni Tobias yang menutupi wajah seramnya.


"Jangan kembali pada Sultan itu. Jangan pernah," ucapnya dengan wajah memelas terlihat seperti tak berdaya.


Lysa tersenyum. "Caramu membuat Javier menunjukkan jati dirinya padaku, sungguh membuat semua orang shock, Toby. Namun, aku berterima kasih padamu. Meskipun masa lalumu sangatlah buruk dan menyakitkan, tapi aku pastikan ... jika masa depanmu akan dipenuhi kebahagiaan, selama kau jujur padaku. Asalkan kau tak bersikap kasar padaku, aku akan setia padamu," ucap Lysa menatap wajah suaminya lekat.


"Kau berjanji?" tanya Tobias memegang kedua tangan Lysa erat.


"Ya, asal kau juga berjanji padaku," jawab Lysa sendu.


"I promise. Pegang ucapanku. Aku ingin merasakan kebahagiaan itu, Lysa. Tunjukkan padaku," ucapnya dengan sangat dan menciumi jemari Lysa erat dalam genggamannya. Lysa mengangguk dengan senyum terkembang.


Keesokan harinya, di kamar Tobias.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"Hah?!" pekik Tobias terkejut begitu bangun dari tidurnya saat mendapati Eko dan Seif berdiri di depannya dengan wajah garang.


Sang isteri duduk di sebelahnya dengan senyum terkembang mengenakan kerudung dan baju tertutup berwarna putih.

__ADS_1


"Ada apa ini?" tanya Tobias dengan mata melotot dan langsung duduk.


"Kamu harus di-Islamkan meskipun hanya KTP, Nak Toby. Nolak, Eko sunat habis punyamu," ucapnya sembari menunjukkan belati Silent Gold.


"What? Dia bilang apa?" tanya Tobias melirik Lysa terlihat ketakutan.


Seif memberikan alat translator pada pria bertato itu dan Tobias segera memakainya di dua telinganya.


"Pikiran, jiwa dan junior-mu itu harus dibersihin, Nak Toby. Cepetan, ikutin apa kata Eko. Kalo gak mau, Lysa bakal pergi dari kamu untuk selama-lama-lamanya. Sekarang, kita berdua gantiin Dakocan dan Daido untuk sementara waktu," ucap Eko sembari menyarungkan kembali belatinya.


"Aku tak mau! Aku tak suka dengan segala peraturan yang ada dalam ajaran kalian!" teriak Tobias dengan mata melotot, menolak keras.


Lysa mendesah. "Mama sudah mengecek legalitas dari pernikahan kita dan itu tidak sah, Toby. Kau bilang ingin hidup bahagia denganku. Oleh karena itu, kita harus seiman. Jika kau tak bisa, ya sudah. Aku akan tetap mengandung anakmu sampai waktunya melahirkan nanti. Hanya saja, aku tak bisa hidup di sisimu. Aku akan kembali pada ibuku," ucap Lysa sedih.


Tobias langsung memeluk perut Lysa erat. Lysa menghela nafas panjang terlihat malas begitupula Eko dan Seif yang berdiri menatap Tobias penuh rasa sabar.


"Hanya formalitas 'kan?" tanyanya menekankan.


"Ya. Untuk sementara formalitas dulu," jawab Seif santai.


Tobias melirik Eko dan Seif yang sepertinya sudah siap untuk meng-Islamkannya meski dengan paksaan.


Tobias kembali mengamuk dengan menendangi bantal, guling dan selimut hingga terpental jauh.


Lysa memejamkan mata dan tetap duduk dengan tenang di samping ranjang. Seif melangkah mundur mengamankan diri.


Sedang Eko, malah bersiap dengan kuda-kuda silat dan menangkis segala serangan bantal serta guling Tobias.


"Lysa. Kamu yakin mau nikah sama wong edan kaya Tobil si kutil? Ini Eko ambigu loh. Tatonya udah kaya baju. Ini Eko sama Seif ngislamin Toby dosa gak ya? Dia ini mahluk terkutuk loh," tanyanya menatap Toby terlihat miris.


Lysa malah tertawa terbahak. Ia menggaruk dahinya dengan telunjuk sembari mengangkat kedua bahu.


"Entahlah, Om Eko. Aku membunuh, tapi aku juga membaca Al-Quran. Aku ... yah, bisa dibilang aku berzina dengan Toby, tapi aku juga melakukan sholat. Ini ... juga ambigu buatku. Semuanya terlihat samar. Haruskah aku keluar dari dunia mafia seperti Sia? Dan hidup layaknya orang normal kebanyakan? Dulu aku terlahir seperti itu, mungkin aku bisa kembali ke jalan yang sama," tanya Lysa menatap Eko dan Seif seksama.


Dua bodyguard Vesper saling berpandangan terlihat bingung dalam menjawab. Tobias terlihat telah selesai mengamuk meski nafasnya tersengal ketika ia berdiri di atas ranjang.


"Kau bilang apa? Warga sipil? Jangan gila, Lysa. Hal itu tak mungkin pernah terjadi. Ya sudah, cepat! Apa yang harus aku lakukan? Setelah itu, pergi dari hadapanku!" teriak Tobias menunjuk Eko dan Seif bergantian.


Senyum Eko dan Seif merekah. Lysa diam saja ketika melihat Seif memberikan peci, sarung bahkan baju koko untuk suaminya.


Lysa menahan tawa karena baginya Tobias sungguh lucu dan unik.


"Tob, Tob, foto dulu sini cepet. Kamu gemesin loh," pinta Eko malah mengajaknya selfi bersama dengan Seif.


Hanya saja, Tobias memasang wajah seram. Eko dan Seif tersenyum lebar.


"Cepatlah! Pakaian ini membuatku gerah!" teriaknya lantang kembali emosi.


"Sabar dong. Kamu ini tingkat esmosinya ngalahin monas di Indosinia. Sekarang kita pergi. Nurut sama Pakde Eko. Jangan bantah," tegasnya sembari menggandeng salah satu tangan Tobias.


"Kita mau kemana?" tanyanya panik.


"Sunat," jawab Eko mantab.


"What?!" pekik Tobias dengan mata terbelalak lebar.


***


Tengkiyuw tipsnya. Lele padamuđź’‹

__ADS_1



__ADS_2