
Sepeninggalan Lysa. Para Pion mengejar dengan gesit dua mobil yang disinyalir membawa Sun dan Damian. Sayangnya, dua mobil itu berpencar saat bertemu persimpangan.
Sebuah mobil SUV berhasil melarikan diri dan kini dikejar oleh mobil dari kubu Tobias beranggotakan Darwin, dua anggota The Eyes, dan Darion yang diduga akan menuju ke Austria.
Sedang sebuah mobil sedan musuh, kini dikejar oleh Diego, Dexter dan dua anggota The Eyes dengan kecepatan penuh.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
"Jangan sampai lolos! Tak masalah jika Sun dan Damian terluka. Mereka kuat, pasti bisa bertahan! Lumpuhkan!" perintah Tobias lantang yang melihat dari kamera di dada Diego saat mobilnya berhasil mengejar.
"Roger that," jawab Diego dengan wajah bengisnya.
"Bersiap!" tegas Dexter satu mobil dengan Diego.
BROOM! BRANGG!
Mobil yang dikemudikan Diego sengaja menabrakkan bemper bagian depan dengan keras ke bagasi belakang mobil sedan di depannya.
Mobil sedan itu terlihat mulai hilang kendali karena Diego tak memberikan celah. Ia memepet mobil tersebut hingga roda mobil lawannya melindas rumput di pinggiran aspal.
"NOW!" perintah Diego lantang.
Dexter membuka jendela mobil samping sopir, begitupula jendela bagian tengah berisi dua anggota The Eyes. Mobil sedan itu masih menutup rapat semua kaca jendela, meski berusaha menghindar dari desakan mobil Diego
Tiba-tiba, CIITT!! BRAKK!
"Shitt!" pekik Diego karena mobil musuh melakukan rem mendadak yang membuat mobilnya kini menabrak pohon di depannya. "Jangan biarkan mereka kabur!" perintah Diego kesal dan berusaha untuk memundurkan mobilnya, tapi tidak bisa karena mati mesin.
Dua anggota The Eyes terjungkal dari dudukan tengah karena hantaman kuat. Dexter yang masih bertahan dan tak terluka, melihat mobil sedan tersebut kembali naik ke aspal, bersiap untuk melarikan diri.
Dengan sigap, Dexter keluar dari mobil dan berdiri tegap dengan sebuah moncong senjata berbentuk segitiga dalam genggaman. Pria itu menajamkan matanya dan membidik body mobil yang kini melaju meninggalkan mobil mereka.
SHOOT! GLUNDUNG ....
TUK! TUK! TUK!
"Berlindung!" perintah Dexter usai berhasil menembakkan benda-benda kecil tersebut dari senapan HIT.
Seketika, BROOM! BLUARR!
Dexter langsung merunduk dan berlindung di balik mobil miliknya. Bola-bola HIT menggelinding mengejar mobil musuh lalu menempel di besi bagian belakang. Mobil tersebut meledak dan berhenti melaju seketika.
Diego memerintahkan dua anggota The Eyes untuk segera keluar dan memeriksa mobil musuh. Dexter dan semua orang bersiap dengan pistol dalam genggaman.
Saat mereka mendekat, DODODODODOR!!
BRUK! BRUK!
"Shitt!" pekik Diego kesal karena dua anggota The Eyes tewas terkena serencengan peluru yang ditembakkan dari mobil yang terbakar di bagian belakang.
Diego dan Dexter kembali mundur lalu berlindung di mobil mereka. Para pria bersenjata muncul dari dalam mobil yang meledak karena bola-bola HIT.
Dexter tiarap di bawah mobil dan melihat sepatu yang ia kenali dipakai oleh seorang pria yang diseret paksa untuk menjauh dari mobil.
"Itu sepatu Damian," bisik Dexter dan Diego mengangguk.
Keduanya bersiap untuk melakukan aksi penyelamatan. Dua Pion saling berpandangan membuat sebuah kode dengan anggukan.
"Now!" seru keduanya bersamaan.
__ADS_1
DOR! DOR!
"Agh!"
BRUK!
DOR! DOR! DOR!
Suara tembakan terdengar bersahut-sahutan. Damian dipaksa merunduk meski ia sudah babak belur hingga pakaiannya terkena noda darah. Diego dan Dexter dihujani peluru saat berusaha untuk mendekat.
Tiba-tiba, SHUW! DAR!
Praktis, mata Dexter dan Diego terbelalak lebar menatap langit yang sebentar lagi bersinar terang karena matahari akan segera muncul.
Sebuah tembakan suar dilontarkan dari pihak musuh seperti memberikan sebuah tanda lokasi mereka berada.
Dexter mengenali para pria yang menculik Damian. Mereka adalah anak buah Jonathan yang merupakan anggota The Cirlce.
Hanya saja, gelang pemenggal yang membelenggu tangan dan kaki mereka seperti dilapis oleh sebuah karet untuk menghalangi sinyal. Mata Dexter menyipit.
Dexter kembali muncul dari tempat persembunyiannya dan kini membidik para anggota The Circle itu tepat di leher.
DOR! CRAT!
BRUK!
"Damian! Kemari!" teriak Dexter lantang yang berusaha membuka jalan untuk kawannya agar memiliki celah melarikan diri.
Damian jalan tergopoh dan terlihat kesakitan. Dexter dan Diego terus melontarkan peluru-pelurunya seperti tak takut terkena tembakan karena tubuh mereka dilapisi oleh seragam tempur Black Armys.
"Berlindung!" teriak Diego lantang saat ia melemparkan granat mini ke balik mobil musuh yang terbakar.
BLUARRR!!
Damian berhasil mendekat dan berlindung di balik mobil yang sudah penyok karena bemper mobil menghantam pohon. Kap mesin berasap dan mesin tak bisa dihidupkan.
"Tobias! Apa kau lihat yang kulihat?" tanya Dexter yang berhasil mendekati salah satu mayat anggota The Circle Jonathan dan menunjukkan gelang pemenggal yang dipakainya.
"Ya, aku melihatnya. Coba lepaskan," perintah Tobias.
Dexter menggoyangkan gelang itu dan KRAS!! Pria itu terkejut karena pisau pemenggal sungguh keluar dan memotong pergelangan tangan mayat salah satu anggota The Circle tersebut.
"Bawa gelang itu. Pasti sinyalnya sengaja diblokir dengan benda aneh itu agar pergerakan mereka tak terlacak, tapi ternyata fungsi gelang pemenggal masih bekerja dengan baik. Kumpulkan. Jangan sampai polisi mendapatkannya dan segera kembali," tegas Tobias.
Dexter meminta Diego dan Damian membantunya mengumpulkan gelang pemenggal yang masih terpasang di tangan serta kaki para anak buah Jonathan.
Mereka memasukkan potongan kaki dan tangan yang masih tersangkut di gelang pemenggal ke dalam sebuah kantong mayat.
Sayangnya, mobil mereka rusak dan tak bisa digunakan lagi. Tiga orang itu terpaksa berjalan kaki untuk kembali ke markas seraya menenteng tas berisi tangan dan kaki.
Sedang para Pion yang melacak sinyal Sun, membawa mereka ke perbatasan Austria.
"Mereka akan memasuki perbatasan, Darion!" pekik Darwin kesal.
Darion menginjak penuh mobil yang dikemudikannya mencoba untuk mengejar.
"Agh! Tak akan bisa! Buat tanda!" perintah Darion kesal karena mobil musuh melaju lebih kencang darinya karena salah satu mobil modifikasi Jonathan.
Saat Darwin mengeluarkan setengah tubuhnya dari jendela samping kemudi dengan senapan laras panjang dalam genggaman, tiba-tiba ....
__ADS_1
DODODODOOR!
CIITTT!! BRAKK!!
Kaca bagian belakang mobil musuh terbuka dan muncul senjata mini gatling di arahkan ke mobil yang ditumpangi anak buah Tobias.
Darion terkejut akan serangan mendadak yang membuatnya terpaksa menghindar dan malah menabrak tumpukan salju di pinggir jalan.
Darwin sampai terlontar keluar dari jendela, beruntung tak terluka parah. Namun, pria itu melihat kesempatan. Ia membidik mobil tersebut dengan sorot mata tajam dan DOR!
Tembakannya berhasil membuat lubang di bagian belakang mobil SUV tersebut, meski serangannya tak merusak mobil musuh.
Sayangnya, para Pion tak bisa melintas perbatasan antara negara Ceko dan Austria karena tak memiliki surat izin. Tentu saja, Tobias geram dan hanya bisa menyampaikan keluhannya kepada Kai.
"Oke. Aku akan mengerahkan Black Armys di Pos Darurat Austria untuk melanjutkan penyelidikan. Terima kasih atas informasimu, Toby," jawab Kai di Pusat Komando Kastil Borka dengan Eiji di sampingnya.
Tobias memutus panggilan. Kai segera meminta kepada anak buah Vesper yang berjaga di salah satu Pos Darurat miliknya dengan kamuflase usaha legal berupa toko kue untuk mencari sebuah mobil yang disinyalir menculik Sun.
Beruntung, Darwin sempat meninggalkan cacat di mobil musuh sehingga mudah dikenali. Black Armys di Pos Darurat segera menyebar dan menunggu di beberapa titik yang disinyalir akan dilewati oleh mobil tersebut.
Tobias sengaja menghubungi Agent M yang bertugas di Markas Hashirama Kyoto-Jepang untuk diprovokasi.
"Apa katamu?! Sun diculik dan terluka parah?!" pekik Ayah dari asisten kepercayaan Arjuna tersebut.
"Dan kau sebagai Ayah diam saja? Kau harus lakukan sesuatu M. Lihat! Damian dan Arjuna saja babak belur. Aku yakin, anakmu sedang sekarat," tegas Tobias serius.
"Aku akan ke Austria sekarang juga, dan tak boleh ada satupun yang menghalangiku, termasuk kau, S!" tegas Agent M menunjuk sahabatnya yang berdiri mematung karena sudah diperingatkan.
S tak bergerak dari tempatnya berdiri dan memilih diam saat M terlihat sibuk mempersiapkan dirinya untuk segera terbang.
"Terima kasih atas informasi mengejutkannya, Tobias. Sampai jumpa," jawab S mematikan sambungan video call dengan malas.
Tobias terkekeh. Ia sengaja mengirimkan foto Damian dan Arjuna yang babak belur dari orang-orang yang berhasil menyelamatkannya.
Pria bertato itu kembali menghubungi Lysa karena sinyal mereka sempat terputus karena wanita cantik itu memasuki wilayah Pemancar Fatamorgana.
"Ya, Toby. Sudah kubilang, aku tidak apa-apa. Leherku hanya sedikit bengkak. Beruntung aku memakai pakaian tempur, jadi ... peluru itu tak menembus kulitku. Kondisi Arjuna yang memprihatinkan, dia terluka parah dan harus di rawat di Rumah Sakit. Kau sudah lihat dari foto yang kukirim 'kan?" tanya Lysa terlihat berantakan.
"Aku tak peduli dia mati atau hidup. Aku tak mau Fara kehilangan Ibunya. Siapa yang melukaimu? Akan kurobek perutnya!" tanya Tobias geram.
Lysa tersenyum. "Dia sudah tewas, Toby. Akhirnya, Ungu genit tewas di tangan Arjuna. Hanya saja setahuku, Jonathan dan lainnya bersama Ungu genit saat penyerangan terjadi. Jika Ungu genit berhasil lolos, lalu ... di mana Jonathan?" tanya Lysa heran.
"Aku malah berasumsi. Jonathan berpura-pura diserang, padahal dialah kedok di balik semua," jawab Tobias yang mengejutkan Lysa dan lainnya.
"Apa maksudmu?" tanya Arjuna yang ternyata ikut mendengar dan langsung mendekat. Kini, wajahnya ikut muncul di layar.
"Hem. Lihatlah. Gelang pemenggal ini milik Jonathan. Namun, sekarang dilapisi semacam karet yang memiliki fungsi penghalang sinyal. Oleh karena itu, Kai, tak bisa melacaknya. Dugaanku, Jonathan sengaja membuat dirinya seperti diculik padahal dia dalang semua kekacauan ini," tegas Tobias yang membuat semua orang terkejut mendengarnya.
"Jonathan melakukan hal licik seperti itu? Sungguh tak bisa dimaafkan!" gerutu Arjuna tersulut emosi.
"Hem, begitulah," jawab Tobias santai lalu meletakkan kembali potongan tangan di meja.
Lysa tertunduk terlihat berpikir serius karena ucapan Tobias barusan.
***
ya ampun sampai lupa. bonus play audio book untuk bulan ini 1 eps ya.
__ADS_1
hari ini masih 1 eps dulu gaes. kesehatan lele lagi gak bagus ini mana ketambahan mens. doakan semoga cepet sembuh pileknya. amin.
hari ini lele udah mulai pengiriman buku ya bagi yg udah PO dan transfer kemarin. ditunggu komen dari novel cetaknya tapi jangan spoiler ya krn yg di MT belum tamat simulationnya. kwkwkw tengkiyuw❤️