
Akhir bulan November.
Di tempat BinBin berada, Pulau Jeju, Korea Selatan.
Mereka berbicara menggunakan bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Bagaimana? Menurutku, mereka sudah sepadan dengan 10 Agent Colombia," ucap BinBin bangga.
"10? Jangan lupa, aku salah satu Agent itu, Paman. Jadi ... kemampuan mereka setara denganku?" tanya Vesper seraya memutari kesepuluh pria yang berdiri tegap dengan seragam Black Armys dan topeng gagak modifikasi yang diletakkan di atas lantai depan kedua kaki mereka berdiri.
"Ya ... kalau dibandingkan denganmu ... ah, sudahlah! Anggaplah mereka mampu! Jangan mempersulitku, Lily!" pekik BinBin kesal dan Vesper tersenyum tipis.
"Boleh kutahu, tujuan Jonathan membentuk kalian?" tanya Vesper yang kini berdiri di depan salah satu anggota tersebut.
"Yes, Mam. Bos mengatakan jika kami adalah kelompok Pria Tampan yang bertujuan sebagai pasukan elite, dan bertugas untuk melindungi orang-orang yang telah ditandai," jawab pria tersebut yang mengenakan gelang pemenggal di pergelangan tangan bernama Dahlia.
"Kau ... salah satu dari regu Bunga?" tanya Vesper menahan senyum karena nama unik itu.
"Yes, Mam!" jawabnya mantap.
"Oke. Sebutkan nama kalian satu persatu," pinta Vesper seraya berjalan mendekati BinBin dan berdiri di sampingnya.
"Kau yakin?" tanya BinBin dengan kening berkerut.
"Ya, tentu saja. Aku penasaran dengan nama mereka," jawab Vesper dengan senyuman.
"Hem, terserah kau saja," jawab BinBin santai, tapi membuat Vesper jadi curiga.
Vesper memberikan kode dengan anggukan kepala dan pria di paling ujung sebelah kiri langsung bersiap dengan tegap dan menyuarakan namanya lantang.
"Saya Dahlia."
"Saya Lipan."
"Saya Enceng Gondok."
"Saya Kaktus."
"Saya Jambu Monyet."
"Saya Biri-biri."
"Saya ...."
"Hahahahahaha!"
Spontan, tawa Vesper meledak. Para Black Armys bahkan dua asisten cantik BinBin juga ikut tertawa. Vesper menangis, bukan karena sedih, tapi bahagia.
"Sudah kuperingatkan, kau tidak percaya," sahut BinBin terkekeh tanpa suara.
"Oh, pasti ulah Jonathan. Ya Tuhan, aku sampai menyebut nama-Mu. Oke, oke. Aku bisa mengatasinya," ucap Vesper mencoba untuk kembali tenang dan tetap anggun. Kesepuluh pria di depannya hanya mengedipkan mata dengan wajah datar seperti nama yang diberikan Jonathan bukan masalah besar. "Oke, lanjutkan," pinta Vesper masih menahan senyum.
"Saya Ulat Bulu."
__ADS_1
"Hahahaha!"
Semua orang langsung menatap Vesper dengan wajah keheranan. Vesper sampai sempoyongan dan hampir roboh di lantai, tapi dengan cepat di tangkap oleh BinBin.
"Sudah, cepat sebutkan! Tak usah hiraukan Vesper!," perintah BinBin karena Vesper masih tertawa terbahak.
"Saya Tokek."
"Saya Kecebong."
"Dan saya Kemuning."
Vesper memegangi perutnya saat di dudukkan ke sebuah sofa. Semua orang yang ada di ruangan karena telah terbiasa dengan nama-nama mereka terlihat biasa saja, tapi tidak dengan Vesper.
"Jadi ... kau ingin memberikan mereka tugas apa?" tanya BinBin.
"Yah, karena Jonathan masih asyik berkencan dengan No Face, tim Lelaki Tampan atau Pria Tampan ini aku ambil alih. Kau ... tak keberatan 'kan, BinBin?" tanya Vesper meliriknya dengan senyum penuh maksud.
"Ya, terserah kau saja. Tugasku juga sudah beres. Bawalah," jawab BinBin santai.
"Thank you, Uncle," jawab Vesper dengan senyuman.
Siang itu, Vesper membawa kesepuluh tim Pria Tampan ke Seoul dengan pesawat pribadinya. Vesper kini tak memiliki asisten seperti dulu karena ia ingin bebas. Semua pekerjaan telah diurus oleh orang-orang kepercayaannya.
Meskipun banyak orang yang was-was akan keselamatannya, tapi Vesper meyakinkan jika ia baik-baik saja. Vesper pernah berkata kepada orang-orang dalam jajarannya, "Jika aku dilindungi oleh banyak orang, militer pasti akan berpikir jika aku akan melakukan suatu hal dalam skala besar. Namun, jika aku pergi sendiri tanpa pengawal, meskipun militer tetap mengawasiku, tapi mereka tak menganggap aku sebagai ancaman. Terlebih, jika aku berpenampilan dan berperilaku seperti warga sipil. Peperangan kita dengan mereka telah usai. Berkas yang kita kirimkan ke mereka sudah cukup untuk meyakinkan Pemerintah jika kita bukan teroriis dan ancaman mengerikan sebuah kehancuran negara. Mereka masih membutuhkan kita dalam sektor perekonomian. Aku, akan baik-baik saja."
Dan, tak ada yang berani membantah apalagi mengoreksi ucapan sang Ratu. Semua orang menerima begitu saja keputusannya.
Setibanya di Seoul. Masih di dalam pesawat pribadi Vesper dengan 10 anggota Pria Tampan.
"Yes, Mam!" jawab mereka lantang dari tempat duduk.
"Good. Kemuning, Kecebong, Ulat Bulu, Biri-biri, dan Tokek, ikut denganku. Sisanya, tetap di sini dan jalankan misi."
"Yes, Mam!"
Segera, mobil penjemput datang ke Bandara dan membawa Vesper serta seluruh anggota timnya. James mengantarkan mereka menuju ke kediaman Vesper di Seoul.
Sedang di sisi lain, Albino dan Atit pergi meninggalkan Klinik selang berapa jam setelah Vesper mendarat.
Seperti yang dijanjikan, Atit dan Albino terbang meninggalkan Seoul bersama seorang gadis yang usianya hampir seumuran Sandara.
Dua dokter itu mengaku jika pergi ke Amerika dengan dalih ingin membawa gadis tersebut sebagai salah satu perawat di Pos Darurat di Louisiana.
Haru sudah mendapatkan konfirmasi dari James jika tiga orang itu dikawal oleh 6 Black Armys yang akan mendampingi sampai ke negeri Paman Sam.
James yang telah mendapatkan titah dari Vesper tak curiga, dan percaya dengan kepergian mereka.
Regu Atit terbang menggunakan pesawat komersil dan menyamar sebagai warga sipil. Penerbangan kurang lebih hampir 12 jam tersebut, membuat rombongan itu tiba di Louisiana keesokan harinya.
Louisiana, Amerika.
__ADS_1
Rombongan Albino dan Atit menggunakan taxi menuju ke Pos Darurat milik Jonathan di kota New Orleans.
Di sana terdapat jenis usaha penyewaan yacht dan juga berbagai jenis kendaraan wisata air dengan nama 'Blue Mermaid'.
Setibanya di kawasan Lake Borgne, Atit dan Albino beristirahat di sebuah hotel bintang tiga milik Jonathan di mana dulunya bangunan itu adalah salah satu aset milik Giamoco.
Jonathan membeli hotel tersebut dan dijadikan sebagai tempat usaha legal serta pos darurat jajaran 13 Demon Heads.
"Kau siap, Alby?" tanya Atit melirik kawan seprofesinya, dan pria berwajah pucat itu mengangguk.
Malam itu di Blue Mermaid Hotel and Cafe, Atit dan Albino keluar dari kamar seraya menenteng sebuah tas cantik penuh gaya ke Pusat Komando bawah tanah tempat para Black Armys bertugas.
CEKLEK!
Praktis, semua petugas langsung menoleh ke arah pintu.
GLUNDUNG ....
BUZZ!!
"Agh! Apa-apaan kalian ini?!" pekik salah satu petugas, saat ruangan tersebut dipenuhi oleh asap putih dan seketika, orang-orang itu pingsan.
Albino mendekati sebuah meja di mana CCTV dioperasikan. Pria berambut putih itu mematikan seluruh CCTV di gedung dan menon-aktifkan CamGun di titik-titik pengawasan.
"Oke, kita pergi," ajak Albino usai merampungkan tugasnya.
Atit keluar dengan tas yang ia kalungkan di lengannya. Keduanya keluar dari Pusat Komando dan tak terkena dampak karena telah menggunakan serum penawar sebelumnya.
"Ayo," ajak Atit menjemput gadis remaja yang menunggunya di Cafe usai menikmati ice cream.
Kedua pria itu berjalan menuju ke sebuah yacht yang telah mereka pesan kepada petugas. Gadis kecil itu dinaikkan dan Atit telah bersiap di kemudi.
Saat Albino akan naik, dua Black Armys yang bertugas melihat pergerakan mereka yang akan meninggalkan dermaga tersebut.
"Hei! Kalian mau ke mana?" tanya salah seorang petugas seraya mendekat dengan langkah cepat.
Albino dan Atit terlihat kaget. Saat keduanya bersiap untuk melakukan aksi biusnya lagi karena terdesak, tiba-tiba, BRUK! BRUK!
"Oh! Kalian siapa?" tanya Albino terkejut hingga matanya melebar.
"Pergilah. Mereka akan baik-baik saja. Kami hanya membiusnya. Pesan nyonya Vesper, jika tak bisa membawa Sandara kembali, setidaknya pastikan gadis kecilnya mendapatkan kepercayaan dirinya lagi," ucap seorang pria yang berdiri di samping yacht.
Albino dan Atit tersenyum. "Katakan, kami akan lakukan yang terbaik. Sampai jumpa," jawab Atit dan pria berpakaian sipil itu mengangguk.
Yacht berhasil meninggalkan lokasi di mana kapal warna putih tersebut sengaja dipasang Pemancar Fatamorgana agar tak dilacak oleh jajaran Vesper.
Sang Ratu sengaja melakukannya, agar dua dokter itu tak dicurigai pihak No Face dan membuat gadis kecilnya semakin terkena masalah.
Albino, Atit dan si gadis remaja tersebut meninggalkan Louisiana melalui jalur air ke tempat yang telah dijanjikan.
***
ILUSTRASI
__ADS_1
SOURCE : GOOGLE
Gaes. MT keknya eror deh. Masa tips dari tanggal 1 sampai sekarang gak nongol di notifikasi. Padahal lele juga ikut tips dari hasil ngabab dubber 199 koin 2x. Hadeh sedihnya. Tapi gak papa. Yang udah ngetips koin anggap aja Hamba Allah sampai nanti nama kalian nongol ya, dan ketahuan sodakohnya berapa. Hahaha, semangat!! Masih 1 eps ya❤️