4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Diusir


__ADS_3

Adeh badan lele remek. Sampai besok selasa jadwal update masih kacau ya dan berimbas ke semua novel lainnya.


Oia, lele mau tamatin SIMULATION dan Marco-Polo dulu. Untuk sementara Casanova lele pending dulu ya. Itu aja infonya dan terima kasih tips koin, poin, like dan komen meriah kalian. Lele padamu💋💋💋


------- back to Story :


Kepergian Cassie yang tak disadari oleh siapapun, termasuk Jonathan, membuat dampak dan perubahan drastis pada diri pemuda itu.


"Kenapa kau menyesal, ha? Kau sendiri yang mengatakan jika takut pada Cassie. Bukankah, kau ingin menyingkirkannya? Sekarang Cassie sudah pergi, sesuai harapanmu. Dasar tidak tidak konsisten," cerca Arjuna di depan adiknya yang sedang sedih dan menangis di pelukan papa tirinya—Kai.


"Tapi gak gini maksudnya," sahutnya kesal dengan mata berkaca.


"Gak gini gimana? Semua udah jelas. Semua telinga mendengarnya. Bahkan Tessa dan beberapa orang yang masih di ruang rapat dengar. Mau ngelak apa lagi. Penakut, pengecut, dan mau enaknya saja. Kau takut dengan resiko jika menjalani hubungan dengan Cassie, padahal kau belum tahu seperti apa dia sebenarnya. Kini kau membiarkan orang yang paling ditakuti oleh The Circle pergi. Bahkan Tessa saja tak tahu harus mencarinya di mana. Dasar bodoh, tidak berguna!" sindirnya.


PRANGG!


Semua orang di ruangan tersebut tertegun, saat Jonathan melemparkan vas bunga di depan kaki Arjuna hingga serpihan kacanya berserakan di lantai. Suasana tegang seketika.


"Apa bedanya denganmu, ha? Kau menasehatiku, tapi kau tak lihat dirimu sendiri? Kau lebih buruk dariku! Bahkan seribu kali dari seorang baj*ngan!" teriaknya marah.


"Kau berani memakiku? Kemari kau, kurobek mulutmu!" balas Arjuna marah.


"Juna!" teriak Kai panik, saat Arjuna menarik kerah baju Jonathan dan langsung meluncurkan kepalan tangannya ke pipi kiri anak dari mendiang Erik itu, hingga jatuh tersungkur di lantai.


"Setidaknya, aku mengatakan pada Naomi jika aku mencintainya, dan ia tahu hal itu! Sedang kau, menjadikan Cassie pelampiasan agar bisa melupakan Sierra. Dasar cengeng!" teriaknya makin santer memaki seraya mendekati Jonathan yang mengerang dan mencoba bangun dari tempatnya tersungkur.


SRETT!!


"Argghh!"


"Juna!" teriak Tessa panik, saat melihat kaki suaminya tersayat pecahan dari vas bunga karena serangan Jonathan.


"Jangan kira Nathan takut! Nathan juga sekolah di Camp Militer!" balasnya berteriak dan terus menyayat tubuh Arjuna yang jatuh berlutut di hadapannya.


"Ya Tuhan, kalian berdua hentikan!" teriak Kai panik, tapi dengan cepat, tubuhnya di tahan oleh Click and Clack. Dua pria berkepala botak itu menggeleng. Kai terlihat kebingungan.


"Biarkan saja mereka. Dengan begini, mereka bisa meluapkan semuanya. Terkadang, hal seperti ini perlu dilakukan. Mereka akan baik-baik saja," ucap Clack menatap Kai lekat.


"Kami akan mengawasi. Kami pastikan, mereka berdua tak akan terbunuh karena pertengkaran ini. Anda duduk saja. Ingat, jangan sampai Anda ikut terluka, Tuan Kai. Masa bertarung Anda, sudah selesai," sahut Click menambahkan.


Kai memejamkan matanya sejenak dengan hembusan nafas panjang. Ia mengerti dan paham betul maksud dari ucapan dua pria itu.


Kai mengangguk dan kembali duduk di sofa, sedang Tessa kebingungan menghentikan perkelahian ini.


Dua pemuda itu saling menghujat, memukul, dan menendang meluapkan emosi di hati masing-masing.


Ternyata, perkelahian itu menarik perhatian banyak orang. Namun, mereka memilih menonton dan tak ikut campur termasuk Han.


"Aku tak sanggup melihat hal ini. Aku akan siapkan kotak medis," ucap Vesper memalingkan wajah seraya membalik tubuhnya.


"Hem, aku temani," jawab Han seraya merangkul pinggul isterinya dan memilih pergi dari tempat pertikaian itu.


"Itu gak dilerai?" tanya Zaid cemas.


"Biarkan saja, aku penasaran siapa yang akan bertahan lebih lama. Keduanya tak ada yang mau mengalah. Hempf, kenapa nasib percintaan mereka begitu buruk, aku jadi iba dengan mereka berdua," sahut Afro dengan kedua tangan melipat di depan dada.


"Eh, kenapa kau di sini? Apakah penyelidikan almari yang disinyalir jalan kaburnya Cassie sudah menemukan hasil?" tanya Torin menimpali.


Afro mengangguk. "Jalan itu menuju ke sebuah pantai, meski masih jauh menuju ke sana. Black Castle menyimpan banyak jalan rahasia. Bahkan, kami menemukan tembusan ke gorong-gorong pembuangan milik pemerintah. Sepertinya, Miles mempelajari seluk-beluk wilayah Black Castle sebelum tempat ini di bangun. Ia memetakan dan menandai lokasi mana saja yang bisa dibuat jalan rahasia. Orang itu sungguh pintar," ungkap Afro memuji sosok Miles.

__ADS_1


"Menurutmu, ke mana Cassie pergi?" tanya Sun ikut bergabung dan membiarkan Tuan Mudanya babak belur karena amukan Jonathan.


"Aku rasa, dia pergi mencari Sierra. Bukankah, awal mula dia datang kemari karena ingin mencarinya?" Semua pemuda yang berada di sekitar Afro mengangguk membenarkan. "Yang aku khawatirkan, jika Tobias ikut campur dalam urusan ini. Bagaimanapun, Sierra adalah puterinya. Sudah pasti Tobias akan melindunginya," ucap Afro menilai.


"Kita ... akan ikut serta?" tanya Torin menebak.


Afro menggeleng. "Urusan keluarga. Mereka juga orang The Circle, tak usah ikut campur."


"Tapi bukannya, kau juga orang The Circle?" tanya Zaid mengingatkan.


Afro mendesis dan melirik Zaid sadis. "Setengah. Aku setengah 13 Demon Heads, dan setengah The Circle. Puas?" jawabnya kesal. Zaid tersenyum paksa dengan anggukan.


"Hargghh! Pergi dari sini! Ini rumahku! Kau, tak kuizinkan datang ke rumahku lagi, Kak Juna! Kau bahkan berhutang pernikahan padaku!" teriak Jonathan dengan darah mengucur dari lubang hidung dan sudut bibirnya.


Semua orang yang mendengar tertegun akan ucapan Jonathan barusan.


"Oh, kau sekarang perhitungan ya? Kau pikir aku suka menikah di sini? Jika bukan karena aku kasihan padamu, aku tak sudi melakukannya! Akan kukembalikan semua, dan awas saja, jika kau muncul di hadapanku dan merengek dengan alasan apapun, aku tak akan menolongmu! Ingat itu!" balas Arjuna berteriak.


Mata Sun dan para pendengar melebar mendengar penuturan Arjuna yang tak mereka sangka.


Tessa langsung mengikuti Arjuna yang jalan tergopoh seraya mengelap darah yang menetes dari lubang hidungnya dengan tangannya.


Nafas Jonathan menderu, ia menatap punggung Arjuna tajam yang berjalan menjauh darinya. "Dasar tidak tahu terima kasih. Nathan juga gak sudi punya saudara kaya kak Juna," ucapnya marah, meski matanya berkaca.


Kai beranjak dan pergi dari ruangan karena tak sanggup berkata-kata. Click and Clack langsung mendatangi Jonathan dan membantunya berdiri.


Clack meminta semua orang untuk meninggalkan ruangan dan para mafia itu pun pamit mohon diri.


Tak lama, Han datang dengan membawa kotak obat ke kamar Jonathan. Click and Clack menyingkir, dan memilih untuk berdiri di pinggir ranjang.


"Hem, lumayan. Tapi, kau akan baik-baik saja. Kau akan kembali tampan," ucap Han tenang, seraya membuka kotak obatnya.


"Ayah Han juga pergi dari sini. Ayah Han adalah ayah kak Juna. Semua orang yang terlibat dengan kak Juna, Nathan gak mau berurusan lagi dengan mereka," ucapnya memalingkan wajah.


"Kenapa gitu?" tanyanya dengan wajah kembali ke arah Han.


"Mama Lily juga ibu dari kak Juna. Ibumu, ibu kak Lysa, dan ibu dari Sandra Liu. Jika kau marah kepada seseorang, kenapa melebar ke semua orang-orang terdekatnya? Sikapmu ini sungguh mengecewakan, Jonathan. Kami semua menyayangimu, pertengkaran wajar terjadi, tapi bukan dengan cara seperti ini. Kau membuat orang-orang yang menyayangimu menjauh darimu, dan itu semua, karena permintaanmu. Hati-hati dengan yang kaukatakan, hal itu ... bisa menyakiti perasaan orang lain. Seperti Cassie, dia pergi karena kau melukai hatinya," ucap Han menunjuk wajahnya lalu berdiri, dan pada akhirnya meninggalkan Jonathan seperti permintaannya.


Nafas Jonathan terasa tercekat. Click and Clack menatap Jonathan yang kembali meneteskan air mata, meski ia tak terisak.


Jonathan merangkak ke atas tempat tidur dan menyelimuti tubuhnya. Ia menutup wajahnya yang babak belur dengan bantal.


Dua bodyguard itu bisa mendengar kesedihan dari tangisan Jonathan. Keduanya memilih pergi, dan memberikan waktu bagi pemuda itu untuk menenangkan diri, tapi tetap membiarkan pintu kamarnya terbuka, dan mereka berdua menunggu di luar.


Sedang di sisi lain, kamar Arjuna. Tessa terlihat bingung dalam bersikap saat Arjuna sibuk mengemasi perlengkapannya seperti akan pergi dari Black Castle.


"Sayang," panggil Tessa masih menjaga jarak.


"Cepat berkemas. 30 menit tak siap, aku tinggal," tegasnya tak menoleh ke arah isterinya dan terus membereskan perlengkapannya.


"Meninggalkanku? Apakah ... begitu, caramu memperlakukan isterimu? Apakah ... pernikahan kemarin hanya sebuah formalitas seperti yang kaukatakan pada Jonathan, jika kau menikahiku karena iba padanya?"


Seketika, Arjuna menghentikan aktifitasnya. Arjuna membanting pakaiannya ke dalam koper dan berjalan tergesa mendekati Tessa dengan nafas memburu.


Tessa berdiri diam terlihat gugup dengan sikap suaminya yang tempramental.


"Baguslah jika kau menyadarinya. Kenapa? Menyesal?" tanya Arjuna menatapnya tajam.


Tessa tersenyum. Ia lalu berjalan mendekati almari pakaiannya dan menarik kopernya.

__ADS_1


Arjuna mengerutkan kening, saat melihat Tessa ikut membereskan semua perlengkapannya dan mulai memasukkan satu persatu barang-barang ke dalam tas besar itu.


"Kau tak menjawab pertanyaanku," desaknya.


Tessa menghembuskan nafas panjang. Ia menoleh dan kembali tersenyum. "Apa kau sadar, Sayangku? Ucapanmu, sungguh menyakitkan. Hal indah yang kuingat saat bersamamu adalah ... ketika di helikopter saat itu. Kau datang padaku, dan menciumku. Aku tahu itu hanya strategimu saja, tapi ... hal itu selalu terkesan indah dalam ingatanku. Aku berharap, bisa merasakan hal itu lagi, meski hanya tipuan," ucapnya dengan mata berlinang, meski dengan cepat, Tessa langsung memalingkan wajah dan kembali mengemasi barangnya.


Arjuna terdiam. Ia ingat kejadian itu, dan masih ada Naomi di sana. Arjuna menarik nafas dalam, dan saat akan melangkah menuju kopernya, sang Ibu masuk dengan ketukan pintu dan senyuman.


"Butuh perawat?" tanya Vesper dengan kotak obat dalam genggaman.


Arjuna terlihat bingung. Ia mengangguk pelan terlihat canggung. Vesper masuk dan menyapa Tessa, dan menantunya itu mengangguk seraya terus berkemas. Tessa membiarkan Ibu mertuanya bersama suaminya.


"Hem, sebaiknya kau tak mentato wajahmu, nanti Mama kesulitan membedakan mana luka dan gambar," ucap Vesper saat melihat wajah anaknya yang lecet dengan lebam dan darah di sana.


Arjuna diam saja, meski senyum simpul terlihat di wajahnya. Ia mengamati gerak-gerik Ibunya yang terlihat bingung saat melihat isi dari kotak obat.


"Bersihkan dulu lukaku, Mah," ucapnya menunjuk kapas dengan cairan antiseptik dalam kotak.


"Ah, kau benar. Maaf, aku sudah lama sekali tak mengobati orang. Semoga perawat ini, tak membuat lukamu semakin buruk," jawabnya santai seraya mengambil dua benda itu.


Tessa melirik dengan senyum tipis. Arjuna duduk manis di pinggir ranjang terlihat tenang.


"Agh!" rintihnya, saat merasakan perih akibat totolan kapas di wajahnya.


"Jangan bikin kaget! Sangat tidak lucu jika Vesper mati karena serangan jantung. Kau pikir aku Boleslav," ucapnya langsung sewot dengan mata melotot.


Arjuna mengembuskan nafas panjang. Ia mengangguk dan memilih memejamkan mata saat sang Ibu mengobati lukanya.


Arjuna bisa merasakan sentuhan lembut tangan kiri sang Ibu yang menyentuh pundaknya sebagai penopang. Tangan kanan Vesper sibuk menghapus noda darah di wajah tampan anak lelakinya.


"Kau memang tangguh. Setelah ini, apa?" tanya Vesper dengan senyum terkembang.


Arjuna membuka mata dan kembali menghembuskan nafas. Ia merasa Ibunya sungguh unik. Entah ia berpura-pura atau sungguhan dengan ketidaktahuannya mengobati luka, tapi Arjuna menyukai sikap lugunya.


Vesper mengobati luka Arjuna sesuai arahan dari sang anak. Arjuna dengan sabar menunjukkan obat-obatan yang harus Vesper berikan untuknya.


"Jadi, kau akan pergi?" tanya Vesper usai melakukan tugasnya sebagai perawat dadakan.


"Hem. Jonathan mengusirku, tapi tak apa. Aku juga masih ada pekerjaan yang harus dilakukan," jawabnya malas.


"Kembalilah ke Perusahaan. Kesehatan ayahmu menurun, Arjuna. Sekarang sudah ada Tessa yang akan membantumu. Sun juga ada di sana. Ajak juga Biawak Putih dan Hijau untuk membantu. Kau memiliki banyak orang untuk menolongmu," ucap Vesper duduk di samping puteranya seraya memegang kedua tangannya erat.


Tessa diam menyimak dari tempatnya berada dan kini, membereskan barang-barang milik Arjuna tanpa sepengetahuan suaminya.


"Bagaimana dengan pencarian Sandara?" tanyanya seraya melihat tangan sang Ibu dalam genggamannya.


"Sudah ada orang-orang yang mencarinya. Aku cukup yakin, jika Cassie menepati janjinya untuk mencari Sandara. Kau cukup memantau saja dari rumah atau kantor, mengenai kinerja Bala Kurawa-mu. Oke?" jawab Vesper lembut seraya mengelus kepala anaknya dengan senyuman.


Arjuna mengangguk pelan. Vesper menyentuh rahang bawah sang anak dengan hati-hati dan mengecup keningnya lembut. Arjuna tertegun, saat Vesper beranjak dari dudukkannya dan pergi meninggalkannya.


"Aku hanya mencium kening anakku saja, Tessa. Jangan cemburu. Hati-hati di jalan," ucap Vesper berdiri di samping almari.


"Aku tahu, Mah. Terima kasih," jawabnya dengan senyuman.


Vesper melambaikan tangan kepada dua orang itu lalu menutup pintu. Arjuna menghembuskan nafas panjang dan terlihat, senyum tipis terbit di wajahnya.


Tessa ikut tersenyum, ia tahu jika hati Arjuna telah menghangat karena kedatangan sang Ibu.


***

__ADS_1


tengkiyuw tipsnya. karena hari ini lele cuma bisa up 1 eps, lele kasih puanjang. semoga suka dan happy weekend❤️



__ADS_2