
Sore harinya, Jonathan mendatangi makam BinBin yang dikebumikan di kawasan makam keluarga kediaman Han, Massachusetts, Amerika.
Ternyata, tempat disekapnya Jonathan selama ini berada di Minnesota. Mr. Smoke memiliki hunian yang ia jadikan markas rahasia.
Jonathan memberikan penghormatan terakhir untuk orang yang banyak berjasa di hidupnya ditemani oleh beberapa orang yang baru tiba usai mendengar kabar duka dari Hadi.
Mansion Han masih dipenuhi oleh orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads hari itu.
"Paman BinBin gak usah sedih dan pusing mikirin Dinda dan Cinta. Hadi siap untuk menerima tanggungjawab yang super berat ini untuk menjaga Cinta dengan sepenuh hati," jawab Hadi serius di depan makam BinBin.
"Bayu juga, Paman. Bayu akan siap menjadi suami siaga untuk Dinda. Paman gak usah khawatir. Bayu dan Kang Hadi akan menjaga warisan serta aset penting paman dengan sepenuh jiwa raga," sambung Bayu dengan kedua tangan saling menggenggam di depan perutnya.
Dinda dan Cinta menangis sedih, bukan karena kehilangan BinBin, tapi karena harus menikah dengan dua anggota The Kamvret.
"Maafin Dinda, BinBin. Jujur, Dinda masih sayang sama BinBin, tapi ... gak mungkin Dinda nyusul ke alam kubur. Dinda belom siap mati. Jadi ... Dinda terima tawaran Om Bayu buat jadi isteri dia. Setidaknya, BinBin sekarang udah bahagia sama kak Bunga di sana. Titip salam Dinda buat kak Bunga ya," sahut Dinda memelas dengan air mata sudah mengering.
"Cinta juga, BinBin. Meski nanti Cinta jadi isteri om Hadi, tapi BinBin selalu di hati," ucap Dinda yang membuat Hadi memonyongkan bibir terlihat kesal.
Sedang semua orang yang berada di pemakaman itu malah menahan tawa karena bagi mereka drama percintaan empat orang itu sungguh tak lazim.
Kesedihan yang tadinya terselimuti karena ucapan-ucapan menyayat hati saat mengenang BinBin sirna karena empat orang itu.
Malamnya, Vesper yang tak ingin pergerakan para mafia dicurigai oleh Miles, meminta rapat dilakukan di kediaman Giamoco, Boston, esok hari.
Para anggota Dewan berkumpul untuk membahas aksi selanjutnya setelah satu persatu masalah berhasil di atasi. Namun, Han baru akan datang esok hari karena ingin menyelesaikan masalah Jonathan terlebih dahulu.
Di kamar Jonathan, Mansion Han.
"Kau sebaiknya segera kembali ke Borka. Cassie menunggumu," pinta Vesper dengan Han juga berada di sisi anak mendiang Erik tersebut.
"Sierra gimana?" tanyanya bingung.
"Apa kau berniat menikahi keduanya?" tanya Vesper melirik.
Jonathan diam sejenak terlihat memikirkan ucapan Ibunya dengan serius.
"Masa, anak Sierra lahir gak ada Papanya? Kasihan tau, Mah. Jujur, Nathan masih ada rasa dikit sama Sierra. Cassie dan Sierra itu beda. Cassie itu ... sangat cocok buat jadi pelindung Nathan, kaya bodyguard. Dia kuat, tapi ya gitu, agak bloon dikit," ucapanya mengutarakan, tapi membuat Vesper dan Han saling melirik.
"Kalau Sierra, dia cantik dan pinter. Tipe Nathan banget, tapi ya gitu. Masa lalunya bikin Nathan kesel, tapi Sierra sangat cocok buat jadi penasehat Nathan," sambungnya berpendapat.
Vesper dan Han saling menghembuskan napas panjang.
"Namun, Ayah Han sangat yakin jika mereka berdua akan bersiteru mempertahankan posisi untuk menjadi pendampingmu. Kau tak bisa menikahi keduanya jika mereka tak akur," ujar Han.
"Kaya Ayah Han sama papa Kai gitu?" Vesper tersenyum tipis, tapi Han langsung berwajah masam. "Nathan tau kalau kalian suka berselisih, tapi ... kalian akur kok. Nathan yakin kalau Sierra sama Cassie bisa kaya papa Kai dan Ayah Han. Nathan bakal jadi Papi yang keren! Masih muda udah punya anak. Nathan juga maunya punya anak 2 aja. Kalau kebanyakan tar ribet kaya keluarga kita. Ayahnya beda semua," jawabnya mantap, tapi membuat Vesper berkerut kening.
"Ya, kau benar soal beberapa pendapatmu. Hanya saja yang Mama khawatirkan adalah Cassie. Mama takut dia tak bisa menyikapinya dengan baik. Sierra lebih dewasa, berpengalaman, dan ... bisa menyesuaikan diri. Hanya saja, jika kau memberikan banyak perhatian pada Cassie, aku yakin, Sierra akan sedih nantinya karena merasa kau abaikan. Bagaimana kau menyikapi hal ini?" tanya Vesper menatap anaknya lekat.
Jonathan diam sejenak. Ia meminta kepada Han untuk membawa Sierra ke kamarnya untuk membicarakan hal ini, di mana ia setuju dengan pemikiran Ibunya jika Sierra lebih bijak dalam bersikap.
Tak lama, Sierra datang dengan sepatu robot dan sarung tangannya. Ia terlihat sungkan karena pembicaraan itu berkesan formal dan penuh tekanan.
Sierra duduk di pinggir ranjang berseberangan dengan Vesper di mana Jonathan duduk diantara mereka.
Jonathan mengemukakan pendapatnya, dan tentu saja, gadis cantik itu tampak terkejut, tapi seperti dugaan semua orang, Sierra mampu menyikapi hal rumit itu dengan baik.
"Jujur. Aku tak menyukai Cassie. Dia bar-bar, tak berpendidikan dan menyelesaikan semua masalah dengan kekerasan. Aku khawatir jika ia tersinggung dengan sikapku atau anakku nantinya, ia akan berbuat kasar pada kami. Aku tak bisa tinggal satu rumah dengannya. Ingat Jonathan, statusku dan Cassie sangat jauh berbeda. Aku Nona, dan dia, pelayan," tegas Sierra dengan dagu terangkat.
Vesper dan Han saling melirik ikut tegang. Jonathan menarik napas dalam terlihat memikirkan ucapan Sierra dengan serius.
__ADS_1
"Gimana kalau ... kalian tinggal terpisah saja? Cassie sepertinya suka tinggal di Black Castle. Nathan akan tempatin dia di sana nantinya. Kalau Sierra, mau di mana?" tanya Jonathan gugup.
"Aku ingin kembali ke Paris. Hanya saja ... rumahku sudah meledak, kau lupa?" tegas Sierra menaikkan salah satu alis.
"Ah, itu mudah. Tinggal dibangun kembali. Apa susahnya?" tanya Jonathan santai.
"Kau yang harus menanggung semua biayanya. Aku ingin, design baru untuk rumahku. Dilengkapi dengan sistem keamanan dengan semua teknologi Boleslav dan Vesper Industries, seperti muatan kita waktu— Oh shitt!" ucapnya menjabarkan, tapi tiba-tiba malah mengumpat.
"Ada apa?" tanya Vesper curiga.
"Muatan kita, Jonathan! Semua persenjataan yang diangkut oleh kapalku dengan perusahaan eksport-import milikku. Apakah kau sudah mengeceknya? Apakah muatan kita berlabuh sesuai jadwal? Kita disekap, jadi aku tak tahu apapun," tanya Sierra mengingatkan.
Praktis, mata Jonathan melebar. Ia meminjam ponsel milik Han lalu memberikannya pada calon isterinya itu. Sierra dengan sigap menghubungi nomor yang bertanggungjawab untuk mengamankan muatan Jonathan.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
"Halo? Muatan J-V-B-I apakah sudah diamankan?" tanya Sierra serius.
"Oh, Nona Sierra? Ya, tentu saja. Semua muatanmu aman denganku. Terima kasih. Kau sudah mendukung aksi balas dendamku dan juga memfasilitasiku dengan persenjataan Vesper serta Boleslav. Kau baik sekali, tapi ... aku tak memiliki hutang budi padamu. Anggap saja lunas, atas kebaikanku merawatmu selama ini."
"Miles," ucap Sierra geram dan praktis, mata semua orang yang mendengar melebar seketika. "Kau mencuri muatanku! Aku tak akan—"
KLEK! TUT ... TUT ... TUT ....
"Miles mencurinya? Dia mengambil semua persenjataan kita?" tanya Jonathan dengan mata melebar dan Sierra mengangguk membenarkan.
"Ya Tuhan," keluh Han langsung memijat kepalanya. Vesper berwajah serius seketika.
"Di mana kau membawa semua muatan itu?" tanya Vesper tajam.
"Islandia. Perusahaan milik ibuku dulu. Namun aku yakin, jika Miles pasti memecah semua muatan itu dan membaginya ke beberapa tempat. Hanya saja, semua markas milik The Circle sudah hancur, ke mana dia akan menyembunyikannya?" tanya Sierra bingung.
"TERMINATOR!" seru Han dan Jonathan bersamaan.
Segera, Han mengambil ponsel itu dan mengaktifkannya. Han segera keluar menuju ke Pusat Kendali. Vesper mengikuti suaminya dengan tergesa. Jonathan juga segera beranjak di dampingi Sierra.
Di Pusat Kendali.
"Siapa yang diserang?" tanya Han langsung melotot tajam ke arah para petugas.
"Yusuke Tendo di Jepang!" jawab Alex yang sudah siap dengan earphone di salah satu telinganya.
Alex mendekati Han dan memberikan alat itu kepada Vesper serta Tuannya. Suasana tegang seketika.
Saat Han baru saja ingin meminta tampilan penyerangan di kediaman Yusuke di mana anak dari Tatsuya Tendo sedang berada di kediaman Giamoco, Terminator kembali datang dari markas Jamal di India.
"Pasti Miles yang melakukannya!" pekik Jonathan dengan mata melotot lebar.
Praktis, chat dan video yang terhubung dengan para anggota dewan muncul. Tampilan penyerangan terlihat jelas di mana semua senjata yang digunakan adalah milik Vesper dan Boleslav Industries.
"MILES!" teriak Yusuke geram karena rumah peninggalan sang ayah hancur terkena luncuran Domino.
Hal serupa juga terjadi pada Jamal. Istananya porak-poranda karena serangan Domino yang meluluh-lantahkan kediamannya dan menimbun orang-orangnya. Namun di waktu yang bersamaan, Jonathan menyadari sesuatu.
"Oh! Bukannya, itu The Circle milikku? Kenapa anak buahku ada di kediaman para anggota dewan?" tanya Jonathan bingung.
Semua orang yang tadinya panik langsung terdiam. Semua mata terarah ke Vesper. Perlahan, bola mata Jonathan bergerak ke arah sang Ibu yang berdiri tegap di sampingnya terlihat tenang.
"Apa yang kaulakukan, Mah? Kau sengaja menempatkan anak buahku di rumah para anggota Dewan? Apa aku mengizinkannya?" tanya Jonathan menatap sang Ibu tajam.
__ADS_1
Suasana tegang seketika. Vesper tersenyum tipis dan menoleh. Kini, mata keduanya saling beradu.
"Ya. Aku menumbalkan anak buahmu. Mereka orang-orang The Circle. Semua petaka yang terjadi karena kelompok yang melahirkan Sierra dan Cassie. Namun kau lihat, Miles bahkan tak peduli jika orang-orangnya mati," jawab Vesper tenang, tapi membuat napas Jonathan tersengal.
"Kau ... sengaja memancing Miles dengan menempatkan anak buahku? Kau sengaja ... ingin melenyapkan The Circle yang tersisa? Apakah kau nantinya akan menempatkan Sierra dan Cassie juga di sana agar dibunuh oleh Miles?" tanya Jonathan menatap Ibunya tajam.
"Kenapa aku harus menumbalkan mereka? Bukankah ... mereka mengandung calon cucuku?" jawab Vesper dengan pertanyaan.
"Ya, itu karena mereka hamil. Jika tidak, apakah ... kau akan membunuh mereka?" tanya Jonathan tegas.
Suasana semakin mencekam, seakan semua orang sudah melupakan serangan yang Miles lakukan kepada dua anggota Dewan.
"Yes," jawabnya tegas.
Sierra terkejut termasuk Jonathan.
"Kau ... ingin membunuhku?" tanya Sierra sedih.
"Ya. Jika kau tetap membuat orang-orangku menderita, aku akan membunuhmu, Sierra. Semua hal buruk yang terjadi padamu, karena kaulah yang memicunya. Bukankah ... kau dulu juga terobsesi untuk membunuhku? Katakan padaku, kenapa kau kini mengurungkan niatan itu? Padahal kau memiliki sejuta kesempatan untuk menikamku, kenapa tak kaulakukan?" tanya Vesper menatap gadis cantik bermata biru itu tajam.
Sierra tak bisa menjawab, tapi ia terlihat shock.
"Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan! Kau sengaja membuat masalah ini membulat!" teriak Jonathan marah di hadapan Ibunya.
"Kau ... berani membentak Ibumu?" tanya Vesper lirih.
Semua orang semakin tegang. Han sampai tak bisa berbuat apapun saat melihat isteri dan anak tirinya itu saling bertatapan tajam.
"Kau, sangat kejam, Mah. Kau bahkan mengorbankan orang-orangku. Biar kutebak, demi terwujudnya kedamaian? Kau membunuh orang-orang The Circle dan No Face dan menyisakan 13 Demon Heads sebagai satu-satunya kelompok mafia di seluruh dunia?" tanya Jonathan dengan mata berlinang.
"Yes," jawabnya seperti ular mendesis.
Jonathan terlihat shock. Ia mundur dengan pandangan tak menentu. Sierra memegangi Jonathan yang terlihat seperti orang linglung karena langkahnya gontai.
"Bawa mereka pergi. Amankan mereka jika kau tak ingin melihatku membunuh orang-orang The Circle-mu. Aku hitung sampai 10 untuk menyelamatkan mereka dari kekejamanku. Satu, dua ...," ucap Vesper mengancam seraya memalingkan wajah.
Praktis, mata semua orang melebar. Sierra ketakutan dan menarik tangan Jonathan untuk segera membawanya keluar dari tempat itu.
Han dan lainnya panik. Jonathan menatap Ibunya yang terus menghitung tak menatapnya memasang wajah datar.
"I hate you, Mom. I hate you," jawabnya sedih lalu berlari keluar bersama Sierra.
"6 ... 7 ... 8 ...," ucap Vesper terus menghitung.
"Lily hentikan!" teriak Han panik yang kini tubuhnya bisa ia gerakkan. Han langsung membungkam mulut Vesper dan mendekapnya kuat.
Namun, Han terkejut saat melihat sang isteri meneteskan air mata dengan pandangan tertunduk. Han terlihat sendu dan sedih. Ia lalu memeluk Vesper erat yang menangis, meski isak tangisnya tak terdengar.
Semua orang yang tersambung dengan teleconference terdiam. Kai yang berada di Kastil Borka dan melihat kejadian itu segera pergi dari Pusat Komando.
Kai mendatangi Cassie yang berada di kamarnya sedang menyisir rambut panjangnya. Cassie menatap Kai saksama yang terlihat serius.
"Kau harus pergi dari sini. Miles mengejarmu. Bersiaplah," ucap Kai serius dan Cassie mengangguk cepat.
***
uhuy tengkiyuw tipsnya💋 lele padamu❤️
__ADS_1