
Sandara kini harus beradaptasi dengan tempat tinggal barunya. Padahal, Sandara sudah hampir menemukan cara untuk meloloskan diri meski kesempatannya hanya 50% untuk meninggalkan pulau sebelumnya. Kini, ia harus berusaha dari awal lagi.
Sandara melihat dari landasan helipad, rumah yang akan ia tempati berwarna-warni dan berada di tengah hutan belantara.
Hanya pemandangan hijau yang ia lihat di sekeliling tempat itu ketika melintas dari atas langit menggunakan helikopter sebelum mendarat.
Namun, Sandara kini lebih cermat dalam melakukan kalkulasi. Ia mengingat rute kepindahannya saat meninggalkan pulau dengan helikopter, lalu melanjutkan perjalanan dengan kapal, hingga ia sampai di tempat terpencil setelah kapal berlabuh di sebuah dermaga, kemudian terbang dengan helikopter untuk sampai di pondok.
Sudah 6 hari Sandara di sana untuk beradaptasi. Belum ada pekerjaan yang ia lakukan karena terlihat beberapa barang masih dipindahkan dari muatan kapal dan helikopter.
Sandara mengintai dalam diam di balik jendela kamarnya dengan bangunan berwarna merah muda.
Ia mengamati rumah barunya, di mana gadis Asia itu merasa jika tempat tersebut baru selesai di renovasi karena masih ada debu menempel di beberapa tempat dan bau cet masih baru.
Hari itu, Sandara diperkenalkan lagi dengan sistem kerja di tempat barunya. Ternyata, tak ada perbedaan dari sebelumnya.
Saat Sandara sedang diajak ke sebuah bangunan, gadis cantik itu menyadari jika ada yang mendekat ke arahnya dengan langkah cepat.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Afro!" teriaknya gembira karena Afro si hewan berbulu menggonggong ketika berlari ke arahnya. Sandara berjongkok dan mengelusnya dengan senyum merekah. "Kau ikut, Afro? Oh, aku senang sekali," sambut Sandara saat menyadari jika hewan tersebut datang bersama Tessa.
"Hem. Hallo, Sandara. Kita berjumpa lagi," sapa Tessa dengan wajah sinis.
"Hallo, calon kakak ipar," jawabnya ramah, tapi membuat Tessa terkejut.
"Aku bukan calon kakak iparmu. Aku mencampakkan Arjuna," jawabnya tegas.
"Benarkah? Sayang sekali. Padahal sebelum berpisah, kak Juna mengatakan jika ia mulai mencintaimu. Pasti ia sangat kecewa dan sedih ketika kau memutuskan meninggalkannya," jawab Sandara dengan wajah sendu. Kening Tessa berkerut.
"Hei! Gadis kecil! Kemari! Ada tugas untukmu!" teriak seorang pria berkulit cokelat.
Sandara pergi begitu saja meninggalkan Tessa yang terlihat kaget akan ucapannya barusan. Sandara mendatangi pria tersebut dengan Afro mendampinginya.
"Benarkah yang dia ucapkan? Sial, aku tak tahu yang dikatakan gadis itu bohong atau tidak. Ucapan dan ekspresinya sungguh meyakinkan," guman Tessa menggerutu.
__ADS_1
Sandara masuk ke sebuah ruangan. Seketika, mata gadis itu melebar. Ia melihat ada banyak komputer dan layar di tempat itu.
Jantungnya berdebar saat Mr. White berdiri di tengah-tengah ruangan berukuran sekitar 50 meter tersebut.
"Ini ruang kerjamu. Kau akan menjadi petugas di Pusat Komando. Tugasmu, menerima semua laporan misi, menerjemahkan sandi-sandi ke dalam bahasa yang kuminta, lalu mengirimkan ulang. Jangan kau kira, karena semua tersambung dengan internet, kau bisa menyusup atau mengirimkan sinyal keluar, Sandara. Semua yang kau lakukan di tempat ini, aku mengawasinya," tegas Mr. White dengan mata menyipit.
"Hanya aku sendiri?" tanyanya melihat sekitar yang seharusnya tempat itu bisa diisi hingga 5 petugas.
"Hem. Ada kesepakatan baru di sini. Jika kau melakukan kesalahan, hukumanmu adalah, semalam bersamaku," jawabnya dengan seringai.
Sandara langsung melangkah mundur bergidik ngeri. Ia teringat akan perlakuan cabuL Mr. White saat di kapal. Sandara pucat seketika, ia mengangguk paham.
"Lalu apa imbalanku?" tanyanya melakukan negosiasi.
"Privasi."
"Deal," jawab Sandara terlihat puas dengan senyum tipisnya.
Sandara tahu, jika ia tak bisa melakukan banyak kesepakatan dengan Mr. White. Ia mulai paham cara kerja pria berambut putih panjang itu.
Sandara terlihat tertekan, pekerjaannya kali ini lebih rumit dan penuh tekanan ketimbang sebelumnya. Ia sendirian di ruangan besar itu dan ia bertanggungjawab penuh di sana.
Afro hewan berkaki empat juga terlihat betah menemani kawan cantiknya itu dengan merebahkan tubuhnya di lantai yang dingin.
Sandara mengamati layar-layar yang berjejer rapi dengan seksama. Ia lalu duduk di sebuah kursi pada meja terpisah dan mengamati sekitar ruangan.
"Setidaknya di tempat ini, aku merasa familiar. Mirip pusat komando di markas mama yang berada di Jeju, kediaman paman BinBin dulu," celetuk Sandara dengan senyum tipis.
Sandara melihat dari tampilan layar di mana ia yakin jika tempat itu terhubung dengan satelit. Sandara tertunduk, terlihat memikirkan sesuatu dengan serius.
'Satelit. Perusahaan The Circle yang kuketahui salah satunya bergerak di bidang eksport-import. Kapal kargo yang membawaku waktu itu, saat kak Afro dan Sierra menikah palsu adalah milik Robicon Coorporation,' ucapnya dalam hati seraya melirik sebuah monitor yang mengawasi pergerakan di sebuah dermaga kecil milik pribadi di pulau tersebut.
Gadis cantik itu lalu berdiri dan melihat ada beberapa kamera pengawas di sekitar kawasan pulau.
'Kenapa tak ada kamera di rumahku? Tak mungkin. Pasti Mr. White menyembunyikannya. Dia pasti mengawasiku, tapi bukan dari sini. Hem, aku yakin dia memata-mataiku dari kamarnya. Dasar pria mesum. Takkan kubiarkan kau menyentuhku lagi,' geram Sandara melirik tajam ke sebuah monitor yang menyorot pergerakan di kawasan helipad sehingga terlihat jelas pemandangan sekitar tempat itu.
__ADS_1
'Aku ada di sebuah pulau. Aku cukup yakin jika letaknya tak jauh dari pulau sebelumnya. Orang-orang ini berkulit cokelat, berbahasa Spanyol, dan Inggris. Hmm, kepulauan di sekitar Poerto Rico?' batinnya berkata lagi sembari berpikir keras.
"Apa yang kaulakukan?"
Sontak, Sandara langsung membalik tubuh dan terlihat kaget, ketika Tessa berdiri di kejauhan menatapnya tajam.
Tessa melangkahkan kaki dengan wajah dingin mendatangi Sandara. Gadis cantik itu terlihat gugup seketika.
"Apakah yang kaukatakan itu benar?"
"Hem?" tanya Sandara bingung.
"Arjuna," tegasnya lirih. Sandara mengangguk. "Namun, aku sudah tak mencintainya."
"Ya. Sangat disayangkan. Jika kau sedikit lebih bersabar, kau bisa menikah dengan kakakku. Dan mungkin, kau tak perlu menjadi budak Venelope."
GRAB!!
"Agh!" rintih Sandara saat Tessa mencekik lehernya kuat.
"Jangan sok tahu," ucapnya geram.
"A-aku tahu dari kak Ju-Juna. Di-dia yang bilang ji-jika iba padamu. Oleh karena itu, di-dia ingin membebaskanmu de-dengan menikahimu. Berharap bi-bisa membawamu ke dalam ja-jaranku dan lepas dari belenggu Ve-ne-lo-pe," jawab Sandara terbata karena cekikan di leher yang membuatnya sulit bicara.
BRUK!
"Hah ... uhuk!" engahnya saat Tessa menjatuhkan Sandara di lantai dan menatapnya tajam.
Tessa pergi meninggalkan gadis cantik yang masih telengkup di atas lantai. Afro menghampirinya seperti minta dibelai.
"Semoga berhasil, Afro. Tessa jalan keluarku," bisik Sandara saat memeluk kepala hewan berbulu itu dan mengintip kepergian Tessa yang berulang kali menengok ke belakang, seperti penasaran kebenaran dari ucapan Sandara.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Tengkiyuw tipsnya๐๐๐