4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Liberty*


__ADS_3

ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE (nocloudinthesky.wordpress.com)



-------- back to Story :


Sun terpaksa menepikan mobilnya di pinggir sungai karena tak tega melihat Tuan mudanya menangis, dan rintihan kesedihannya di dengar semua orang.


Patung Liberty menjadi saksi pilunya hati Arjuna yang sedang merasakan patah hati setelah melihat kekasih hatinya hidup bahagia bersama Jordan, meski mereka belum menikah.


Bagi Arjuna, melihat dua sosok anak yang hidup diantara Naomi dan Jordan, sudah memberikan bukti kuat padanya jika Naomi melahirkan anak Jordan tanpa sepengetahuannya.


"Sial, hiks ... sakit sekali," ucapnya terus memukuli dadanya dengan kepalan tangan kanan hingga wajahnya memerah dan basah karena air matanya.


Biawak Putih dan Hijau kali ini tak ingin memberikan nasehat apapun, karena tak pernah dalam posisi seperti ini sebelumnya, terlebih Sun.


Tiga lelaki itu memilih melihat dari kejauhan saat majikan mereka berusaha untuk menenangkan diri dengan caranya.


"Kok Ijo sedih ya, liat Junet gitu. Telpon nyonya Vesper aja gimana?" bisik Hijau sampai wajahnya mengkerut.


"Jangan. Biar aja. Biarin Junet melatih mental. Gak nyangka, Naomi dan Jordan udah sampai sejauh itu hubungannya. Kayaknya kabar mereka mau nikah itu bener. Bisa jadi karena Naomi udah lahirin anak Jordan, makanya dinikahin. Gitu kali ya," sahut Biawak Putih menilai. Hijau dan Sun mengangguk pelan, meski mereka juga masih ragu dengan dugaan itu.


Arjuna melepaskan jasnya dan membantingnya ke rumput. Ia juga melempar sepatunya jauh hingga wujud alas kaki itu hilang entah ke mana.


Biawak Hijau memilih menghindar karena takut kena amukan. Ia malah mendatangi pedangan kaki lima (food truck) untuk membeli hotdog dan makanan lainnya sembari menikmati patung Liberty di malam yang penuh bintang.


Biawak Putih yang tak tahan melihat perilaku Arjuna ketika melampiaskan kemarahan, ikut bergabung bersama Hijau menikmati kudapan malam.


Sedang Sun, tetap setia menunggu Tuan mudahnya yang kini terlentang di atas rumput dengan nafas tersengal usai menendang dan memukuli batang pohon sebagai pelampiasan kemarahannya.


Arjuna melirik, ketika Sun duduk di sampingnya sembari menekuk kedua lutut dan memeluknya. Sun tersenyum tipis melihat indahnya bintang di langit malam.


"Saya sebenarnya belum memiliki kekasih, Tuan Muda. Terkadang, saya iri dengan kehidupanmu. Rasanya, hidupku datar-datar saja, monoton dan sesekali tegang karena misi yang kujalankan. Namun, selama ini, setiap saya mengerjakan tugas, tak pernah ada sosok wanita yang membuatku merasakan bahagia, atau kesedihan seperti yang kau rasakan. Seandainya kita bisa bertukar posisi, pasti saya akan sangat bersyukur bisa menangis sepertimu."


"What?" Arjuna menatap Asistennya dengan kening berkerut terlihat heran. Sun hanya tersenyum.


"Perjalanan hidupmu masih panjang, Tuan Muda. Mungkin terdengar licik dan menyebalkan, tapi ... pernahkah kau mendengar sebuah istilah 'Tak ada rotan, akar pun jadi'? Kau tahu yang kumaksud 'kan?" tanya Sun menoleh ke arah Tuan mudanya yang mulai tenang.


"Tessa?" Sun mengangguk.

__ADS_1


"Tessa bilang, jika dia satu-satunya wanita yang bisa menerima semua keegoisanmu. Kenapa tak kau buktikan saja ucapannya? Kau bisa membandingkan perlakuan Tessa dan Naomi, ketika kau hidup bersama salah satu pemimpin No Face itu. Tessa sudah membuktikan ucapannya tentang Naomi, sekarang waktunya Anda membuktikan ucapan Tessa," sambung Sun masih menatap wajah Tuan Mudanya yang balas menatapnya tajam.


"Kau ingin aku menikahi Tessa?" tanya Arjuna dengan kening berkerut. Sun mengangguk.


"Tak ada gunanya Anda mengharapkan Naomi. Anda akan melawan sebuah keluarga yang memiliki pengaruh kuat dalam jajaran 13 Demon Heads. Ingat, Tuan Muda, posisi Anda saat ini tidak menguntungkan. Kursi Dewan-mu terancam karena Anda dinilai berkhianat. Jordan, akan sangat bersemangat untuk menjatuhkan Anda. Bahkan saya yakin, jika dia sangat berharap bisa memenggal kepala Anda. Sayangnya, Anda beruntung, karena Sandara tak ada sehingga Pengadilan ditunda, termasuk kasus Afro," jawab Sun serius.


Raut wajah Arjuna berubah. Perlahan, ia mulai bangun dan duduk dengan kaki diluruskan. Sun menatap wajah tampan majikannya yang terlihat berpikir serius.


"Jujur, Sun. Selama aku bersama Tessa, dia baik padaku. Dia menurut dan sepertinya, ucapannya yang mengatakan jika ia mencintaiku ada benarnya," ucap Arjuna dengan pandangan lurus ke depan memandangi sungai yang terbentang luas di hadapannya.


"Anda bisa mencari tahu dan membuktikan ucapan Tessa yang mengatakan ingin membantu jajaran kita. Kali ini, seperti yang ia katakan, kita pun tak akan melakukan tipu muslihat. Fokus kita, dengan bergabungnya Tessa, kita bisa menemukan Sandara," tegas Sun menekankan.


"Ya. Aku melibatkan adik tiriku itu, Sun. Sandara tak bersalah, ia adalah korban dari strategiku. Jujur, Sandaralah alasanku bisa menerima Kai selama ini. Sandara sangat baik padaku, dia bisa mengerti apa yang kumau tanpa harus kukatakan. Banyak kenangan indah yang kumiliki bersamanya semasa kecil dulu. Dan aku ... membuatnya jauh dari keluarga yang menyayanginya. Kisah cintanya pun lebih mengenaskan ketimbang diriku," ucapnya terlihat begitu sedih dan merasa bersalah hingga matanya terpejam.


"Afro hilang, Sandara mencarinya. Kini Afro kembali, Sandara yang pergi. Tuhan benar-benar mempermainkan kita," sahut Sun, dan Arjuna mengangguk membenarkan dengan wajah tertunduk.


"Jadi ... Tessa?" tanya Arjuna menoleh ke arah Asistennya itu.


"Ya, Tessa. Berikan dia kesempatan untuk membuktikan. Selanjutnya, terserah Anda, Tuan Muda," jawab Sun dengan senyuman.


Arjuna langsung berdiri dan menarik nafas dalam terlihat mulai membaik. Sun melihat jika Tuan mudanya mulai bisa menerima kenyataan pahit jika Naomi bukan untuknya.


"Kita kembali ke Panama besok. Cari penginapan dekat Bandara," ucap Arjuna seraya melihat sekeliling seperti mencari sesuatu.


Tak lama, muncul Biawak Hijau dan Putih yang datang dengan wajah riang sembari menenteng banyak makanan dalam kantong kertas.


"Uhuy, wajahnya udah meriah lagi. Jadi ... udah tahu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Bos ganteng?" tanya Biawak Hijau sembari meletakkan makanan yang dibelinya di samping Sun.


"Hem," jawabnya mengangguk dengan wajah datar. "Dan tolong. Carikan sepatu dan jasku. Jika tak ketemu, aku pakai milik kalian. Cepat," perintahnya bertolak pinggang kepada dua Biawak yang kini menatapnya dengan mata melotot.


"Weladalah. Kamu yang lempar kok kita yang suruh nyari. Dikira kita anjiing pelacak. Bener-bener," gerutu Biawak Hijau yang tak jadi meneguk kaleng soda yang ia beli karena harus mencari sepatu serta jas Arjuna yang ia lemparkan.


Arjuna mendatangi Sun dan ikut duduk bersamanya. Arjuna menikmati burger, kentang goreng, dan sekaleng soda dingin yang dibeli para Biawak untuk makan malam mereka. Sun tersenyum tipis.


Di sisi lain, tempat Sandara berada.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Hem, kerja bagus, Sandara. Kau memang pintar," ucap Mr. White saat Sandara mempresentasikan gerakan dari Scorpion dan Frog. "Lalu ... bagaimana dengan strategi pada anggota The Eyes lainnya. Mereka menggunakan kode berbeda, aku bisa melihatnya," tanya Mr. White yang menunjuk beberapa layar saat penyerangan terjadi ketika anggota The Eyes dikomandoi oleh Sierra.


"Kau baru menunjukkannya tadi. Robot saja bisa kehabisan energi. Kau memforsirku dan menjadikanku seperti budak! Tak ada upah, tak ada bonus, bahkan penghargaan yang kudapat dari usahaku!" pekik Sandara dengan mata melotot.

__ADS_1


"Kebebasanmu sudah sirna, sejak kau ... kuambil dari Black Castle, Sandara Liu. Kau kini milik kami, kau bekerja untuk kami, dan hidupmu berada di tangan kami. Kebebasan? Itu hanya mimpi," tegas Mr. White mengangkap wajah Sandara dengan tangan besarnya.


Venelope tersenyum tipis dari tempatnya berdiri. Ia yang hanya mengenakan topeng setengah wajah dari dahi ke hidung, tak menutupi bibir indahnya.


Tiga orang pria berdiri tegap di sisi kanan, kiri, dan belakang Venelope untuk menjaganya.


"Lepaskan!" pekik Sandara yang menggunakan kedua tangannya untuk melepaskan tangkapan tangan Mr. White di wajahnya. Nafas Sandara menderu.


"Baiklah, tugas selanjutnya. Pecahkan strategi dari serangan yang dilakukan para anggota The Eyes itu. Gagal, hukumanmu semalam dengan Mr. White," tegas Venelope seraya mendekat, diikuti tiga pria di sisinya.


"Berani menekanku, kalian akan lihat mayatku. Setelah itu, pikirkan sendiri kode penyerangan dari jajaranku. Aku tak mau lagi melakukannya!" tegas Sandara dengan mata melotot.


"Kau mengancamku?!" pekik Venelope mendatangi Sandara cepat, tapi di tahan oleh Mr. White.


Sandara berpaling. Ia menumpahkan sebuah ember yang berisi air keruh bekas pel ke lantai terlihat marah.


Ia juga mendorong semua galon berisi air yang sudah tak memiliki tutup hingga seluruh airnya menggenangi lantai. Kening Venelope dan Mr. White berkerut karena sikap aneh Sandara.


Tiba-tiba, CRETTT!


Mr. White terkejut. Sandara mencabut sebuah kabel dari komputer dengan kuat. Robekan dari kabel yang masih dialiri listrik, membuat jantung semua orang berdebar, tapi Sandara hanya menunjukkan wajah datar.


"Aku akan membuat kalian semua mati tersengat. Air ini sudah terkontaminasi dan akan sangat cepat menghantarkan listrik," ucapnya tanpa berkedip. Venelope dan lainnya panik seketika. "Aku sebenarnya bisa melakukan hal ini pada kalian sejak pertama kali di tempatkan di ruangan ini, tapi aku urungkan. Aku penasaran, apa yang akan kalian lakukan padaku. Ternyata, kalian hanya memanfaatkanku," ucapnya seraya mengambil botol berisi air keruh yang sudah terbuka tutupnya, masih terisi penuh di atas meja.


"Sandara!" teriak Venelope lantang dari tempatnya berdiri terlihat takut.


Sandara menuang air itu ke lantai tempat Mr. White berdiri. Mr. White yang terkena air dan basah, panik seketika.


Pria berambut putih itu menjauh dari Sandara yang meliriknya sadis. Mereka tahu, jika Sandara akan menyetrum mereka semua dengan kabel listrik dalam genggamannya.


"Apa yang kau inginkan, Bocah tengik?!" teriak Venelope geram.


"Semuanya," jawabnya tajam.


"Lupakan saja," sahut Venelope bengis.


Tiba-tiba, CREETT!!


"ARRRGHHH!"


***

__ADS_1


btw lepti udah sembuh, hore🎉 minggu depan vote vocer alihin ke Simulation dulu ya. vote poin dan koin tetep di 4YM aja. btw brankas koin kosong lagi gaes😆 besok satu atau 2 eps nih? makasih tipsnya❤️ lele padamu. happy weekend😘



__ADS_2