4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Berdarah


__ADS_3

Sandara berlari menghindari kejaran para tikus seraya menyarungkan pedang Persia-nya kembali. Dengan sigap, Sandara menarik jubahnya yang telah basah dengan darah para korbannya di lantai.


HAP!


Kepala para penonton terangkat ketika Sandara melompat ke jeruji besi dan malah berpegangan di sana dengan satu tangan. Tangan kanan terbiarkan terjuntai dengan jubah berbau anyir itu. Ketika para tikus akan memanjat naik, BRUKK!!


"Cit! Cit! Cit!"


Dengan sigap, Sandara melemparkan jubahnya. Para tikus kembali terperangkap dalam bentangan kain tersebut, meski tak semua.


Sandara melompat dengan kaki memijak ke lantai, dan sekaligus menginjak para tikus-tikus yang tertutup kain.


Sandara menarik jubahnya lalu membungkus para tikus tersebut di dalam menjadi buntalan. Hewan-hewan pengerat itu bergerak liar dan menimbulkan rasa geli yang teramat hingga kulit gadis cantik itu merinding.


Mata Sandara teralih pada sekumpulan tikus yang belum terperangkap dan kini siap untuk menyerangnya.


Sandara menguatkan mentalnya. Ia mengerahkan semua tenaga pada kedua genggaman tangan.


Dengan cepat, BUKK!! BUKK!!


"Citt! Cittt! Ciittt!"


Para tikus merintih terkena pukulan dari buntalan berisi kumpulan kawan sejenis yang terkurung dalam kain penuh darah tersebut.


Sandara menghantam para tikus yang berusaha mendekatinya dengan pukulan-pukulan kuat bertubi-tubi.


Ia juga tak segan menginjak para tikus dengan sepatu boots yang melindungi kakinya, meski ia mengenakan yukata.


Sandara menendang para tikus itu jauh hingga tubuh korbannya menghantam jeruji besi.


"Bunuh mereka semua, Dara! Jangan sisakan! Hahahaha!" tawa Neon menggema. Terlihat jelas, pemuda itu begitu bangga akan kemampuan jagoannya yang tampak lain.


"Hem, dia boleh juga," ucap Ungu Genit menyahut.


"Heh, tentu saja. Asal kau tahu, Sandara sudah membunuh banyak orang. Hanya saja, dia tak menunjukkan sisi kekejamannya. Oleh karena itu, jangan mengusiknya, atau nasibmu bisa lebih buruk dari Mr. White, Ungu," jawab Neon menoleh sedikit.


Ungu Genit terlihat kesal akan sikap Neon yang semakin lancang sejak ia menjadi pengganti pendulunya. Smiley menatap Neon seksama dari tempatnya duduk entah apa yang dipikirkan.


Neon kembali fokus pada pertarungan di dalam kurungan. Smiley memberikan kode pada Venelope dengan kedipan mata seperti sebuah kode. Venelope mengangguk, lalu meneruskan pesan tersebut kepada MC. Wanita bercadar warna emas bermanik itu menyipitkan mata.


BRUKK!


"Hah, hah ...," engah Sandara, saat ia melemparkan isi buntalan ke lantai. Para tikus yang terperangkap di dalamnya berserakan dengan kondisi sudah tak bernyawa.


Sandara mendatangi para tikus yang masih bergerak di sudut lain. Ia menusuk mereka satu persatu dan menjadikan hewan-hewan berbulu hitam tersebut seperti sebuah sate dalam bilah pedang.


"Jika ada paman Tora, dia bisa memasakkan daging tikus enak untuk kalian semua," ucap Sandara seraya berkeliling di dalam kurungan dengan mengangkat pedang Persia dalam genggamannya ke wajah para penonton.


Beberapa orang terlihat mual dan memilih memejamkan mata atau memaingkan wajah. Sandara tersenyum tipis. Neon terlihat bangga, ia duduk dengan tegap dan dada membusung.


Sandara menggeser bangkai korbannya ke pinggir jeruji karena ia tak mau, bangkai-bangkai itu menyulitkan pergerakannya nanti.


"Kau membuktikan kesombonganmu, Sandara Liu. Namun, apa kau bisa menghadapi yang satu ini? Dia ... bukan hewan. Dia manusia sepertimu. Hanya saja, lebih kuat, liar dan naluri membunuhnya lebih tinggi darimu," ucap MC seraya menunjuk ke atas saat sebuah kurungan besi di turunkan.


Sandara mendongak dan matanya melebar seketika. Seorang manusia berkulit pucat dengan rambut putih panjang, berkuku tajam dengan kilauan seperti emas, terlihat begitu ganas karena meraung-raung di dalam jeruji.


Sandara pucat seketika, saat makhluk mengerikan itu kini mengincarnya. Kedua tangannya terjulur ke luar dari jeruji besi seperti siap mencabiknya.


"Oh lihatlah. Nyalinya ciut. Gadis kecil kita ketakutan. Hem, sepertinya, yukata-mu akan berganti warna menjadi merah karena darahmu sendiri, Sandara Liu. Nikmatilah siksaanmu, hahahahaha!"

__ADS_1


Tawa para penonton menggema di ruangan itu. Sandara terlihat panik dan matanya tak lepas dari sosok yang mengincarnya.


Kurungan itu masih tertutup hingga ke lantai. Mata Sandara memindai sosok di depannya yang terus mengaum seperti hewan.


Neon terlihat gugup. Kedua tangannya mencengkeram kuat kain di pahanya. Semua orang yang duduk di sekitar Neon tersenyum miring seperti meledeknya.


"Lepaskan!" perintah MC lantang.


"Harrghhh!"


"Oh!" pekik Sandara panik dan langsung menyiagakan pedangnya untuk menyabet lawan yang berlari ke arahnya. Makhluk itu memijak lantai menggunakan dua tangan dan dua kaki layaknya binatang.


"Harrghhh!"


KLANG! BRUKK!! KRAUKK!!


"Argh!" rintih Sandara saat makhluk itu bisa menghindari sabetan pedangnya.


Manusia buas itu melompat ke jeruji besi dan menggunakannya sebagai tolakan tubuh untuk menerkam Sandara.


Neon terperanjat saat melihat makhluk itu menjatuhkan tubuh Sandara dengan keras hingga pedang dalam genggamannya terlempar dan bahunya tergigit.


"Dara!" teriak Neon panik.


"Bungkam mulutnya! Dia berisik sekali!" teriak MC lantang menunjuk Neon.


Pemuda itu panik saat ia dipegangi erat dan topengnya dilepaskan paksa. Neon memberontak, tapi ia kalah kekuatan. Mulutnya disumpal dan kedua tangannya diborgol lalu di rantai ke dudukkan.


"Errgghhh!" erangnya dengan suara tertahan, tapi para wanita bercadar itu malah tertawa melihat penderitaan pemuda malang itu.


"Arrghhh! Aggg!" rintih Sandara yang berusaha melepaskan gigitan kuat makhluk itu yang terasa menembus sampai ke dagingnya.


"Hahahaha!" tawa para penonton gembira dengan sambutan tepuk tangan seakan pemandangan sadis itu sebuah hiburan menarik.


"Agh! Agh! Agh!" erang Sandara memukul telinga makhluk itu dengan sekuat tenaga menggunakan kepalan tangan kanan.


Namun, dampak serangannya tak memberikan efek apapun. Wajah gadis malang itu memerah, menahan sakit luar biasa di bahu dan tubuhnya karena ditekan oleh kedua tangan makhluk itu.


"Hah, hah, arrghhh!" erangnya setelah tarikan nafas kuat dua kali.


Sandara menjambak rambut panjang makhluk itu dengan sekuat tenaga seperti ingin merobek kulit kepalanya. Makhluk itu memberontak dengan menggerakkan kepalanya kuat.


Sandara semakin merasakan sakit karena bahunya terkoyak. Namun Sandara tak ingin mati di tempat itu, ia terus mempertahankan serangannya dengan mencengkeram kuat rambut dalam genggaman kedua tangannya dan menariknya kuat.


KREEKKK!!


"Harrghhh!" rintih makhluk putih itu yang akhirnya melepaskan gigitannya, dan kepalanya kini mendongak ke atas karena tarikan Sandara.


Suasana semakin tegang dan mencekam, saat tubuh gadis Asia itu terpontang-panting ke sana kemari karena tangannya terlilit dalam cengkeraman rambut manusia liar itu.


BRANGG!!


"Agggg, uhuk," rintih Sandara saat tubuhnya terlempar dan menghantam jeruji besi.


Gadis itu kesakitan dan meringkuk dengan kedua tangan dipenuhi oleh rambut dari lawannya. Ia menangis saat yukata di bahunya bernoda merah.


Sandara memegangi bahunya yang terluka dengan wajah memerah menahan sakit.


"Harrghhh!" erang manusia berkuku tajam yang kini merangkak dan kembali berlari mendatangi Sandara lebih cepat dan lebih buas.

__ADS_1


Sandara berusaha bangkit dengan kaki gemetaran. Kedua tangannya terasa lunglai kehilangan tenaga. Mentalnya jatuh, dan hanya rasa sakit serta ketakutan yang hinggap di tubuhnya.


BRAKKK!!


Seketika, laju lari makhluk itu terhenti. Manusia buas itu menoleh saat mendengar suara benda jatuh sangat keras dari luar kerangkeng.


Sandara ikut menoleh, dan mendapati Neon menendang bangku di hadapannya hingga orang yang duduk di sana ikut terjungkal.


Neon menggerakkan jemari kanannya yang terborgol dengan mata melotot lebar. Sandara melihat pergerakan tangan tersebut.


"Singkirkan dia!" teriak MC lantang menunjuk Neon.


Pemuda itu kembali memberontak, tapi ia kalah jumlah. Perut Neon dipukul, begitupula wajahnya hingga ia ikut tak berdaya.


Nafas Sandara tersengal, tapi ia tahu apa yang harus dilakukan untuk bisa melawan manusia aneh di depannya ini.


"Hah, hah, hah," engah Sandara seraya memegangi bahunya yang sakit dan perlahan berdiri menggunakan punggung sebagai sandaran.


Makhluk itu menatap gerak-gerik Sandara dan mengikuti pergerakannya dengan merangkak. Mata Sandara terfokus pada manusia berkulit keriput yang tak menyerangnya entah apa yang ia tunggu.


Tiba-tiba, SWING ... DUK!!


"Hargh!" erang manusia keriput itu saat terkena lemparan bangkai tikus dan darah menempel di wajahnya.


Namun, makhluk itu lalu tertunduk. Ia mengendus bangkai di depannya kemudian memakannya.


Orang-orang mual karena melihat hal menjijikkan tersebut. Sandara memanfaatkan hal itu dengan terus menendang bangkai-bangkai hewan ke arah manusia seram, sampai ia berhasil menuju ke tempat pedangnya berada.


KRAUK! KRAUK!


"Emmphh!"


"Oh!" seru para penonton, saat Sandara berhasil mengambil pedangnya kembali dan kini mengayunkannya tepat ke arah manusia putih yang sedang menyantap bangkai-bangkai layaknya kanibal.


"Hargh?"


KRASS!! GLUNDUNG ....


"Ohhh!" kejut para penonton.


Sandara berhasil menebas kepala manusia itu saat ia lengah. Makhluk itu masih bergerak-gerak dengan darah mengalir deras dari potongan leher.


Sandara berdiri dengan kaki bengkok dan badan setengah membungkuk. Tubuhnya miring karena luka di bahunya.


TANG! TANG! TANG! TANG!


Mata semua orang terkunci melihat gerak-gerik Sandara. Gadis berkucir kuda itu berjalan di pinggir jeruji besi seraya mengarahkan ujung pedang yang berlumuran darah hingga suara dentingan tersebut berkesan mengintimidasi.


"Ada lagi?" tanyanya dengan wajah datar melirik ke semua penonton yang duduk di bangku menatapnya tajam.


"Berlagak. Kali ini, kupastikan kau tak akan bisa membunuhnya, Sandara. Hehehehe," kekeh MC dengan seringainya seraya menunjuk ke atap dan terlihatlah, sosok yang Sandara kenali.


Langkah Sandara lesu seketika. Tubuhnya terhuyung ke belakang hingga punggungnya menyender pada dinding jeruji besi saat kurungan itu semakin turun perlahan. Wajah Sandara berkerut, ia seperti akan menangis.


***


tengkiyuw tipsnya. lele padamu❤️ jangan lupa like di eps yg keliwatan. jumlah likenya jomplang gaes. keasyikan skroll lupa like musti😑


__ADS_1



__ADS_2