4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Luapan Amarah


__ADS_3

Suasana pemakaman berubah tegang seketika. Vesper berpaling dari para pelayat terlihat sedih karena teringat akan ucapan anak-anaknya yang menyakiti hatinya.


"Mbak Vesper!" pekik Eko lantang saat Vesper tiba-tiba saja ambruk, tapi dengan cepat ditangkap oleh Doug.


Semua orang langsung mendatanginya. Javier dengan sigap menggendong ibu angkatnya dan membawanya pergi dari tempat itu.


Orang-orang kini malah terfokus pada kesehatan Vesper yang mulai menurun. Ditambah, hatinya kini terluka. Kondisi Vesper makin melemah.


"Mereka sungguh keterlaluan. Biar kuhajar mulut anak-anak sombong itu," geram Eiji langsung keluar dari kamar Vesper dirawat.


King D duduk di samping neneknya yang terlihat bersedih. Matanya terpejam, tapi ia bisa melihat jika tubuh sang nenek gemetaran. King D meraih tangan Vesper perlahan dan Vesper langsung menggenggamnya erat.


"Oma ...," panggil King D lirih.


Jeremy yang ikut hadir dengan segera memeriksa keadaan wanita yang juga berjasa dalam hidupnya. Semua orang diminta untuk keluar agar Vesper bisa beristirahat.


"King D," panggil Vesper lirih dengan napas susah payah.


"Ya, Oma."


"D mau 'kan temani Oma? Oma lelah. Oma ... ingin beristirahat, tapi ... bukan di sini," pintanya pelan.


"Hem, D mau. D akan temani Oma. Oma jangan sedih," ucapnya dengan mata berkaca seraya memandangi sang nenek lekat yang meneteskan air mata meski terpejam.


Javier membungkam mulutnya. Sandara yang kecewa dengan perlakuan ketiga kakaknya nekat mendatangi mereka bersama orang-orang yang merasa jika sikap Lysa, Arjuna dan Jonathan sudah keterlaluan.


Afro terlihat bingung dalam bersikap, tapi ia teringat akan janjinya pada Vesper. Afro mengikuti Sandra untuk memastikan pertikaian tak semakin memanas.


"Javier ...," panggil Vesper dengan suara bergetar seperti menahan kepiluan dalam hatinya.


Sultan segera berlutut di samping tempat tidur seraya mengelus kepala ibu angkatnya penuh kasih, meski ia juga terlihat sedih.


"Biarkan King D ikut denganku. Pastikan Lysa tak membuat kekacauan selama aku tak ada. Meskipun kau kini bukan suaminya lagi, dan aku sempat kecewa karena sikapmu dulu, tapi aku masih percaya jika kau anak yang baik. Kau adalah Javier yang merawatku di Afganistan dan memanggilku Ibu meski semua orang menyebutku Frankenstein. Bisakah ... kau menjaga amanatku?" tanya Vesper lirih seraya melirik Pangeran Padang Pasir itu lemah.


"Tentu saja, Ibunda Ratu. Tentu saja," jawab Javier berjanji lalu mengecup kening Vesper yang terlihat begitu lelah.


Jeremy segera melakukan perawatan kepada Vesper yang tiba-tiba saja seperti orang tak berdaya.


Satu persatu, orang-orang masuk ke dalam ruangan saat Vesper sudah tertidur lelap dengan King D tidur di sebelahnya menemani.


Vesper, tak melepaskan genggamannya di tangan King D dan anak lelaki itu terlihat tak keberatan.


"Otong mau ikut nemenin kalau dibolehin," ucapnya menatap Javier penuh harap. Javier tersenyum dengan anggukan.


"Seorang Vesper bisa dirobohkan dengan sangat mudah hanya karena perkataan menyakitkan hati dari orang-orang yang dikasihinya. Aku sangat yakin, bukan peluru, serangan militer pemerintah atau bahkan penyakit yang akan membunuhnya, tapi ... ucapan," ucap Jamal menilai dan semua orang mengangguk setuju.


"Jangan libatkan Vesper lagi. Kali ini, aku sungguh-sungguh tak akan merengek dan meminta banyak hal padanya. Sudah cukup bagi Vesper dengan semua penderitaan ini. Aku yakin, bisa bertahan seperti para pendahuluku. Bagaimanapun, dia adalah adik tiriku, keluargaku, dan aku akan melindunginya," ucap One menatap Vesper pilu dan diangguki Verda yang setuju dengan ucapan suaminya.


"Kita harus segera selesaikan konflik ini untuk selama-lamanya. Pelenyapan kepada The Circle, harus disegerakan," tegas Bojan dan para anggota dewan yang berkumpul di ruangan itu mengangguk mantap.


Di sisi lain.


Jonathan, Lysa dan Arjuna bersiap untuk pergi dari kediaman Sanders usai pemakaman. Ketika tim Jonathan sudah berada di halaman depan dan siap untuk pergi, tiba-tiba saja, BUAKKK!!


"Oh!" kejut Sierra saat Eiji memukul pipi Jonathan kuat dengan kepalan tangan kanannya. Jonathan roboh karena serangan tak terduga itu.


Ketika Click and Clack akan menyingkirkan Eiji yang siap untuk menghajar Jonathan lagi, tiba-tiba saja DUAKK!!


"Ogh!" erang Clack saat Seif datang dan menendang tubuhnya dari samping hingga lelaki bertubuh besar itu jatuh bergulung. Click terkejut, tapi Drake ikut muncul seperti siap menantangnya.


"Hah, hah!" erang Jonathan yang pada akhirnya bangun dengan darah menetes di sudut bibirnya.


Pemuda itu menatap Eiji garang, tapi salah satu bodyguard Vesper yang paling lemah itu terlihat begitu marah pada anak ketiga Vesper tersebut.


BUAKKK! BUKK! BUKK!


"Uhuk!"

__ADS_1


"DASAR ANAK TIDAK TAHU DIRI! JIKA TAK MENGINGAT KAU ANAK NONA LILY, SUDAH KUBUNUH KAU! KUBUNUH KAU, JONATHAN!" teriak Eiji meluapkan seluruh amarahnya dengan memukul dan menendangi pemuda itu hingga Jonathan meringkuk di atas konblok.


Sierra dan Venelope tak bisa membantu karena ditatap tajam oleh para bodyguard Vesper. Eiji menarik kerah belakang baju Jonathan dan mendorongnya ke mobil. Dengan sigap, Drake membuka pintu dudukkan tengah.


BRUKK!


"Agh! Agg," erang Jonathan kesakitan karena didorong paksa hingga ia jatuh tersungkur di karpet mobil.


"Kami sangat kecewa padamu, Jonathan. Aku yakin, jika ayahmu sama kecewanya dengan kami, bahkan Charles dan Tom! Kau mengecewakan mereka semua! Kau mempermalukan nama Benedict! Pergi! Dan jangan kembali sampai kaumenyesal dengan semua yang kaulakukan pada ibumu!" teriak Eiji marah lalu membanting pintu.


Semua orang tertegun karena tak pernah melihat Eiji semarah ini sebelumnya. Namun dengan sigap, Jonathan langsung duduk dan menunjukkan wajah bengisnya di jendela mobil.


"Aku, tak akan pernah menyesal. Benar kata kak Lysa. Aku juga menganggap, Vesper telah mati! Dan aku membencinya seumur hidupku!" teriaknya lantang.


Kembali, semua orang dibuat kaget. Mereka tak habis pikir jika Jonathan tak menyesali perbuatannya. Entah apa yang merasukinya, pemuda itu seperti kehilangan akal sehatnya.


Eiji meluapkan kemarahannya dengan menembaki mobil Jonathan, meski ia tahu jika kendaraan itu anti peluru, tapi Eiji tak peduli.


Semua orang berlari menghindar termasuk Sierra dan Venelope. Click and Clack merunduk menutupi kepala mereka karena khawatir terkena peluru nyasar.


"Hah! Hah!" engah Eiji usai menggelontorkan seluruh pelurunya, tapi tak satupun mengenai tubuh Jonathan.


Pemuda itu kembali muncul dari balik dudukkan mobil yang melindunginya. Jonathan malah menunjukkan jari tengahnya ke hadapan Eiji seperti menantangnya.


Saat Eiji akan kembali menghajar Jonathan, Drake dan Seif dengan sigap memegangi kawannya itu.


Click, Clack, Venelope dan Sierra, segera masuk ke dalam mobil bergegas pergi. Eiji meraung-raung hingga seluruh otot di tubuhnya menonjol keluar.


Drake memeluk Eiji yang meneteskan air mata terlihat begitu kecewa pada sikap Jonathan yang sudah tak peduli lagi dengan ibunya bahkan menyumpahinya.


"Bisa-bisanya ... hiks, bisa-bisanya dia melupakan semua kenangan yang sudah dibangun selama bertahun-tahun hanya karena The Circle. Aku sungguh tak bisa memaafkannya, Drake. Jangan biarkan Jonathan muncul di hadapanku. Sungguh, aku akan membunuhnya," ucap Eiji terlihat begitu sedih.


Semua orang hanya bisa diam mendengar penuturan Eiji yang tak pernah mereka sangka.


Ternyata, di tempat Arjuna berada, hal sama juga terjadi.


Tora mendatangi Arjuna dan malah berkelahi dengannya. Eko ikut serta dengan terus memukuli dan menendanginya.


"Ayo! Bukannya kamu jagoan, hah? Kamu 'kan anggota dewan. Masa lawan dua orang aja gak becus!" pekik Eko menantangnya.


Arjuna yang diliputi amarah, berteriak seraya berlari ke arah Eko yang sudah siap menerima serangannya. Namun dari samping, BUAKKK!


"JUNA!" teriak Tessa panik karena suaminya ditendang dari belakang oleh Tora hingga pemuda itu jatuh tersungkur di halaman sampai jas yang dipakainya robek.


"Arghh! Sial!" teriak Arjuna marah dan kembali bangkit.


Namun, Tora dan Eko sama-sama tak mau mengalah. Mereka terus menghajar Arjuna tanpa ampun bahkan tak berjeda.


Arjuna sampai tak bisa menghindari serangan yang menghujaninya terus-menerus dari segala sisi.


Begitu ambruk, ia bangkit lagi, tapi pukulan-pukulan menyakitkan dari Tora dan Eko kembali datang padanya.


Hingga pada akhirnya, Arjuna roboh dengan wajah babak belur dan darah menetes di hidung serta mulutnya.


"Please ... stop ... kalian bisa membunuhnya ...," pinta Tessa dengan air mata sudah membasahi wajah cantiknya.


"Aku ingat betul perbuatan kejimu dulu, Tessa. Kamu bikin William bunuh ibu asuhnya, Rika. Kamu bikin William bunuh Cecil. Kamu bikin Afro jadi budak No Face. Antony Boleslav mati karena kau mencuci otak William. Kamu bikin orang-orang yang punya keluarga mati satu persatu karena kelompok parasitmu itu! Kamu seharusnya sudah mati dari dulu!" teriak Eko lantang menunjuk wanita No Face tersebut.


Tessa terlihat shock dan tertekan karena tudingan kejahatannya dulu. Tora membuka pintu mobil dan melemparkan tubuh Arjuna yang sudah tergolek lemas ke dudukkan tengah.


Eko melirik dua BIAWAK dan dua orang itu mengangguk pelan. Tessa diusir dan diancam agar tak muncul lagi di hadapan mereka. Tessa tak bisa berkata apa pun.


Wanita itu terlihat begitu sedih dan hanya bisa menangis sampai mobil yang ditumpanginya keluar dari kediaman Sanders.


Sedang di tempat Lysa berada.


Siapa sangka, Sandara nekat memukul kakak perempuannya dan keduanya malah berkelahi hebat.

__ADS_1


PRANG!!


"Agh!" rintih Lysa saat Sandara memecahkan kaca jendela mobil dengan wajah kakak tirinya.


"Mulutmu sangat tajam seperti pecahan kaca-kaca ini, Kak. Bagaimana? Sakit, ha? Hem, itulah balasannya karena kau menyakiti ibuku!" teriaknya marah seraya mendorong Lysa ke samping yang wajahnya sudah berdarah karena terkena pecahan kaca.


Kai, Han, Afro, Buffalo, James dan para Pion sampai tak bisa berbuat apa pun. Lysa yang tak terima dihajar oleh adik perempuannya melakukan pembalasan.


Aksi saling pukul dan tendang dilakukan oleh keduanya. Kai sampai gemetaran mengingat anak perempuannya sedang mengandung.


"Dara hentikan!" teriak Afro berusaha mendekat.


Namun, kakak beradik itu dengan sigap berubah lokasi saat berkelahi hingga membuat orang-orang di sekitarnya kesulitan untuk melerai mereka.


DUAKK!!


"Agh!" erang Lysa saat rambut belakangnya dijambak oleh Sandara dan dahinya dibenturkan ke kap mesin mobil.


Lysa yang sudah babak belur, terlihat tak berkutik dan mulai linglung. Ia tak menyangka, jika adik tirinya sudah menjadi gadis yang kuat entah sejak kapan.


"Kau ke mana saat aku diculik, ha? Kenapa kau tak datang menyelamatkanku?! Aku tahu, kau sibuk dengan suami bertatomu itu hingga melupakan keberadaanku. Argh!" teriak Sandara marah seraya mendorong tubuh kakak perempuannya ke samping hingga Lysa kembali jatuh tersungkur.


Napas Lysa menderu. Sandara dengan sigap mendatanginya dengan wajah bengis, tapi BUAKK!!


"DARA!" teriak Kai dengan mata melotot saat Lysa tiba-tiba saja meluncurkan tendangan kaki kirinya ke perut Sandara dan membuat gadis cantik itu langsung melangkah mundur memejamkan mata.


"Kau ke mana, saat Tobias dibunuh, ha?!" balas Lysa seraya berdiri dan kini memukul wajah Sandara kuat hingga gadis itu ambruk di halaman berumput.


"Hentikan!" teriak Han langsung berlari mendatangi Lysa lalu memegangi kedua lemgannya dari belakang.


Namun, Lysa memberontak dan malah mensikut dada Han yang terluka. Han mengerang dan jatuh memegangi dadanya yang terasa nyeri.


Lysa seakan sudah tak peduli. Sandara meringkuk di atas tanah memegangi perutnya seperti orang kesakitan hingga wajahnya berkerut.


DUAKK!


"DARA!" teriak Afro berlari kencang mendatangi calon isterinya yang perutnya ditendang kuat oleh Lysa bertubi-tubi.


"Lysa, cukup! Cukup!" teriak Pion Damian diikuti oleh para Pion lainnya yang memegangi Lysa karena wanita itu mulai menggila.


Afro segera membangunkan Sandara yang terlihat pucat. Dan benar saja, hal buruk yang ia khawatirkan terjadi. Afro melihat darah segar mengalir di antara paha calon isterinya.


"No, no, no, no, Dara!" teriaknya panik dan segera membopong calon isterinya ke mobil.


Kai dan lainnya yang melihat hal itu kaget bukan main. Buffalo dan James dengan sigap ikut ke dalam mobil untuk membawa Sandara ke rumah sakit terdekat.


Lysa melepaskan paksa cengkeraman para Pion yang memegangi tubuhnya.


PLAK!


"Hah?!" kejut Lysa saat Kai menamparnya kuat dengan mata melotot.


"Kau, keterlaluan, Lysa. Aku sungguh kecewa dan tak memaafkanmu. Kau menyakiti hati ibumu dengan menyumpahinya mati. Kau bahkan menyakiti anakku yang berusaha menyadarkanmu. Sebegitukah menderitanya dirimu karena kepergian Tobias, hem? Apa kau tak ingat, siapa yang mencoba membunuh ayahnya? Kau. Kau salah satu pembunuh Joel Ramos. Selama ini nona Lily melindungimu, memberikan aset Rose Marlena untukmu, menjadikanmu kuat dan pintar dengan menyekolahkanmu, tapi lihat balasan yang kauberikan pada ibumu, Lysa. Semoga kau tak terlambat menyesali perbuatanmu pada ibumu. Dan semoga, masih ada sisa maaf yang terucap dari mulut ibumu," ucap Kai menatap Lysa tajam lalu berpaling.


Lysa diam saja tak menjawab, tapi tak terlihat penyesalan dalam dirinya. Ia mengelap wajahnya yang berdarah dengan sapu tangan pemberian Pion Dexter.


Lysa pergi begitu saja bahkan melupakan anak perempuannya Fara yang sedang digendong oleh Yuki, menjauh dari perkelahian. Han dibantu Kai berdiri masih memegangi dadanya.


"Sudah mau mati, Pak Tua?" sindir Kai.


"Agh, sialan," geram Han kesal seraya mendorong rival seumur hidupnya itu dengan gusar.


Kai tersenyum tipis, tapi kembali mendekati Han lalu merangkul lengannya. Dua pria itu terlihat sedih dan kecewa dengan anak-anak mereka.


"Sudah waktunya, Kai. Kita harus menyingkir dari semua ini. Aku lelah," ucapnya dengan pandangan tertunduk.


"Hem. Aku setuju. Kita akan menghilang," sahut Kai dan Han mengangguk pelan.

__ADS_1


***


baiklah karena gak ada tips satu eps aja tapi lele kasih panjang nih. semoga suka dan jangan lupa boom like audio book lele ya. tengkiyuw❤


__ADS_2