4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Rampasan


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Spanyol.


"Tuan Andreas, selamat malam. Selamat datang ke kapal kumuh kami untuk kesekian kalinya," ucap Samuel mengajaknya berjabat tangan.


Namun, Andreas malah mengeluarkan sapu tangan dan mengeluarkan ingus dari lubang hidung. Pria itu memberikan sapu tangan bekas tersebut sebagai pengganti jabat tangan Samuel. Senyum Samuel sirna.


Arjuna melakukan acting-nya, tapi matanya mengawasi gerak-gerik dari pria bernama Andreas di atas kapal nelayan yang menyelamatkannya.


"Jangan buang waktuku. Mana pesananku?" tanya Andreas sembari melirik Arjuna dari tempatnya berdiri.


Samuel memberikan kode pada Jose dan pria itu mengeluarkan sebuah koper dari kotak berisi ikan dan balok es yang menutupinya. Arjuna mengawasi sembari mengepel lantai.


"Kau tahu, Jose? Meskipun kalian harus menyelundupkan pesananku, tapi sungguh, bau ikanmu itu menjijikkan," hinanya.


"Bau ikan membantu mengkamuflasekan isi dari koper ini dari anj*ng pelacak, Tuan Andreas," jawab Jose terlihat sabar akan sikap pelanggannya.


"Hei kau! Bersihkan koper itu! Bau ikan akan mencemari udara di kapalku," ucapnya menunjuk Arjuna.


Arjuna yang mengaku bernama Sea segera meletakkan alat pelnya dan berjalan tergesa mendekati Jose.


Arjuna dengan sigap membersihkan koper tersebut dengan menyemprotkan cairan pembersih lantai dan membilasnya lagi dengan air bersih.


"Limpio y huele a pino, Señor," ucap Arjuna sembari memberikan koper tersebut dengan santun dan anak buah Andreas menerimanya dengan wajah dingin.


(Bersih dan wangi seperti pinus, Tuan).


"Kau orang baru? Kau orang Asia," ucap Andreas mengamati Arjuna dari kepala sampai kaki.


"Sí, Señor," jawab Arjuna sopan.


"Oh dia ... dia pelajar yang putus sekolah. Anak dari kawanku. Setelah ayah dan ibunya meninggal, dia sebatang kara. Jadi ... saya mengajaknya untuk membantu di ka—"


"Apa aku memintamu untuk menceritakan siapa bocah ini, Miguel? Lain kali, jangan bicara jika tak kuminta. Ayo pergi," ucap Andreas mengajak anak buahnya segera meninggalkan kapal nelayan tersebut.


"Anda lupa dengan uang yang harus dibayar untuk isi koper itu, Tuan Andreas," tegas Samuel menunjuk kopernya.


Andreas tersenyum miring dan membalik tubuh diikuti anak buahnya.


"Apa kau tak tahu dari seni berdagang, Samuel? Bonus. Tiap pembeli menyukai bonus dari setiap barang yang dibelanjakannya. Selama ini aku tak pernah mendapatkan bonus darimu, jadi inilah ... bonus yang aku dapatkan. Aku, tak akan, membayarnya," jawabnya tegas, menunjuk dada Samuel dengan wajah bengis hingga pria nelayan itu hanya bisa diam menahan amarahnya.


DOR!


"Arghh!"


Mata semua orang terbelalak saat melihat salah satu anak buah Andreas roboh di lantai kapal memegangi kakinya yang terluka.


"Pay. You have to pay for it," tegas Arjuna mengarahkan pistol ke tubuh Andreas.


Semua orang di sana terkejut. Jose dan lainnya panik saat melihat Arjuna dengan santai mengancam Andreas dari tempatnya berdiri.


"Who do you think you a—"


DOR!


Samuel dan awak kapalnya langsung mundur saat melihat Arjuna menembak anak buah Andreas yang merintih di lantai tepat di dahinya hingga pria itu tewas.


Anak buah Andreas lainnya langsung mengeluarkan pistol dan mengarahkan senjata mereka ke tubuh Arjuna. Greco dan lainnya panik.

__ADS_1


"Aku peringatkan sekali lagi. Bayar," ucap Arjuna dengan bahasa Indonesia dan semua orang berkerut kening tak mengerti.


Arjuna memutar bola matanya terlihat malas.


DOR! DOR! SWING ... JLEB!


Mata semua orang melotot saat Arjuna melepaskan peluru-pelurunya sembari melemparkan pisau dari balik sepatu boots-nya ke tubuh anak buah Andreas hingga tiga orang itu tewas tergeletak di atas kapal.


Mata Andreas melotot. Dua anak buah Andreas yang tersisa melakukan aksi balas dengan menembaki Arjuna. Namun, Arjuna begitu gesit. Ia langsung bergulung ke samping mengindari peluru.


Jose dan lainnya berjongkok menutupi kepala mereka sembari melihat aksi Arjuna yang tak mereka sangka.


PLAKK!


"Ugh!"


DOR! DOR! BRUK!


Mata Andreas terbelalak dan ketakutan saat melihat anak buahnya yang memegang koper dilempar seekor ikan dan mengenai wajahnya. Arjuna menambah serangannya dengan menembak kaki pria itu hingga ia jatuh berlutut dan mengakhirinya dengan tembakan telak di mata.


Jantung Miguel dan lainnya berdebar kencang. Mereka hanya bisa menonton dan tak membantu karena shock dengan kejadian ini.


"Go! Go!" perintah anak buah Andreas mendorong punggung Tuannya agar segera meninggalkan kapal.


Andreas segera mengambil koper dari mayat anak buahnya dan berjalan tergesa meninggalkan kapal.


DOR!


"ARGGHH!" rintih Andreas saat tangannya ditembak oleh Arjuna hingga koper yang ia genggam jatuh. Andreas mengerang kesakitan memegangi tangannya yang berdarah hebat.


DUAK!


"Agh!


DOR! BRUK!


Arjuna mengakhiri nafas pria bertubuh besar tersebut saat Samuel membantunya dengan memukul pinggul belakang pria itu dengan dayung, hingga ia mengerang dan berhenti menembak.


Arjuna menggunakan peluang tersebut dengan menembak leher pria besar itu dan menjatuhkannya.


Arjuna tersenyum saat berjalan dengan santai melewati Jose dan lainnya yang masih gemetaran karena malam mencekam di kapal mereka.


Miguel menerima koper yang Arjuna lemparkan dengan wajah tegang. Arjuna mendekati Andreas dan menarik tubuhnya hingga pria tersebut kembali berdiri dan berlinang air mata karena sakit di tangannya.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Aku tak mengenalmu, Andreas. Kau masuk jajaran siapa?" tanya Arjuna berdiri persis di depannya, mencengkeram kuat jas pria tersebut.


"Jajaran? Apa maksudmu? Kau siapa?" tanyanya gugup dengan wajah pucat karena kehilangan banyak darah.


"13 Demon Heads? The Circle?"


Mata Andreas terbelalak. Ia menatap Arjuna seksama terlihat takut.


"A-apa kau salah satu dari mereka?" tanya Andreas gemetaran.


"Oh. Kau penjahat kecil rupanya. Hem, pilihan terakhir. Mati atau hidup?" tanya Arjuna melepaskan cengkeraman salah satu tangan.

__ADS_1


Mata Andreas dan lainnya melebar seketika. Mereka melihat belati yang dikeluarkan Arjuna dari pinggul samping menyala biru terang di tengah gelapnya lautan malam.


"Ka-kau ... Apakah itu ... Si-Silent Blue?" tanya Andreas melotot saat melihat senjata tajam di tangan kanan Arjuna menyilaukan mata.


"Jadi, apa pilihanmu?" tanya Arjuna menatapnya tajam.


"Hidup. Aku akan mengikutimu," jawabnya dengan nafas tersengal.


Arjuna tersenyum dan melepaskan cengkeramannya. Ia mematikan laser belati Silent Blue dan menyarungkan kembali di pinggulnya.


Namun, "ARGHHH!"


Arjuna dan lainnya terkejut saat Andreas mencabut belati tersebut. Pria itu mengerang dengan tubuh mengejang seperti tersetrum.


Jose dan lainnya kaget, tapi Arjuna tersenyum miring saat melihat Andreas menjatuhkan belati miliknya dengan mata terbelalak lebar.


"Kau sepertinya tak tahu teknis dari senjata Silent Blue terbaru. Hanya pemilik asli yang bisa menggunakannya. Hem, aku berubah pikiran. Kau sebaiknya ... mati saja," ucap Arjuna dengan senyum licik saat memungut belati miliknya dan kembali menyarungkan.


KLIK!


BYURR! DUWARRR!


"OH SHIT!" pekik Samuel saat melihat Arjuna memasukkan sebuah granat kecil ke mulut Andreas yang mengaga lebar karena dampak setrum.


Arjuna mendorongnya hingga pria tersebut jatuh dari atas kapal, tercebur dan tiba-tiba meledak.


Serpihan tubuhnya berceceran di atas permukaan air laut dan tak lama, terlihat beberapa ikan muncul untuk menyantap hidangan makan malam gratis mereka.


"Se-Sea," panggil Greco tergagap saat Arjuna berdiri di depan mereka dengan senyum tipis.


"Si-siapa kau sebenarnya? Kau berhutang kejujuran karena kami menyelamatkanmu," tegas Samuel menunjuknya dan Arjuna tersenyum.


"Aku Kim Jun Sea. Dan ... aku penasaran dengan yang kalian katakan tentang hidup mencekam di Honduras. Aku ingin melihatnya," jawabnya santai.


Samuel dan lainnya mengangguk cepat meski masih terlihat takut dengan aksi Arjuna yang tak mereka sangka.


"Oh! Bagaimana jika kita mengintip kapal milik Andreas? Aku penasaran. Ikut?" ajak Arjuna dan para pria itu mengangguk cepat seperti tak memiliki pilihan.


Mereka mengikuti Arjuna seperti anak ayam tak ingin jauh dari ibunya. Sosok Arjuna yang mengesankan di mata mereka, membuat para pria itu mengaguminya. Arjuna tak terlihat takut, gesit dan to the point dalam bertindak.


"Hem, lumayan. Jika kalian tak keberatan, aku ingin kapal ini menjadi milikku," ucapnya dengan senyum terkembang.


"Ya, tentu saja. Kau berhak mendapatkannya. Namun, bagaimana kau menghadapi anak buah Andreas? Mereka mengenali kapal ini," tanya Jose gugup.


"Pertanyaan bagus. Aku akan sangat senang menemui mereka. Apakah ... kalian bersedia membantuku? Akan kuberikan bayaran pantas untuk kalian nantinya," tawar Arjuna.


Jose dan lainnya saling melirik terlihat ragu, tapi pada akhirnha mengangguk setuju.


"Oke. Sebaiknya ... kita merayakan kesepakatan baru ini. Mari bersulang," ucap Arjuna saat ia menemukan botol Vodka dan minuman keras lainnya di meja seperti ruang tamu.


Miguel dan lainnya menerima sambutan itu dengan senyum terkembang.


***


Tengkiyuw tipsnya❤️ Alra shid borong😆 Lele padamu😍 Yg lainnya jangan lupa ya😁


__ADS_1


__ADS_2