4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Sepatu dan Sarung Tangan Robot*


__ADS_3

Minggu ketiga bulan Januari.


Usai Jonathan membuat kesepakatan terselubung dengan Sultan, pemuda tampan itu kembali ke Ceko dan menghentikan aksi brutalnya untuk sementara waktu bersama anak buahnya.


Namun, kali ini, Sierra dilibatkan. Gadis bermata biru itu pasrah ke mana pun Jonathan membawanya karena fisiknya sudah tak mampu lagi untuk melawan seperti saat ia berjaya dulu.


Venelope diawasi dengan ketat dan masih dikurung di kamar. Gadis cantik itu juga hanya bisa pasrah menerima takdirnya.


Filipina, Red Mansion.


"Kau tak bisa menggunakan alasan itu untuk meminta kaki robot padaku, Jonathan," tegas Jeremy duduk di sofa single menatap para tamunya yang duduk di depannya kecuali Click and Clack yang berdiri di belakang Jonathan, dan Sierra yang duduk di kursi roda elektrik.


"Jangan lupa, Om Jeremy. Sierra cucumu. Lalu ... kenapa kita menyebutnya kaki robot? Bagiku, itu sebuah sepatu. Siapa yang menamakan benda keren itu dengan sebutan 'kaki'?" tanya Jonathan heran.


"Ayahmu. Meski kaki robot Sierra adalah generasi baru dan berbentuk sepatu, kami lebih senang menyebutnya kaki," jawab Jeremy membantah dan Jonathan bersungut kesal.


"Sudahlah, Nathan. Itu hanya nama, bukan masalah besar," jawab Sierra menengahi.


"Kaki dan sepatu itu beda arti, Sierra. Apakah kamu menjadi bodoh dalam waktu sepersekian detik karena tak bisa membedakan antara kaki dan sepatu?" tanya Jonathan ketus menatap gadis bermata biru itu tajam.


Jeremy yang didampingi oleh dua isterinya menatap Jonathan saksama.


"Untuk apa sepatu itu, Jonathan?" tanya Rayya yang ikut memanggil sebutan sepatu robot karena tak ingin menimbulkan masalah.


"Nathan gak seneng liat Sierra pake kursi roda kaya kisah papa Erik. Jadi, balikin sepatu robot dia. Secara gak langsung, sepatu itu adalah ide Nathan. Lagian, buat apa kalian simpen sepatu itu? Ukurannya hanya pas untuk Sierra seorang," tanya Jonathan heran.


Jeremy menarik nafas dalam. Ia melihat Sierra yang duduk terlihat gugup di tengah pembicaraan itu.


"Kau tak ingat bagaimana mengoperasikan sepatu robot itu? Jari. Apakah jari Sierra berfungsi seperti seharusnya?" tanya Jeremy menatap Jonathan tajam.


Jonathan terkejut saat menyadari hal tersebut.


"Benar yang dikatakan Kakek Jeremy, Nathan. Kedua tanganku seperti orang cacat. Kadang aku kesulitan menggerakkan jariku," ucapnya seraya meraba jari-jarinya dengan tangan gemetaran.


"Kau ingin membiarkan cucumu ini tak berdaya seperti ini, hem? Kau jahat sekali, Om Jeremy," tegas Jonathan menatap pria berkacamata di depannya dengan mata menyipit.


Jeremy menarik nafas dalam terlihat tegang. Dua pria itu saling bertatapan tajam seperti saling membenci.


"Terakhir kali. Ini terakhir kalinya aku membantumu, Jonathan. Aku tak suka sikapmu yang sekarang. Kau tak seperti Jonathan yang kukenal," jawabnya seraya berdiri dan meminta Sierra ikut dengannya.


Jeremy membawa para tamunya ke ruang kerja yang biasanya di tempati oleh Vesper jika datang berkunjung.


Semua orang melihat gerak-gerik Jeremy seksama saat ia menekan sebuah cermin setinggi tubuhnya dan benda itu terbuka layaknya pintu.


Terlihat sebuah brankas besi di sana. Mata semua orang menyipit saat Jeremy menutup brankas tersebut dengan tubuhnya seakan orang-orang tak boleh mengetahui sandi khusus untuk membuka benda tersebut. Jonathan memutar bola matanya malas.


KLEK!


Praktis, mata semua orang melebar saat muncul sebuah alas berbentuk lingkaran hitam di lantai, setelah Jeremy menenteng sebuah koper berwarna hitam panjang seukuran sepatu robot tersebut. Jeremy meletakkan koper itu di atas meja kerja.


"Kemarilah, Sierra," pinta Jeremy. Sierra menggerakkan kursi rodanya mendekati sang Kakek yang terlihat masih muda.

__ADS_1


"Kau masih ingat teknis pengoperasiannya?" tanya Jeremy seraya membuka koper.


"Ya. Namun, bagaimana aku menggunakannya? Jemariku seperti sudah mengalami kerusakan syaraf," tanyanya seraya mengangkat kedua tangannya yang selalu gemetar.


Jeremy tersenyum seraya mengambil sebuah sepatu robot berwarna hitam dengan corak merah yang telah dimodifikasi tanpa sepengetahuan orang-orang.


Jeremy berjongkok dan memakaikan sepatu itu di salah satu kaki Cucunya dengan hati-hati. Ia lalu memasangkan sepatu robot lainnya di kaki terakhir.


"Berpeganglah padaku. Kita menuju ke papan itu," pinta Jeremy seraya menunjuk lantai berwarna hitam di depan cermin. Sierra mengangguk.


Sierra jalan tergopoh berpegangan erat di samping tubuh Kakeknya yang masih terlihat bugar. Sierra berdiri di atas lantai hitam bercorak tersebut. Jeremy meminta Sierra berdiri tegap, dan gadis cantik itu menurut, meski ia terlihat takut.


"Oke, gunakan ini," pinta Jeremy mengeluarkan sepasang sarung tangan robot dari lapis kedua koper bertingkat tersebut. Jonathan, Click and Clack, serta dua isteri Jeremy terlihat serius melihat uji coba itu.



"Ini berbeda dengan yang terakhir," ucap Sierra menilai saat Jeremy memasangkan sarung tangan berwarna putih tersebut.


"Ya, kau teliti ternyata. Jujur, setelah aku tahu yang Sandara lakukan padamu dari kesaksian kalian usai pengadilan, aku langsung memperbaharui sarung tangan tersebut. "Sepenuhnya, sarung tangan dan kaki, em ... maksudku ... sepatu robot," tekannya, "aku modifikasi seutuhnya dan memang hanya kuperuntukkan untukmu."


Sierra tersenyum manis mengucapkan terima kasih, dan Jeremy balas tersenyum.


"Hanya bagian telapak tangan dan jari saja yang dilapisi besi, sisanya aku gunakan kain elastis agar tanganmu merasa nyaman. Aku mencoba membuatnya seringan mungkin, tapi tetap kokoh. Hanya saja, sepatu ini jadi kehilangan kekuatannya sebagai petarung. Maaf jika ucapanku mungkin menyinggungmu," ucap Jeremy menatap Sierra lekat.


"Hem, biar kutebak. Kau membuat untuk orang cacat sepertiku? Benar 'kan?" tanya Sierra sendu dan Jeremy mengangguk membenarkan. "Aku tetap menghargainya, Kakek. Jujur, aku malah merasa ... kau lebih cocok menjadi ayahku ketimbang Tobias. Lelaki itu, aku ... jijik padanya. Dia menghamili banyak wanita demi mendapatkan keturunan Flame. Satu-satunya hal yang kubenci dari No Face dan The Circle adalah pemikiran dangkal leluhurku," ucapnya terlihat kesal hingga wajahnya berkerut.


Semua orang diam karena ini pertama kalinya mereka mendengar kesaksian Sierra tentang Tobias.


"Tapi semua hal dalam dirinya memang sebuah petaka, Kakek. Jujur, aku masih sering merasa seperti mengalami dejavu atau pengulangan kejadian saat bersama Jonathan, Click and Clack dan dirimu seperti saat ini. Seakan, Sierra yang kau sayangi mencoba mengambil alih diriku. Dia lemah, dan aku tak mau si lemah itu menguasaiku," ucapnya terlihat tegang.


Jonathan dan semua orang terdiam mendengar ucapan Sierra yang terdengar aneh, tapi jujur bagi mereka. Jeremy mengangguk dengan senyuman seraya mengelus kepala Cucunya lembut.


"Oke. Kita fokus saja dalam penggunaan alat ini. Kau siap?" pinta Jeremy mengalihkan perhatian.


Sierra mengangguk dengan hembusan nafas panjang seperti mencoba menenangkan hatinya yang tersulut emosi jika menyangkut ayah kandungnya—Tobias.


Jeremy melangkah mundur dan membiarkan Sierra berdiri dengan sepasang sepatu dan sepasang sarung robot di tubuhnya. Gadis itu menatap Jeremy lekat.


"Yang perlu kau lakukan adalah mencoba merangsang syaraf motorik di kedua tanganmu. Ini sedikit menyakitkan, tapi aku berharap, ini akan berhasil. Kau siap?" tanya Jeremy dan Sierra mengangguk gugup. Wajah semua orang tegang seketika.


"Clap your hand," pinta Jeremy seraya mempraktekkan gaya menepuk dengan kedua telapak tangan saling ditelengkupkan. Sierra melihat kedua tangan robotnya dan menarik napas dalam.


PUK!


PIP!


"Agh!" rintihnya karena terasa sakit saat ia melakukan tepukan itu. Sierra terkejut saat lampu indikator menyala biru termasuk sepatu robotnya.


"Gerakan tepuk tangan itu untuk mengaktifkan sensor gerak di tangan dan kakimu. Nah, sekarang, bagian lebih menyakitkannya. Kau tak perlu menjentikkan jari untuk menggerakkan kakimu. Aku lihat, kakimu bisa bergerak karena kandungan senyawa kimia sudah mulai memudar, meski belum sepenuhnya. Jadi, kau harus memaksanya dengan berjalan atau berlari layaknya orang normal," ucap Jeremy yang membuat mata Sierra melebar.


"Apakah bisa?" tanya Sierra dengan kening berkerut.

__ADS_1


"Kita coba saja. Aktifkan dengan melakukan lompatan kecil," jawab Jeremy seraya memasukkan kedua tangan di saku celana.


Sierra menarik nafas dalam menguatkan mental dan mengumpulkan seluruh tenaganya. Sierra mulai menggerakkan kaki robotnya yang terasa berat dan sedikit menghimpit. Ia melompat.


"Arrgghhh!"


PIP!


"Oh! Dia berhasil!" pekik Roxxane senang.



Nafas Sierra tersengal. Wajahnya berkerut dan terlihat keringat mulai nampak di wajahnya. Tubuhnya gemetaran.


"Kaki dan tanganku ... seperti tersengat," ucapnya dengan nafas tersengal.


"Ya, seperti kataku. Untuk merangsang syaraf motorikmu. Maaf, aku harus menyetrummu," jawab Jeremy tenang, tapi membuat para pendengar tegang seketika.


"Kemarilah," pinta Jeremy.


Sierra mengangguk, meski terlihat pucat. Sepatu robot itu mulai bergerak. Jeremy melihat Sierra berusaha sekuat tenaga untuk menggerakkan kaki robotnya.


"Katakan 'walk'!" seru Jeremy dari tempatnya berdiri.


"Walk!" ucap Sierra lantang.


Tiba-tiba saja, sepatu robot itu melangkah dengan sendirinya. Mata semua orang melebar, bahkan Sierra terlihat kaget karena kakinya seolah berjalan sendiri.


"Wow! Wow!" seru Sierra panik karena ia akan menabrak Kakeknya.


"Katakan 'Stop'!"


"STOP! STOP! STOP!"


PIP!


Seketika sepatu itu berhenti melangkah. Sierra terlihat shock, tapi kemudian ia tersenyum lebar.


"Aku berjalan! Terima kasih, Daddy!" ucapnya riang memeluk Jeremy, tapi sebutan baru malah muncul di sana.


Anak dari Tobias memanggil sang Kakek dengan sebutan 'Daddy'. Roxxane dan Rayya terdiam saling berpandangan. Termasuk Jonathan yang berdiri mematung mengedipkan mata terlihat kaget.


***


ILUSTRASI


SOURCE : PINTEREST & GOOGLE


Yg pd baca monster hunter, genrenya beda termasuk dimensinya. Itu novel fantasi. Jarak taunnya juga udh 10 th lebih dr 4YMS2. Baca blurb di halaman beranda novel. Itu penting krn alur udah tertulis jelas di sana. Gak ada hubungannya sama Marcopolo.


Di MH cuma disebut nama org2 di novel sebelumnya dan jenis senjatanya aja. Kan udh diinfo kalau otong, king D dll gak bakal muncul di MH termasuk para mafia dewasanya jadi jangan ditanyain. Itu lele kalo ksh info dibaca dong, gemes akuh.

__ADS_1


__ADS_2