
Begitu tiba di kediaman Andreas, Arjuna mendapat sambutan hangat dari sang isteri. Tessa terlihat begitu mencemaskan keadaan suaminya di mana hampir di setiap berita, selalu menyuguhkan nama Kim Arjuna dan beberapa mulai mengaitkannya dengan kegiatan mafia.
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Bagaimana keadaanmu? Apakah kau sudah memeriksa kandungan?" tanya Arjuna terlihat cemas.
"Belum. Namun, aku sudah membuat jadwal," jawabnya dan Arjuna mengangguk pelan.
Selama Arjuna meninggalkan hiruk-pikuk kehidupannya sebagai pebisnis, perubahan sikap dalam diri Arjuna mulai terlihat.
Tessa menyadari hal itu, dan ia terlihat bahagia karena suaminya berubah meski sedikit demi sedikit.
Arjuna menjadi seorang pria seperti yang ia harapkan selama ini, perhatian dan penuh kasih sayang. Pria itu juga mulai mengurangi sikap buruknya yang mudah tersulut emosi dan mengamuk.
Arjuna tetap mengawasi usahanya dari kediaman Andreas selama dijalankan oleh Sun dan orang-orang kepercayaannya.
Meskipun perusahaan terkena dampak dari pemberitaan yang merugikannya tersebut, tapi Sun meyakinkan jika perusahaan masih bisa diselamatkan.
Arjuna berhutang budi pada Sun di mana ia mulai menganggap anak dari agent M tersebut bukan sebagai asistennya lagi, tapi lebih seperti saudara laki-laki.
"Apa itu?" tanya Tessa saat melihat Arjuna membuka sebuah paket berisi setelan ekslusif, tapi ukurannya tidak untuk suaminya.
"Aku ingin memberikan hadiah ini untuk Sun. Aku ingin, saat anak kita lahir nanti, Sun bisa ikut berfoto bersama kita. Apakah ... Sun akan menyukainya?" tanya Arjuna terlihat cemas.
Tessa tersenyum lebar dan mengangguk pelan. Arjuna lalu melipat pakaian itu lagi dan menyimpan setelan tersebut di almarinya.
Hari itu, Arjuna bersama sang isteri pergi untuk mengunjungi rumah sakit memeriksa kandungan.
Siapa sangka, seorang anak perempuan akan hadir di tengah-tengah kebahagiaan mereka. Arjuna terlihat tak sabar menantikan momen sebagai seorang ayah.
"Kau bahagia?" tanya Tessa saat suaminya mengecup perutnya yang telah membesar.
"Ya, tentu saja. Aku akan menjadi Ayah. Kau percaya itu?" jawab Arjuna dengan senyum terkembang dan Tessa membalas dengan senyuman yang sama.
Entah apa yang menggerakkan Arjuna, ia mengambil ponselnya dan mengajak sang isteri berfoto bersama.
Tessa tak bisa menahan rasa harunya saat melihat Arjuna tersenyum pada gambar itu. Arjuna terlihat asyik saat melihat foto hasil jepretan di ponselnya selama perjalanan menggunakan mobil.
"Kita mau ke mana?" tanya Tessa bingung karena rute yang dituju bukan ke arah rumah.
"Membeli perlengkapan bayi. Aku baru ingat jika kita terlalu sibuk bekerja sehingga melupakan keperluan untuk calon anak kita," jawab Arjuna seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku jas.
Tessa terlihat sangat bahagia. Ia memeluk suaminya dari samping dengan senyum terkembang. Arjuna membalas pelukan itu dengan melakukan hal sama.
Akhirnya, mereka tiba di sebuah toko perlengkapan bayi. Simon dan Tulio terlihat sigap melindungi majikan mereka yang sedang berbelanja.
Arjuna tampak antusias saat memasukkan beberapa baju, peralatan makan, mandi dan beberapa mainan untuk calon anaknya nanti.
"Itu baru bisa digunakan ketika dia sudah berumur 6 bulan, Sayang," ucap Tessa keheranan karena sang suami sudah membeli perlengkapan bayi di atas 6 bulan.
"Kita 'kan jarang keluar. Sekalian saja," jawabnya santai seraya memasukkan sebuah box besar berisi baby chair. Tessa hanya bisa tersenyum seraya menggelengkan kepala karena tingkah laku suaminya yang tak biasa. "Hem, apa lagi ya? Huff, ingin rasanya kubeli toko ini sehingga kita tak perlu repot membawa barang-barang," ucap Arjuna seraya melihat sekitar.
"Ini sudah cukup, Sayang. Kau menghabiskan troli di toko ini," sahut Tessa seraya menoleh ke tiga troli belanja yang sudah penuh dengan perlengkapan bayi.
Arjuna melirik belanjaannya di mana para pelayan toko terlihat senang karena pelanggan mereka membeli banyak.
__ADS_1
"Begitu? Sudah cukup? Kau yakin?" tanya Arjuna dan Tessa mengangguk. Wanita cantik berambut sebahu itu menggandeng tangan suaminya menuju kasir.
Arjuna pasrah saat sang isteri telah meyakinkannya jika kebutuhan untuk sang bayi sudah cukup.
Tentu saja, Tulio dan Simon terkejut saat Arjuna meminta mereka memasukkan barang-barang yang sangat banyak itu ke dalam mobil. Keduanya terlihat bingung menata barang karena ukuran yang besar.
Arjuna enggan menunggu lama. Ia memilih untuk menikmati makan siang bersama sang isteri di restoran dekat toko perlengkapan bayi.
Tentu saja, hal itu malah membuat Simon dan Tulio panik. Dengan sigap, Simon menelepon Max untuk menyusul demi mengamankan bos mereka seraya membantu mengangkut barang belanjaan.
Max dengan sigap segera menyusul ke lokasi. Simon akhirnya memasrahkan kepada Tulio untuk memasukkan barang-barang.
Simon mengejar Arjuna dan Tessa yang sudah duduk di dalam restoran untuk menikmati makan siang.
"Akan kauberi nama siapa anak perempuan kita nanti?" tanya Tessa menatap suaminya lekat usai memilih menu.
"Hem, entahlah. Aku ... tak pandai memberi nama," jawabnya. "Kalau kau?"
"Mm, bagaimana dengan Oralie?" tanya Tessa.
"Aku malah mendengarnya oralit seperti obat diare. Yang lain. Aku takut jika orang semacam om Eko dan lainnya mendengar nama itu, akan diledek anak kita nantinya. Lihat saja namaku. Sudah jelas-jelas Arjuna, bisa berubah menjadi Junet," sahutnya berwajah kesal.
Tessa terkekeh membenarkan hal itu. Ia jadi teringat akan Eko dan geng anehnya yang suka membuat lelucon sendiri akan sesuatu.
"Hem, apa ya?" tanya Tessa seraya menopang dagunya memikirkan nama anak perempuannya nanti. Arjuna menatap wajah sang isteri lekat yang terlihat cantik tanpa make up tebal memoles wajahnya. "Oh! Bagaimana dengan Lovette? Bukankah kau suka serigala? Kim Lovette?" tanyanya dengan wajah berbinar.
Kening Arjuna berkerut. "Kau menyamakan anak kita dengan serigala?" ungkapnya tidak setuju.
Tessa terkekeh. Ia terlihat bingung memberikan nama.
Arjuna langsung memalingkan wajah. Rupanya serius seketika. Tessa meraih tangan suaminya dan menggenggamnya erat.
"Konon, aku pernah dengar. Seorang wanita bisa sulit melahirkan jika ibunya masih menyimpan marah pada anaknya. Kau tak mau 'kan, aku kesulitan saat melahirkan nanti?" tanya Tessa menatap suaminya lekat.
Arjuna melepaskan genggaman itu dan masih terlihat enggan untuk membahas sang ibu. Tessa menarik tangannya dan terlihat murung.
Tak lama, sajian datang. Keduanya terlihat menikmati makanan tersebut tak lagi membahas Vesper.
Tak lama, Simon mengabarkan jika barang-barang sudah berhasil dimasukkan ke dalam dua mobil. Arjuna dan Tessa bergegas menyelesaikan makan siang lalu pulang.
Siapa sangka, Tessa diam-diam mengirimkan pesan pada Vesper. Sayangnya, pesan itu seperti tak sampai.
Tessa lalu mencoba mengirimkan pesan pada Han, tapi hasilnya juga sama. Tessa semakin curiga. Ia berpikir jika mertuanya telah memblokir nomornya.
Namun, Tessa sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tak lagi berburuk sangka pada Vesper. Tessa mencoba menghubungi Sierra. Kali ini, usahanya berhasil.
"Nama?" tanya Sierra heran.
"Ya. Bisa kaumintakan pada Vesper? Aku ... tak tahu siapa nama dari anakku nanti," pintanya.
"Ah, baiklah. Aku ... juga belum memikirkan untuk anakku," sahut Sierra lesu. "Bahkan ... anak dari Cassie juga belum diberikan nama. Akan kutanyakan, dan ... hati-hatilah pada Miles. Dia masih mengincar kita, Tessa," jawab Sierra.
"Aku mengerti. Terima kasih. Kutunggu kabar baiknya," jawab Tessa lalu mematikan sambungan telepon saat Arjuna sedang sibuk mengamankan rumahnya dengan persenjataan demi mengantisipasi serangan Miles.
__ADS_1
Lugu Lake, China.
"Aku ingin menemui Vesper. Aku harus mendatanginya secara langsung," ucap Sierra serius.
"Kau yakin?" tanya Venelope cemas, dan Sierra mengangguk cepat.
"Sebaiknya ... kaubawa bayi Cassie. Minta Vesper untuk ikut memberikan nama pada cucu lelakinya. Kasihan, bayi itu tak memiliki nama sampai sekarang," sahut Afro dan diangguki oleh Sierra.
"Aku akan bilang pada nyonya Wen. Semoga, beliau mengizinkanmu untuk pergi," ucap Venelope dan diangguki oleh Sierra.
Ternyata, Jiao Xu Wen mengizinkan. Sierra akan diterbangkan bersama bayi Cassie menuju ke Kastil Hashirama di Jepang. Mereka akan dilindungi oleh dua anggota SYLPH.
Tentu saja, kedatangan Sierra dan bayinya membuat sang Ratu terlihat gembira. Vesper menggendong cucu lelakinya yang terlihat tampan seperti Jonathan.
Kastil Hashirama, Kyoto, Jepang.
"Nama?" tanya Vesper dengan wajah pucat dan tubuh kurus menatap Sierra lekat.
"Ya. Tessa, sebentar lagi akan melahirkan. Katanya, bayinya perempuan. Dia ingin Anda memberikan nama untuk anaknya nanti," jawab Sierra sopan dengan yukata merah muda ia kenakan.
"Ah, aku mengerti," jawab Vesper dengan senyuman.
"Kau ingin memberi nama cucu kita siapa, Sayang?" tanya Han yang ikut duduk menemani sang isteri menjadi sandaran layaknya kursi.
"Hm. Seingatku ... Tessa orang Perancis sama sepertimu. Apakah itu benar?" tanya Vesper, dan Sierra mengangguk membenarkan. "Bagaimana jika ... Loria? Yang berarti ... perempuan yang mulia. Kim Loria," tanya Vesper.
"Loria ... tentu saja. Nama yang indah," sahut Sierra dengan senyum terkembang.
Han tersenyum lebar. Ia tak menyangka jika Vesper tetap memberikan nama Kim untuk cucunya.
"Aku sebenarnya tak keberatan jika ada nama Flame di belakangnya. Namun, aku khawatir dengan masa depan cucuku. Aku takut ... jika militer mengincarnya dan membuat hidupnya tak tenang nantinya," ucap Vesper berwajah sendu.
"Saya setuju," sahut Sierra. "Dan ... apakah ... Anda bersedia untuk memberikan nama bayi Jonathan? Aku rasa Cassie tak keberatan. Setidaknya, sudah ada cadangan nama jika sampai Cassie kembali nanti, bayi ini masih belum diberikan nama oleh orang tuanya," pinta Sierra terlihat gugup.
"Ah," jawab Vesper lalu menatap wajah polos cucunya dalam gendongan. "Meilseoir Benedict."
"Meilseoir?" tanya Sierra mengulang.
"Meilseoir artinya raja. Meilseoir Benedict, raja yang diberkati. Bagaimanapun, cucuku tetap keturunan bangsawan, Sierra," jawab Vesper menjelaskan.
"Saya mengerti. Lalu ... maukah Anda memberikan nama untuk calon bayiku nanti?" tanya Sierra penuh harap. Vesper tersenyum.
"Lahirkan dulu, baru kuberi nama. Kau bisa bersabar 'kan, Sierra sayang?" tanya Vesper berkesan meledek.
Sierra tersipu malu dan mengangguk. Han terlihat senang karena Vesper kembali tersenyum tak bersedih lagi karena penyakitnya.
Sierra menatap Vesper saksama yang terlihat sudah jauh berubah tak seperti saat ia bertemu dulu.
Sierra menarik napas dalam terlihat berusaha untuk tak menangis. Entah kenapa, melihat Vesper menua, membuatnya tidak bahagia.
***
__ADS_1
uhuy makasih tipsnya Faris❤️ lele padamu💋oia mau info. lele mau fokus tamatin 4 ym jadi monster lele pending dulu ya. lele up LIH, 4YM dan red lips dulu aja. jangan lupa vote vocernya keburu angus.