
Wokeh semoga vaksin gak mengganggu jadwal up ya. Lele coba ngebut buat bayar utang episode. Kwkwkw. Trims tips koinnya. Lele padamu💋💋💋
------- back to Story :
Kediaman Sierra.
Sandara yang telah bertemu dengan Sierra dan menyatakan ucapan maaf serta terima kasihnya, hari itu kembali ke Paris untuk mengunjungi butiknya terlebih dahulu untuk mengecek perkembangan dari pesanan pelanggan barunya sebelum terbang ke Seoul bersama James serta anggota Red Ribbon miliknya.
Lucy dan Yohanes, yang awalnya menjadi asisten Jonathan, kini diminta untuk mengawal Sierra.
Gadis cantik bermata biru itu terlihat sungkan karena ia belum mengenal baik sosok Yohanes dan Lucy, tapi ia menerima itikad baik dari sang kekasih.
Hari itu, kediaman Sierra di Colmar sepi karena ditinggalkan oleh pemiliknya untuk menjalani pengobatan di Filipina, laboratorium milik Jeremy bersama Jonathan, Kai, Click and Clack, Yohanes, Lucy dan Jeremy.
Sedang Zaid dan Yena kembali ke Lebanon untuk menyiapkan pesta pernikahan mereka yang sebentar lagi akan dilangsungkan.
Butik dan Salon, Sandara Style, Paris, Perancis.
Sandara terpaksa membius James dengan memasukkan cairan tersebut ke dalam minumannya saat ia mandi.
James tertidur lelap di sofa panjang usai meneguk minuman itu dengan televisi masih menyala.
Orang-orang dari Red Ribbon tak mengetahui jika James tak sadarkan diri karena ulah Sandara.
Remaja cantik itu meyakinkan jika James kelelahan dan tertidur pulas di kamarnya.
Sandara meminta kepada semua orang agar tak mengganggu James. Ia mengajak tim penetral untuk bicara empat mata di lantai 3, ruang keluarga.
"Kau bilang apa, Nona Dara?" tanya Toras asal Papua terkejut.
"Ini masih rahasia dan aku percaya pada kalian. Aku tak lagi bisa mengoperasikan GIGA, jadi ... aku membutuhkan bantuan kalian untuk mengumpulkan bukti tentang pengkhianatan Afro kepada The Circle untuk memihak kita. Kita harus membuktikan jika Afro tidak bersalah meski kita tim netral," ucap Sandara tegas.
Para anggota Red Ribbon lainnya saling memandang terlihat memikirkan permintaan Nona Muda mereka.
"Saat aku kabur kemarin, aku menemukan jejak Afro. Sepertinya, kak Afro mengawasiku diam-diam selama ini. Hal ini bisa menjadi baik untuk kita," sambung Sandara yang memulai aksi terselubungnya.
Para tim penetral berjumlah sepuluh orang itu dari anggota Red Ribbon terkejut seketika.
"Afro meninggalkan petunjukkah?" tanya Liben asal Ambon.
"Ya. Aku mengejar sosok lelaki seperti kak Afro hingga ke seberang sungai. Namun, saat aku hampir berhasil menangkapnya, orang itu menghilang dan aku menemukan secarik kertas yang ditindih sebuah batu tepat di ujung gang tersebut. Aku tahu, jika tulisan itu sengaja ditinggalkan. Hanya saja, begitu aku membacanya, aku merobeknya karena khawatir jika jejak itu akan ditemukan oleh musuh yang masih mengincar kita," sambung Sandara terlihat meyakinkan.
"Memang, apa yang dituliskan orang itu?" tanya Bintang asal Belitung.
"Dituliskan, jika orang yang harus kita khawatirkan adalah Venelope, bukan Sierra atau Tessa. Dua wanita itu mencintai dua saudara lelakiku, Jonathan dan Arjuna. Namun, sosok Venelope tak pernah kita ketahui. Ini yang akan menjadi masalah besar," ucap Sandara terlihat serius.
"Kenapa tak minta tolong sama Sierra saja?" tanya Bonar dari Medan.
"Dia sedang menjalani pengobatan. Jangan mengganggunya. Setidaknya, Sierra bukan ancaman untuk saat ini," jawab Sandara lagi yang duduk di kelilingi para lelaki dewasa di sekitarnya.
"Lalu ... kita sekarang harus bagaimana?" tanya Amir dari Palembang.
"Kita harus temukan Tessa dan memintanya untuk membawa ke Venelope. Janjikan jika ia bisa bertemu kak Juna sebagai imbalannya," sahut Sandara tenang.
__ADS_1
"Terus kalau berhasil, lalu kita bertemu Venelope, kita akan berperang? Begitukah?" tanya Rustam dari Makasar.
"Tidak. Biarkan kak Afro yang menyelesaikannya. Satu-satunya jalan untuk membuat kak Afro kembali, dengan membuktikan jika dia ada di pihak kita. Upayanya saat bergabung ketika di Arizona kurang kuat. Namun, dengan musnahnya Venelope, itu bisa memberikannya jalan untuk pulang," jawab Sandara dengan pandangan tertunduk.
"Lalu ... bagaimana kita memberitahu Afro jika kita berhasil menemukan jejak Venelope?" tanya Uda dari Padang.
"Akan aku pikirkan. Aku yakin, jika kak Afro mengawasiku, aku bisa merasakannya. Aku akan memberikan petunjuk padanya saat kita sudah mendapatkan semua yang dibutuhkan olehnya."
"Jadi ceritanya ... kita tolongin Afro diam-diam begitukah? Ini ... menyalahi peraturan pengadilan tidak?" tanya Purok dari Balikpapan.
"Oleh karena itu, jangan sampai ketahuan. Bagaimanapun, Kak Afro sudah melakukan banyak pengorbanan untuk kita. Selain itu, The Circle dan 13 Demon Heads sudah bersatu."
Semua orang mengangguk setuju.
"Dulunya, Kak Afro dalam cengkeraman Tessa, tapi dia tertangkap saat di pulau Giamoco dan bergabung dalam pertempuran Arizona. Dia sudah berada di pihak kita, tapi entah apa alasannya, dia kabur dan menghilang lagi. Mungkin, ia takut dengan Pengadilan kita atau mungkin, dia takut akan berakhir sama seperti ayahnya, Elios," ucap Sandara yang menyamakan dugaannya dengan kesaksian Afro.
"Ya, betul juga itu. Siapa yang tak ngeri ketika lihat papa kita mati di depan mata sendiri. Liben saja mau pingsan kalau inget hal itu," sahut Liben bergidik ngeri dan diangguki oleh semua orang tanda setuju.
Sandara tersenyum tipis saat para anggotanya berhasil dihasut olehnya.
"Tapi, di mana kita bisa temukan Tessa? Orang-orang No Face ini pintar kali sembunyi," tanya Purok.
"Aku tahu," jawab Sandara tersenyum tipis.
Orang-orang dari Red Ribbon terkejut karena Sandara mengetahuinya dan merahasiakannya selama ini.
Keesokan harinya. James masih tak percaya jika dia bisa tidur lelap. Ia sangat yakin jika tak mengantuk semalam karena waktu masih menunjukkan pukul 9 usai ia mandi.
Namun, anggota Red Ribbon meyakinkan jika James tertidur pulas dengan mulut menganga. Uda menunjukkan rekaman video saat James mendengkur cukup keras dan dibagikan ke grup.
Hari itu, James, Sandara dan empat anggota Red Ribbon kembali ke Seoul sedang enam sisanya mengatakan akan pergi ke Amerika dengan alasan mengunjungi bengkel Jonathan karena tim di sana membutuhkan bantuan.
James percaya dan mempersilakan mereka untuk pergi. Penerbangan terpisah itupun dilakukan.
Sandara mengutus enam anak buahnya untuk mencari keberadaan Tessa yang ia ketahui dari pengakuan Afro saat mereka mengobrol ketika makan malam.
Saat itu, di rumah persembunyian Afro, Perancis.
"Tessa memiliki banyak hunian dan salah satunya tempat usaha berupa bar di Amerika. Kau bisa ke sana. Namun, aku tak yakin kau akan mendapatkan sambutan ramah olehnya. Jadi, berhati-hatilah. Selain itu, ini adalah tempat-tempat milik No Face yang aku ketahui dan pernah kukunjungi. Kau bisa mendapatkan petunjuk dari tempat-tempat itu. Berjuanglah, Sandara. Aku sangat mengharapkanmu," ucap Afro sembari memberikan sebuah kertas dengan banyak nama tempat di sana.
Sandara membacanya dengan seksama terlihat serius lalu tiba-tiba, ia merobeknya. Afro terkejut saat Sandara meniup serpihan kecil kertas yang diberikan olehnya hingga benda putih itu beterbangan di sekitarnya.
Sandara menatap Afro lekat dan tersenyum padanya.
"Aku sudah mengingat semuanya. Akan lebih aman jika itu tak berjejak, Kak Afro. Aku akan berusaha untuk membebaskanmu agar kau bisa kembali pada kami."
Afro begitu terharu dan berterima kasih. Ia menggenggam erat kedua tangan Sandara di atas meja makan dan mencium jemarinya lembut. Sandara tersenyum manis tersipu malu.
Di pesawat pribadi milik Kai.
"Dara? Dara? Hei, kau tak apa?" tanya James membuyarkan lamunan remaja cantik itu saat lelaki pirang berambut panjang menyenggol lengannya.
"Ya. Ada apa? Aku hanya mengantuk, tapi tak bisa tidur," jawabnya kembali beralasan dengan pandangan tertunduk agar tak ketahuan jika berbohong.
"Sudah hampir sampai. Bersiaplah. Sepertinya, serangan media dan fans akan menyambut kita di Bandara," jawab James dan Sandara mengangguk pelan.
__ADS_1
Sandara bersiap dengan kaca mata hitam rancangannya dengan kerlip pada bingkai. Terlihat memukau dan berkesan mahal karena seperti kilau berlian tabur.
Sandara mengenakan sepatu boots warna biru tua setinggi lutut dengan heels rendah berikut mantel bulu berwarna merah layaknya santa klaus.
Sebuah kaos lengan panjang menutupi leher warna hitam dan celana jeans dengan ornamen kupu-kupu di bagian pahanya.
Begitu modis karena kini ia juga menyandang sebagai designer di usia yang masih sangat muda.
Hobi menggambarnya ternyata membawanya menjadi seorang pengusaha dalam dunia fashion.
Sandara semakin terkenal setelah berita kesuksesannya tersiar di majalah, tv show dan internet.
Namanya semakin melambung tinggi dan follower-nya pun bertambah hanya dalam waktu satu malam usai peresmian butik serta salonnya kala itu.
Ditambah, Sandara mengenal Sierra yang sudah menjadi sorotan sejak namanya muncul sebagai ahli waris dari konglomerat asal Perancis yang memiliki usaha maskapai penerbangan, perkebunan wine terbesar di Eropa dan beberapa usaha franchise restauran gaya Itali di seluruh dunia.
Sierra yang dikenal cantik, pintar dan seorang sosialita, mendongkrak nama Sandara Liu yang awalnya hanya dikenal di Korea Selatan kini sudah merambah ke beberapa negara.
Kantor Management Dream High Entertainment, Seoul, Korea Selatan.
Mereka bicara dalam bahasa Korea.
"Dara!" teriak orang-orang menyambut kedatangannya dengan kemeriahan layaknya pesta.
"감사합니다," ucapnya membungkuk dengan senyum terkembang.
(gamsahabnida)
"Minggir, minggir. Wah, siapa sangka, gadis kecil jenius kita sekarang makin meroket karirnya. Semua berkat dukungan kita," ucap In Ho merangkul pundak Sandara sembari mengangkat gelas wine-nya tinggi dengan senyum merekah.
"Yey!" teriak semua orang terlihat bersemangat.
"Terima kasih," jawab Sandara sungkan. "Kalian semua telah ikut membantu mensukseskan peresmian butik dan salonku di Paris. Semoga, usahaku dengan bantuan kalian semua bisa berkembang pesat dan rencana kita untuk merambah ke negara lain bisa terwujud," jawab Sandara yang kini makin pintar bicara.
"Yey! Hidup Dara!" sorak orang-orang bergembira merayakan kesuksesan mereka melalui popularitas Sandara.
Malam itu, semua orang berpesta di kantor management lantai 7. Mereka menikmati jamuan makan dan minum hingga larut malam.
Namun, Sandara pamit lebih dulu karena merasa lelah dan harus istirahat. James dan keempat anggota Red Ribbon undur diri dari pesta meski para lelaki itu sebenarnya masih sanggup untuk melanjutkan.
Sesampainya di kediaman Vesper, Seoul, Korea Selatan.
"Aku istirahat dulu ya, Paman James, Tante Zurna. Selamat malam," ucapnya manis dan sepasang suami isteri itupun mengangguk dengan senyuman.
Sandara menaiki tangga menuju kamarnya. Senyum manisnya sirna dan kembali berwajah datar. Ia meletakkan tasnya di sofa begitu saja terlihat lesu.
Saat ia melewati cermin setinggi tubuhnya, ia diam seketika. Ia mengamati dirinya seksama dari atas hingga bawah tanpa ekspresi.
Sandara melepaskan pakaiannya dan sengaja telanjang di depan cermin itu. Ia menatap tubuhnya seksama dan berputar seperti ingin memastikan sesuatu.
"Hem. Tubuh ini ... seperti anak-anak. Tak menarik sama sekali. Mungkin karena itulah, kak Afro tak ingin melakukannya denganku. Dewasa ... sepertinya masih sangat lama bagiku untuk bisa menuju ke sana. Tubuh ini belum bisa seperti wanita dewasa pada umumnya, tapi ... aku bisa mengakalinya," ucapnya tersenyum miring lalu berpaling.
Sandara berjalan perlahan menuju ke kamar mandi dan merendam dirinya dalam bath up air hangat dan busa mewah.
Sandara mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang lelah setelah banyak kejadian menimpanya beberapa hari ini.
__ADS_1
"Tunggulah, Kak Afro. Aku bisa menjadi dewasa tanpa harus menunggu lama," ucapnya dengan senyum penuh maksud sembari memainkan busa mewah di atas telapak tangannya.