
Di tempat Sandara berada, Mombasa, Kenya.
Sandara dan tim wanita berkerudung milik mendiang Ahmed yang dipimpin oleh Valentina, telah siap menunggu salah satu kolektor asal Sudan.
Menurut cerita dari Valentina, kolektor yang akan menemui mereka adalah salah satu pria yang memiliki pengaruh besar dalam kelompok penjualan organ ilegal tersebut.
Turun-temurun, seluruh anggota keluarga pria tersebut menekuni usaha tersebut. Sandara terlihat gugup di mana ia baru mengetahui jika ada mafia besar di luar sana dan tidak masuk dalam jajaran 13 Demon Heads.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Valentina. Sudan sudah di sini," ucap salah satu anggota wanita berkerudung yang diberi nama oleh mendiang Ahmed adalah 'HURI' yang berarti cantik dan bidadari. Sandara segera bersiap dengan menunggu di ruang tamu bersama anggota HURI lainnya.
Hingga akhirnya, sosok pria yang dipanggil 'Sudan' muncul. Sandara terlihat kagum karena pria tersebut memiliki rambut panjang bergelombang berwarna putih abu-abu, tapi memiliki sorot mata yang tajam.
Terlihat, pria yang tak lagi muda itu memiliki kekuasaan dari cara berjalan, bersikap, dan cara memandang.
Bahkan kumis dan jenggotnya memiliki sebuah kesan unik karena dipangkas dengan simetris menunjukkan keangkuhannya.
Sosok Sudan, tak seperti dugaannya di mana sepengetahuannya, penduduk Sudan berkulit hitam, tapi pria di depannya ini sangat jauh dari kategori pria asal Sudan. Sandara menatap sosok baru di depannya tajam.
Mereka bicara dalam bahasa Indonesia.
"Sandara Liu?" tanyanya tanpa basa-basi dan langsung mengulurkan tangan kanan mengajak berjabat.
Sandara kembali terkejut, karena pria itu bisa berbahasa Indonesia. Gadis cantik itu tetap menunjukkan sikap santun saat menunjukkan dirinya.
Sandara mengangguk pelan dan menerima jabat tangan itu. Namun, Sandara tertegun saat tangannya dicengkeram kuat tak dilepaskan.
Sandara menatap mata pria berambut berkilau itu saksama, begitupula salah satu kolektor tersebut.
"Jadi ... tangan ini, yang membunuh Yudhi? Apa dia meninggalkan wasiat padamu?" tanya Sudan tak melepaskan kuncian pandangannya.
"Ya. Dia menghamiliku," jawab Sandara tegas.
Sudan masih menjabat tangan Sandara, tapi matanya melirik ke arah perut gadis cantik di hadapannya.
"Akan kauapakan janinmu itu? Kau biarkan hidup lalu pada akhirnya akan kaulahirkan? Atau kau akan menggugurkannya?" tanyanya penuh selidik.
"Apakah pertanyaanmu termasuk dalam salah satu isi pembicaraan kita hari ini, Tuan Sudan? Jika tidak, kita langsung saja. Kau orang sibuk, jangan membuang waktu dengan gadis kecil lemah sepertiku," jawab Sandara dengan wajah datar.
Sudan tersenyum tipis. Ia melepaskan jabat tangannya, tapi tetap berdiri gagah di depan salah satu anak Vesper tersebut.
"Aku mengagumi ibumu, Vesper. Kulihat, ada beberapa sifatnya yang menurun padamu. Hem, aku rasa ... itu hal baik. Kau memerlukannya untuk bertahan hidup, dan siapa tahu, kau akan berkuasa seperti dirinya nanti," ucap Sudan seraya berjalan menuju sofa dan duduk dengan kaki menyilang.
"Silakan," ucap Sandara mempersilakan tamunya duduk, padahal Sudan sudah duduk di sana.
__ADS_1
"Maaf jika tidak sopan. Aku hanya lelah setelah perjalanan jauh dan kekacauan yang kaubuat, Sandara Liu. Mungkin kau tak tahu, tapi aku juga harus membereskan aksi pembunuhanmu," ucap Sudan sungkan.
Sandara tak menjawab dan segera duduk dengan Valentina mendampinginya. Lama Sandara dan Sudan saling diam, tapi mata mereka berdua saling bertatapan tajam.
"Besarkan janinmu itu. Aku mau menerima anak itu nantinya dan akan kuakui sebagai salah satu keturunanku. Isteri-isteriku tak lagi bisa memberikanku anak. Sedang, aku masih menginginkannya. Terlebih, anak yang akan dilahirkan nanti adalah salah satu keturunan dari Vesper. Bagaimana? Aku membantumu menyelesaikan satu masalah. Ini, masuk dalam salah satu pembicaraan dari pertemuan kita," tawar Sudan yang membuat Sandara terdiam memikirkan penawaran tersebut.
"Apa keuntunganku?" tanya Sandara tak mau rugi. Sudan tersenyum.
"Kau bisa kembali pada kehidupan lamamu. Kembali pada kekasihmu, Afro. Aku tahu siapa dirimu, Sandara. Kau gadis cantik, cerdas, dan bertalenta. Hanya saja, nasib buruk selalu menimpamu. Namun aku jamin, kau akan aman sampai kau melahirkan nanti. Untuk sementara waktu, bersembunyilah. Kau sangat pintar melakukannya," jawab Sudan menunjukkan keseriusannya.
"Oke, aku setuju. Satu pembicaraan selesai. Apa selanjutnya?" tanya Sandara masih menunjukkan wajah datar.
Sudan kembali tersenyum, sedang semua orang termasuk Valentina dan anggotanya, terlihat tegang.
"Yudhi, meminta kami untuk melenyapkan sisa dari The Circle dan No Face. Kelompok itu, memang parasit dan benalu dalam kehidupan kami, para kolektor, secara tak langsung. Aku pernah berurusan dengan salah satu D kala itu, dan aku memutuskan untuk menyerah dan pindah. Hanya saja, berkat ibumu dan orang-orangnya, aku bisa menikmati kejayaanku kembali. Oleh karena itu, aku berterima kasih padanya melaluimu," jawabnya tenang.
"Apa imbalanku?" tanya Sandara to the point. Sudan kembali tersenyum dan masih bertahan dengan posisi duduknya.
"Pasukan wanita berkerudung akan meneruskan permintaan dari Yudhi. Kami akan melenyapkan The Circle dan No Face karena mereka sudah tak sekuat dulu. Sayangnya, Yudhi sebagai pemimpin misi telah tiada, jadi ... mau tidak mau, kau yang harus menggantikannya."
"Aku, sedang, hamil," tegas Sandara menekankan.
"Ya, itu di luar perkiraan. Namun, aku sudah memikirkan hal ini dan telah disepakati oleh para kolektor. Kau tak perlu melakukan eksekusi langsung di lapangan. Kau cukup memberi tahu kepada kami, di mana orang-orang The Circle itu. Kau tetap bersembunyi dan namamu bersih. Bagaimana?" tanya Sudan.
"Aku setuju. Lalu, di mana aku akan tinggal?" tanya Sandara dengan dua tangan saling menggenggam yang ia letakkan di atas pangkuannya.
"Jadi? Di mana aku akan tinggal?" tanya Sandara mengulang karena jawaban Sudan malah melebar. Sudan menghela napas pelan.
"Uganda. Aku memiliki sebuah hunian di sana. Kau akan pergi bersamaku ke tempat itu esok hari. Jadi, persiapkan dirimu. Malam ini, aku menginap sembari meminta beberapa informasi tentang The Circle agar anak buahku bisa bergerak lebih dahulu. Yudhi, hanya meminta waktu 3 bulan untuk penyelesaian, dan sekarang, tersisa 2 bulan," jawab Sudan dan Sandara mengangguk paham.
Siang itu, usai makan bersama, Sandara bersama Sudan, Valentina dan para anggota Huri berkumpul di sebuah ruangan.
Sandara memetakan beberapa wilayah yang ia ketahui di mana para anak buah Jonathan di tempatkan di beberapa pos darurat.
"Kau meminta kami menyerang pos darurat milik saudaramu sendiri? Kau yakin?" tanya Sudan cemas.
"Kak Jonathan tak peduli pada penderitaanku. Aku dan Yudhi sepakat saat itu untuk memberikannya hukuman. Toh, orang-orang itu bukan dari jajaran kami, jadi ... bunuh saja. 13 Demon Heads tak rugi apapun," tegasnya.
Sudan dan Valentina saling melirik.
"Lalu ... bagaimana dengan The Eyes milik Lysa?" tanya Valentina.
"Ya, mereka juga harus diberantas. Membedakan antara Black Armys, dan orang-orang The Cirlce itu mudah. Anak buah Jonathan memakai gelang pemenggal di pergelangan tangan dan kaki. Sedang The Eyes, mereka masih remaja seumuranku bahkan ada yang lebih muda lagi," jawab Sandara santai sembari menusukkan jarum-jarum pin ke sebuah peta dunia yang terbentang seperti karpet di atas lantai.
Sudan dan Valentina melihat tanda-tanda yang tersebar di seluruh dunia itu saksama. Sudan meminta anak buahnya untuk memotret peta itu setelah Sandara selesai menandai.
Sandara kembali duduk dan menikmati teh hangat dengan kue bolu di piring kecil. Sudan menatap Sandara saksama yang terlihat anggun dalam bersikap.
__ADS_1
Tak terlihat kekejamannya padahal ia tahu jika gadis kecil itu bisa membunuh tanpa belas kasih.
"Jika aku tak tahu diri, aku pasti sudah menikahi gadis cantik itu. Sayangnya, aku masih punya harga diri," ucap Sudan yang membuat Valentina dan beberapa orang yang mendengar gumanannya melirik heran.
Uganda, Lake Victoria.
Mereka bicara dalam bahasa Arab. Terjemahan.
"Oh, ayah sudah mendapatkan lokasi-lokasi itu. Hem, baguslah. Saatnya bergerak. Sandara memang cerdas," ucap seorang pria berambut abu-abu putih seperti ayahnyaāKhafi Sudan.
Pria dengan potongan model faux hawk tersebut bernama Jibran Sudan. Faux hawk adalah jenis potongan rambut dengan bagian kanan kiri sedikit lebih tipis dan bagian tengah lebih panjang ke atas. Sangat cocok diaplikasikan untuk pria muda seperti Jibran.
Saat pria muda tampan nan menawan itu keluar dari ruang kerjanya tanpa mengenakan pakaian dan membiarkan dirinya bertelanjang dada, tiba-tiba saja ....
"Tuan Jib! Kamera pengawas mendapati pergerakan mencurigakan di kawasan sekitar danau. Petugas mengatakan jika mereka seperti Black Armys milik Vesper. Bagaimana?" tanya pria berkulit hitam dan berambut tipis terlihat gugup.
Jibaran menyipitkan mata. "Pasti tiga wanita dari kelompok HURI yang ditangkap oleh orang-orang Vesper membocorkan hal ini. Biarkan saja. Aku akan pergi meninggalkan Uganda. Aku akan beritahukan hal ini pada ayah. Kalian, jangan melakukan kegiatan mencurigakan apapun. Jangan lakukan aksi balas kepada orang-orang Vesper, atau kita akan dimusnahkan oleh mereka. Kau paham?" tegasnya menunjuk.
"Ya, Tuan. Saya mengerti. Akan saya informasikan kepada seluruh pasukan," jawab pria itu sigap dan segera pergi meneruskan perintah Tuan mudanya.
Jibran segera menghubungi sang ayah yang masih berada di Kenya. Tentu saja, hal itu membuat Sudan terkejut.
"Ada apa?" tanya Sandara karena wajah Sudan berubah tegang seketika.
"Sungguh. Ada kalanya aku membenci ibumu. Dia terlalu agresif, seperti tak memberikan celah pada kami. Maaf, Sandara. Namun, kita tak jadi ke Uganda. Kau akan pergi ke rumahku yang lain, dan terpaksa, kita pergi malam ini juga. Sebaiknya kau segera bergegas," tegasnya.
Sandara terlihat tegang, tapi mengangguk. Dengan sigap, Valentina meminta kepada anak buahnya untuk berkemas.
Sandara melongok di jendela kamarnya melihat sekitar. Gadis itu lalu menutup jendela kamarnya rapat. Ia duduk di sebuah bangku dengan selembar kertas bermotif di atas meja sebagai salah satu fasilitas di Guest House.
Ia menuliskan sebuah surat dengan sandi rumput untuk seseorang dan memberikan inisial terakhir -Dara- di ujung kanan bawah kertas.
Sandara melipatnya dengan membuat bentuk burung dan menggantungnya dengan tali di jendela tersebut.
"Semoga ... kau menemukannya. Maaf, hanya saja. Aku belum bisa kembali untuk saat ini. Aku takut kau tak mau menerimaku, Kak Afro," ucap Sandara sedih dan segera berpaling dari bentuk indah origami tersebut.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Uhuy tengkiyuw tipsnyaš Brankas kosong gaes. Kode kode. Kwkwkw lele padamuš
__ADS_1