
Gaes, lele lagi edisi sedih bersama beberapa autor di MT. Judulnya pada curhat berjamaah di grup author MT karena sistem level novel di MT yang semakin membingungkan bagi kita-kita. Kwkwkw.
Jadi, lele udah memutuskan ... novel "Yes! I'm Cassanova" akan release di G00dnovel. Hanya saja di sana buka eps pakai koin. Jadi ya, begitulah. Novel yang udah release di MT tetep akan lele selesaikan.
Doakan aja semoga novel 4YMS2 ini naik level jadi 10 ngikutin semua penerusnya jangan kaya SM yang stuck di 7 dan baru kemarin naik 8 pas tamat.
Baiklah, itu aja info dari lele dan trims koinnya yang udah bantu support lele selama gak dpt jaminan gaji dari MT. Edisi Berduka dalam Senyuman.
------ back to Story :
Mereka bicara dalam bahasa Indonesia.
"Naomi ...," panggil Arjuna lirih.
Naomi langsung menurunkan kedua tangan yang menutup wajah sedihnya. Arjuna terkejut ketika melihat Naomi sungguh menangis hingga wajahnya tergenang air mata. Arjuna terdiam seketika.
"Mau apa lagi, ha? Memintaku kembali seperti dulu? Seperti saat aku akan meninggalkanmu di Yogyakarta? Setelah kau merendahkanku di kediaman Tuan Adipura? Apa kau sadar yang kau lakukan, Kim Arjuna?" ucapanya emosi.
Arjuna tertegun saat Naomi memanggil namanya seperti orang asing baginya. Jantung Arjuna semakin berdebar kencang. Rasa sesak menyelimuti hatinya.
"Apa kau mempermainkanku? Kau bagaikan menggali lubang dan memasukkan tunas di dalamnya. Kau beri pupuk dan kau sirami setiap hari hingga tunas itu menjadi pohon. Saat tumbuh besar, kau patahkan ranting pohon itu satu persatu setiap hari. Hiks, akulah pohon itu, Kim Arjuna! Kau menyakitiku dan bodohnya, kau tak sadar hal itu!" teriak Naomi meluapkan amarahnya.
Arjuna tertohok. Ia begitu sedih karena Naomi seperti membencinya. Naomi kembali menangis.
"Naomi ...."
"Pergi kau! Aku tak mau kembali padamu! Cari gadis lain saja! Cari Tessa, dia jodohmu!" teriak Naomi kesal, menampik tangan Arjuna yang berusaha menggapainya.
Arjuna tertegun akan ucapan Naomi barusan yang melibatkan Tessa. Naomi tiba-tiba melompat ke bangku belakang dan keluar dari pintu samping.
Arjuna tertegun saat Naomi berlari kencang meninggalkannya.
"Naomi!" panggil Arjuna dengan mata melotot lebar.
Ia segera membuka pintu samping mobil dan berlari mengejar sekretarisnya. Arjuna memegangi kepala belakangnya yang sakit dan terus berlari.
Hingga Arjuna menghentikan langkahnya ketika Naomi menghilang saat di tikungan traffic light.
"NAOMI! NAOMI!" teriak Arjuna memanggil namanya lantang.
Rasa kehilangan muncul di hatinya. Arjuna segera menelepon Biawak Putih untuk menjemputnya dan meminta anak buah Yusuke mencari keberadaan Naomi.
Yusuke tak menyangka jika Naomi nekat pergi dari sisi Arjuna. Yusuke mengerahkan anak buahnya. Seluruh tempat di Hokkaido di jelajahi oleh Arjuna untuk mencari keberadaan gadis cantik itu.
Hingga malam menjelang, keberadaan Naomi tak ditemukan. Udara semakin dingin dan Arjuna ketakutan karena Satelit GIGA dan Marlena tak menemukannya.
Sun mendekati Arjuna yang pada akhirnya mau kembali ke Kastil setelah didesak oleh Yusuke dan Biawak Putih.
Arjuna tak mau makan, tak mau istirahat. Semua orang mencemaskan kondisi kesehatannya yang masih masa penyembuhan dari luka di kepalanya.
"Tuan. Anda diminta oleh nyonya Vesper ke Kastil Hashirama di Kyoto. Ada hal penting yang ingin beliau bicarakan pada Anda," ucap Sun sopan.
__ADS_1
Arjuna menutup wajahnya. "Harghhh! Apa lagi maunya?!" teriaknya marah.
Sun diam menatap Arjuna seksama dari tempatnya berdiri.
"Jika Anda tak mau pergi, akan saya sampaikan."
"Wait! Hempf ... baiklah, aku akan ke sana besok dan kau, temani aku sampai Naomi kembali," tegas Arjuna menunjuknya.
"Ya, Tuan," jawab Sun mengangguk sopan.
Malam itu, setelah minum obat, Arjuna akhirnya bisa memejamkan mata. Biawak Putih mempercayakan Tuan Mudanya pada Sun karena ia akan membawa 9 anggota barunya ke Grey House, China. Sun mengangguk menyanggupi.
Keesokan harinya, Arjuna bertolak dari Hokkaido menuju Kyoto untuk menemui ibunya, Vesper, entah apa yang akan mereka bicarakan.
Arjuna menatap Sun tajam selama di pesawat di mana asisten barunya itu terlihat serius mengerjakan berkas pekerjaan peninggalan Naomi dengan laptop di hadapannya.
Arjuna mendesah malas dan berpaling. Hingga akhirnya, mereka tiba di Kyoto dan tim penjemput telah menunggu.
Konvoi mobil membawa Arjuna dan Sun ke Kastil Hashirama. Setibanya di Kastil, Arjuna langsung menghadap ibunya yang telah menunggu bersama sang ayah di ruang tamu.
Arjuna terlihat gugup dan sungkan saat duduk bersimpuh di hadapan keduanya dengan kimono hitam serta kaos kaki. Sun duduk di belakang Tuan Mudanya.
Mereka bicara dalam bahasa Jepang.
"Kau menarik perhatian, Arjuna. Wajahmu tertangkap kamera kepolisian dan kau ditandai. Beruntung, Sun segera menginformasikan hal ini pada Eiji. Kau merepotkan banyak orang," ucap Han serius menatap anaknya tajam.
"Masalah sudah beres 'kan? Kenapa masih diungkit?" jawabnya malas.
Suara Han yang menggelegar, mengejutkan semua orang, termasuk Vesper. Arjuna sampai terperanjat, ia diam seketika. Ia tak pernah melihat Ayahnya semarah ini.
"Kau mempermalukanku! Mulai sekarang, kau ubah namamu ketika di depan publik! Jangan sebutkan Kim Arjuna. Nama itu hanya untuk kegiatan legal di dunia sipil. Saat di dunia hitam, kau tak boleh menggunakannya. Sebut dirimu, The Ocean," tegas Han.
"Nama yang aneh," cetuknya.
DUAKK!!
"AGH!"
Vesper dan Sun terkejut. Han sungguh marah besar. Dia melemparkan cangkir tehnya ke wajah anaknya dan tepat mengenainya. Arjuna diam dengan wajah tertunduk. Kedua tangannya mengepal, seperti menahan marah.
"Mulai sekarang, kau dalam pengawasanku, Kim Arjuna. Meski kau anggota dewan, aku tak segan bertindak tegas padamu. Kau jadi seperti berandalan. Membuat kekacauan dan terang-terangan muncul di depan publik," ucap Han tegas melotot tajam pada anaknya.
Vesper menghela nafas panjang. Ia diam tak berkomentar dan dengan anggun menyeruput teh hijau dalam cangkirnya.
"Hem, mungkin aku seperti Mama. Mencolok, suka mencari perhatian dan berbuat rusuh. Aku 'kan anaknya. Sifat buruknya menurun padaku," jawabnya menyindir melirik Ibunya.
"Kau," geram Han menunjuknya dan langsung berdiri.
Vesper dan Sun terkejut saat Han memukuli anaknya. Arjuna terlihat berusaha melawan, tapi ternyata, kekuatannya tak sebanding dengan Ayahnya. Arjuna baban belur dan berdarah.
"Kak Han! Ya Tuhan," ucap Vesper panik langsung meletakkan cangkir tehnya dan berdiri, mendatangi suami tertuanya.
__ADS_1
Vesper memegangi Han kuat, menjauhkannya dari sang anak yang sudah terkapar tak berdaya dihajar sang Ayah.
"Kak Han, Kak Han, cukup, sudah ...," pinta Vesper mendorong dada Han kuat, menjauh dari Arjuna.
Nafas Han menderu. Vesper memeluknya erat dan malah menangis. Han terdiam, amarahnya mereda.
"Sudah, jangan pukuli anakku, kau membuat hatiku sedih. Aku melahirkannya dengan susah payah dan hampir mati, Kak Han. Jangan merenggutnya dariku," ucap Vesper sedih.
"Dia menghinamu, Lily. Meskipun dia anak kita, tapi dia anak durhaka. Tak tahu diri, sombong dan egois!" ucapnya menunjuk Arjuna meski masih memeluk isterinya.
"Jangan katakan hal buruk tentang Arjuna, Kak Han. Apa yang dia katakan benar, aku memang seperti itu. Bukan salahnya, aku yang salah karena mengandungnya penuh dengan kebencian," jawab Vesper meneteskan air mata.
Han memejamkan mata. Ia memegang wajah isterinya lembut dan mencium keningnya sangat lama. Vesper menahan tangisannya.
"Salahku. Aku yang membuat kebencian di hatimu saat itu. Maafkan aku, Sayang. Aku minta maaf," ucap Han terlihat sedih menatap Vesper seksama.
Arjuna terdiam mendengar pembicaraan orang tuanya dalam bahasa Indonesia. Sun kebingungan dalam bersikap.
Han lalu pergi meninggalkan ruangan karena takut jika tersulut emosi lagi karena tingkah laku anaknya.
Sun memberikan tisu pada Vesper dan sang Ratu menerimanya dengan senyuman.
Vesper mendatangi Arjuna dan duduk meluruskan kakinya. Vesper meletakkan kepala sang anak di pahanya. Arjuna terdiam memalingkan wajah. Sun diam menyaksikan.
"Oh, tato baru?" tanya Vesper saat melihat gambar bunga di leher anaknya.
Arjuna diam tak menjawab. Ia merapatkan kimono-nya untuk menutupi gambar itu. Vesper tersenyum tipis dan air matanya mulai mengering.
Vesper meminta kepada Sun untuk mengambilkan kotak obat ke ruang medis dan pria itu bergegas pergi.
Arjuna diam saja masih memalingkan wajah, enggan melihat wajah Ibunya yang menatapnya lekat dengan wajah sendu.
"Kau kenapa, Nak? Kau marah? Sedih? Kecewa? Karena Naomi pergi meninggalkanmu?" tebak Vesper.
Arjuna masih diam. Tak lama, Sun kembali ssmbari membawa kotak obat seperti permintaan Vesper. Sun membukanya. Ia tahu apa yang Vesper butuhkan. Vesper berterima kasih.
"Agh!" rintih Arjuna saat Ibunya mentotol lukanya yang lebam di pipi.
Arjuna spontan menoleh dan mendapati wajah Ibunya yang sedih. Arjuna diam seketika.
"Maafkan Mama dan ayah jika kau jadi seperti ini, tapi sungguh, kami berdua tak bernah berdoa atau berharap kau seperti berandalan, Sayang. Kami terlalu menyayangimu bahkan rela mati untukmu. Kau beruntung masih memiliki kami berdua atau ... kau malah sedih karena memiliki Ibu sepertiku?" tanya Vesper seperti akan menangis.
Rasa sesak kembali menyelimuti hati Arjuna. Ia menatap wajah Ibunya dalam yang terlihat sedih karena dirinya. Arjuna mendekatkan wajahnya ke perut sang Ibu dan memeluknya.
"Juna sayang Mama," ucapnya lirih.
Vesper meneteskan air mata. Sun ikut berlinang air mata, tapi cepat-cepat ia menarik nafas dalam agar tak meneteskan air mata.
"Mama juga sangat menyayangimu, Nak. Sementara ini, tinggallah bersama Mama untuk sementara waktu. Kau mau 'kan? Mama hanya ingin menghabiskan waktu denganmu, selagi masih sempat," ucap Vesper sedih sembari mengelus kepala anaknya lembut.
Arjuna mengangguk meski wajahnya tak terlihat. Vesper tersenyum senang karena anaknya menurut kali ini.
__ADS_1
Han yang mengintip di balik pintu segera pergi berpaling, membiarkan anaknya menghabiskan waktu bersama Ibunya.