4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Sebuah Penawaran*


__ADS_3


---- back to Story :


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Apa itu?" tanya Kai penasaran begitupula semua orang yang mendengar.


"Bukan apa, tapi siapa? Tobias."


"Maksudmu ... suami Lysa? Pria jelek bertato itu?" sahut Robert memperjelas.


"Ya, Tuan Robert. Tobias. Dia satu-satunya orang yang ditakuti oleh 8 Mens, No Face bahkan The Circle sendiri," jawab Afro cepat.


"Memang seberapa besar pengaruh Tobias pada jajarannya?" tanya Doug menyahut.


Afro dengan santainya menunjuk Vesper. Namun sang Ratu, malah mengedipkan mata karena bingung.


"Kau menunjukku? Kenapa? Apa ada hubungannya denganku?" tanya Vesper bingung sampai matanya melotot.


"Seperti Anda, Nyonya Vesper. Apa kau tahu julukanmu di kelompok The Circle?" tanya Afro menaikkan salah satu alisnya.


Vesper menggeleng lugu. Semua orang makin penasaran.


"Zombie. Kau manusia yang tak bisa mati. Kau hidup dari kematian berulang kali. Bahkan darahmu beracun. Entah kau tahu hal ini atau tidak, Nyonya Vesper. Namun yang kutahu, saat Tobias mengambil darahmu ketika kau disekap dulu, Venelope melakukan percobaan dengan menyuntikkan darahmu kepada kekasihnya, berharap agar dia sekuat dirimu. Namun, siapa sangka. Kekasih Venelope malah tewas mengenaskan saat itu juga dihadapannya setelah ia merobek dirinya sendiri karena tak bisa menahan sakit di tubuhnya. Aku melihat rekaman itu di perusahaan farmasi ayahku, Italia. Dan itu, sangat mengerikan, Nyonya."


Praktis, ucapan Afro membuat jantung para pendengar seakan berhenti seketika. Rasa sesak menyelimuti hati semua orang, seakan udara di ruangan itu sangat tipis dan tak bisa dihirup.


"Sayang, kau tak apa?" tanya Kai yang melihat Vesper mendadak lemas.


Semua orang terlihat cemas karena Vesper memegangi kepalanya seperti orang sakit.

__ADS_1


"Kau bisa menerima darah dari orang lain, tapi kau tak bisa memberikan darahmu ke mereka. Orang-orang itu akan mati. Entah keajaiban Tuhan seperti apa, racun dalam darahmu, telah menyatu dengan semua organ dan fungsi dalam tubuhmu hingga kau bisa bertahan sampai sekarang, Nyonya Vesper. Tuhan sayang padamu," ucap Afro dengan senyuman, tapi Vesper menggeleng.


"Sayang? Hah! Hahaha! Saking sayangnya Tuhan padaku, dia tak juga mengambil nyawaku. Kau pikir, aku menyukai keadaan ini, hem? Aku hanya berusaha bertahan karena aku belum melihat kedamaian orang-orang di sekitarku, Afro. Sepertimu, kau masih menderita. Mungkin, jika kau bahagia suatu saat nanti, terbebas dari hukuman dan belenggu dunia, aku bisa mati dengan tenang. Kalian semua membuat kuburan menolak bangkaiku. Aku ini sudah busuk, hanya saja tak tercium. Ya, kau benar, Afro. The Circle benar. Aku ini zombie," jawab Vesper sedih dan langsung beranjak dari dudukkan, keluar meninggalkan ruang perapian.


"Lily! Nona Lily! Wait!" panggil Kai lantang dan langsung berlari mengejar isterinya. Suasana hening seketika.


Di koridor.


"Aku tak apa, Kai. Sungguh. Aku hanya merasa marah. Sebaiknya kau kembali ke dalam. Aku ingin menenangkan diri dulu. Kau lanjutkan interogasi. Aku baik-baik saja," jawab Vesper sembari mendekati suaminya yang terlihat cemas dan mengecup bibirnya lembut.


Kai terlihat enggan melepaskan sang isteri yang tersenyum ketika berjalan di koridor entah menuju ke mana. Kai menghembuskan nafas panjang dan kembali ke ruang perapian.


Terlihat semua orang tegang karena Kai kembali tanpa Vesper di sisinya.


"Dia ingin sendiri. Oke, Afro. Lanjutkan," ucap Kai sembari duduk di sofa tempat isterinya duduk tadi. Afro mengangguk.


"Wait, kau bilang, Tobias. Memangnya ... kenapa dengan lelaki itu? Kenapa The Circle takut padanya?" tanya Sherly penasaran.


"Hanya itu?" tanya Doug heran.


"Tobias sangat kaya, Paman Doug. Satu rahasia besar yang kuketahui saat bersama Tessa. Tobias menanamkan sahamnya hampir di seluruh dunia, pada perusahaan-perusahaan besar dan ternama. Dan aku sangat yakin, kekayaannya melebihi nyonya Vesper."


Semua orang terkejut. Namun, kening Kai berkerut.


"Jika Tobias mengikuti pasar saham, seharusnya, namanya akan menjadi sorotan dan trending," tegas Kai.


Afro tersenyum. "Tobias menggunakan nama orang lain. Ia meminjamnya, tapi mengendalikannya. Nama orang-orang itu, sebagian telah mati, tapi kematiannya tak tercatat oleh dinas kependudukan," jawab Afro mantab.


"What?" sahut Sherly bingung.


"Tuan Kai. Bisa Anda menggunakan GIGA? Coba kau cari nama Damian Damarcos. Salah satu Mens itu telah meninggal, bukan? Seharusnya, ia sudah dinyatakan mati oleh Pemerintah," pinta Afro.

__ADS_1


Kai segera mengeluarkan ponselnya dan melakukan perintah pada GIGA. Jantung semua orang berdebar menunggu hasil. Dan benar saja, jawaban dari informasi komputer pintar itu serupa dengan Afro. Mata semua orang tertuju pada pemuda di hadapan mereka.


"Bukannya aku tak mau kembali pada kalian. Aku terpaksa mengikuti kemauan No Face karena ingin menyibak misteri yang mengganggu kedamaian dalam jajaran kita selama ini. Aku ingin kebenaran dengan menjadikanku pengkhianat. Semua yang kulakukan untuk menebus kesalahan ayahku. Sungguh, aku tak mau duduk di kursi itu, aku belum siap mati," jawabnya terlihat tertekan hingga keningnya berkerut.


Kai mendekati Afro dan memeluknya. Afro balas memeluk Kai dan meneteskan air mata. Semua orang terdiam.


"Aku tahu rasanya menjadi pengkhianat, Afro. Ya Tuhan, kukira cukup aku saja yang membuat kesalahan, tapi ternyata kau juga. Namun, tenanglah. Kami semua sudah berjanji untuk melindungimu," ucap Kai seraya melepaskan pelukan Afro dan menatapnya dengan senyuman.


"Melindungiku?" tanya Afro bingung.


"Ya, Afro. Kesaksianmu sudah di rekam dan telah didengar oleh para anggota dewan senior. Hanya saja, kau tetap harus menjalani Persidangan. Masalahnya, Sandara belum bisa dihubungi, entah gadis itu ada di mana," sahut Tuan Robert terlihat malas.


Afro pucat seketika. Ia diam sembari melihat alat pendeteksi kebohongan di atas meja dengan jantung berdebar.


"Semoga mereka tak menanyaiku. Jangan ... jangan ...," batin Afro ketakutan.


"Oia Afro. Selama kau dalam pengawasan, bagaimana jika kau membantuku menjadi asistenku. Sangat berat rasanya jika bekerja sendirian," pinta Doug yang mengejutkan pemuda berambut pirang tersebut.


"Aku? Menjadi arsitek sepertimu? Tapi, aku tak memiliki keahlian itu, Paman Doug," jawab Afro kaget.


"Kau bisa mempelajarinya sambil bekerja. Hanya dibutuhkan keuletan dan niat jika kau ingin menjadi sepertiku. Tak perlu sekolah tinggi asal kau mau berusaha. Cukup aku dan Tuan Robert yang akan menjadi gurumu jika kau bersedia bergabung denganku," jawab Doug santai.


"Ya! Aku mau! Oh! Aku sangat berharap bisa berguna ketika kembali nanti. Apapun tawaranmu akan aku terima, Paman Doug. Terima kasih sudah mempercayaiku," jawab Afro semangat dan semua orang terlihat senang.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


Pendek kan epsnya. Karena yg ngetips koin cuma 1. Kekeke😆 Tengkiyuw Sarithaa~ Lele padamu😍 dan LAP semuanya💋Oia Casanova belom bisa update. Lele gak bisa login buat setor naskah. Adeuh😩

__ADS_1



__ADS_2