
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
----- back to Story :
Usai diobati luka lebam dan lecet di wajah anaknya, Vesper meminta agar Arjuna pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
Namun, entah kenapa, Arjuna tak ingin jauh-jauh dengan Ibunya. Anak kedua Vesper tersebut ingin sang Ibu berada di sisinya sampai ia terlelap.
Vesper bersenandung, sembari mengelus kepala anaknya yang tidur dalam posisi miring karena kepala belakang bagian sampingnya sakit.
Arjuna memeluk salah satu kaki Vesper erat dengan mata terpejam, terlihat begitu tenang dan damai. Namun, saat Arjuna sudah hampir memejamkan mata, tiba-tiba ....
"King D! Jangan diambil ikannya! Nanti oma Vesper marah," teriak salah seorang wanita yang praktis, membuat Arjuna membuka matanya lebar seketika.
Vesper melirik dalam senyuman saat Arjuna masih diam saja, tapi seperti menebak, suara siapa itu?
"Eh, jangan nyemplung! Aduh ... Nona Mey! D masuk ke kolam ikan koi!" teriak gadis itu terdengar frustasi.
Vesper tertawa terbahak. Arjuna langsung bangkit seakan lupa akan sakit di kepala dan wajahnya. Ia langsung melongok dari jendela di lantai dua untuk melihat suara siapa yang di dengarnya.
Mata Arjuna terbelalak ketika melihat Naomi sedang bermain bersama King D di kolam ikan koi dan ia malah mengobok-oboknya dengan riang gembira. Otong, malah ikut serta.
"Otong! Ish! Nanti Kakak laporin ke presiden Obama loh!" teriak Naomi kesal menunjuknya yang malah ikut menangkap ikan koi tersebut.
"Kan bapak Otong emang namain pake nama presiden Amrik. Katanya, biar Otong jadi presiden kaya dia, tapi di dunia mafia. Gitu," jawabnya santai masih memakai blangkon dan surjan.
"Ya ampun! Bapak anak sama aja. Keluar cepet! Besok Kakak ganti ikannya sama piranha biar tau rasa. Bandel ya," keluh Naomi yang akhirnya mengangkat King D dari kolam, tapi anak dari Lysa-Javier malah menangis histeris karena Naomi merusak kesenangannya.
"Nah lo, nah lo, King D nangis. Sukurin, tar diomelin sama oma Vesper loh," ledek Otong malah bertepuk tangan.
"Tuan Tora! Nona Lian! Nona Rui! Nona Mei!" teriak Naomi frustasi memanggil salah satu bodyguard Vesper dan semua isteri Tora.
Namun yang terjadi, BYURR!!
"Kenapa kalian malah ikut masuk ke sini?! Kalian lebih menyebalkan ketimbang Tuan Muda Arjuna! Jika begini caranya, aku lebih baik kembali padanya daripada harus mengurus kalian! Kakak tinggal ya, biar aja dimakan sama ikan koi. Bandel semua," gerutu Naomi yang kesal karena ketujuh anak Tora malah ikut serta masuk ke kolam.
Arjuna tersenyum melihat Naomi dari kejauhan. Namun, Naomi hanya menggertak saja, ia tetap berada di sekitar kolam untuk mengawasi anak-anak itu. Ia akhirnya pasrah dan tak mengomel lagi. Vesper ikut melongok.
"Hmm, wajahmu bonyok begitu. Sebaiknya, jangan keluar dulu. Berikan Naomi waktu untuk menenangkan diri. Dia masih kesal padamu, Juna. Kau terlalu keras padanya padahal kau menyukainya. Mama tahu, jangan munafik. Kau sungguh seperti ayahmu. Katakan saja perasaanmu padanya, sebelum kau menyesal nantinya," ucap Vesper tersenyum saat wajah anaknya mendadak serius seketika.
Arjuna menoleh ke arah Ibunya yang melenggang keluar kamar dengan kimono cantik ia kenakan. Arjuna diam saja entah apa yang dipikirkannya.
Ia diam memandangi gerak-gerik Naomi yang baginya selalu membuat hatinya gembira. Naomi yang periang dan berparas ayu, serasa mendamaikan hatinya.
"Oh, cucu-cucuku ... kenapa kalian main di kolam ikan? Apa kalian bermaksud menyindirku untuk dibuatkan kolam renang?" tanya Vesper yang berjalan dengan anggun mendekati kumpulan bocah yang memenuhi kolam ikan koinya.
__ADS_1
"Oh, nyonya Vesper," kejut Naomi yang langsung membungkuk, mengenakan yukata merah muda yang membuatnya semakin cantik.
"Oma!" teriak King D yang diikuti oleh anak-anak lainnya, keluar dari kolam.
Vesper dipeluk beramai-ramai. Vesper tertawa riang terlihat begitu bahagia meski kimono-nya jadi basah. Naomi terlihat sungkan.
"Ayo, Oma mandikan. Hei, kolam ikan itu kotor, jangan masuk ke sana lagi ya. Nanti kalian bentol-bentol semua," ucapnya dengan senyuman.
"Ben-tol-ben-tol," ucap King D menirukan dengan imutnya. Vesper tersenyum lebar dan mengangguk.
Vesper lalu menggiring anak-anak itu seperti menggiring bebek menuju ke pemandian air panas didampingi oleh Naomi.
Kepala Arjuna sampai melongok keluar jendela karena sosok Naomi tak terlihat lagi olehnya.
Ketika Arjuna memutuskan tetap ingin bertemu Naomi, ia terkejut melihat Ayahnya, Kim Han Bong, muncul di depannya dengan wajah garang. Arjuna diam seketika.
GREKKK!!
Arjuna langsung duduk mensejajarkan dua kakinya dengan kedua tangan di atas lutut, terlihat gugup.
Han menutup pintu kamar anaknya rapat dan berjalan dengan sorot mata tajam mendekati sebuah meja lalu duduk di sana, mengenakan yukata hitam.
"Buatkan aku teh," pintanya melihat set teko di depannya.
Arjuna dengan sigap langsung berdiri dan membuatkan teh hijau untuk Ayahnya. Arjuna mencuri-curi pandang saat menuangkan teh ke cangkir Ayahnya. Han balas melirik anaknya dan Arjuna tertunduk seketika.
"Duduk," pinta Han tegas dan Arjuna segera duduk.
Tiba-tiba, Han menghela nafas. Arjuna menaikkan pandangannya dan menatap Ayahnya seksama yang masih terlihat muda tak seperti orang berumur 50 tahun lebih.
Han langsung meneguk habis minumannya. Arjuna masih terdiam.
"Kau benar-benar mirip denganku. Aku kira ucapan orang-orang tentang "like father like son" hanya sebuah omong kosong, tapi ternyata benar. Namun seingatku, aku tak senaif dirimu, Kim Arjuna, dan kau lebih tampan. Menyebalkan," gerutunya yang meminta dituangkan lagi karena teh di cangkirnya sudah habis.
Arjuna segera menuangkan teh hijau lagi untuk Ayahnya dan memberikan cangkir itu padanya. Arjuna masih terdiam, ia enggan untuk bicara seperti kemarin, hatinya sedang tenang untuk saat ini.
"Berapa kekurangan jumlah pasukanmu?" tanya Han sembari meraih cangkir tehnya.
"Mm, 71 orang," jawabnya lesu.
Han melirik anaknya sekilas sembari meletakkan cangkir tehnya.
"Kudengar dari Naomi, kau akan ke Amerika tadinya. Menurut kesaksian Sun dari informasi Biawak Putih, kau mengincar Philadelphia untuk merekrut pasukan."
Arjuna mengangguk membenarkan.
"Pergilah ke sana, siapa tahu kau akan beruntung, karena ... aku mendapatkan informasi dari Eiji. Pelacak anggota tim penetral Sandara, ada di kota itu. Mintalah bantuan mereka untuk merekrut pasukan sekalian mencari tahu, apa yang mereka cari di tempat itu. Aku memiliki firasat, itu berhubungan dengan ...."
"Afro."
__ADS_1
"Tessa."
Ayah anak itu saling berpandangan karena ternyata beda pemikiran. Arjuna mengira Ayahnya akan menyebutkan nama Afro, tapi ternyata Tessa. Arjuna mengedipkan mata terlihat bingung.
"Aku mendapat bocoran dari Hadi The Kamvret saat kita masih gencar mencari keberadaan Denzel Flame. William, kau ingat?" Arjuna mengangguk cepat. "Dia pernah berkunjung ke salah satu kediaman milik Tessa di kota itu. Mobil yang Tessa pesan pada Jonathan saat itu, sebuah mustang hitam yang ia serahkan pada William sebagai imbalannya, pernah dilihat oleh Hadi melintas di jalanan Philadelphia. Awalnya ia tak yakin, tapi setelah mendengar ulang rekaman pada mobil Jonathan yang mereka pasang ketika William membawanya ke apartement miliknya di Virginia, Hadi semakin yakin, jika Tessa ada di kota tersebut," tegas Han panjang lebar.
"Seandainya saja William ingat semuanya. Sayang, agent bodoh itu memilih amnesia. Dia malah main rumah-rumahan sekarang. Menyebalkan," gerutu Arjuna berguman. Han tersenyum tipis.
"Jika kau menemukan Tessa, ajak dia bekerjasama. Bagaimanapun, No Face bagian dari The Circle. Minta dia mengakui kepemimpinan Jonathan sebagai pemimpinnya sekarang," tegas Han sembari mengetukkan bibir cangkir tehnya dengan dua jari dan Arjuna sigap menuangnya lagi.
"Haish. Jujur Ayah, mengakui Jonathan sebagai pemimpin The Circle sebenarnya masih sulit bagiku, ditambah kini kau menyangkut pautkan Tessa. Kau bermaksud menjodohkanku dengannya? Kenapa harus dia?!" tanya Arjuna mulai menaikkan intonasi terlihat jengkel.
Han melirik anaknya tajam, Arjuna kembali diam dan duduk dengan manis. Han meneguk tehnya sedikit dan kembali meletakkannya perlahan.
"Mengamankan dan menguatkan posisimu sebagai anggota dewan. Kau butuh Tessa sebagai penyokongmu. Selain itu, Tessa cantik, kaya, pintar dan licik. Sangat cocok denganmu. Dan yang paling penting, dia mencintaimu," tegas Han.
"Tapi aku tak mencintainya, Ayah," tolak Arjuna.
"Oh ya? Kau yakin? Kulihat kau menikmati ciuman yang Tessa berikan saat itu di mansion Ramos," sindir Han.
Arjuna terdiam dan memalingkan wajah, ia terlihat malu. Han tersenyum tipis.
"Kau bisa perlahan mencintainya ketika kau sudah menikahi dia nanti," ucap Han santai sembari meneguk habis tehnya. Mata Arjuna melotot.
"Me-what? Menikahinya? Kenapa aku harus menikahinya?"
"Anggaplah seperti ... barter. Aku yakin, Tessa akan menanyakan hal itu padamu. Kau tiba-tiba datang ke kotanya, lalu bertemu dengannya. Kau mengatakan sedang menghimpun pasukan untuk memenuhi syarat sebagai anggota dewan 13 Demon Heads. Aku yakin, Tessa akan memberikan anak buahnya padamu. Namun, dia pasti akan meminta imbalan. Lalu ... kau tahu 'kan apa yang harus ditawarkan padanya?" tanya Han tersenyum miring.
"Hem. Menikah dengannya," jawab Arjuna lesu dengan pandangan teralih.
"Good. Jika kau merasa bersalah dengan sikapmu padaku dan ibumu, nikahi Tessa. Minta pasukan No Face dalam genggamannya mengakui kepemimpinan Jonathan termasuk Tessa. Sebagai bukti jika Tessa dan anak buahnya bersedia bergabung, ambil seluruh pasukannya, jadikan No Face Tessa dalam genggamanmu. Kontrol mereka dengan dirimu sebagai jaminannya. Kau paham, Kim Arjuna?" tegas Han menatap anaknya tajam.
"Yes, Father."
"Aku bisa melihat, kau akan menjadi salah satu anggota dewan yang memiliki kekuasaan besar dengan Tessa di sampingmu. Ingat, kita mafia, tak semua gadis bisa bersanding dan sejajar dengan kita. Bahkan, Naomi sekalipun. Ingat posisinya, Kim Arjuna. Naomi, hanya bodyguard-mu, ia ... seperti Kai. Apa kau ingin mengulang cerita?" tanya Han berkesan menyindir penuh penekanan, sembari berdiri perlahan menatap anaknya tajam.
"Itu tak akan pernah terjadi," jawabnya tegas. Han tersenyum.
"Good luck, Son."
Han menepuk salah satu pundak anaknya dan pergi meninggalkan Arjuna di kamarnya untuk merenung. Arjuna melongok ke luar jendela, memikirkan ucapan ayahnya.
"Ya, apa yang dikatakan ayah benar. Hanya Tessa yang pantas bersanding denganku, bukan Naomi. Dia ... hanya asisten," ucapnya tegas.
***
Makasih tipsnya. Lele padamu💋💋💋
Oia yg Casanova, bukan pindah ya tapi menambah daerah kekuasaan. Jangan disalah artikan apalagi dibumbu2i. Gak suka lele bacanya. Oke?! Dan makasih yg udh dukung dimanapun lele berada. Tengkiyuw😍
__ADS_1