4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Doktrin*


__ADS_3


Sore hari menjelang malam.


Pesta dilangsungkan di pinggir pantai. Acara malam lebih santai. Terlihat, anak-anak berlarian di pasir menikmati suasana. Alunan musik membuat beberapa orang berjoget di depan panggung bahkan ada sesi karaoke.


Tobias, membidik Sierra yang terlihat romantis dengan Jonathan yang duduk di karpet lesehan.


Click and Clack duduk di sebuah meja bundar dengan Venelope ikut bergabung. Kelompok tersebut terlihat memisahkan diri dari lainnya.


Pria bertato itu mendatangi Sierra dengan langkah gusar. Ternyata, pergerakan itu disadari oleh kubu Jonathan, meski pemuda itu tetap terlihat santai saat membaringkan tubuhnya seraya memegang gelas cocktail yang ia letakkan di atas karpet.


"Kau menghamili anakku, Keparatt tengik?" tanya Tobias to the point.


"Yes," jawab Jonathan santai masih tak menatap Tobias.


Sierra ikut memalingkan wajah terlihat enggan bertatapan dengan sang ayah. Click and Clack berdiri mendekat dan kini mengapit Tobias di kanan kirinya.


"Ini, urusan keluarga. Jangan ikut campur," tegasnya melirik dua algojo itu bergantian.


"Kami tahu. Kami hanya ingin memastikan kau tak membuat gara-gara, Toby," jawab Clack menatap pria bertato itu tajam.


"Aku tak masalah mengandung anak Jonathan. Toh, aku memang mencintainya. Tak ada salahnya meneruskan keturunan Flame. Selain itu, Jonathan memang pemimpin sah," sahut Sierra yang membuat Tobias langsung menatap anak gadisnya tajam.


"Apa kautahu jika si brengsekk itu menghamili Cassie? Kausadar konsekuensinya jika Cassie tahu?" tanya Tobias menegaskan.


"Aku yang menghamili mereka, kenapa kau yang cerewet? Jangan ikut campur," imbuh Jonathan melirik Tobias sinis.


SRAKK!!


"Agh!" erang Jonathan karena Tobias menggunakan kakinya untuk melemparkan setumpuk pasir ke arah pemuda bertato itu hingga butirannya mengenai mata serta minumannya. "Dasar gila! Cari mati!" pekik Jonathan kesal.


GRAB! PRANG!


"Agh!"


"Jonathan!" teriak Sierra panik karena Tobias dengan sigap mengambil gelas Jonathan dan ia gunakan untuk memukul kepalanya, hingga pemuda itu semakin kesakitan.


Click and Clack yang tak menyadari pergerakan itu memegangi kedua tangan Tobias erat dan menjauhkannya dari Jonathan.


"Itulah sebabnya aku tak sudi menganggapmu Ayah! Kau bar-bar, tak beretika seperti Cassie! Seharusnya, yang pantas menjadi anakmu itu Cassie, bukan aku!" teriak Sierra marah karena mata Jonathan menjadi merah.


Venelope membantu Jonathan untuk berdiri dan segera pergi dari tempat itu untuk diobati. Yu Jie yang ikut diundang, dengan cekatan membawa Jonathan ke ruang medis. Sierra, berdiri di hadapan sang ayah dengan napas memburu.


"Pergi dari kehidupanku. Aku tak pernah menginginkanmu. Sebuah kesalahan terburuk dalam sejarah keluarga Flame, aku lahir dari bibitmu yang menjijikkan," ucapnya keji.


Semua orang yang mendengar ucapan Sierra terdiam bahkan Lysa sampai menutup mulutnya karena tak menyangka dengan perkataan dari anak kandung Tobias yang tak segan menghujat sang ayah.


Pria bertato itu terlihat lemas usai mendengar penuturan sang anak yang selama ini ia lindungi dan kasihi.

__ADS_1


"Kau membenciku?"


"Sangat. Aku bahkan muak melihatmu. Mendengar namamu saja rasanya ingin muntah. Sebuah keberuntungan, Lysa tak terjangkit penyakit menular. Entah kau meracuni wanita itu dengan apa, tapi sepertinya dia lupa, jika suaminya adalah budak sekss dari para wanita Flame. Menjijikkan," tegas Sierra lalu berpaling dan pergi begitu saja dari keramaian.


Tobias berdiri mematung. Click and Clack melepaskan cengkeramannya dan ikut pergi. Lysa segera mendatangi suaminya yang kini dipandangi semua orang, mencoba menenangkannya.


Di kejauhan, Sandara yang ikut mendengar tersenyum miring di balik gelas mocktail yang sedang ia teguk.


"Kaudengar sendiri 'kan, King D. Seperti apa ayah tirimu itu. Bahkan anak perempuannya saja tak sudi mengakuinya. Dia adalah aib, pembawa petaka dan harus, di-mus,nah-kan," bisik Javier dan King D mengangguk pelan melihat Tobias pergi dari acara pantai bersama Lysa.


Bayi Fara terlihat nyaman dalam dekapan sang nenek seraya menikmati potongan buah segar di mangkuk. Fara mengambilnya dengan tangan mungilnya dan langsung memakannya.


Vesper seakan tak mendengar perselisihan itu. Ia begitu menyayangi cucunya dan selalu menggendongnya ke mana pun. Han juga memilih bermain dengan cucunya ketimbang ikut campur dalam masalah keluarga bencana itu.


Keesokan harinya.


Para tamu undangan pamit setelah puas menikmati acara di pesta pernikahan Yuki-Torin di kediaman Giamoco.


Dua mempelai mengucapkan terima kasih atas kehadiran para tamu yang ikut memeriahkan acara pernikahan mereka.


Mobil silih berganti meninggalkan mansion dengan penjagaan ketat sesuai dengan jadwal. King D memeluk ayahnya erat karena ia akan tinggal bersama Lysa selama satu minggu di Jerman.


Vesper terlihat tak rela berpisah dengan cucunya yang menggemaskan. Namun, Lysa mempersilakan Vesper untuk berkunjung saat menjemput King D nanti. Vesper berterima kasih.


Kediaman Marlena, Jerman.


Siapa sangka, didikan Javier kepada anak lelakinya cukup melekat kuat. King D hidup dengan teratur selama tinggal di Jerman bersama sang Ibu.


Lysa bahkan merasa malu karena King D sudah bisa membaca Al-Quran dan suaranya terdengar begitu merdu.


King D tak keluar kamar usai sholat magrib dan baru keluar untuk makan malam usai sholat isya. Sungguh, ajaran mulia dari didikan sang Ayah.


"Hai, D. Apa yang kaubaca?" tanya Lysa mendekati sang anak saat ia akan tidur, tapi menyempatkan membaca sebuah buku cerita dengan gambar ilustrasi berwarna.


Namun dengan cepat, King D menutup bukunya dan menyembunyikannya di belakang bantal tidurnya. Lysa menatap King D saksama yang terlihat gugup ketika ia duduk di samping ranjang.


"Kenapa kau sembunyikan? Mimi ingin tahu buku yang kaubaca," tanya Lysa curiga.


"Hanya buku dongeng anak-anak. Aku bisa membacanya sendiri, tak perlu kau bacakan, Mimi," jawab King D sopan.


Lysa tersenyum seraya mengelus kepala anaknya lembut.


"Apa ... kau bahagia tinggal bersama Baba?" King D mengangguk pelan.


"Baba mengajarkan D banyak hal. D bisa menunggangi unta dan juga kuda, meski D belum diajarkan bagaimana bertarung dengan senjata," jawabnya yang membuat Lysa terkejut. "Kata Baba, D adalah penerus Sultan. D harus menjadi pria yang tangguh dan cerdas, melebihi Baba nantinya. Jadi, D harus bekerja keras untuk bisa mewujudkan harapan Baba," jawabnya serius.


"Siapa yang mengajarimu bicara seperti ini?" tanya Lysa merasa anaknya seperti dewasa belum waktunya.


"Habib, Hakim, Sauqi, dan guru-guru terbaik yang ada di Timur Tengah. Semua Baba datangkan untuk mengajari D. D senang belajar. Kata mereka, bertutur dan bersikap yang baik, membuat D dihormati banyak orang, dan hal itu penting sebagai penerus kerajaan," ucapnya yang membuat Lysa melongo.

__ADS_1


"Apakah ... kau sering bermain dengan Baba?" tanya Lysa penuh selidik.


"Ya. Baba mengajak D berkeliling wilayah dengan menaiki Pony tiap sore, itu menyenangkan. Menyapa orang-orang yang membungkuk hormat pada kami berdua. Sering D diberikan buah-buahan oleh para petani ketika musim panen tiba. Baba juga sering bercerita di tepi sungai. D senang saat melihat orang-orang mencium tangan Baba. D bisa melihat jika Baba sangat dihormati dan disegani. D ingin suatu saat nanti, saat D berjalan di depan orang-orang, mereka mencium tangan D," ucapnya bangga membayangkan masa depannya ketika besar nanti. Praktis, Lysa terdiam.


"Maksud Mimi ... bermain seperti saat di rumah Paris dulu. Kita dulu memiliki ruangan besar penuh dengan permainan. Kau ingat?" tanya Lysa. King D menggeleng pelan. Kening Lysa berkerut. "Kau tak ingat?"


"Baba pernah mengatakan seperti ini kepada D. Jika Mimi meragukan cara mendidik anak dalam asuhan Baba, Mimi diminta untuk berbicara langsung dengannya, bukan melalui telepon atau video call, tapi bicara langsung. Sebagai bentuk sopan santun dan silaturahmi. Bagaimanapun, Mimi adalah isteri Baba, dulunya, sebelum Tobias datang dan merenggut semuanya," ucapnya yang membuat Lysa semakin yakin jika ucapan Tobias benar.


"Oke. Sekarang tidurlah, sudah malam. Besok pagi, kita berenang," ajak Lysa dan King D mengangguk menurut.


King D berdoa sebelum tidur, bahkan ada doa lain yang ia panjatkan. Lysa semakin merasa jika Javier mendoktrin anaknya.


"Ya Allah, muliakanlah Sultan dalam keagungan-Mu. Hindarkan kami sekeluarga dari petaka yang akan Tobias lakukan bersama orang-orangnya nanti. Musnahkan mereka, Ya Allah. Biarkan mereka hidup di neraka untuk selama-lamanya dan jangan pernah angkat mereka ke surga. Amin."


Mata Lysa terbelalak lebar. King D menarik tangan Lysa dan meminta sang Ibu mengelus kepalanya.


Lysa tersenyum paksa, meski jantungnya berdebar kencang seperti akan meledak mendengar penuturan sang anak.


Lysa yakin, doa itu selalu diucapkan oleh King D karena ia begitu fasih dan khusyu dalam mengucapkannya.


Lysa mengelus kepala anak lelakinya penuh kasih sayang hingga mata King D terpejam. Lysa yang penasaran dengan buku dongeng tersebut, mengambilnya diam-diam agar D tak terbangun, dan Lysa berhasil.


Lysa menjauh dari King D dan membacanya di sebuah sofa seraya menatap sang anak yang tertidur pulas. Lysa membuka lembar pertama buku itu, dan seketika, matanya terbelalak lebar.


Lysa merasakan dadanya sesak membaca kisah dari dongeng tersebut hingga lembar terakhir. Ternyata, isi dari buku itu adalah kebiadaban Tobias kepada dirinya dulu.


Seakan, semua isi hati Sultan ditorehkan dalam dongeng tersebut. Lysa membungkam mulutnya rapat dengan air mata menetes begitu saja saat ia akhirnya tahu, alasan perubahan sikap dari anaknya tersebut.


"Javier," ucap Lysa menahan tangisannya.


Lysa melihat di bagian belakang buku tersebut terdapat catatan Sultan.


"The Cirlce adalah petaka. Lucifer Flame dan keturunannya adalah syetan di bumi dan harus dilenyapkan. Sultan dan para penegak keadilan terpilihnya, akan memberikan hukuman bagi para pendosa, seperti Tobias Flame."


Lysa tak sanggup berada di ruangan yang terasa seperti menghimpitnya. Ia berjalan dengan tergopoh seraya kakinya kehilangan kemampuan. Lysa menyelipkan buku itu lagi perlahan di balik bantal sang anak.


Lysa keluar dari kamar dan menutup pintu King D rapat. Napas Lysa terengah. Ia segera berjalan dengan tergesa menuju ke dapur untuk minum agar hatinya kembali tenang.


Buku yang ia baca, berikut penuturan King D serta sikapnya, membuat hati Lysa begitu sakit karena Javier memupuk kebencian dalam diri King D.


Meski yang tertulis adalah benar, tapi penyampaian Javier seperti sebuah teknik cuci otak. Lysa tak menyangka, jika dendam Javier ikut menyeret sang anak dalam lingkaran kebencian itu.


"Apa yang harus kulakukan?" tanya Lysa sedih berbisik.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1



Uhuy tengkiyuw tipsnya. Lele padamu❤️


__ADS_2