
Kematian Tora meninggalkan duka yang mendalam. Sayangnya, jenazah Tora sangat sulit untuk didapatkan pihak Vesper, mengingat Lysa ternyata dikenal oleh beberapa pebisnis Jepang yang mengaku pernah melakukan kerjasama dengan perusahaannya di Jerman.
Sayangnya, Lysa seperti orang depresi. Ia tak bisa ditemui oleh sembarang orang kecuali pihak kepolisian dan juga petugas yang ditunjuk.
Psikiater bahkan didatangkan untuk menyembuhkan traumanya, tapi Lysa mengurung diri di kamar perawatan salah satu fasilitas di rumah sakit Jepang kota Shizuoka.
Lysa juga sangat sulit untuk dimintai keterangan perihal kejadian di Suruga Bay, Jepang.
Lysa menutup diri bahkan tak sungkan mengamuk saat dirinya merasa seperti dipaksa untuk mengakui sesuatu.
Namun siapa sangka, para Pion malah bertemu dengan Agent M dan S saat mereka memiliki ide yang sama untuk membebaskan Lysa serta mengambil abu Tora yang telah dikremasi.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
"Akan aku jelaskan nanti," ucap Lian dengan pakaian casual.
Agent M dan S mengangguk pelan. Timnya telah bersiap di luar rumah sakit untuk mengamankan sekitar jika usaha mereka untuk membebaskan Lysa gagal.
Saat mereka akan memulai aksinya, Pion Darwin memberikan informasi mengejutkan.
"Tahan! Aku kenal orang-orang itu," ucapnya yang membuat Agent S dan M yang telah siap untuk menyelinap masuk melalui pintu evakuasi langsung menghentikan langkah.
"Ada apa?" tanya S berbisik dari sambungan radio pada earphone-nya.
"Mereka orang-orang dari perusahaan di Jerman. Sepertinya, mereka datang untuk membebaskan Lysa," jawab Darwin.
M dan S saling memandang. Mereka yang awalnya tegang karena mengira kedatangan musuh, kini bernapas lega.
"Tarik semua tim," titah M.
"Roger that," jawab Pion Darwin yang diteruskan ke seluruh sambungan.
Sedang tiga isteri Tora berhasil menyelinap ke tempat penyimpanan abu bagi jenazah yang telah dibakar. Rui meneteskan air mata saat ia memegang keramik berisi abu dari sang suami.
Mei berusaha menenangkan hati saudarinya yang dirundung duka. Lian berjaga di luar pintu untuk memastikan tak ada penjaga yang akan memergoki mereka.
"Cepat," pinta Lian saat mendengar suara langkah mendekat ke posisinya.
Tiga isteri Tora yang menyamar dengan mengambil seragam perawat rumah sakit, bersikap normal saat berpapasan dengan pasien dan juga petugas medis lainnya.
Tiga wanita cantik itu berhasil sampai ke lokasi parkir dan masuk ke mobil.
"Bagaimana dengan misi Lysa?" tanya Mei menatap Pion Dakota yang menjadi sopir mereka.
"Lysa dibawa pergi oleh orang-orang dari perusahaan Jerman. Biarkan saja, tak usah ikut campur. Sebaiknya, kalian segera kembali. Tugas berat menanti kalian. Anak-anak pasti akan menanyakan tentang ayahnya. Pikirkan alasan logis dan tak menyakiti perasaan mereka saat waktunya tiba untuk menjelaskan tanpa menimbulkan dendam baru," jawab Dakota tenang.
Tiga isteri Tora mengangguk pelan, meski masih terlihat sedih. Dakota membawa mereka bertiga kembali ke Kastil Hashirama yang berada di Kyoto, Jepang dengan Agent M, Agent S dan Pion lainnya ke kediaman milik mendiang ayah dari Vesper.
Kabar duka tersebut membuat seluruh orang dalam jajaran Vesper berkumpul di Kastil Hashirama. Mereka ingin memberikan penghormatan terakhir kepada Tora.
Tentu saja, anak-anak Tora menangis sedih karena kehilangan ayah mereka. Lian, Mei, dan Rui terpaksa berbohong dengan mengatakan jika Tora sedang memancing menggunakan kapal dan mesin rusak sehingga meledak.
Kabar yang mereka lihat di televisi adalah benar, tapi siapa wanita yang disebut Lysa, tiga isteri Tora mengatakan jika dia adalah turis yang berkenalan dengan ayah mereka sebelum ledakan terjadi.
Lian, Mei dan Rui mengaku bersama ayah mereka, tapi menunggu di pantai untuk menyiapkan tenda. Siapa sangka, kejadian naas merenggut nyawa sang ayah.
Tiga isteri Tora terpaksa berbohong karena ingin menghentikan rantai dendam yang mungkin tak akan pernah berujung jika diteruskan.
Mereka akhirnya merelakan kepergian Tora meski kematiannya tragis, begitupula semua orang dalam jajaran Vesper.
Vesper bersikeras ingin melakukan penghormatan terakhir kepada salah satu bodyguard yang telah berjasa pada keluarganya sejak mengikuti sang ibu—Jiao Yu.
__ADS_1
"Aku harus pergi, Kai. Bagaimanapun, ini salahku. Aku yang membuat Tora meninggal secara tak langsung. Kumohon, izinkan aku pergi," pinta Vesper sangat meski wajahnya pucat dan tubuhnya mengurus.
Dengan berat hati, Kai mengabulkan permintaan sang isteri. Penjagaan ketat untuk melindungi Vesper diberlakukan sejak sang Ratu meninggalkan Lugu Lake hingga menyeberang ke Kyoto, Jepang.
Sayangnya, dari keempat anak Vesper, tak ada satu pun yang datang untuk pemakaman. Kebencian kembali timbul dalam hati para mafia jajaran 13 Demon Heads.
Empat orang itu tak terlacak dan tak diketahui kabarnya termasuk Click and Clack yang terakhir kali menemui Jonathan untuk menyadarkannya.
Bahkan, Arjuna juga sepertinya tak peduli jika Tora meninggal padahal Sun ada bersamanya. Namun, kejadian sebenarnya, Arjuna dan keluarganya dalam posisi genting di mana Miles kini mengincar nyawanya.
"Sun! Amankan Tessa sekarang juga! Berjanjilah padaku kau akan melindunginya dengan nyawamu!" seru Arjuna lantang dengan pistol dalam genggaman saat mansion yang ditinggalinya diserang oleh mantan anak buahnya sendiri—Bala Kurawa.
"Akan kulindungi dengan nyawaku. Ayo, Nyonya! Kau pasti bisa! Kita harus segera pergi dari sini!" seru Sun di tengah derasnya hujan malam itu yang mengguyur wilayah Hong Kong.
Tessa menarik napas dalam seraya memegangi perutnya yang telah membesar dan sebentar lagi akan melahirkan. Diperkirakan, Tessa akan melahirkan pada bulan Oktober.
Wanita cantik itu menyenderkan punggung pada dinding rumahnya saat tiba-tiba saja, rumah milik Kim Han Bong tersebut diserang ketika mereka tertidur lelap.
Beruntung, alarm peringatan terdengar dari tangkapan sensor gerak dan suhu panas manusia saat para penyerang memasuki wilayah luar mansion.
Sayangnya, jumlah para penyerang lebih banyak ketimbang para penjaga mansion tersebut.
"Sun! Ringgo siap mengevakuasi kita dengan kapal! Ia sudah menunggu di dermaga. Cepat!" seru Jose mengabarkan dari ponsel dalam genggaman.
"Oke!" jawab Sun mantap dan terlihat siap untuk mengamankan orang-orang Andreas bersama Tessa untuk pergi meninggalkan mansion.
Simon dan Tulio tetap bersama majikan mereka untuk melindunginya. Tessa dipakaikan rompi anti peluru oleh Max karena serangan dari kubu Miles gencar dilakukan sehingga mereka tak memiliki celah untuk menyelinap.
"Aku siap, Sun," ucap Max dengan granat tabung dalam genggaman siap untuk dilemparkan.
Sun menarik napas dalam dan, "Go! Go! Go!"
Namun, usaha apa pun yang mereka lakukan, kubu Miles telah melihat pergerakan orang-orang itu.
"Now, Max!" seru Sun lantang dengan terus berlari.
SWING! KLANG! PIPIPIPI!
"Granat tabung!" seru salah satu anak buah Miles yang menyadari jenis senjata itu.
Benar saja, suara memekakkan telinga membuat orang-orang dari kubu Miles langsung berlari menghindar.
Sayangnya, mereka tak tahu jika jenis granat tabung itu adalah generasi terbaru. Sensor pada peluru yang terlontar membidik suhu panas manusia.
Orang-orang Miles yang masuk dalam jangkauan peluru mematikan tersebut, tak bisa mengelak meski mereka sudah berlindung dan tiarap.
SHOOT! SHOOT! CRATT!
"Agh!"
"Ba-bagaimana bisa?!" pekik salah satu penyerang saat melihat sebuah peluru keluar dari lubang tabung tersebut dan menembus dagingnya.
Suara erangan kematian terdengar bersahut-sahutan. Orang-orang itu tewas mengenaskan satu per satu.
Sun yang telah menyiapkan senjata itu sudah mengantisipasi saat ia mengetahui jika Miles akan melakukan penyerangan terhadap orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads.
Kai yang saat itu menyadari jika Jonathan melakukan pembelian besar-besaran, meminta kepada Dominic agar memberikan stok lama kepada anak ketiga Vesper tersebut.
Hanya orang-orang kepercayaan Vesper yang tahu jika banyak senjata mereka telah dilakukan modifikasi.
Sedang orang-orang The Circle, anak-anak Vesper, bahkan anggota dewan tak mengetahui hal tersebut.
__ADS_1
Vesper sengaja merahasiakan hal tersebut untuk meminimalisir pengkhianat dalam kubunya. Ia tak ingin, kejadian masa lalu terulang, dan usahanya berhasil.
Tessa terus berlari dalam derasnya hujan di malam mencekam. Sun berusaha keras menyelamatkan Tessa di mana mereka akan berlindung di kediaman Andreas untuk sementara waktu.
Arjuna meminta dirinya agar ditinggal dan berjanji akan menyusul ke tempat tersebut. Arjuna berusaha melindungi keluarganya dari serangan Miles.
"Dasar keparatt kau, Miles! Tunjukkan dirimu! Akan kuremukkan wajahmu yang menjijikkan itu!" geram Arjuna saat ia menggunakan pedang Silent Blue miliknya untuk menebas mantan pasukan Bala Kurawa yang telah dicuci otak oleh Miles.
"Tuan! Pelacak mengidentifikasi jika nyonya Tessa dan lainnya bergerak cepat. Sepertinya, mereka berhasil kabur dengan mobil!" seru Tulio dari layar tablet yang terkoneksi dengan GPS orang-orang kubu Sun.
"Baguslah. Tetap bertahan dan bunuh mereka semua!" jawab Arjuna lantang dengan tubuh basah kuyup.
"Yes, Sir!" jawab Tulio dan Simon mantap.
Anak buah Arjuna yang melindungi mansion ikut melakukan aksi balas. Seluruh senjata mereka kerahkan untuk menumbangkan musuh. Ratusan peluru sudah terlontar dan berhamburan di sekitar halaman mansion.
Namun siapa sangka, Tessa dan timnya dikejar oleh anak buah Miles menggunakan motor saat mereka berusaha kabur menuju dermaga tempat Ringgo melabuhkan yacht.
DOR! DOR! DOR!
"Agh!" erang Tessa langsung membungkuk meski tertahan oleh perutnya yang besar.
Sun berusaha menghindari tembakan karena mobil yang digunakan bukan modifikasi Jonathan. Mobil itu hanya anti peluru dan tak memiliki persenjataan untuk melakukan aksi balas.
"Akan kutahan mereka. Fokuslah mengemudi, Sun!" seru Jose dan Sun mengangguk cepat.
Tessa diapit oleh Max dan Greco. Dua orang itu ikut melakukan aksi balas dengan menembaki para pengendara motor yang mengejar mereka. Jose yang duduk di sebelah Sun, ikut menembak dari jendela dudukkan samping.
Namun, DOR!
"Agh!" erang Jose saat lengannya terkena tembakan dari musuh dan membuat pistolnya terjatuh.
Sun menoleh dan terlihat panik saat seorang pengendara motor mendatanginya dengan cepat dari arah samping, di mana Max dan Greco ikut kewalahan karena harus menghindari tembakan yang di arahkan ke tubuh mereka.
"Jose!" seru Sun lantang saat melihat pengendara itu mengarahkan pistol ke jendela tempat Jose duduk. Praktis, mata Jose melebar.
"Oh, shitt," ucapnya pelan seraya memegangi lengannya yang berdarah.
Namun tiba-tiba, NGENGG!! KRASSS! BRAANGG!!
"Wow! Apa itu tadi?!" pekik Jose saat tiba-tiba saja muncul sebuah motor dan terlihat pembonceng tersebut menyabetkan pedang dengan sinar warna merah.
Sinar menyilaukan itu menebas leher pengendara dari kubu Miles. Mata Sun melotot dan langsung melihat ke arah spion samping. Seketika, senyumnya terkembang.
"Yeah!" serunya senang, tapi membuat semua orang yang berada dalam mobil bingung karena tak tahu siapa penyelamat mereka.
***
uhuy tengkiyuw tipsnya. lele padamu😍 kasih pengumuman disini juga ah. ehem🤭
Lele mau kasih info dulu. Jadi ya to, setelah 7 tahun kosong akhirnya lele isi lagi, maksudnya mau punya dedek bayi lagi. Horeee!! Doain lele tetep sehat dan gak mabokan ya, amin.
Nah, cuma kan manusia hanya bisa berusaha, Allah yang menentukan. Jadi lele udah bikin target. November akhir 2022, semua novel lele harus udah TAMAT yang status on going.
Seperti : MARCO-POLO, CASANOVA, LOVE IS HENRY, RED LIPS, MONSTER HUNTER dan kemungkinan besar KING D juga akan release tahun ini.
Nah, misal nanti dari beberapa novel itu ada yang belum selesai, tetap akan lele selesaikan, tapi lele jadi fokus dengan 1 novel saja dan pastinya, upnya juga jadi gak tentu karena fokus debay dulu.
Jadi harap dimaklumi dan dipahami ya. Family tetep prioritas utama lele. Itu aja kabar terbarunya. Terima kasih dan semoga 4YM2 bisa tamat akhir Februari ini biar utang lele gak numpuk ya ampun. Lele padamu❤️
__ADS_1