4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Si Bungsu*


__ADS_3

Tolong kalo lele kasih informasi itu dibaca dengan khikmat dan diingat2 ya. Lele udh bilang kalo 4YM akan up normal per tanggal 5. Ini masih tanggal 3, lele udah dijapri disana sini sejak kemaren. Makanya, kan lele udah bilang. Join di Grup GC WA agar tau informasi penting yang gak bisa lele share di beberapa tempat. Kalau di GC WA kalian dapat info up to date. Tinggalkan nomor di kolom komen biar nanti diinvite. Jadi setelah up ini lele akan pause dulu upnya dan baru up lagi tanggal 5 ya. Lele mau tamatin SIMULATION yg naskahnya kudu siap daily up serta Love Is Henry di apk Fizzo*.


---- back to Story :



Sandara panik. Ia melihat pria berambut gondrong itu siap untuk menyerangnya dengan dua buah pisau dalam genggaman.


Kedua pahanya telah terluka dengan luka robek karena ulahnya saat berhasil menancapkan pisau tajam itu.


"Hargh!" erang pria itu berlari kencang mendatangi Sandara. Praktis, mata gadis cantik itu melebar. Ia segera berlari untuk menjauh dari kejaran pria yang mengamuk itu. "Jangan kabur, Pengecut!" teriaknya marah dengan mata melotot.


Sandara tak memperdulikan ucapan pria itu. Malam yang gelap dan berkabut, membuat Sandara kesulitan untuk melihat wilayah di sekitarnya.


Di kejauhan, Sandara melihat percikan api dari senjata api yang dilontarkan dari kubunya dan kubu musuh.


SWING! JLEB!


"AGH!"


BRUKK!


Sandara mengerang saat salah satu kakinya kini terkena lemparan pisau dan mengenai paha belakangnya. Sandara segera mencabut pisau itu yang telah berlumur dengan darahnya.


"Mati kau!" seru pria itu lantang dan posisi menusuk dengan lompatan ke arah Sandara.


Tangan kanannya sudah siap untuk menghujam tubuh gadis kecil yang kini terlihat kaget dengan serangannya.


Namun tiba-tiba, SRAK!


"ARGH!" erang pria itu ketika Sandara menggunakan pisau dalam genggamannya untuk memangkas ilalang di sekitarnya.


Sandara melemparkan potongan dari rumput-rumput itu ke wajah pria tersebut hingga si Bungsu memejamkan mata karena disakiti.


Sandara memanfaatkan waktu sempit itu dengan melakukan serangan balik meski pria tersebut bergegas menyingkirkan serpihan rumput yang mengganggu pandangannya.


DUAKK!


"AGH!" erang pria itu ketika perutnya ditendang oleh Sandara.


Sayangnya, lelaki itu cukup kuat. Ia hanya mundur beberapa langkah, tapi hal itu membuat matanya kembali terbuka walaupun berwarna merah.


Sandara terkejut karena tak menyangka jika pria tersebut mampu menahan serangannya.


"Dasar lemah!" serunya lantang seraya mengayunkan pisaunya untuk menyayat tubuh Sandara.


Gadis itu berusaha menghindar. Beruntung, Sandara cukup gesit untuk menghindari serangan benda tajam itu.


Saat pria itu mengayunkan pisaunya dengan cepat ke arah wajah Sandara, dengan sigap, SRET!


"AGH!" erangnya lagi ketika Sandara menggeser langkahnya ke samping dan menggunakan pisau dalam genggamannya untuk menyayat lengan pria tersebut yang menggenggam pisau. "Sialan!" pekiknya semakin marah.


GRAB!


"Agh!" rintih Sandara ketika rambut panjangnya dicengkeram kuat oleh tangan kiri pria itu. Mata Sandara melebar saat pria itu berusaha untuk menusuknya.


JLEB!

__ADS_1


"HARGH!" erang pria itu untuk kesekian kali saat ketiak kirinya ditusuk oleh pisau Sandara dan menancap di sana.


Pria itu melepaskan cengkeramannya dan mencabut pisau tersebut kemudian membuangnya jauh hingga masuk ke sungai.


Si Bungsu mengerang kesakitan hingga wajahnya memerah, tapi ia masih sanggup bertahan meski darah sudah membanjiri tubuhnya.


Sandara yang roboh, segera bangkit, tapi, "Agh!" rintihnya saat pria itu dengan cekatan menggunakan dua tangannya untuk menusuk wajah gadis itu.


Sandara kembali terbaring di atas rumput dengan punggung menahan tubuhnya yang sedang melawan si Bungsu yang berambisi untuk membunuhnya. Pria itu terus mendorong tubuhnya.


Sandara menahan kedua tangan pria itu yang berusaha untuk mencederai wajahnya lagi. Sandara teringat akan rasa sakit ketika ia harus menjalani operasi plastik dan tak ingin mengulanginya lagi.


Keduanya saling beradu kekuatan. Ujung pisau makin mendekat dan siap untuk menusuk hidung gadis cantik itu.


Sandara berusaha kuat untuk bertahan hingga akhirnya, ia melakukan gerakan lain untuk membuat lawannya menyingkir dari hadapannya.


DUAK! DUAK!


"ARGH!"


BRUK!


"Hah, hah!" engah Sandara segera bergulung ke samping saat kaki kanannya berhasil mengenai kedua paha lawannya dan membuat pria itu roboh.


NGENG!


"DARA!" panggil salah satu anggota tim Mirror yang telah siap menjemput di sungai menggunakan jet ski.


Sandara segera berlari menjauh meski harus menahan sakit di kakinya karena luka tusuk. Gadis itu menuju ke arah sungai di mana jet ski penjemput dari timnya telah datang.


Namun, anggota Mirror juga mendapatkan perlawanan. Pemuda itu dihujani tembakan dari CD buatan Vesper Industries.


Sandara diterkam dari belakang hingga tubuhnya tercebur ke dalam sungai. Sandara berusaha memberontak karena tubuhnya di dorong ke dasar sungai seperti ditenggelamkan.


Sandara mengenali tangan pria yang membawa pisau dan berusaha untuk menusuknya di bawah air.


Si Bungsu masih bertahan meski sudah terluka dibeberapa bagian karena tusukan. Sandara ikut menahan perih di kakinya yang sakit.


"Errghh!" erang Sandara ketika lehernya dicekik dengan tangan kiri dan tangan kanan si Bungsu siap untuk menusuk tubuhnya.


Sandara mulai kehabisan napas. Namun, ia teringat janjinya untuk membunuh pria yang sudah mencelakai suaminya.


Sandara memberontak dan menggunakan kedua kakinya yang masih bebas untuk menendangi tubuh pria tersebut.


Ternyata, gerakan itu berhasil membuat cengkeraman si Bungsu melemah. Sandara terus menendang dan menghabiskan seluruh energinya agar bisa meloloskan diri.


Akhirnya, cengkeraman di lehernya terlepas. Dengan sigap, Sandara menangkap tangan pria yang memegang pisau saat pria itu mulai melemah karena terlalu banyak terluka.


KRAKK!


"Herrghh!"


BLUB! BLUB!


Gelembung udara muncul dari mulut pria itu saat Sandara menggigit tangannya hingga genggaman pada pisau itu terlepas. Sandara dengan sigap mengambil pisau tersebut dan JLEB!


"Ohok!"

__ADS_1


JLEB! JLEB! JLEB!


SPLASH!


"Hah! Hah!" engah Sandara terlihat begitu ketakutan.


Ia segera berenang ke tepian dengan tubuh gemetaran. Sandara merangkak ke tepian sungai, tapi lagi-lagi, GRAB!


"Agh! Lepaskan aku!" teriaknya panik saat pundaknya dipegang.


"Dara! Dara! Ini aku!" ucap pemuda dari tim Mirror yang nekat melompat dari jet ski dan mendatangi Sandara setelah melihat pemimpinnya sedang bersusah payah melawan musuhnya.


Sandara terperanjat dan masih menggenggam pisau itu erat di tangan kanannya. Pria itu membungkuk di depannya dengan tubuh basah kuyup. Namun tiba-tiba, BLUARR!! BRUK!!


Tubuh Sandara terhimpit oleh pemuda dari tim Mirror tersebut. Lelaki itu tak bergerak. Sandara berusaha menyingkirkan tubuh lelaki itu ke samping dengan susah payah. BRUK!


"Hah! Hah!" engah Sandara saat berhasil memindahkan tubuh pemuda itu dan melihat, jika bagian kepala belakangnya terluka terkena serpihan dari jet ski yang meledak.


Sandara memejamkan mata karena pemuda itu tewas untuk melindunginya. Saat ia membuka mata, kobaran api dari jet ski yang meledak membuatnya waspada.


Ternyata, benda itu rusak karena terkena lemparan granat dari salah satu pihak musuh yang tak membiarkannya untuk kabur.


Namun, pria itu berhasil dibunuh setelah ditikam dari belakang oleh salah satu anggota tim HURI. Dara mengembuskan napas lega meski jantungnya masih berdebar kencang


"Dara! Kemari!" teriak Enceng Gondok yang muncul dari dalam air dengan pakaian selam.


Sandara mengangguk cepat dan kembali memasuki air meski masih setengah badan yang ia ceburkan. Namun, langkahnya terhenti ketika ia mencari sesuatu di permukaan air dengan mata melebar.


"Dia sudah mati! Kauberhasil membunuhnya!" seru Kaktus menunjuk seorang pria yang tewas dengan luka tusuk di leher.


Pria itu terapung dengan mata terbuka dan mulut menganga terbawa arus sungai, menjauh dari pertempuran.


"Kita harus segera pergi dari sini. Polisi menuju kemari!" seru Dahlia dari atas jet ski yang sudah berpenumpang Kemuning.


Sandara mengangguk. Ia segera masuk ke air dan ditolong oleh Lipan yang menunggunya di atas jet ski.


Sandara segera membonceng di mana tubuhnya sudah terasa lemas karena ia juga terluka.


"Pergilah, kami akan menyusul!" seru Jambu Monyet yang mengenakan pakaian selam bersama anggota Pasukan Pria Tampan lainnya.


NGENG!


Dua buah jet ski meninggalkan area pertempuran. Sandara bernapas lega karena ia berhasil selamat. Senyumnya terkembang ketika orang yang melukai Afro berhasil ia bunuh.


Sandara menyenderkan kepalanya ke punggung Lipan terlihat letih dengan aksinya. Lipan membiarkan pemimpin kelompoknya untuk istirahat sejenak dan tetap fokus ke tujuan akhir mereka.



Pasukan Pria Tampan yang berhasil selamat, menyelam menggunakan peralatan khusus menyusuri bawah air.


Sayangnya, dari Tim Mirror, hanya tersisa 10 orang dari mereka. Tim HURI tersisa 4 orang saja dan mereka bersama-sama pergi meninggalkan lokasi.


Orang-orang dari pihak musuh masih bertahan, tapi tak lagi menyerang karena suara sirine mobil polisi terdengar mendekati wilayah pertempuran.


***


ILUSTRASI

__ADS_1


SOURCE : GOOGLE


__ADS_2