
Wah lele dan family lagi kena musibah nih. Doain lele, calon debay, hula2 dan abang monster segera pulih ya. Lele terpapar covid dari misua soalnya. Lele cuma cemas sama janin aja sebenernya. Baiklah itu aja infonya, semoga reader LAP selalu sehat dan semoga lele bisa tamatin ini novel selama dalam masa pengurungan. kwkwkw.
----- back to Story :
Oktober Minggu Pertama.
Jordan, Mix and Match terbengong melihat kondisi Sandara yang tampak berantakan karena terdapat beberapa luka lebam di beberapa bagian tubuhnya.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Jordan terlihat serius hingga matanya melebar.
"Aku ... mencoba mencari para pria bertopeng dari nama-nama narkotika kubu Miles. Aku ... berhasil menemukan beberapa. Salah satunya ... asisten Adipura. Bima. Lalu ... aku juga bertemu Sudan dan anak buahnya yang masih bernapsu ingin membunuhku karena aku membunuh anak kesayangannya serta ketua tim HURI. Aku ... berhasil membunuh Bima dan Sudan di kediaman om Ahmed," jawab Sandara dengan wajah datar, tapi pandangannya tertunduk menatap lantai.
"Kenapa kau tak mengatakannya?" tanya Jordan seraya mendekat, terlihat iba pada kondisi saudara sepersusuannya.
"Apa kaupeduli?" tanya Sandara dengan wajah sendu masih tak menatap Jordan serta dua algojonya.
"Aku minta maaf," jawab Jordan lalu memeluk Sandara lembut.
Sandara meneteskan air mata, meski tak ada isak tangis di sana. Ia hanya diam dan berdiri tak membalas pelukan itu. Mix and Match saling berpandangan memilih diam di tempat mereka berdiri.
"Apa yang kaucari di Mauritania?" tanya Sandara pelan, tapi membuat Jordan melepaskan pelukannya.
"Pelaku yang membuatku menjadi monster," jawab Jordan masih menatap wajah Sandara lekat yang memiliki bekas luka lebam seperti terbentur keras.
"Oh. Sudah tahu siapa yang melakukannya?" tanya Sandara masih enggan melihat wajah pria tampan di depannya.
"Belum. Namun, kuyakin jika itu ulah salah satu pria bertopeng."
"Hanya tersisa satu dari mereka. Aku sudah membunuh lainnya saat di Suriname. Aku sudah membunuh banyak orang, Jordan. Bahkan mungkin lebih banyak darimu," jawab Sandara datar.
Jordan diam melihat gadis cantik di depannya yang terlihat seperti tak memiliki gairah hidup. Jordan lalu mengajak Sandara masuk ke dalam rumah yang ia sewa selama menjalankan misi di negara itu.
Sandara duduk di sebuah sofa ruang tamu. Ia melihat interior rumah khas gurun itu saksama. Gadis cantik itu tak mendapati CCTV dalam ruangan tersebut.
"Kau telepon siapa?" tanya Sandara saat ia melihat Jordan seperti melakukan panggilan dari ponselnya.
"Sepertinya, lukamu belum diobati. Aku memiliki kenalan dokter di sini. Dia bisa dipercaya, tunggulah," pinta Jordan, dan Sandara mengangguk pelan.
Mata Sandara melirik ke arah Mix and Match yang berjalan mendekatinya lalu duduk di hadapannya. Sandara diam melihat keduanya yang menatapnya tajam.
Mereka bicara dalam bahasa Rusia. Terjemahan.
"Pulanglah, Sandara. Kau sudah menderita cukup banyak. Kembalilah pada suami dan keluargamu," ucap Mix.
"Tidak bisa, sebelum Miles dan seluruh komplotannya musnah," jawabnya dengan wajah datar seperti orang lelah.
"Serahkan saja pada kami," sahut Match.
"Sejauh ini, aku sudah melakukan banyak teror untuk Miles. Tinggal sedikit lagi. Aku tak bisa berhenti di tengah jalan, atau ... semua usahaku akan sia-sia," jawabnya tenang.
__ADS_1
Mix and Match mengembuskan napas panjang. Mereka tak mau lagi berdebat. Namun terlihat, dua pria itu iba pada kondisi anak gadis Vesper dan Kai.
"Istirahatlah di kamar. Dokter sudah dalam perjalanan," pinta Jordan, dan Sandara mengangguk pelan.
Jordan menunjukkan kamar di mana Sandara bisa merebahkan tubuhnya dengan nyaman sampai dokter tiba.
Sandara terlihat menahan sakit saat ia akan berbaring. Jordan berdiri di samping ranjang melihat gadis cantik itu seperti berusaha untuk tetap tegar, meski tahu jika ia sedang terpuruk.
Jordan keluar kamar setelah ia memastikan jika Sandara tertidur. Ia kembali mengaktifkan ponselnya untuk menghubungi seseorang di balkon lantai dua.
"Jordan?"
"Afro. Bagaimana kabarmu?" tanya Jordan to the point.
"Aku ... baik-baik saja," jawabnya tenang.
"Kudengar, tuan Kai membuatkanmu kaki robot generasi terbaru. Jadi ... kau sudah bisa berjalan?" tanya Jordan dengan wajah datar melihat pemandangan padang gurun yang ditumbuhi beberapa tumbuhan di depannya.
"Ya, begitulah. Ada apa sebenarnya?" tanya Afro terdengar penasaran.
Jordan lalu membuka galeri di ponselnya dan mengirimkan sebuah gambar. Jordan diam-diam memotret Sandara sebelum ia menutup pintu kamar ketika akan pergi.
"Dia bersamamu?"
"Dia baru tiba hari ini. Dia masih berambisi mengejar orang yang melukaimu. Apa kau yang memintanya?"
"Aku tak pernah meminta dia untuk balas dendam, Jordan. Aku hanya ingin dia berada di sampingku, tapi ia memiliki jalan pikirannya sendiri. Dia tak menghormatiku sebagai seorang suami. Dia membuat keputusan tanpa persetujuanku. Aku terluka, karena dia membangkang. Dan sekarang kau menunjukkan padaku kondisinya? Itu semua buah dari keegoisannya. Lalu kau menyalahkanku atas semua sepak terjangnya? Kau sama saja dengannya, Jordan," jawab Afro dengan intonasi tinggi.
KLEK! TUT ... TUT ... TUT.
Jordan memutus panggilan itu. Ia memejamkan matanya sejenak lalu terdiam memandang sekitar.
Pemuda tampan itu lalu melihat layar ponselnya. Ia menjadikan wajah Naomi dan dirinya saat pernikahan sebagai layar utama.
Jordan kembali melakukan panggilan. Ia tahu jika sang isteri mencemaskan kondisinya. Ia juga mendapat kabar bila Naomi telah melahirkan dari Mix and Match.
"Jordan?!" pekik suara seorang wanita yang sangat ia rindukan.
"Hallo. Maaf, jika baru menghubungimu. Apa kau baik-baik saja?" tanya Jordan dengan senyum tipis terbit di wajahnya.
"Hiks, kau di mana? Kenapa kau tak pulang? Apa kau meninggalkanku? Aku tak apa. Itu bukan salahmu. Pulanglah," pinta Naomi menangis sedih.
"Aku ingin pulang, tapi ... aku harus memastikan orang yang melakukan hal keji itu tak berulah lagi, Sayang. Aku takut jika dia masih hidup, ia akan melakukan kelicikan lagi padaku. Aku ... melukaimu cukup parah dan hampir menewaskan calon anak kita," jawab Jordan terlihat sedih.
Naomi tak menjawab. Namun, Jordan tahu jika sang isteri begitu kecewa. Tangisan Naomi terdengar jelas pada sambungan telepon, dan hal tersebut membuat hatinya pilu.
"Bagaimana dengan anak kita? Siapa namanya?" tanya Jordan mengalihkan pembicaraan di mana biasanya ia sangat sulit untuk berkata bahkan pada sang isteri.
"Aku belum memberikannya nama. Aku ingin kau yang menamainya. Aku menunggumu pulang, Jordan," jawab Naomi dengan suara bergetar.
"Kudengar, dia tampan seperti ayahku," ucap Jordan teringat mendiang sang ayah—Boleslav.
__ADS_1
"Hem, menurutku ... dia tampan sepertimu," jawab Naomi dengan sedikit tawa. Jordan ikut tersenyum.
"Aku khawatir jika ada nama Boleslav di belakangnya, anak kita akan diincar oleh militer atau mafia yang masih menyimpan dendam pada keluargaku. Bagaimana jika diberikan nama belakang dari keluargamu? Edelweiss?" tanya Jordan.
"Edelweiss? Baiklah. Aku rasa ... agent S tidak keberatan," jawab Naomi ragu.
"Hem. Jika begitu ... Sig Hector Edelweiss."
"Dipanggilnya?"
"Sig dari bahasa Jerman yang berarti kemenangan secara damai. Lalu Hector dari Yunani yang artinya tabah dan setia. Jadi, bisa dikatakan Sig Hector adalah laki-laki yang setia dan membawa kemenangan dalam kedamaian. Itu yang dibutuhkan untuk masa depannya. Bukan hidup seperti kita yang sekarang, Sayang," jawab Jordan menjelaskan.
"Jadi ... aku bisa memanggilnya Sig atau Hector, begitu?" tanya Naomi memastikan.
"Hem. Kita bisa memanggilnya Sig. Aku tak mau terlalu sulit. Aku ingin anak kita tak terdengar seperti orang Rusia atau pun Asia untuk menutupi latar belakangnya. Oleh karena itu, kupilih nama yang jarang digunakan. Bagaimana? Kau suka?" tanya Jordan terdengar ragu.
"Ya. Aku tak pernah terpikirkan hal itu. Kukira ... kau akan memberikan nama yang mirip dengan orang-orang kebanyakan. Aku suka cara berpikirmu, Sayang. Aku tahu kau takut menyakitiku dan anakmu. Oleh karena itu, cepat selesaikan dan segeralah pulang. Aku sangat merindukanmu," pinta Naomi penuh harap.
Jordan tersenyum. Ia bahagia karena sang isteri bisa memahaminya.
"Aku juga sangat merindukanmu. Sampai jumpa, Sayang. Aku akan selalu mencintaimu. Salam untuk Sig, katakan ... aku sangat menyayanginya," sahut Jordan yang diakhiri dengan menutup panggilan.
New York, Amerika. Apartemen Theresia.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
"Naomi?" panggil Amanda seraya membuka pintu perlahan, di mana Jason juga ikut muncul di belakang sang ibu terlihat gugup untuk melangkah masuk.
Senyum Naomi terkembang. Hal itu cukup mengejutkan bagi Amanda dan lainnya. Selama ini, wanita Jepang itu terlihat murung karena ditinggal oleh sang suami. Naomi mengurung diri di kamar semenjak kejadian di Florida.
"Sig Hector Edelweiss," ucapnya dengan senyum tipis.
"What?" tanya Amanda bingung seraya memberanikan diri masuk mendekati menantunya.
"Jordan menghubungiku. Dia memberikan nama anak kami. Dia mengatakan ... Sig Hector Edelweiss," jawabnya dengan mata berlinang.
"Oh, syukurlah! Akhirnya," sahut Q yang ternyata diam-diam mengintip di balik pintu dengan Renata dan Arthur.
"Mari kita rayakan!" seru Jason gembira, dan Naomi mengangguk pelan.
Wanita cantik itu meraih bayinya lalu menggendongnya. Ia mengecup kening anaknya lembut yang masih tertidur pulas dalam pangkuannya. Naomi menatap puteranya lekat dengan wajah sendu.
"Hallo, Sig," panggil Naomi menyapa anak lelakinya.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Uhuy tengkiyuw tipsnya❤️Yg udah tips belom nongol sabar ya. Lele padamu💋