
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
Lysa mendatangi kamar mandi yang masih berada dalam satu ruangan dengan ruang tidurnya, tempat ia melakukan teleconference.
"Toby, apa kau sudah selesai man—Ya Allah!" pekiknya terkejut saat mendapati suami dan anak lelakinya telanjang di depan cermin besar bertolak pinggang. Mata Lysa melebar dan berdiri mematung di bingkai pintu. "Apa yang kalian lakukan?"
"Aku dan D sedang melakukan pengamatan. Kami mencari persamaan dan perbedaan dalam diri kami," jawab Tobias berwajah serius memunggungi isterinya yang terlihat shock akan perilaku keduanya.
"Oke ... lalu ... apa yang kalian temukan?" tanya Lysa tak habis pikir dengan perilaku menyimpang sang suami.
"Perut kami sama-sama cembung. Benar 'kan, D?" tanya Tobias menoleh ke arah anaknya seraya mengajak high 5 dengan senyum merekah. Lysa memejamkan mata sejenak, dan memilih tak berkomentar.
"Mimi! Kenapa punya D gak panjang dan besar kaya Pipi?" tanya King D terlihat sebal seraya menunjuk kejantanan Tobias. Lysa melotot lebar.
"Hahahaha! Perjuanganmu untuk mencapai titik keperkasaan masih lama, D sayang. Nikmatilah pen*s kecilmu. Namun, saat kau sudah sebesar Pipi nanti, kau akan merasakan kenikmatan yang sesungguhnya," jawab Tobias bangga.
"Toby! Jangan bicara yang tidak-tidak. Dasar aneh!" pekik Lysa kesal seraya mendatangi keduanya.
"D mau punya tato kaya Pipi, Mimi! D mau gambar dua wajah Pony di pantat," ucapnya seraya menunjuk dua bongkahan menggemaskan di bagian belakang tubuhnya itu.
Lysa gemas bukan main. Tobias hanya tertawa saat melihat anak tirinya cemberut karena permintaannya tak dituruti sang Ibu.
Lysa menarik tangan King D dan segera memakaikannya baju, sedang Tobias malah sibuk menggesekkan miliknya ke tubuh bagian belakang Lysa yang terbungkus pakaian sambil berjoget.
"Toby! Jaga sikap! Ada D!" pekiknya melotot, dan Tobias langsung memasang wajah sinis. "Berpakaian, para Pion butuh bantuanmu," sambung Lysa memasang wajah garang.
Tobias menghembuskan nafas kasar. Ia tak mengindahkan ucapan sang isteri. Dia berjalan begitu saja tak berpakaian menuju ke laptop di mana teleconference itu tersambung.
"Demi Dewa Wisnu, Tobias! Pakai celanamu!" pekik Rohan langsung memejamkan mata saat mendapati gajah liar muncul di depan layar ponselnya.
"Di sini panas! Aku benci musim panas! Ada apa? Kalian payah. Biar kutebak, pasti tak menemukan apapun di sana. Benar 'kan?" tanya Tobias bertolak pinggang. Semua orang mengangguk, meski terlihat risih. "Kirim saja Black Armys Vesper untuk menjaga kediaman Ahmed. Aku cukup yakin jika mereka di bawa ke suatu tempat yang kita sendiri tak tahu. Kita baru bisa bergerak saat tim dari Arjuna mendapatkan petunjuk," sambung Tobias seraya duduk.
"Tim Arjuna? Memang, apa yang mereka cari?" tanya Pion Dexter menimpali.
"Kediaman para isteri dari Sutejo. Kalian ikut saja dalam timnya. Masuklah ke wilayah anak dari isteri-isterinya. Dia memiliki 5 isteri, pasti memiliki banyak aset. Datangi salah satu. Aku yakin, ada petunjuk di sana," jawabnya seraya mengambil sebuah toples yang tersedia di samping laptop dan membukanya.
"Baiklah. Terima kasih atas petunjuknya, Tobias. Kami akan menghubungi Arjuna. Sampai jumpa," ucap Rohan seraya menutup panggilan dan diikuti oleh para Pion lainnya.
"Lysa! Makanan apa ini?" tanyanya seraya mengunyah makanan ringan dengan suara renyah di mulut.
"Rengginang! Jangan dihabiskan! Jika sampai habis, kau harus membelinya langsung ke Indonesia. Itu punyaku!" jawab Lysa berteriak dari dalam kamar.
Namun, Tobias mengabaikannya. Ia menikmati cemilan yang tak pernah ia jumpai sebelumnya sembari menonton film kartun dari layar laptop sang isteri.
__ADS_1
Di tempat Arjuna berada. Kediaman isteri kedua Sutejo—Parinten, Suriname.
"Junet, ada video call dari Rohan," panggil Biawak Putih dengan ponsel dalam genggaman.
Arjuna segera beranjak dari pinggir pagar lantai dua rumah kayu yang di bawahnya terdapat aliran sungai.
"Yes, Rohan?" jawab Arjuna kini berdiri menghadap Biawak Hijau yang sedang sibuk memberikan instruksi kepada Bala Kurawa kiriman Vesper untuk mengamankan tempat tersebut.
Vesper juga menambahkan Black Armys wanita level M sebanyak 4 orang sebagai petugas medis dan juru masak.
"Hai, apa kabar? Langsung saja. Aku tadi menghubungi kakakmu Lysa, dan Tobias mengatakan jika sebaiknya aku bergabung denganmu untuk pencarian orang-orang dalam jajaran kita yang hilang. Tobias mengatakan, aku sebaiknya mendatangi salah satu dari tujuan lokasi pencarianmu agar segera menemukan keberadaan mereka. Ingin berbagi informasi?" tanya Rohan menaikkan salah satu alis.
Arjuna tersenyum miring. Panggilan yang diperdengarkan suaranya itu menarik perhatian tim Arjuna di sana. Biawak Putih mengangguk, dan Arjuna pun menerima nasehatnya.
"Oke. Kalian pergilah ke Peru. Agak sulit bagi kami karena timku pergi dengan kapal. Aku sedang menghindari penerbangan. Jika kau ke sana, aku dan orang-orangku akan langsung ke Panama," jawab Arjuna serius.
"Hem, bagus. Berikan lokasinya padaku, dan kami akan segera ke sana. Terima kasih," ucap Rohan lalu menutup panggilan.
"Wah, banyak bantuan. Lumayan ngurangi kerjaan kita," sahut Biawak Putih dengan senyum terkembang.
Tak lama, Sun datang dengan sebuah ponsel dalam genggaman menaiki tangga. Pandangan semua orang kini beralih kepadanya.
"Ada kabar dari tim tuan Kai di Angola. Katanya, Jonathan diserang oleh makhluk aneh, tapi berhasil dibunuh. Sayangnya sosok putih yang membunuhnya, sampai sekarang tak diketahui siapa orangnya. Wanita itu masuk dalam daftar buruan level S. Sepertinya, petualangan mereka lebih seru ketimbang kita," ucap Sun melaporkan.
Sun pun menceritakan kronologi kejadian dari informasi yang diberikan oleh Eiji setelah laporan dari anggota The Kamvret dan Eko disusun rapi. Arjuna dan semua orang mendengarkan dengan seksama.
"Hah, apalagi ini? Sepertinya The Circle dan No Face menyimpan banyak misteri. Namun, baguslah. Setidaknya markas-markas tersembunyi mereka berhasil ditemukan satu-persatu dan tak berbuah kosong seperti kita. Menyebalkan. Kita jauh-jauh menyebrangi lautan dan tak membuahkan hasil," ucap Arjuna kesal.
"Sabar, Junet. Yang penting 'kan udah usaha. Kuy, segera bersiap karena besok pagi kita cuz ke Panama. Katanya, tim Bala Kurawa-mu udah otewe ke sana," sahut Biawak Hijau dan Arjuna mengangguk pelan.
Malam itu, Arjuna dan timnya bersiap untuk perjalanan panjang esok hari. Arjuna mulai menikmati petualangannya dalam menjalankan misi menggunakan kapal, meski itu adalah kapal milik Andreas.
Pagi itu, yacht keluar dari aliran sungai untuk kembali ke lautan. Mereka meninggalkan kediaman Parinten yang berada di tepi hutan dekat sungai.
"Junet. Bala Kurawa tambahan untuk jagain mansion Andreas udah dateng. Mereka ngamanin tempat itu sampai kamu nanti kembali dan kasih tugas baru," ucap Biawak Putih melaporkan yang lebih mirip menjadi sekretarisnya sekarang.
"Ya, Kang. Makasih," jawabnya dengan senyum tipis.
"Bosmu lagi mode kalem. Udah beberapa hari ini gak ngamuk, tapi jujur loh, Sun. Ijo lebih seneng liat Junet ngamuk. Laki banget," ucap Biawak Hijau berbisik dan Sun hanya terkekeh pelan mencoba untuk tak bersuara.
"Jujur, Paman. Sebenarnya, sudah lama aku mengagumi Tuan Muda. Dia begitu hebat. Namanya dikenal di Camp Militer sebagai lulusan terbaik di usia remaja mengalahkan ayahnya, tuan Han. Dia memecahkan banyak rekor dari para seniornya termasuk Komandan Zeno dalam bermain pedang. Sayang, dia begitu buruk dalam masalah percintaan. Dia tidak peka dan selalu menyesal ketika semua sudah hampir berakhir," sahut Sun seraya menatap Tuan Mudanya yang terlihat gagah sedang berjemur di geladak kapal bertelanjang dada.
"Biasa anak muda. Emang kamu gak gitu, Sun?" tanya Hijau melirik. Sun menggeleng.
__ADS_1
"Aku anak papi yang manis," ucapnya berlagak genit dengan mata berbinar dan kedua tangan menempel di pipinya.
Hijau terkekeh dan malah gemas dengan tingkah pemuda di sampingnya yang sebenarnya sangat garang ketika bertarung.
Kapal terus melaju dan hanya singgah di dermaga kecil untuk persediaan selama pelayaran.
Mereka juga berlabuh semalam di Colombia saat anak buah Martin memberikan stok persenjataan untuk tim Arjuna yang melanjutkan misi.
"Maaf, aku tak bisa ikut serta. Sepertinya, sudah waktunya bagi generasi muda 13 Demon Heads yang maju bertempur. Hubungi aku jika butuh bantuan. Anak buahku akan segera datang untuk menolong kalian," ucap Martin saat mereka bertemu di sebuah dermaga kecil di Riohacha, Colombia. Arjuna berterima kasih.
Yacht kembali berlayar keesokan harinya untuk menuju ke Panama dengan muatan penuh berisi perlengkapan mereka.
Akhirnya, mereka tiba keesokan harinya di Panama. Kapal merapat dan Ringgo diminta untuk menjaga kapal selama mereka pergi ke kediaman isteri pertama pak Sutejo—Ajeng Maharani.
"Tuan Muda," sapa salah satu anggota Bala Kurawa yang telah tiba satu hari lebih dulu sebelum rombongan majikannya.
"Bagaimana?"
"Kami sudah menelusuri kediaman Ajeng sesuai dengan denah yang dikatakan oleh Biawak Putih. Namun, tempat itu kosong. Hanya saja, saat kami melakukan penjemputan di sini, salah satu anggota kita yang berjaga di sana mengatakan, ada seseorang yang sepertinya mengawasi kediaman tersebut. Dia turun dari sebuah mobil, berkeliling di sekitar rumah, lalu kembali lagi ke mobil, dan pergi begitu saja."
"Apa kalian membuntuti mobil tersebut?" tanya Arjuna serius.
"Ya, Tuan Muda. Dua orang sedang membuntuti. Kita hanya perlu menunggu laporan dari mereka saja," jawab salah satu utusan tersebut.
"Oke. Kita pergi sekarang," perintah Arjuna.
Segera, tim dari Arjuna naik ke mobil type SUV yang telah diangkut secara khusus menggunakan pesawat kargo milik mendiang Komandan Zeno dari China oleh Bala Kurawa sebagai salah satu akomodasi mereka selama di tempat tersebut.
"Apakah ... ini mobil tempur Jonathan?" tanya Arjuna melihat interior mobil tersebut yang terlihat lain.
"Ya. Mobil ini dipilih langsung oleh nyonya Vesper sebagai salah satu transportasi kita selama menjalankan misi. Kenapa Tuan Muda?" tanya sopir dari salah satu anggota Bala Kurawa.
Arjuna diam tak menjawab. Semua orang saling melirik, seakan mereka tahu apa yang dipikirkan oleh pemuda tampan di samping mereka.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Tengkiyuw tipsnya😍 Kali ini diborong sama mbak Martini😁 Maaf baru sempet up. Padet uyy~ Kwkwkw. Jadwal masih berantakan ya dan harap sabar. Trims sudah menunggu😘
__ADS_1