4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
Kemarahan Yudhi*


__ADS_3

ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE (mediajawatimur.pikiran-rakyat)



------ back to Story :


Pemuda itu memeluk Sandara erat. Ia menggunakan surban-nya untuk menutup wajah dan sebagian tubuh Sandara dari puing-puing yang bisa melukai tubuhnya.


Yudhi memanfaatkan kekuatan dari jeruji besi berlapis kawat dari puing-puing yang mulai berjatuhan.


Yudhi yang menggunakan 'Thawb', ternyata menyimpan banyak benda di balik pakaian kebesarannya itu.


Ia mengeluarkan sebuah dompet dari kulit unta yang ternyata terdapat banyak suntikan di dalamnya.


Ia menggunakan giginya untuk menarik penutup sebuah suntikan. Yudhi menusukkan jarum tersebut ke leher Sandara, di mana gadis cantik itu terus mengeluarkan darah dari lukanya.


"Serum ini bisa menghentikan pendarahanmu, Dara. Aku ... akan membersihkan lukamu," ucapnya sendu dan meletakkan Sandara perlahan.


Ia mengeluarkan dompet lain yang ia ikat pada sebuah ikat pinggang khusus di pinggulnya. Dompet itu berisi perlengkapan medis sederhana.


Dengan hati-hati, Yudhi membersihkan noda darah dari luka di bahu dan wajah gadis cantik itu.


Namun, Yudhi terlihat seperti tak sanggup melihat kondisi Sandara yang menyedihkan. Berulang kali ia mendongakkan wajah dan memalingkan muka dari kenyataan jika Sandara sudah tak secantik dulu.


Pemuda itu terlihat sedih, meski ia tak menangis. Yudhi menguatkan mentalnya di tengah-tengah suara ledakan yang terus terdengar bersahut-sahutan di luar bangunan, hingga getaran berimbas di tempatnya berada.


"Kita akan aman di sini. Aku sudah merencanakannya. Mereka ... meremehkan kemampuan kita, Dara," ucapnya seraya menutup luka di bahu serta wajah Sandara dengan perban.


Tiga puluh menit Yudhi berada di dalam kerangkeng. Perlahan, getaran mereda, dan puing-puing sudah tak berjatuhan lagi. Bangunan yang tadinya terlihat kokoh, mulai menunjukkan kerapuhannya.


Yudhi bisa melihat dari balik dinding dan atap yang roboh, jika hari sudah gelap.


"Ayo, kita keluar. Keadaan sudah aman. Tak akan kubiarkan mereka bertindak semena-mena pada kita, Sandara," ucap Yudhi mengangkat Sandara perlahan dalam gendongannya.


Yudhi keluar dari kerangkeng dan berjalan menuju ke lubang besar keluar gedung. Langkah Yudhi tak berhenti, meski sudah banyak moncong senjata diarahkan padanya. Tanpa ekspresi, Yudhi tak menunjukkan ketakutannya.


"Kau ...," geram Venelope menunjuknya.


"Minggir. Jangan membuatku meledakkan helikoptermu, Venelope. Ini belum seberapa," jawab Yudhi dengan wajah datar, terus melangkah ke mobil yang terparkir melintang di hadapannya.


"What?" kejut Venelope.


"Ingin bukti?" sahut Yudhi menghentikan langkah dan melirik Venelope tajam.

__ADS_1


"Buktikan," jawabnya tegas.


Yudhi tersenyum miring, semua penjaga terlihat siap dengan gerak-gerik Yudhi. Namun, tak ada gerakan mencurigakan darinya. Tapi tiba-tiba, BLUARRR!!


Mata Venelope melebar seketika. Ia langsung menoleh dan melihat kepulan asap tebal membumbung tinggi dengan kobaran api terlihat jelas di hari yang sudah gelap itu.


"Antar aku ke rumah sakit. Melawan, akan aku hancurkan rumah kalian satu persatu. Kita akan menjadi gelandangan bersama-sama," ucapnya santai seraya berjalan perlahan menuju ke mobil.


"Kau," geram Venelope hingga giginya bergemeletak, tapi Yudhi mengabaikannya.


Yudhi melirik salah seorang penjaga yang mengarahkan senjata ke tubuhnya. Yudhi memberikan kode dengan kepalanya, dan pria itu segera berlari menuju ke mobil untuk menjadi sopir.


"Tugas baru, Venelope. Cari Atit dan Albino. Bawa mereka ke rumahku. Gagal, aku ledakkan pesawatmu. Kerjakan," ucapnya dari balik jendela mobil yang terbuka dengan tatapan dingin.


BROOM!!


"Agh! Sialan! Bagaimana dia melakukannya? Siapa yang memegang kendali detonator jarak jauh?!" tanya Venelope marah.


Semua orang menggeleng dengan kedua tangan ke atas. Namun diam-diam, Ahmed yang berada di dalam mobil karena menjadi tawanan tersenyum tipis.


Yudhi ikut tersenyum ketika mobil yang membawanya pergi meninggalkan kediaman Den Bagus yang sudah runtuh karena aksi pembomannya.


Ia yang sudah bekerjasama dengan Ahmed, telah merencanakan hal ini begitu mereka berdua diculik kala itu oleh Ungu genit.


"Caranya gimana, Om?" tanya Yudhi panik.


"Kau, harus bisa menjadi salah satu anggota mereka. Buat mereka percaya denganmu. Aku korbankan diriku agar kau bebas beraksi di sana. Ingat, kau harus hati-hati dan lakukan secara sembunyi-sembunyi. Kau bisa?" tanya Ahmed menatap keponakannya tajam penuh harap.


"Bisa, Om. Yudhi harus ngapain?" tanyanya berbisik, meski di ruangan itu hanya ada mereka berdua.


"Selagi menunggu pasukan Vesper datang, kita buat keributan agar 13 Demon Heads tahu lokasi kita. Om yakin, jika kita akan pergi ke beberapa tempat agar jejak kita tak ditemukan. Namun, hal itu memberikan hal bagus untuk kita. Kau ingat 'kan di mana rumah saudara-saudari kita?" Yudhi mengangguk mantap. "Saat berkunjung, pasang peledak di rumah mereka. Kita buat alat pengendali jarak jauh. Nantinya, akan kita pasang di alas sepatu kita."


"Oke, Om. Yudhi bisa. Yudhi akan cari cara buat bom itu dan bagaimana mengendalikan ledakannya. Makasih, Om. Yudhi janji gak akan kecewain om Ahmed," ucapnya lalu memeluk Ahmed erat.


Putera dari pak Sutejo tersebut balas memeluk Yudhi dengan harapan tinggi agar rencana berhasil.


Dan ternyata, kesabaran dan kerjasama mereka berhasil dilakukan tanpa sepengetahuan No Face. Ahmed bernafas lega di mobil yang memenjarakannya.


Di sisi lain. Imbas dari ledakan mengundang pihak kepolisian dan para media untuk mengusut di kediaman Den Bagus di Mauritania, Kota Nouakchott.


Dengan segera, Den Bagus dan seluruh orang yang selamat menyelamatkan diri. Orang-orang itu meninggalkan rumah tersebut dengan beberapa mayat bergelimpangan di beberapa tempat.


Tentu saja, kabar menghebohkan itu menjadi santapan media. Breaking news disiarkan dan GIGA berhasil menangkap laporan tersebut.


"Bos! Ada berita ekslusif dari Mauritania!" teriak salah seorang Black Armys operator lantang di Pusat Komando Kastil Borka.

__ADS_1


"Siarkan!" jawab Eiji lantang yang segera menyambungkan siaran tersebut ke seluruh markas Vesper di dunia.


Mata Kai, Han dan Vesper melebar seketika saat melihat tayangan tersebut di ponsel masing-masing.


Mereka bertiga berada di tempat berbeda karena banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan.


Hong Kong, Mansion Han.


"Kirimkan Bala Kurawa ke tempat itu sekarang!" perintah Han tegas yang bergegas keluar dari kamarnya dengan ponsel dalam genggaman.


"Baik, Tuan," jawab Alex segera menghubungi Camp Militer di mana Zulfa SYLPH bertugas untuk membagi dan mengirimkan pasukan milik Arjuna tersebut untuk misi khusus.


Mansion Ramos di Rusia.


"Pantau seluruh penerbangan dari pesawat pribadi yang akan meninggalkan Mauritania, berikut pelabuhan dan dermaga kecil di sepanjang pesisir. Jangan sampai ada yang terlewat!" perintah Kai tegas.


"Siap, Mas Kai!" sahut Biawak Cokelat dan Kuning yang kini menjadi bodyguard-nya atas permintaan Vesper.


Dua pria itu segera menuju ke pusat komando dan menghubungi Eiji perihal permintaan Kai.


Kini, Mauritania menjadi titik fokus karena disinyalir jika ledakan tersebut ada hubungannya dengan Sandara.


Eko dan lainnya yang tak pernah berkunjung ke kediaman Den Bagus, hanya menduga jika anak dari pak Sutejo memiliki hunian di Afrika, tapi di mana tepatnya, mereka tak tahu.


"Hempf ... hempf," nafas Kai kembali menderu saat melihat kandang tempat Liu dan Lion sudah tak berpenghuni.


Para Black Armys yang menjaga mansion Ramos tewas dibunuh. Mayat-mayat mereka bergelimpangan di segala tempat.


Kai menduga, jika serangan ini dilakukan oleh pihak No Face di mana sebelumnya Tessa berhasil menyusup ke dalam.


"Pasti ada jalan rahasia yang tak kita ketahui. Aku yakin itu," ucap Doug yang datang begitu mendapat kabar mengejutkan dari alarm Terminator kediaman Vesper di Rusia saat penyerangan terjadi.


"Temukan dan segera laporkan padaku," jawab Kai terlihat begitu marah hingga wajahnya memerah. Doug mengangguk dan segera pergi.


"Dan kau. Jika masih berharap ingin menjadi menantuku, panggil Tessa. Aku ingin kebenaran darinya," lirik Kai tajam ke arah Afro yang ikut datang bersama Doug.


"Baik, Tuan Kai," jawab Afro gugup dan segera pergi melaksanakan perintah calon mertuanya.


Kai masih berdiri tegap di pintu kandang Lion, di mana hewan peliharaan kesayangannya hilang tak berjejak, termasuk jerapah milik Sandara—Liu.


***


tengkiyuw tipsnya. ya ampun eke berasa di mauritania. panas uyy disini ampe meleleh eke😵


__ADS_1


__ADS_2