
Afro akhirnya melakukan penerbangan menuju ke Indonesia, Yogyakarta. Arjuna yang tinggal sementara waktu di rumah Hobbit kawasan wisatanya itu pun menyambut kedatangan kawan lamanya. Tak biasanya, Afro datang dengan dalih merindukannya.
Biawak Hijau dan Putih melakukan penjemputan dan langsung diantar ke Arjuna's Adventure yang berlokasi di kota Bantul.
Tentu saja, kedatangan Afro mendapatkan sambutan hangat dari kawan lama Camp Milter, begitupula Trio Bali yang disambut oleh dua senior mereka—Biawak Putih dan Hijau.
"Tumben banget. Ada apa nih?" tanya Arjuna usai memeluk tubuh sahabatnya itu.
"Ha? Ah, pusing sama kerjaan, banyak banget gak habis-habis," jawab Afro berdalih. Ia juga menyalami Tessa yang terlihat nyaman menggunakan daster dengan motif batik kawung berwarna cerah.
"Udah mirip kaya orang pribumi kamu, Tess. Tinggal ubah warna rambut aja jadi item udah kaya bule Indonesia," tunjuk Afro yang membuat wanita berambut pirang digelung ke atas itu tersenyum lebar.
"Sarapan dulu yuk, laper 'kan? Juna udah siapin banyak makanan nih," ajak Arjuna ramah dan Afro menyambutnya dengan senyum merekah.
Keduanya terlihat begitu akrab. Mereka asyik mengobrol sembari mengingat masa-masa saat remaja dulu.
Hingga akhirnya, Afro mengajak Arjuna keluar dari rumah di bawah permukaan tanah itu dengan alasan ingin melihat sekitar, dan Arjuna menerimanya dengan hati gembira.
"Jun, bagaimana perkembangan pencarian Dara?" tanya Afro memancing.
"Hempf, belum ada kabar sama sekali. Red Ribbon aja sampai ditugasin buat kerja di pabrik keramikmu. Kayaknya kali ini, bener-bener putus harapan. Beda dengan Jonathan. Kalo dia kayaknya emang punya suatu rencana. Malah aku sering ngiri sama dia. Nathan itu anak yang selalu beruntung, entah gimana caranya, tapi dia itu selalu selamat meski dalam keadaan terdesak," ucap Arjuna dengan kedua tangan di dalam saku celana.
Jadi, informasi tentang Dara yang berhasil ditemukan sepertinya memang rahasia. Hanya aku dan nyonya Vesper serta orang kepercayaannya saja yang tahu di mana Dara berada. Sepertinya ... Arjuna tak tahu apapun tentang Sandara dan Raden. Wah, aku salah sasaran, batinnya menilai.
"Masih ngarepin Dara?" tanya Arjuna yang membuyarkan lamunan Afro. Pemuda yang mengganti warna rambut menjadi pirang itu tersipu malu.
"Bukannya kamu dulu pernah mengatakan, agar ... aku berusaha untuknya? Entahlah, Juna. Aku sudah sering bertemu dengan gadis lain, tapi mereka semua ... sama saja. Maksudnya dalam artian, cantik dan normal."
"Oh! Maksudmu Dara gak normal gitu? Hiss, kalau sampai papa Kai denger bisa disunat kamu kaya Tobias," kekeh Arjuna dan membuat Afro panik.
"Eh, bukan begitu. Kamu tahu sendiri, Dara itu seperti apa. Sifat misteriusnya itulah yang membuatnya berbeda dengan gadis lain. Rasanya seperti ... membuat penasaran dengan apa yang dipikirkannya. Ingin mencoba menebak, dan jika benar, rasa bahagia itu timbul. Ya, seperti itulah," jawab Afro gugup dan terus melangkah di jalan setapak mengikuti rute.
Arjuna tersenyum menatap Afro seksama. "Juna udah kerahin semua Bala Kurawa buat cari Dara. Semoga, ada hasil. Doain aja," sahut Arjuna seraya menepuk pundak sahabatnya itu. Afro mengangguk.
"Mm, Jun. Apa kau tahu, di mana rumah Raden?"
__ADS_1
"Raden? Anaknya om Satria dan tante Tika?" Afro mengangguk membenarkan. "Iya tahu. Mereka sekarang tinggal di rumah kakek Adipura. Kau ... ingin bertemu mereka? Tumben? Kenapa? Minta dukungan restu biar mereka bantu luluhin hati papa Kai ya?" ledek Arjuna dan Afro mendesis. "Haha! Sumpah! Aneh banget mukamu. Baru kali ini liat Afro kasmaran. Sungguh langka," kekeh Arjuna yang membuat Afro spontan menendang pantatnya dan pria bertato itu malah tertawa gembira.
"Aku merindukan masa-masa bertarung seperti dulu. Menyeramkan memang, tapi ... membuat hidupku lebih berwarna, meski harus kehilangan ayahku," ucap Afro tertunduk sedih.
"Sama. Jujur, Fro. Aku bosan mengerjakan hal seperti ini terus-menerus. Bisnis, dokumen, terbang ke sana kemari, bukan karena menjelajah atau bertempur, tapi karena harus menjalin kesepakatan bisnis, dan ... hempf. Jika saja kesehatan ayahku tak memburuk, aku pasti sudah berpetualang di luar sana," keluh Arjuna ikut menunjukkan wajah masam.
"Semua telah berubah, Arjuna. Setidaknya, aku bisa merasakan damai seperti orang normal. Layaknya warga sipil. Meski aku yakin jika militer mengawasi pergerakan kita, tapi ... mereka memilih diam dan bertindak jika merasa kita melakukan ancaman. Para senior telah mengorbankan nyawa agar hidup kita tenteram, Juna. Mereka mempertaruhkan banyak hal, contohnya ibumu. Kau ingat dan paham betul seperti apa watak seorang Vesper. Bahkan aku merasa, ibumu kini seperti tuan Charles. Tenang, tapi mematikan," ucapnya menegaskan dan Arjuna membisu.
"Seperti istilah padi? Semakin tua semakin menunduk?"
"Ya. Bukan berarti merunduk karena ia menyerah atau diperbudak, tapi karena ibumu sudah mengalami dan merasakan semua penderitaan sepanjang hidupnya. Aku melihat Vesper semakin bijak dalam mengambil keputusan, tak rusuh seperti dulu yang dituntaskan dengan pertarungan. Dia mulai mengerti dari konsekuensi sebuah perang, Arjuna. Ia kehilangan banyak orang yang dikasihinya mulai dari Rose, Charles, tuan Herlambang, bu Yanti, Erik Benedict dan lainnya. Kesedihanku tak sebanyak dirinya, termasuk kau. Luka yang diterima oleh tubuhnya bahkan tak sebanyak kita. Aku ... mengagumi ibumu di balik sifat kejamnya, tapi sungguh ia sangat menyayangi orang-orang di sekitarnya. Jadi ... berhentilah membuat kekacauan dan jadilah anak yang baik," tegas Afro di akhir kalimat yang membuat Arjuna langsung menoleh ke arahnya.
"Aku sudah menjadi anak baik selama beberapa bulan ini. Aku bahkan menikah seperti keinginan mereka. Aku tak bertarung dan menjalankan perusahaan. Aku anak yang berbakti," tegasnya membela diri, dan Afro malah terkekeh.
"Oke, anggaplah begitu. Lalu ... bagaimana dengan Tessa? Kau belum mencintainya 'kan? Aku tahu, aku bisa melihatnya. Kau menjadikan dia seperti seorang sekretaris, asisten, dan ... isteri formalitas. Terlihat jelas dari kau yang belum memiliki anak darinya. Kenapa? Anak penghambat mimpimu?" sindir Afro melirik sahabatnya dan Arjuna langsung mengedipkan mata. "Kau tak mandul 'kan?"
"Hei!" seru Arjuna lantang, dan membuat Afro tertawa terbahak.
"Aku ingin segera bertemu dengan Sandra, Juna. Bahkan, kali ini, aku akan langsung mengajaknya menikah. Aku ingin memiliki anak darinya dan hidup berkeluarga. Aku tak meragukannya lagi. Aku sudah bisa menerima semua hal dari Sandara," ucapnya sendu.
Arjuna mengangguk paham. "Aku akan mengusahakan yang terbaik untukmu, Sobat," ucap Arjuna seraya menepuk pundak Afro, dan pemuda berambut pirang itu membalas dengan senyuman.
"Kau ... Raden?" tanya Afro menunjuk remaja di depannya. Raden mengangguk cepat.
"Udah gede 'kan anak Tante?" sahut Tika yang membuat Afro tersenyum kaku.
Kenapa wajahnya lain? Apa aku salah orang? Ternyata Raden sedikit kebulean seperti Om Satria. Sedang yang difoto ... dia berwajah seperti orang Jawa dan berkulit sedikit gelap. Lalu ... bocah tengik dengan Sandara itu siapa? Agh! Sial! Aku salah sasaran! pekiknya kesal dalam hati.
"Fro? Kamu mau bawa kacang rebusnya pulang? Tar tante kasih wadah. Itu piring dari rotan jangan diremet-remet gitu nanti ancur, aduh," keluh Tika karena Afro seperti ingin meremukkan piring anyaman dalam genggaman tangannya.
"Oh! Haha, maaf, Tante. Piringnya ... em, piringnya gemesin. Maaf ... maaf," tawanya kaku dan segera meletakkan piring rotan malang itu.
Satria dan lainnya ikut terkekeh karena Afro bertingkah aneh di rumahnya. Afro diminta menginap di kediaman Adipura dan baru kembali ke Bantul esok hari.
Afro yang merasa jika penyelidiknnya gagal itupun memilih untuk segera kembali ke Italia karena ia sungguh tak ingat dengan sosok pemuda itu.
Hingga keesokan harinya, saat Afro telah kembali ke rumah Hobbit tempat tinggal Arjuna sementara waktu sampai urusannya di Yogyakarta selesai, Eko datang berkunjung.
__ADS_1
"Eh, ada bule ganteng datang loh. Kepalamu gak kejedot pintu, Fro? Kamu 'kan tinggi kaya tiang listrik," tanya Eko dengan kekehan, dan Afro hanya meringis seraya mengelus kepalanya.
"Tumben, Om. Ada apa mampir ke sini? Cari makan gratis ya?" ledek Arjuna dan Eko langsung komat-kamit seraya menikmati singkong goreng.
"Sembangangan! Jadi ya to, Eko diminta sama ibumu buat ke Turki. Ibumu dapet laporan kalo Ahmed dan keluarganya sudah wasalam karena dimutilasi sama Smiley idup-idup! Emang uasu tenan kok itu Smiley si melekete. Eko dendam kesumat! Itu Ahmed satu-satunya anak pak Sutejo yang paling waras, paling baik, dan paling ganteng malah dimampusin. Gak ridho, Eko!" pekiknya geram dan dua Biawak serta Trio Bali ikut tersulut emosi.
"Om Ahmed tewas? Tahu dari mana?" tanya Afro sampai matanya melebar.
"Ledakan di rumah Sierra bleh bleh di Colmar, Paris kedetek sama GIGA. Black Armys di Paris langsung menyelidiki tempat itu dan nemu markas bawah tanah. Ada sebuah ruangan untuk eksekusi mati. Ditemuin kepala Ahmed dan keluarganya di reruntuhan itu. Gak terima Eko! Eko murka!" teriaknya garang dengan mata melotot seperti monster Godzilla mengaum.
Para mantan anak buah pak Sutejo ikut mengamuk dan siap untuk melaksanakan aksi balas.
"Juna ikut, Om!" sahut pemuda bertato itu semangat.
"Baru kemarin kita bahas tentang hidup damai kok sudah mau perang lagi. Aduh," keluh Afro memejamkan mata dengan wajah tertunduk.
"Ini gak bisa dibiarin, Fro! Mereka keterlaluan!" sahut Arjuna kesal. "Eh, Om! Terus, nasib Yudhi gimana?"
"Itu! Itulah! Si Yudhi gak ketauan nasibnya sampai sekarang. Makanya, mbak Vesper minta Eko ke Turki buat amanin aset Ahmed dan keluarganya takut disamber No Face. Nanti Eko bakal pakai pasukan Pria Ganteng Jojon buat ikut serta dalam misi," sahutnya mantap.
"Wait, Om. Yudhi? Yudhi ... yang Lysa temuin di Kenya? Isterinya pak Sutejo yang kelima?" tanya Afro menegaskan.
"Iya, Yudhi itu. Sekarang udah gede dia. Ya ... seumuran Jordan kalo gak salah, atau si Raden ya? Pokoknya gak selisih jauh umurnya sama Dara," jawabnya mantap. Afro berkerut kening. "Yudhi yang ini lho," sambung Eko seraya menunjukkan foto Yudhi dari layar ponselnya.
Praktis, mata Afro melebar. "Afro ikut misi, Om! Kita harus buat perhitungan sama Smiley dan bawa Yudhi pulang kembali!" sahutnya mantap tiba-tiba.
"Tapi tadi kamu bilang—"
"Go! Go! Ayo bersiap! Kali ini Afro yang bakal memfasilitasi akomodasi selama di Turki. Jangan buang waktu, ayo cepat!" ucapnya semangat sembari bertepuk tangan dan meminta orang-orang segera berdiri.
Semua orang mengedipkan mata keheranan karena sikap aneh Afro seperti pemuda labil.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE (SmailingExpress).
__ADS_1
lele masih meriang gaes😵 kalo nemu tipo koreksi aja. nyut2an dan malah sakit kepala adeh. tengkiyuw tipsnya Ajudan Bohay💋 lele padamu❤️