
Malam itu, orang-orang mulai meninggalkan kediaman Theo Sanders dan kembali ke negara mereka masing-masing.
Para anggota dewan sepakat untuk tak menggunakan jasa baik The Eyes, The Circle Jonathan ataupun Bala Kurawa. Tentu saja, hal itu membuat geram ketiga anak Vesper yang masih diliputi kebencian.
Yuki, Torin, Han dan Alex yang datang berkunjung ke apartemen Marlena, bahkan hampir diusir oleh pemilik rumah mewah itu sekarang.
"Aku datang mengantarkan Fara padamu. Jika kau tak sanggup merawatnya, kami mau," ucap Yuki terdengar ketus.
"Kau selama ini menipuku, Torin. Kau ternyata dendam pada Tobias. Apa kau yang merencanakan pembunuhan suamiku?" tanya Lysa menatapnya tajam.
"Aku memang sangat membenci suamimu. Apa kaulupa? Kau ada di sana saat ayahku mati. Yuki ada di sana saat ibu, dan dua adikku tewas karena dibunuh Tobias. Dan sekarang, kau malah menuduhku dengan mengatakan aku pembunuh suamimu? Kausungguh keterlaluan," jawab Torin terlihat begitu marah pada sahabat dari isterinya.
"Lysa. Kausudah melampaui batas. Tobias tak menginginkan hal ini. Aku sudah membaca buku dongeng milik King D tentang curahan hati pria keji itu. Tobias saja rela dirinya dibunuh sebagai bentuk penyesalannya. Namun, lihatlah dirimu. Kau dibutakan oleh cinta dan dendam. Seolah Tobias adalah segalanya untukmu. Kau seperti orang yang tak memiliki Tuhan," tegas Yuki menatap sahabatnya tajam.
"Jika Torin mati, apakah kau akan diam saja?" balas Lysa dengan wajah dingin.
"Akan kukatakan sekarang sebelum hal itu terjadi," sahut Torin cepat.
Yuki terkejut saat Torin menggenggam kedua tangannya.
"Berjanjilah Yuki. Jika kaumelihat orang yang membunuhku, biarkan saja. Ingat, semua orang pasti akan mati. Orang yang membunuhku juga pasti akan mati suatu saat nanti. Kau tak perlu repot-repot mengotori tanganmu dengan membunuh orang itu. Karena hal itu, juga tak akan membuatku kembali. Berjanjilah," tegas Torin menatap isterinya lekat. Yuki terkejut, tapi ia mengangguk.
Torin tersenyum karena Yuki bisa menerima janji itu. Lysa tersenyum sinis seolah tak percaya jika dengan mudahnya hal itu diucapkan. Entah apa yang membuat Lysa menjadi gila, tiba-tiba, DOR!
"TORIN!" teriak Yuki lantang saat Lysa menembak Torin hingga pria itu langsung ambruk memegangi dadanya. Torin meringkuk memunggungi semua orang.
Han dan Alex kaget bukan main. Bayi Fara yang sudah tertidur lelap sampai terbangun dan menangis histeris dalam gendongan Han.
Yuki terlihat begitu kecewa dan marah pada kawannya yang memasang wajah datar saat melakukan kekejaman itu.
"Aku bisa melihat dendam di matamu, Yuki. Buktikan, jika ucapan Torin benar. Kauingin membunuhku?" tanya Lysa.
Yuki menangis terisak di hadapan tubuh suaminya yang sudah tak bergerak. Namun perlahan, napas Yuki memburu.
Ia melotot tajam pada kawan semasa di Camp Militer dengan wajah sudah tergenang air mata kebencian.
Saat Yuki akan berdiri, Torin memegang tangan kanan isterinya erat dan tak terlihat oleh semua orang.
Yuki terkejut karena Torin masih bisa bertahan. Torin menunjuk peluru yang tersangkut di jas yang dikenakannya diam-diam.
Yuki bernapas lega karena ternyata jas itu anti peluru. Namun, Torin memberikan kode pada isterinya dengan kedipan mata di mana ia masih meringkuk di atas ubin.
Yuki yang memunggungi Lysa, bisa menutupi sandiwara yang ia lakukan bersama sang suami. Yuki menunjukkan rasa kecewanya saat berdiri dan menatap sahabatnya lekat.
Karena bagaimanapun, jika Torin sungguh tewas, ia akan membenci sahabatnya meski tak akan membunuhnya, seperti janjinya pada Torin barusan.
"Ya. Aku membencimu karena membunuh suamiku. Persahabatan kita selesai, Lysa. Kau bukan kawanku lagi. Aku kecewa padamu," ucap Yuki sedih menahan air matanya.
Torin berpura-pura mati dengan menutup matanya. Alex membantu Yuki membopong pemuda itu masuk ke dalam lift.
Lysa melihat Yuki menangis sedih seraya memeluk kepala Torin erat yang ia dudukkan di lantai lift. Lysa terdiam dengan pistol masih dalam genggaman.
"Selesaikan dendammu. Jika sudah, kauboleh menemui Fara. Percayalah, Fara lebih aman bersamaku. Kau, tak waras Lysa. Kau lebih gila dari ibumu. Sikapmu akan membuat Fara akan menderita. Kaumembuat Tobias kecewa jika sampai Fara terluka," ucap Han seraya menimang-nimang cucunya yang masih menangis.
__ADS_1
Lysa mengangguk pelan dan membiarkan Han pergi bersama anak perempuannya. Lysa terlihat sedih saat Fara menangis karena harus dipisahkan dari ibunya.
Lysa berjalan menuju jendela apartemen dan melihat mobil yang membawa Torin serta lainnya pergi dari kediamannya.
Siapa sangka, tangis Lysa pecah saat ia menyadari perbuatannya. Para Pion yang melihat hal itu terdiam dan hanya berdiri memandangi majikan dari mendiang bosnya yang terlihat menyesal akan perbuatannya.
"Sekarang bagaimana?" tanya Pion Darion.
"Cari pembunuh Tobias sampai dapat. Dia harus mati," tegas Lysa dengan wajah bengis meski air mata telah membasahi wajahnya.
Para Pion mengangguk dan segera pergi dari apartemen. Mereka meninggalkan Lysa seorang diri yang sedang diliputi duka di hatinya.
Di rumah sakit tempat Sandara dirawat.
Dugaan Afro benar, jika Sandara keguguran. Pria itu terlihat sedih. Afro segera menghubungi Jibran dan menceritakan kronologi kejadian tragis itu.
Tentu saja, Jibran marah besar. Keinginannya untuk memiliki anak kandas padahal kesepakatan telah terjadi.
"Agh! Lysa!" teriaknya marah di rumahnya dengan Sudan dan para kolektor berkumpul sedang merayakan keberhasilan pertama mereka dengan melenyapkan Tobias, meski dengan tangan orang lain.
"Tenanglah, Jibran. Lysa akan menerima balasannya. Kita akan binasakan The Eyes agar ia tahu, hukuman dari perbuatan kejinya itu. Anak nakal, harus diberi pelajaran," tegas Sudan dengan wajah iblisnya. Jibran mengangguk setuju dengan napas menderu.
Sedang di ruang perawatan.
Sandara terlihat sedih, meski tak menangis. Sedang Afro terlihat begitu terpukul. Sandara menatap calon suaminya lekat yang seperti terpuruk karena ia keguguran.
"Kenapa kausedih, Kak Afro? Janin ini bukan anakmu," tanya Sandara heran.
"Jujur, Dara. Meskipun aku membenci Yudhi, tapi janin itu tak bersalah. Aku bisa merasakan cinta tulus Yudhi padamu. Aku tahu dia kecewa karena kaumemilihku. Jika hal itu terjadi padaku, mungkin aku juga akan merasakan hal yang sama. Namun, aku tak akan senekat itu dengan menculikmu, memperkosamu dan menghamilimu. Aku ingin menikahimu dengan cara yang baik. Aku ingin agar keluarga kita tak terkena musibah seperti orang-orang meski kita hidup dalam lingkup mafia. Jujur, melihat keharmonisan William dan Sia, aku jadi ingin seperti mereka," ucap Afro seraya menggenggam tangan Sandara erat.
"Keluar dari dunia mafia?" tanya Sandara lirih dan Afro mengangguk. "Aku tak pernah menginginkan janin itu, Kak Afro. Aku relakan dia pergi dari diriku. Biarkan dia menemani Yudhi di alam sana," ucap Sandara, tapi Afro tetap terlihat berduka. "Aku ingin memiliki anak darimu, dari pria yang kucintai," sambungnya seraya mengelus pipi Afro lembut.
"Aku juga sangat mengharapkannya, Sayang. Kau istirahatlah. Kauharus segera pulih agar tampak cantik saat pesta pernikahan nanti," jawab Afro dengan senyuman dan Sandara mengangguk pelan.
Kai yang berada di kamar lain masih dalam satu ruang perawatan VVIP tersebut, berpura-pura tidur. Ia merasa keberadaannya seperti tak dibutuhkan.
Kai merenung dan teringat akan ucapan sang isteri jika anak-anaknya sudah memiliki kehidupan masing-masing.
"Kita ini pelengkap di kehidupan mereka sekarang, Kai. Mereka berempat sudah tahu konsekuensinya. Lysa, Arjuna, Jonathan dan Sandara. Mereka sadar jika mereka adalah mafia. Mereka sudah memutuskan hal itu. Kita pernah menawarkan kehidupan layaknya warga sipil, tapi kautahu sendiri 'kan jika mereka tetap bersikeras ingin terlibat. Darah kita mengalir dalam diri mereka, Kai. Mereka sudah ditakdirkan menjadi mafia. Sekarang yang harus kita khawatirkan, sejauh mana mereka akan melangkah dan menjalani kehidupan dunia hitam. Aku selalu berharap, cukup aku saja yang menderita, tak perlu mereka. Aku siap menanggung semuanya asal mereka bisa merasakan bahagia," ucap Vesper kala itu saat mereka menghabiskan waktu berdua.
Kai tertunduk sedih. Ia tak menyangka jika ucapan sang isteri kala itu sungguh terwujud. Kai melihat jika anak perempuannya bukan gadis kecil lagi.
Sandara juga meninggalkan mimpinya sebagai artis karena kehidupan kejam mafia yang harus dihadapinya.
"Kaubenar, Sayang. Dara sudah dewasa. Ia bahkan akan menikah. Ia hampir menjadi ibu sepertimu. Aku harap, aku masih bisa melindunginya meski aku tahu, perhatiannya kini terpusat pada Afro seorang. Dia ... sudah mendapatkan cintanya, sepertiku," ucapnya lirih dengan senyuman.
Kai melihat foto dalam ponselnya yang disimpan dalam folder khusus. Matanya berkaca melihat foto Sandara saat masih kecil dan terlihat bahagia bersama Vesper serta dirinya.
Vesper mengajarinya banyak hal karena ia tahu jika anak gadisnya itu berbeda. Vesper selalu meyakinkannya jika perbedaan itu indah meski menyebalkan karena semua orang tak bisa menerima hal itu.
Ia juga ingat saat Sandara dikatakan aneh oleh beberapa orang, tapi Vesper menyebut anaknya jenius. Hingga akhirnya, ucapan aneh berubah menjadi pujian.
Hal itu dibuktikan oleh Sandara kita mendapatkan posisi sebagai ketua dari kelompok netral dalam persidangan 13 Demon Heads yang berlawanan dengan Jordan.
__ADS_1
"Kaumelakukan banyak hal untuk anak kita, Nona Lily. Namun ... apakah Sandara mengingatnya?" tanya Kai sedih seraya meletakkan ponsel di depan dadanya.
Kai memejamkan matanya mencoba menenangkan hatinya yang dirundung kesedihan.
Kenangannya kembali ketika awal mula bertemu Vesper saat hamil Arjuna. Kai sempat shock karena Lily yang ia jumpai, tak seperti yang disuratkan oleh Liu adiknya.
Namun perlahan, seiring berjalannya waktu, Kai mulai bisa memahami watak keras nonanya itu.
Dengan banyaknya tragedi, kemarahan, kebencian, dendam, penyesalan, kekecewaan, kematian, dan juga penghianatan yang mereka lakukan untuk saling menyakiti, membuat keduanya tersadar saat mengakui kesalahan masing-masing dan memaafkan.
Seketika, Kai membuka matanya. Ia duduk dengan mata melebar seperti menyadari sesuatu dari kisah kehidupannya.
"Oh! Aku mengerti sekarang! Apakah hal itu sengaja ia lakukan dengan membiarkan anak-anaknya menjalani kehidupan seperti yang mereka inginkan? Agar tahu sebab akibat dari perbuatan mereka? Itukah alasannya, kenapa nona Lily membiarkan mereka berselisih dan mengorbankan dirinya menjadi bahan makian? Agar ... anak-anak itu bisa saling mengerti dan pada akhirnya saling memaafkan?" tanya Kai terlihat kaget dengan kesimpulannya sendiri.
"Ya. Pasti itu alasannya. Itulah yang membuat nona Lily memilki ikatan batin yang kuat denganku, Han, para bodyguard dan orang-orang di sekelilingnya bahkan yang pernah menjadi musuhnya seperti Victor, Ivan, dan lainnya. Harus ada pertikaian dan perselisihan. Harus ada sakit hati dan dendam hingga akhirnya mereka sadar, jika mereka saling membutuhkan dan memaafkan. Sial, kenapa aku terlambat menyadarinya?" gerutu Kai kesal pada dirinya sendiri lalu menggaruk kepalanya hingga rambutnya berantakan.
"Tuan Kai?"
"Ha?" kejut Kai saat Afro tiba-tiba muncul dari balik pintu yang sengaja ia buka sebagian.
Afro terlihat sungkan saat masuk ke dalam. Kai meletakkan ponselnya lalu merapikan rambutnya. Seolah, tak terjadi apapun dengannya.
"Anda tak apa? Anda bicara dengan siapa?" tanya Afro heran.
"Oh. Aku ... membaca sebuah novel online. Aku terbawa suasana," jawabnya berdalih.
Kening Afro berkerut karena baru mengetahui sisi lain dari calon mertuanya.
"Ah, baiklah. Sebaiknya, Anda beristirahat. Oia, Sandara sudah tidur. Selain itu, tadi paman Doug menghubungiku. Dia meminta agar Anda tinggal bersamaku dan Sandara sampai pernikahan selesai. Nyonya Vesper minta maaf harus pergi karena ingin menenangkan hatinya. Sungguh, aku juga kecewa dengan sikap Arjuna, Lysa dan Jonathan," ucap Afro.
Kai mengangguk pelan. Ia yang kini sudah tahu rencana dari sang isteri memilih diam. Namun, ia juga menyadari hal lain dari pemuda di hadapannya.
"Afro. Katakan padaku. Apa yang akan kaulakukan bersama Sandara nanti usai menikah?" tanya Kai mulai terlihat ramah tak ketus seperti biasanya pada calon menantunya itu.
"Mm. Yang jelas, aku akan memberikanmu cucu," jawabnya dengan senyuman, tapi Kai malah menunjukkan wajah masam. Afro terlihat gugup. "Lalu ... aku akan mencoba bicara pada Jordan dan Naomi soal perusahaan ayahku yang sudah kuberikan pada Sandara. Bagaimanapun, perusahaan itu sudah seharusnya menjadi milik Sandara. Aku ingin isteriku yang mengelolanya."
Kai mengangguk pelan terlihat setuju.
"Selain itu, aku dengar jika sudah tiba waktunya bagi Jordan untuk mengelola perusahaan Boleslav. Dia ... harus menjalankan amanat mendiang ayahnya, bukan?" tanya Afro dan Kai mengangguk pelan.
Tiba-tiba saja, Kai menepuk pundak Afro. Pemuda itu terlihat kaget saat Kai juga tersenyum padanya.
"Aku percayakan Sandara padamu, Afro. Kau, pria yang baik, hanya saja nasib sial selalu menghampirimu. Namun, aku dan nona Lily sudah sepakat untuk memberikan Red Ribbon pada kalian berdua. Mereka akan membantu mengurus perusahaan dan juga melindungi kalian. 20 orang itu sudah lebih dari cukup bukan? Mereka, aset-aset berharga milik isteriku. Tolong, jadilah pemimpin yang bijak. Buat anak buahmu yang sudah bekerja keras mendapatkan kehidupan yang layak. Kaubisa kuandalkan 'kan?" tanya Kai dan Afro mengangguk mantap.
"Terima kasih, Tuan Kai. Terima kasih," ucap Afro memeluk Kai erat dengan senyum terkembang. Kai terkejut, tapi ia menerima sambutan pelukan itu.
"Aku merestui kalian berdua. Hiduplah bahagia," ucap Kai dan hal itu membuat Afro tersenyum bahagia.
***
uhuy tengkiyuw tipsnya. lele padamu❤️
__ADS_1