
Akhirnya, pesta meriah di pernikahan Sandara berakhir pukul 00.30 waktu setempat. Meski Sandara dan Afro sudah mengundurkan diri sejak jam 9 malam karena lelah dengan acara yang dilangsungkan, tak membuat para tamu meninggalkan pesta.
Beberapa orang masih berkumpul untuk menikmati sajian seakan makanan itu terus ada tak ada habisnya.
Para pria bahkan begadang dengan obrolan seru di beberapa bangku yang tersedia saling berkelompok.
Di kamar Afro.
Pasangan pengantin yang lelah itu bahkan masih mengenakan pakaian pengantin saat tidur. Keduanya tertidur lelap begitu merebahkan diri di atas ranjang.
Namun, karena gaun yang dikenakan Sandara membuatnya tidak nyaman, gadis itu terbangun saat dini hari. Ia menoleh dan mendapati Afro tidur dengan kemeja karena jasnya telah ia letakkan di kursi sebelum berbaring.
Sandara terdiam beberapa saat ketika memandangi wajah Afro yang tidur miring menghadapnya terlihat begitu letih.
Sandara ikut memiringkan tubuhnya karena sebelumnya ia dalam posisi terlentang. Lama Sandara mengamati suaminya dengan tatapan sendu seperti memikirkan sesuatu.
Aku sungguh menikah dengannya. Aku mulai bisa melupakan bayang-bayang Yudhi yang selama ini menjadi mimpi burukku, tapi ... kak Afro tak berani menyentuhku. Kenapa? Apakah ... ia kecewa padaku? Jijik? tanya Sandara terlihat sedih jika teringat perlakukan biadap Yudhi padanya hingga membuatnya trauma.
Sandara kembali sedih dan meneteskan air mata. Ternyata, gelagatnya membuat Afro terbangun tanpa Sandara sadari karena terlarut dalam kepedihan.
"Hai, kau tak apa?" tanya Afro yang membuat Sandara terkejut dan langsung menghentikan tangisannya. Sandara bangun dan duduk seraya menghapus air mata.
Kening Afro berkerut dan kini ia telah terjaga sepenuhnya. Afro yang selalu waspada dan sigap dengan ancaman, tak bisa memejamkan matanya lagi.
"Kenapa menangis? Apa yang mengganggumu?" tanya Afro mendekat, tapi Sandara menggeleng cepat.
Afro diam menatap isterinya saksama. Tiba-tiba saja, Afro memeluk Sandara mesra dari belakang dan meletakkan dagunya di pundak kekasih yang tak sakit.
"Apa kau menangis bahagia karena pada akhirnya kita menikah? Hem, aku juga bahagia. Rasanya untuk menuju ke momen ini saaaa ... ngatttt ... lama. Apa kau setuju dengan hal itu, Sayang?" tanya Afro manja.
Sandara mengangguk pelan dengan senyum tipis di wajah. Afro menoleh sehingga terlihat jelas rupa ayu dari kekasih hatinya.
Lagi, Sandara tersentak saat ia merasakan bibir berserat lembut itu menyentuh kulit di pundaknya yang tak tertutup karena gaun belahan rendah.
Sandara menggeliat salah tingkah karena perlakuan Afro yang tiba-tiba. Pemuda tampan itu melepaskan sisa dari aksesoris di rambut isterinya perlahan agar tak menyakiti kulit kepalanya.
Sandara diam saja saat Afro menggerai rambut panjangnya dengan kedua tangannya.
"Ah!" kejut Sandara saat tangan Afro menarik sleting di punggung dari gaun yang dikenakannya.
"Aku tahu kau menyukai gaun indah ini, Sayang, tapi bukan berarti kau harus terus memakainya. Kenapa kau menutupi hal yang sudah kulihat sebelumnya?" tanya Afro menoleh dan mendapati wajah tegang dari sang isteri.
Sandara tergagap tak bisa menjawab. Afro semakin gemas dengan tingkah sang isteri seolah dia lupa akan kisah tragis dari gadis cantik itu.
Afro melanjutkan aksinya dan menurunkan gaun indah itu perlahan hingga ke pinggang Sandara.
Sandara tampak gugup saat ia menutupi buah dadanya dengan tangan menyilang. Afro tersenyum saat ia menyelipkan kelima jemari kekarnya ke balik rambut panjang sang isteri dan menangkap kepala belakangnya dengan satu tangan kanan.
Kedua pundak Sandara terangkat karena kaget ketika wajah Afro muncul di hadapannya dari samping dan mulai menerkam bibirnya yang masih terpoles lipstik merah muda.
Mata Sandara terbuka melihat wajah Afro yang tampak jelas dari tangkapan inderanya. Perlahan, Afro menjatuhkan dirinya dan Sandara roboh dalam ciuman Afro di bibirnya.
Sandara terdiam, tak memberontak seperti saat ia dijamahi oleh Yudhi kala itu. Sentuhan lembut Afro di kulitnya membuat sensasi lain yang menenggelamkannya dalam romansa gairah pasangan muda.
"Oh!" kejut Sandara lagi saat Afro melepaskan ciumannya dan kini menurunkan sisa dari gaun yang belum ditanggalkan sepenuhnya.
Sandara kembali gugup ketika Afro sudah berhasil menelanjanginya dan kini hanya terbalut kain segitiga putih berenda di bagian bawah tubuhnya.
Afro melepaskan pakaiannya di hadapan sang isteri yang tak terlihat malu ketika memandangi keindahan tubuhnya.
"Jika sakit, katakan saja, tapi seharusnya ... sudah tidak lagi," ucapnya lembut saat menghampiri tubuh sang isteri yang diam saja seakan pasrah untuk dijelajahi.
...IPO IPO IPO...
...TARIK NAPAS KELUARKAN DARI MULUT BUKAN KENTUT...
"Mm, Kak Afro. Bisa kau matikan lampunya? Aku ... sedikit tidak nyaman," pintanya gugup saat tubuh keduanya sudah saling menempel.
"Hem, baiklah," jawabnya kembali berdiri lalu mematikan lampu-lampu utama dan menyisakan cahaya redup menuju ke kamar mandi.
Afro meneguk air dalam botol sebelum memulai aksinya. Ternyata, Sandara juga menginginkannya yang mendadak merasa haus karena gugup.
Afro yang terlihat sudah tak sabar kembali menerkam sang isteri saat ia baru saja selesai minum.
"Ah! Kan, airnya tumpah," ucapnya kesal dan langsung mengangkat botolnya tinggi karena keagresifan sang suami.
"Hehe, salah sendiri kau sangat menggemaskan," sahutnya seraya mengambil botol itu lalu meletakkan begitu saja di lantai.
Sandara kembali kaget saat Afro dengan sigap kembali padanya dan kini sudah berada di atasnya.
__ADS_1
Sandara tersipu malu dan beberapa kali mengalihkan pandangan ketika Afro menatapnya lekat dengan satu tangan menopang tubuhnya.
"Apa kau bahagia hidup bersamaku, Sandara?" tanya Afro seraya memijat pinggul isterinya lembut dengan tangan kiri. Sandara mengangguk pelan, menahan gejolak di tubuhnya karena sentuhan sang suami. "Setelah ini ... apa yang ingin kaulakukan?" tanyanya sembari mendaratkan bibirnya lagi di leher sang isteri lalu menciuminya lembut.
Sandara kesulitan untuk menjawab saat tangan Afro mulai bergerak ke bagian penutup muara dan memainkan jemarinya di sana.
"Aku ... emph, aku ... terserah padamu," jawabnya sulit berpikir karena serangan Afro.
"Kau menyerahkannya padaku? Apa kau tak ingin terlibat dengan melakukannya sendiri? Atau ... melakukannya bersamaku?" tanya Afro berbisik di salah satu telinganya, dan hal itu membuat Sandara semakin tak tahan untuk merasakan lebih.
BRUKK!
"Wow!" kejut Afro saat tiba-tiba saja Sandara melepaskan pengaman di bagian bawah tubuhnya lalu duduk di pinggul sang suami.
Afro kaget karena gadis lugu itu menjadi agresif entah apa yang memicunya. "Emph!" rintih Afro karena Sandara yang kini begitu bersemangat untuk menjamahinya.
Afro dengan sigap menyambut ciuman itu yang perlahan menjadi rakus dan saling menyerang dengan lidah di dalam sana.
"Agh, Dara," erang Afro hingga matanya terpejam saat tangan kiri Sandara dengan sigap menangkap daging panjang itu dan mengelusnya dengan ritme cepat.
Afro menggeliat dan terus menciumi Sandara yang menjadi agresif tak kikuk lagi.
BRUK!
"Emph!" erang Sandara saat Afro bergulung ke samping dengan cepat dan membuat tubuhnya kembali tertindih.
Genggaman tangan Sandara terlepas di sosis besar itu saat ia merasakan miliknya mulai dibobol oleh ujung benda tumpul yang membuatnya sekilas kembali teringat akan perlakuan Yudhi.
Afro terkejut karena Sandara tiba-tiba merangkak mundur seperti enggan disetubuhinya.
Afro menatap Sandara lekat yang terlihat takut akan sesuatu. Seketika, gairah itu hilang dan membuat Afro diam menatap Sandara saksama.
"Maaf, aku ... aku ...," ucap Sandara gugup tak berani melihat Afro yang terlihat samar di matanya.
Afro tersenyum tipis. Ia merangkak mendekati lampu tidur dan menyalakannya. Sandara menundukkan wajah dengan punggung menyender di sandaran kasur. Afro mendatanginya perlahan dengan senyum menawan.
"Apa kau mengenaliku?" tanya Afro seraya meraih dagu sang isteri lembut. Sandara mengangguk. "Say my name."
"Afro," jawab Sandara lirih. Afro mengangguk pelan.
"Say my name."
"Open your eyes. Tatap aku dan jangan lupakan wajah ini. Hanya Afro kekasihmu. Hanya Afro suamimu, dan hanya Afro cinta sejatimu," ucap Afro seraya mengelus wajah Sandara lembut masih dalam posisi merangkak.
Sandara mengangguk pelan dan bersungguh-sungguh menerapkan yang Afro katakan.
Afro kembali menciumi wajah Sandara lembut yang membuka matanya seperti memastikan jika pria yang bersamanya ini adalah cinta pertamanya dan berharap menjadi yang terakhir.
"Kak Afro," panggilnya lirih saat Afro menunjukkan wajahnya lagi.
Afro menangguk dengan senyuman dan kali ini, Sandara menyambut ciuman manis di bibirnya. Sandara kembali terbuai akan sikap Afro yang mulai tenang dan memperlakukannya lembut.
Sandara memeluk kepala pria tampan itu saat kepalanya mulai menurun ke dadanya dan singgah di sana untuk bermain sejenak.
Sandara memejamkan mata, menikmati sentuhan lembut Afro di kulitnya dan setiap jengkal tubuhnya.
Gadis cantik itu kembali menggeliat saat lidah Afro kini bergerilya di bagian intiimnya. Kedua tangan Sandara berpegangan erat pada sandaran kasur menahan sensasi liar yang menjalar di sekujur tubuhnya.
BRUK!
Sandara roboh setelah ia menyuarakan rintihan kenikmatannya karena lidah nakal dari sang suami.
Afro merayap di atas tubuh sang isteri dan kembali menciumi buah dadanya yang begitu ranum meski sebelumnya telah tersentuh oleh pria lain bukan dirinya. Namun, Afro seperti melupakan hal itu.
"Uhh ...."
Rintihan lirih terdengar dari bibir tipis Sandara saat ia merasakan muaranya kembali didorong. Namun kali ini, Afro seperti menjaganya agar tak berpaling. Afro menatap wajah Sandara tajam yang juga balas memandanginya.
Afro memijat kepala Sandara dengan tangan kanannya agar pandangan gadis cantik itu tak beralih dan membuatnya gagal lagi untuk menggempur wilayah yang diincarnya.
Kedua tangan Sandara dibuat kebingungan ke mana harus berpegangan. Afro meraih tangannya dan meletakkannya di kedua pundaknya dengan sigap.
Sandara mencengkeram kuat pundak Afro saat ia merasakan keperkasaan itu mulai menyusup ke dalam dan SLUP!
Kedua dada Sandara membusung saat daging panjang itu berhasil menerobos dan singgah di sana. Sandara seperti kesulitan mengatur napasnya ketika Afro mendorong miliknya kuat dengan irama teratur.
"Stt, stt, relax. Say my name, Sandara. Say it," pintanya berbisik, tapi suara Afro yang sedang bergairah membuat Sandara terlena dan kini ikut menyambut hentakan itu.
"Hah, Afro ... emph," erangnya lirih saat mulai menikmati serangan itu. "Afro, ahh ...," ucapnya lagi saat dorongan itu makin kuat dan membuat napasnya memburu.
__ADS_1
Sambutan dari goyangan pinggul Sandara, membuat Afro semakin bersemangat. Sandara terus merintih bukan karena sakit, tapi kali ini ia menikmatinya dari sensasi bercinta dengan pria yang dicintainya.
Afro dengan sigap menarik tubuh Sandara agar duduk di pangkuannya. Sandara terkejut akan gerakan itu karena ia tak pernah melakukan dengan Yudhi sebelumnya.
"Kau masih ingat, saat pertama kali kau penasaran dengan gerakan ini?" tanya Afro seraya menyingkirkan rambut sang isteri yang menutupi wajah cantiknya.
Sandara diam untuk beberapa saat seperti mencoba mengingat kisah lalu. "Australia?"
Afro mengangguk. Sandara kembali gugup saat Afro merapatkan pinggulnya hingga kejantanan itu tertelan sepenuhnya di dalam sana.
Sandara menggoyangkan pinggulnya perlahan dan mulai bisa merasakan sensasi serupa saat kedua orang tuanya berhubungan kala itu.
Ia yang awalnya berpikir jika ibunya sakit, kini telah menyadari jika itu bukan rintihan kesakitan, tapi kenikmatan. Dan kini, Sandara juga menyuarakannya.
"Yah, benar begitu, Sayang. Terus dorong. Kau yang ingin melakukannya? Sepertinya kau hebat dengan gaya ini. Kini, kau bisa mempraktekannya padaku sepuasnya," ucap Afro memegangi pinggul Sandara kuat agar kenikmatan itu tak lepas dari tubuhnya.
Sandara mengabulkan keinginan Afro. Pemuda tampan itu tak menyangka jika gadis cantik berwajah lugu itu cukup kuat saat memoles misilnya.
Afro mulai tak bisa menahan gairahnya dan memutuskan untuk melampiaskan semua. Darah terasa mengalir deras melewati koridor pembuluh di sekujur tubuh mereka seakan terhubung dalam titik kenikmatan. Keduanya saling merintih bersahut-sahutan.
Sandara mengerahkan seluruh kemampuannya untuk memuaskan dirinya yang kini sudah tak penasaran lagi seperti apa rasanya dalam posisi itu.
Afro menenggelamkan wajahnya di dada sang isteri saat Sandra memeluk kepalanya erat hingga peluh mulai muncul dari rongga kulitnya.
BRUKK!
"Agh!"
SLUP!
"Emph!"
Sandara terkejut saat Afro menjatuhkan tubuhnya hingga ia terlentang di kasur. Namun dengan sigap, Afro membalik badannya dan mengangkat pinggulnya.
Sandara tersentak ketika daging panjang itu kembali menerobos dengan cepat ke lorong kenikmatan dan menggempurnya.
"Hah, kau harus mencoba gaya ini, Sayang, agar kau tak penasaran lagi," ucap Afro dalam posisi berlutut seraya memegangi pinggul Sandara erat dengan kedua tangannya.
Sandara memeluk bantal yang berhasil digapainya karena tak kuasa menahan dorongan kuat dari keperkasaan Afro di intiimnya.
Tubuh Sandara terguncang hebat dan Afro menahannya dengan menangkap dua bongkahan ranum itu menggunakan kedua tangannya.
Sandara merasa terhimpit, tapi menikmati sensasi menggairahkan itu. Sandara pasrah akan sensasi luar biasa di tubuhnya yang tak ia dapatkan saat bersama Yudhi kala itu.
Sandara merintih dan Afro menyambutnya dengan hentakan semakin kuat dari ritme dorongannya.
"Agh, Kak Afro! Aku—"
"Aku juga!" serunya lantang saat ia menggelontorkan semua sebagai puncak dari aktivitas dini hari itu.
Sandara memeluk kuat bantal dalam genggamannya ketika ia merasakan miliknya tersembur dari benih cinta kekasih hatinya.
Sandara menyambut pasukan yang datang ke Kastilnya dengan pintu yang terbuka lebar agar semua tentara tak tertinggal di luar.
Sandara menutup pintu gerbangnya rapat ketika ia merasakan sudah tak ada lagi pasukan yang datang ke wilayahnya.
Afro roboh begitupula dirinya yang tak tegang lagi saat mencapai puncak tadi. Sandara merasa miliknya berkedut, tapi tak lagi merasakan keperkasaan Afro di sana.
Sandara menoleh dan melihat Afro tampak begitu letih hingga napasnya tersengal. Afro tersenyum saat ditatap oleh sang isteri.
Afro bangun perlahan dan menghadapkan Sandara ke arahnya. Keduanya saling berhadapan memiringkan tubuh tak berselimut kain.
"Say my name," pinta Afro seraya meraih kedua tangan Sandara lembut.
"Afro."
Pemuda tampan itu tersenyum lalu mencium lembut jemari tangan sang isteri. Sandara balas tersenyum di mana kini sosok Afro telah melekat dalam dirinya. Afro merentangkan tangan agar Sandara menyambut pelukannya.
Afro menarik bantal sebagai penopang kepalanya yang mendadak terasa berat dan membuatnya kembali mengantuk. Sandara meletakkan kepalanya di dada bidang suaminya dengan senyum tipis terukir di wajah.
"Selamat malam, Dara sayang," ucap Afro mesra lalu mencium kening Sandara lembut.
"Hem. Malam, Kak Afro," jawabnya merapatkan tubuhnya sembari menarik selimut karena merasa dingin usai penyatuan tubuh.
Perlahan, mata keduanya terpejam dan kembali terlelap di malam pernikahan yang sudah lama dinantikan.
***
dah. jangan ditagih lagi ya ibu-ibu, bapak-bapak. lunas eps dara-afro. selamat bobo. ditunggu votenya koin, poin, dan vocer bagi yang belom utk eps selanjutnya. uhuk
__ADS_1