4 YOUNG MOBSTERS S2

4 YOUNG MOBSTERS S2
After Life- Amukan Naomi


__ADS_3

Hadeh lele pilek parah cuy dan malah demam. Mungkin kecapekan slm otw mudik tapi Alhamdulillah selamat sampai Jogja. Lele ngetiknya pke hp curi2 waktu smg gak ada typo😩 Maaf lahir batin semua ❤️ tengkiyuw tipsnya Tesar 💋



----- back to Story :


Eko dan Sun meminta kepada Arjuna untuk masuk ke dalam, tapi pemuda itu ragu usai mengetahui jika S adalah ayah kandung Naomi.


Selama ini, Arjuna berburuk sangka kepada S karena kedekatannya dengan Naomi yang dianggap tak lazim. Arjuna merasa bersalah dan malah masuk lagi ke mobil.


"Welah, Junet. Ayo temui Naomi. Kita udah jauh-jauh dateng ke sini loh. Demi Lorier," ucap Eko karena Arjuna malah duduk seraya menggendong puterinya.


"Aku rasa ... kita jangan mengusik mereka, Om Eko. Kedatanganku akan menimbulkan masalah. Sebaiknya, kita pulang saja. Aku yakin bisa mengasuh dan membesarkan Loria tanpa mencampuri kehidupan Naomi. Sudah cukup aku menyusahkannya," jawab Arjuna seraya menatap puterinya lekat yang kembali tenang tak menangis lagi.


Eko dan Sun dibuat bingung dengan keputusan Arjuna yang tak biasa. Sun mendekati Arjuna karena kaca jendela mobilnya terbuka.


"Tuan Muda. Aku tahu jika Jordan menitipkan surat padamu untuk diberikan pada Naomi. Kau harus menyerahkan dan memastikan Naomi membacanya," ucap Sun yang membuat Arjuna langsung menaikkan pandangan.


"Oia kah? Eko kok baru tau," sahutnya seraya mendekat. "Tepati janjimu, Jun. Ayo! Jadi laki yang jantan gitu," ucap Eko yang membuat Arjuna seperti memikirkan dengan serius perkataan salah satu mantan bodyguard kepercayaan ibunya.


"Baiklah. Terima kasih karena kalian sudah selalu mendukungku," jawab Arjuna dengan senyuman.


Pemuda itu lalu turun dari mobil dengan sang buah hati dalam gendongan. Eko dan Sun mendampingi Arjuna yang kini melangkah dengan mantap memasuki rumah megah itu di mana Sandara dulu pernah tinggal di sana.


Saat Arjuna memasuki ruangan, tiba-tiba saja suara bayi menangis terdengar. Spontan, tiga lelaki itu menoleh ke asal suara.


Kaki Arjuna melangkah dengan sendirinya mendatangi sebuah ruangan dengan pintu terbuka. Mata Arjuna menajam saat melihat Naomi tidur lelap, tapi seperti sakit.


Tubuhnya diselimuti kain dan dahinya ditempelkan kompres demam. Mata Arjuna lalu beralih ke arah bayi lelaki yang mulai merengek, tapi Naomi seperti tak sadar jika Sig membutuhkannya.


"Hai, jangan menangis," ucap Arjuna langsung mendekati bayi malang itu.


Ia meletakkan Loria di samping Sig. Seperti sebuah keajaiban, Loria yang sedari kemarin rewel seperti bisa menenangkan Sig yang tadinya menangis.


Keduanya saling memiringkan tubuh dan mengobrol bahasa bayi. Senyum Arjuna merekah. Ia melihat botol susu Sig telah kosong dan mengambilnya.


Arjuna mendatangi lemari es dan membukanya. Ternyata, stok ASI melimpah di dalam sana.


Arjuna yang merasa dua bayi itu kehausan mengambil stok tersebut sesuai tanggal lalu dihangatkan.


Arjuna seperti lupa jika masih ada Eko dan Sun yang sedari tadi mengamati gerak-geriknya. Arjuna dengan sigap memberikan dua botol dot untuk dua bayi yang mulai riang.


Arjuna dengan penuh perhatian menemani dua bayi menggemaskan itu yang menikmati susu hangat.


Pandangan Arjuna lalu beralih ke Naomi yang masih terbaring seperti terkena demam. Arjuna dengan hati-hati mengganti kompres di dahi wanita yang pernah dicintainya itu.


"Sun. Eko gak nyangka kalau dalam diri Junet yang penuh dengan kesesatan itu, jiwa kebapakannya cukup kental loh," bisik Eko dan Sun mengangguk.


"Sepertinya, setelah banyaknya hal buruk menimpa dirinya, tuan muda mulai berubah sikap. Dia mulai bisa meredam emosi dan memilih diam atau pergi ketimbang harus berselisih. Sangat berbeda dengan dirinya dulu yang menyambut tantangan dengan kekerasan. Seperti saat melawan ayahku," jawab Sun dengan mata terkunci pada sosok Arjuna yang sibuk melayani tiga orang terkasihnya.


Tanpa sepengetahuan orang-orang dalam ruangan, Han dan S melihat yang dilakukan oleh Arjuna.

__ADS_1


"Berikan anakku kesempatan, S. Semua orang pasti pernah berbuah jahat dan salah. Lihatlah aku. Dulu aku disebut pengkhianat, bahkan aku menyakiti perasaan Lily berulang kali, termasuk tak mengakui Arjuna puteraku. Namun, Lily memberikanku kesempatan. Ia memaafkan semua kesalahanku meski banyak orang masih membenciku," ucap Han mengenang sang isteri. S diam dengan pandangan tertunduk.


"Aku tahu kau bukan seperti Lily. Aku juga tak memintamu bisa bersikap sepertinya, tapi aku tahu kau bukan pria yang tak memiliki belas kasih, S. Aku hanya meminta kebijaksanaanmu sebagai ayah atas puterimu Naomi, agar Loria bisa tinggal bersama dengan Sig cucumu. Hanya Loria dan Arjuna alasanku tak pergi menyusul Lily dalam kematian. Aku berjanji padanya untuk selalu melindungi mereka hingga kematian menjemputku. Jadi, sampai waktu itu datang, tolong bantu keluargaku. Seperti permintaan Lily agar kita selalu menjaga tali persaudaraan," ucap Han panjang lebar menatap S lekat.


S mengembuskan napas panjang. Pandangannya kini mengarah pada Kim Han Bong teman seperjuangan saat di Camp Militer.


"Ini kesempatan terakhir bagi puteramu, Han. Jika dia mengacaukannya lagi, jangan pernah muncul dalam kehidupan puteri dan cucuku entah apapun alasannya," tegas S dan Han membalas dengan mengembangkan senyuman.


Han lalu meminta Eko dan Sun keluar dari ruangan untuk memberikan waktu bagi Naomi supaya menyelesaikan konflik diantara keduanya selama ini.


Sun menutup pintu perlahan ketika Arjuna sibuk mencuci botol dot yang telah dihabiskan oleh dua bayi menggemaskan itu.


"Oh, kauminta digendong?" tanya Arjuna saat melihat Sig mengulurkan kedua tangan kecilnya seperti minta diraih.


Arjuna mengangkat Sig perlahan lalu menggendongnya. Namun sepertinya, Loria juga ingin ikut serta.


Arjuna tersenyum lebar dan pada akhirnya menggendong dua bayi itu dalam pangkuannya.


"Kalian lucu sekali. Mmuach!" ucap Arjuna gemas seraya mencium kepala dua bayi itu bergantian.


Arjuna lalu membaringkan keduanya perlahan mencoba untuk menidurkan. Arjuna bagaikan ayah siaga bagi dua bayinya.


Ayah muda itu tampak lelah, tapi usahanya berhasil untuk membuat dua bayi tersebut terlelap usai mengelus kepala keduanya lembut secara bersamaan.


"Emph! Lelah sekali," keluhnya saat merenggangkan tubuh di tepi ranjang.


"Kenapa kaupeduli?"


"Aku ... hanya mencoba untuk membalas kebaikanmu padaku dulu, Naomi. Maaf jika sikapku menyinggungmu," jawab Arjuna pelan.


Naomi tak menjawab dan duduk perlahan dengan wajah dingin.


"Kauingin menitipkan Loria lagi padaku?" tanya Naomi seraya menyibakkan selimut.


"Bukan. Aku ... ingin memberikan surat dari Jordan yang dititipkan untukmu," jawab Arjuna lalu memberikan amplop putih pemberian mantan suami Naomi tersebut.


Arjuna beranjak dan memilih untuk tak mencari tahu apa isi dari surat tersebut. Ia meninggalkan Naomi yang tampak gugup saat membuka surat dari mantan suaminya.


Mata Naomi terfokus pada tulisan tangan Jordan yang sangat ia kenal. Jantung Naomi berdebar, terlebih pada bagian bawah surat ada kalimat bertuliskan ....


"Cintaku, hanya untukmu dan Sig selamanya. Jordan."


Padahal wanita cantik itu belum membaca isi tulisan, tapi matanya sudah berlinang. Naomi berusaha agar tak menangis.


Ia menarik napas dalam dan mencoba untuk menguatkan hati membaca surat dari pria masih dicintainya.


"Salam sayang, Jordan.


Naomi dan Sig terkasih. Aku minta maaf jika sampai hari ini belum bisa menjenguk kalian. Bukannya aku tidak mau, hanya saja, mommy Manda terlihat begitu letih. Aku menggantikan dan meneruskan pekerjaannya untuk mengelola perusahaan Theresia serta Boleslav. Meskipun kak Sia, Red, Daniel, Arthur, Q, dan lainnya sudah membantu, tapi mereka mengandalkanku. Aku harap kau dan Sig bisa memakluminya."


Naomi mengangguk pelan dengan air mata menetes. Ia mulai bisa mengendalikan air matanya agar tak mengalir lagi dan melanjutkan membaca.

__ADS_1


"Mungkin takdir Tuhan jika kisah cinta kita harus berakhir seperti ini. Namun, aku tak pernah menyesal menikahi dan memiliki anak darimu. Hanya saja, kau membutuhkan perhatian dari seorang pria yang bisa menjadi pendamping dan menyayangi Sig. Jujur, aku tak pernah menyangka akan mengatakan hal ini, tapi kulihat Arjuna telah berubah. Berikan lelaki brengsekk itu kesempatan. Sig membutuhkan sosok ayah dan aku tak bisa memberikannya. Sig juga membutuhkan perhatian dari saudari sepersusuannya Loria. Demi keluarga kita, kebahagiaanmu dan Sig, aku rela jika kau kembali pada pria keparatt itu."


Praktis, mata Naomi melebar. Ia tak pernah menyangka jika Jordan memintanya kembali pada Arjuna di mana hatinya telah tertutup rapat untuk lelaki lain, terlebih mantan tuan mudanya.


Naomi meremat kertas itu menjadi gumpalan. Ia melemparkannya kuat ke arah pintu dan kembali menangis. Rasa kecewa dan benci menyelimuti hatinya.


Arjuna yang mendengar suara wanita menangis yang diyakini adalah Naomi kembali masuk ke kamar dengan tergesa.


Arjuna terkejut saat mendapati Naomi menangis tersedu sampai meremat kuat rambutnya.


"Naomi, ada apa?" tanya Arjuna bingung.


"Argh!"


BRUKK!


Arjuna dengan sigap menghindar. Ia kaget saat Naomi melempar sandal ke arahnya. Ternyata, amukan Naomi membangunkan Sig.


Naomi yang marah terus melempari Arjuna dalam tangisan menderu. Namun, Naomi seperti tak sadar jika anak lelakinya juga menangis karena luapan amarahnya.


"Naomi! Kau kenapa? Lihat puteramu? Kau tak menyadarinya?" tanya Arjuna yang nekat mendatangi Sig karena menangis terisak sebab sang ibu mengabaikannya.


Arjuna langsung menggendong Sig dan berusaha menenangkannya. Namun, Naomi seperti gelap mata. Ia memukuli Arjuna yang masih menggendong puteranya.


Arjuna menjadikan punggungnya sebagai perisai agar Sig tak tersakiti. Ternyata, raungan amarah Naomi mengundang perhatian orang-orang.


Mereka terkejut saat Naomi memukul bahkan menendangi Arjuna sebagai bentuk kekecewaannya.


"Naomi, hentikan! Kau bisa melukai Sig dan Loria!" teriak Arjuna yang terpaksa membaringkan Sig di samping Loria karena takut jika bayi lelaki itu terkena pukulan dari sang ibu yang sedang gelap mata.


Arjuna melindungi dua bayi yang akhirnya menangis bersamaan. Arjuna merelakan punggungnya menjadi sasaran Naomi yang belum puas untuk menyakiti fisiknya.


"Naomi!" teriak S langsung berlari mendekat dan memegangi puterinya kuat.


Sun ikut menarik tubuh Naomi. Napas Arjuna tersengal karena menahan sakit di tubuh. Han membangunkan puteranya karena dua tangan Arjuna sampai bergetar dan wajahnya memerah.


"Juna? Apa yang terjadi? Apa yang kaulakukan?" tanya Han menatap anaknya tajam yang wajahnya berkeringat.


"Aku tak melakukan apapun, Ayah. Sungguh! Aku hanya memberikan surat dari Jordan untuknya lalu kudengar Naomi menangis, tapi saat kutanya, dia malah menyerangku," jawab Arjuna dengan napas tersengal.


Eko melihat sebuah kertas yang menjadi seperti bola dalam rematan dan mengambilnya.


Eko membuka surat itu perlahan lalu membacanya dengan hati-hati. Praktis, mata lelaki botak itu ikut melebar.


Han, S dan Sun yang penasaran ikut mendekat usai Naomi berhasil ditenangkan meski napasnya terus memburu.


"What?!" pekik S melotot tajam usai membaca surat Jordan.


"Argh!" teriak Naomi berlari ke arah Arjuna siap untuk menghajarnya lagi.


Namun kali ini, Arjuna hanya diam saja dengan wajah sendu seperti siap menerima amukan dari wanita yang masih dicintainya itu.

__ADS_1


__ADS_2